Posted by: Heru Legowo | December 29, 2009

DANAU TIGA WARNA KELIMUTU


Danau Hijau

Kelimutu menjadi terkenal di dunia karena 3 danaunya yang berbeda warnanya yang terletak di puncaknya. Selama ini keberadaannya seperti legenda yang menarik wisatawan untuk datang dan menyaksikan keindahannya.

Di puncaknya pada ketinggian 1.650 m diatas muka laut Gunung Kelimutu (Keli=gunung Mutu=indah) menyimpan 3 buah danaunya. Penduduk sekitar dan terutama suku Lio percaya bahwa arwah-arwah penduduk yang meninggal akan bersemayam di ke tiga danau tersebut. Masing-masing adalah : Tiwu Ata Mbupu danau berwarna hitam yang menjadi tempat arwah orangtua, Tiwu Nuwamuri Koofai danau berwarna hijau yang menjadi tempat arwah orang-orang muda dan Tiwu Ata Polo danau berwarna coklat yang menjadi tempat arwah orang-orang jahat atau tukang tenung.

ENDE

Jika anda akan melihat keindahan Kelimutu, anda dapat melalui udara dan darat. Dengan pesawat anda dapat terbang dari Bali ke Ende atau Maumere. Kebetulan penulis mengambil rute melalui Ende. Bandar udara H. Hasan Aroeboesman di Ende, menjadi pintu masuk Kelimutu. Bandara kelas 3 ini nampak sederhana. Jarak landasan ke terminal sangat dekat. Di depan terminal nampak sebuah bukit yang cukup tinggi. Para pilot harus mewaspadai bukit itu, jika akan mendarat atau take off pada cuaca berkabut.

Di luar pagar, seorang pemuda Ende melambaikan tangan ketika penulis akan memasuki ruang kedatangan, sambil berteriak : Taksi … taksi … pak? Dia menawarkan mengantar ke Ende dengan biaya Rp. 30 ribu. Penulis bertanya bagaimana kalau ke Moni? Duke si pemuda itu menawarkan diri untuk mengantar sampai di Moni. Begitulah setelah sepakat dengan harga kami meluncur dengan Toyota Innova yang relatif masih baru. Penulis meminta dia untuk melihat-lihat kota Ende dulu sebelum ke Moni. Duke ternyata cukup tanggap. Dia langsung membawa kami ke tempat pengasingan Bung Karno ke Ende. Salah satu peninggalan sejarah yang dilestarikan.

PENGASINGAN BUNG KARNO

Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah pengasingan Bung Karno ternyata menjadi obyek pariwisata yang cukup menarik banyak wisatawan. Penulis datang bersamaan dengan 2 orang wisatawan dari Itali. Kedua pemuda yang nampak ramah itu bahkan menawarkan diri untuk memotret penulis.

Rumah pengasingan Bung Karno nampak sederhana untuk ukuran sekarang, tetapi  untuk waktu  itu pasti sudah bagus. Satu rumah terdiri dari 4 buah kamar dg ukuran yang sama besar, masing-masing lebih kurang 3X4 M. Satu kamar di belakang ada kamar khusus. Kamar Samadi.

Di belakang ada tanah kosong yang berfungsi sebagai taman dan ada sebuah sumur gali yang sangat dalam. Konon itu adalah sumur gali pertama di Ende. Pada waktu itu penduduk belum mengenal sumur gali. Di sebelah kanan belakang ada 3 buah ruangan kecil, yang berfungsi sebagai dapur dan peralatan.

Sumur Gali Pertama di Ende

Membayangkan lokasinya dan waktunya penulis dapat merasakan betapa terisolirnya beliau di tempat ini. Kemudian Duke mengantarkan kami ke pohon Sukun dengan 5 buah cabang. Konon ketika Bung Karno menggali Pancasila, beliau menanam sebuah pohon Sukun. Ketika tumbuh ternyata pohonnya bercabang 5. Seiring perjalanan waktu, pohon itu mati. Dan anehnya, ketika Megawati menanam kembali; pohon Sukun itu pun kembali bercabang lima. Wallahu’alam.

MONI

Setelah melihat sekeliling Ende, kemudian Duke mengantarkan kami ke Moni. Jalan menuju ke Moni berkelok-kelok, mengingatkan penulis ketika melewati cadas Pangeran antara Sumedang-Cirebon. Di tepi jalan, nampak sungai yng mengalir diantara dua bukit yang terjal. Indah dan artistik. Di kilometer 10 disebelah kiri jalan ada air terjun yang mengalir diatas dinding batu gunung. Pada waktu musim hujan, jumlahnya bisa 18 buah.

Bungalow Saoria Wisata

Kami sampai dan menginap di Saoria (Sao=rumah Ria=besar) sebuah bungalow milik Pemda. Suasananya seperti di daerah Kopo peristirahatan ke arah Puncak, hanya saja lebih sepi. Kami menginap di kamar no 07, persis menghadap jalan dengan pemandangan lembah dan bukit di depan mata. Cakep.

Moni adalah sebuah desa yang berada tepat dibawah Gunung Kelimutu. Jaraknya dari Ende 52 km. Moni menjadi tujuan para turis yang akan melihat danau Kelimutu, karena merupakan pos terdekat dan memiliki banyak fasilitas penginapan. Dari Moni ke pelataran parkir Kelimutu jaraknya kira-kira 13 km.

Sampai di Moni dan beristirahat. Besok harus jalan pagi-pagi untuk menyaksikan sunset di puncak Kelimutu. Pengurus Soaria Fi’ani mencarikan transportasi ke puncak Kelimutu. Ada dua pilihan pakai ojek atau dengan mobil. Pakai ojek Rp. 100 ribu dan dengan mobil Rp. 300 ribu. Penulis memilih yang ke dua, dengan pertimbangan lebih safe jika terjadi apa-apa. Dari Moni ke tempat parkir Puncak Kelimutu + 13an km.

Pada waktu makan malam di restoran di sebelah bungalow, kami bertemu dengan Sara Moreira. Gadis Portugis berusia 24 tahun. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai pengajar di Universitas Nasional Timor Timur mengajar computer engineering. Dan dalam perjalanan pulang ke Portugis, melalui Kupang. Gadis ini sungguh berani melakukan perjalanan sendiri pertama kali dari Dili ke Bali, melalui jalan darat.

PUNCAK KELIMUTU

Jam 04.30 pagi kami sudah siap untuk berangkat. Ahmad driver kami yang mengantarkan kami. Sara Moreira memilih naik ojek. Hujan gerimis mulai turun. Wah. Penulis diam-diam berdoa dalam hati, agar perjalanan ini tidak sia-sia. Mudah-mudah gerimis segera hilang agar dapat melihat keindahan danau Kelimutu. Amin3X.

Di jalan menuju puncak yang sempit tetapi beraspal bagus, beberapa bule nampak jalan kaki. Trekking ke puncak. Pada pos penjagaan kami berhenti sebentar untuk membeli tiket masuk. Beberapa bule nampak naik ojek. Seorang gadis dari Jerman antri di depan kami.

Danau Htam – Tiwu Ata Mbupu, dipercaya jadi tempat arwah orang tua

Jam 6 pagi mulai terang. Kabut masih menghalangi jalan membuat pandangan ke depan terbatas. Beberapa saat kemudian kami tiba di pelataran parkir. Di situ sudah banyak pengunjung yang menunggu untuk naik ke atas. Lalu kami berjalan ke puncak. Segmen awal jalan yang sudah diberi pavement berupa batu nampak cukup menanjak tajam. Tetapi ketika sampai di dekat puncak jalan yang hanya tanah gunung datar dan mudah. Setelah + 25 menit kami tiba di puncak. Cuaca masih kabut, dingin dan angin bertiup keras. Matahari sembunyi di balik awan dan kabut yang cukup tebal. Kami menunggu. Puluhan orang di puncak juga menunggu, dan (barangkali) sambil berdoa agar kabut segera sirna..

Danau Hijau – Tiwu Nawamuri Koofai

Dan … ketika angin bertiup keras, kabut pun tersibak! Dan … Danau Hijau – Tiwu Nuwamuri Koofai seperti muncul dengan tiba-tiba. Warna hijaunya yang indah muncul dari balik kabut tipis. Hampir seluruh pengunjung berteriak dan bergegas ke pinggir danau yang diberi pagar. Sayang yang nampak awal hanya Danau Hijau. Danau Coklat Tiwu Ata Polo yang warnanya mirip Coca Cola, yang letaknya bersebelahan danau Hijau; tidak kelihatan karena masih tertutup kabut.

Kami berlari ke sebelah belakang arah kami berdiri, dengan harapan dapat melihat Danau Hitam. Dan … untunglah diantara kabut tipis Danau Hitam Tiwu Ata Mbupu, kelihatan! Tebingnya curam dengan warna airnya kehitaman, nampak jauh dibawah.

Beberapa saat kemudian kabut kembali menyelimuti puncak Kelimutu 1.650 M. Kami harus sabar menunggu lagi, agar kabut segera sirna. Sementara matahari yang ditunggu terbit, hanya nampaknya sinarnya yang semburat dibalik selimut kabut.

Pak Aflinus penduduk lokal yang mengadu nasib menjadi pemandu wisata, menuangkan kopi panas dan menawarkan kepada kami. Asyik banget, minum kopi panas pada suasana begini! Dia juga menawarkan sarung tenun Ende untuk penahan dingin.

Di puncak Kelimutu dibangun sebuah tugu dengan tangga yang bertingkat. Jika kita berdiri di puncak tugu, maka kita dapat melihat ke 3 danau dengan baik. Hanya sayang kabut begitu pekat sehingga menghalangi pemandangan ke bawah. Menjelang siang kabut kembali menipis dan semua yang berada di puncak berebut memotret keindahan yang langka ini. Tetapi kabut kembali menutup puncak, maka kami ambil keputusan untuk turun. Melihat Tiwu Ata Polo dari dataran yang lebih rendah.

Danau Coklat – Tiwu Ata Polo, tempat arwah tukang tenung

Benar saja. Ketika sampai dibawah kabut mulai menipis dan perlahan-lahan menghilang. Matahari bersinar cukup terang. Danau Hijau tampak berdampingan dengan Danau Coklat yang warnanya  seperti Coca Cola. Dua danau ini hanya dibatasi oleh tebing terjal selebar + 5 meter.

Melihat keindahan yang spekatuler ini, tak tertahankan penulis mencari posisi yang paling tepat untuk menikmati karya Allah Swt ini. Penulis pun berjalan tepatnya mendaki di sepanjang tepi danau, untuk mendapatkan angle yang baik. Jam menunjukkan pukul 08.30 pagi. Sayang sungguh, pesawat yang kami tumpangi akan berangkat jam 12.30 siang. Ende masih 65 km dari Puncak Kelimutu. berarti kami harus segera turun, kembali ke Moni dan mengejar pesawat Trigana ke Ende. Apaboleh buat. Walaupun masih ingin lebih lama lagi menikmati keindahan yang amat langka ini, kami turun.

Di sebuah dataran ada sebuah helipad. pak Aflinus mengatakan dulu pada tahun 1988, Bapak Adam Malik pernah singgah di sini dengan menggunakan helikopter.

TURUN KEMBALI

Perjalanan turun lebih mudah. Suara nyanyian burung khas Kelimutu, yang katanya dapat menirukan suara apa saja terdengar nyaring. membuat situasi sangat nyaman. Udara bersih dan matahari bersinar terang, sinarnya terasa menyejukkan di ketinggian ini.

Kain tenun khas Ende dijajakan di pelataran parkir mobil

Beberapa saat kemudian kami sampai kembali di pelataran parkir. Ahmad sudah menunggu. Wajahnya nampak terang dan menyapa dengan ramah : ”Bisa liat danaunya pak?”. Di depan pelataran parkir ada sebuah rumah panggung, menjual makanan kecil dan minuman. Di depannya puluhan kain tenun khas Ende di gantung, seperti layaknya menjemur pakaian.

Dan setelah membeli beberapa lembar kain tenun Ende untuk sekedar kenang-kenangan, kami turun ke Moni. Sebenarnya kami ingin ke desa Nggela, dimana penduduk asli menenun kain Ende, tetapi waktunya tidak cukup. Sepanjang jalan ke Moni persawahan nampak subur. Penataan sawah hampir mirip dengan sisitim subak di Bali. sawah berundak-undak, artistik sekali.

herulegowo@yahoo.com

About these ads

Responses

  1. Wah, pengalaman yang dilukiskan Pak Heru sungguh menggetarkan…jika dikupas secara mendalam justru menarik untuk dibukukan …saya siap membantu menyuntingnya he…he…

  2. Pak Heru, konon kabarnya ketiga danau tersebut pernah satu warna yaitu hijau ketiganya.
    Dan biasanya Pak Heru selalu apik menguraikan fenomena yang anomali kayak gitu.
    Kalo bisa diceritakan, asik tuh Pak. Padahal membaca yg ini aja, aku dah larut seperti berada di Kelimutu walaupun belum pernah ke sana.
    Salam sukses.

  3. Keren..Like this..

  4. Good Job ;)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: