Posted by: Heru Legowo | December 10, 2009

VANCOUVER (2)


Hari ke dua di Vancouver. Acara 125th IATA Schedules Conference dimulai jam 08.00. setelah sarapan pagi, kami bergegas ke lokasi acara Westin Bayshore Hotel. Pak Tenten sudah jalan duluan, dan ketika kami datang Wieta juga sudah siap di mejanya di ruangan utama konferensi.

Maksud dari konferensi ini adalah : “to provide a forum for the allocation of slots at coordinated airports and for the reaching of consensus on the schedule adjustments necessary to conform to airport capacity limitations at schedules facilitated airports”.

Maxin jaga peserta yang tidak pakai badge

Pagi itu, merupakan pertemuan seluruh praktisi aviasi dari seluruh dunia. Hampir seluruh airline di dunia hadir pada acara ini. Juga bandara-bandara terkemuka di dunia. Mereka saling meminta dan menawarkan slot time dari masing-masing bandaranya. Anehnya, penetuan slot time jarang melibatkan bandara. Semestinya ada sebuah komite yang anggotanya terdiri dari airline (flag carrier) dan pengelola bandara. Secara bersama-sama mereka akan menentukan waktu yang tepat, untuk datang dan berangkat dari suatu bandara. Malaysia katanya akan menerapkan komite ini tahun depan. Indonesia belum juga mulai. Selayaknya mulai difikirkan bersama antara airline dan pengelola bandara, mulai sekarang.

Bersama Pak Tenten, penulis sempat bertemu coordinator slot time untuk Beijing dan Shanghai. Kami meminta slot time baru untuk penerbangan Garuda, karena adanya perubahan jenis pesawat dan waktunya. Exchange data ini dilakukan melalu program APAL (application airline), yang disiapkan oleh IATA. Melalui program itu, semua airline dapat mengkomunikasikan keinginannya dengan Slot Coordinator dari masing-masing Negara.

Pendaftaran ulang disini

Di luar ruangan konferensi, puluhan bandara di dunia memajang produknya. Setelah diamati, kebanyakan mereka menyatakan sedang merenovasi bandaranya. Membuat runway baru dan terminal baru untuk memudahkan pergerakan penumpang dan cargo di bandara mereka. Memperhatikan dan melihat brosur, booklet, penjelasan mereka, membuat sedikit agak minder juga! Mereka sangat professional dan didukung dana yang sangat kuat.

Selain bandara, juga penyedia jasa pelayanan system bandara, menjajakan keunggulan masing-masing. Salah satu diantaranya DME (Dedication Merit Excellence) dalam salah satu tagline-nya menyatakan : the busiest man finds the most leisure. Orang yang paling sibuk, justru menemukan kesenangan terbaik. Wuahh. Sangat inspiratif dan menantang!

Vancouver Trolly

Sore hari setelah selesai mengikuti acara di Westin Penulis menyempatkan diri untuk memanfaatkan waktu. Melihat lebih lengkap Vancouver. Kami memilih naik Vancouver Trolley Bus, Hop-On-Hop-Off. Biayanya $30/hari, tetapi jika dua hari hanya $37. Kami memilih yang dua hari. Jika naik bus ini, kita bisa naik dan turun di sepanjang rute yang dilaluinya, dengan hanya sekali membayar. Sopirnya berasal dari Bangladesh. Namanya Babu. Dia cukup lucu dan tampak baik hati.

Jadilah sepanjang jalan, dia menyetir sambil berceritera. Sayang hujan cukup deras. Maunya turun dan naik di beberapa tempat yang eksotis. Di Brockton Point, kami memaksa turun untuk mengambil foto. Suhu sangat dingin. Tanpa kaos tangan, jari-jari terasa beku. Membayangkan jika terkena frost-bite di gunung bersalju. Wwuiihhh. Jembatan Lions Gate Bridge yang katanya mirip dengan Golden Gate di San Fransisco hanya tampak sayup-sayup. Pandangan tertutup hujan dan kabut. Sayang sekali. Pada waktu cuaca cerah, pasti indah sekali. Terus kami memasuki hutan yang dibiarkan tetap seperti awalnya. Babu memberhentikan busnya sebentar, di sisi sebuah pohon yang berusia 800 tahun.

Prospect Point dari sini Lion's Gate Bridge tampak anggun

Di Prospect Point, kami berhenti sebentar. Hujan masih turun. Di sini kita dapat melihat Lions Gate Bridge dengan lebih dekat. Sayang hujan membuat keindahannya menjadi redup. Berikutnya kami melalui English Bay. Dalam cuaca yang dingin dan membekukan rasa ini, penulis membayangkan bagaimana dulu Kapten George Vancouver mengadakan eksplorasi, di wilayah yang belum dikenalnya. Dia pasti seorang yang luar biasa!

Akhirnya kami berhenti dan turun, di tempat semula kami naik. Babu bertanya : what is Indonesian words for : I Love You? Ternyata dia cepat belajar dan fasih mengucapkannya dengan benar. Ketika kembali ditanya dalam bahasa Bangladesh apa? Dia bilang : Ami Tumake Halowasi! But make sure you don’t say it to girls, or she will angry with you!

Masak iya sih? Dan memang nggak sempat mempraktekkan kalimat itu, wong nggak ketemu gadis Bangladesh hehe …

herulegowo@yahoo.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: