Posted by: Heru Legowo | December 10, 2009

VANCOUVER (3)


Chapra penerima tamu

Hari ke tiga, di Vancouver masih hujan juga. Malah sekarang mulai pagi. Jadilah, persiapan agak ribet. Pakaian rangkap, syal, pelindung kepala, kaus tangan, payung. Wah … kayak orang bule deh. Baru kemudian penulis menyadari, barangkali karena sering ribet begini orang-orang bule cermat dan teliti dalam menyiapkan segalanya. Kalau salah sedikit, bisa fatal akibatnya. Mulai hal-hal yang kecil mereka menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Akhirnya ini menjadi way of life mereka. Dan kita? Kita terlalu santai. Alam sangat bersahabat dengan kita. Kita jarang berhadapan dengan “sesuatu” yang membahayakan. Akibatnya sense of crisis kita lemah!

Wieta dari Garuda

Hujan gerimis, kami jalan cepat ke Westin Bayshore dengan menggunakan payung. Pagi ini penulis bersama pak Tenten menemui Narita Slot Coordination. Kami diterima oleh Akihiko Shirai, Yuko Toyama, Masatake Kakuhata, Jun Yokokura, dan Keiko Ozawa. Garuda mengajukan tambahan flight dari Bali ke Narita, atau rute baru Jakarta-Narita. Mereka bertahan tidak mau memberikan tambahan slot time bagi Garuda. Garuda memiliki 34,5 unit dan baru terpenuhi 30 unit, jadi masih 4,5 unit tersisa. Tetapi mereka bertahan, katanya harus ada Air Talk terlebih dahulu antar pemerintah Jepang dan Indonesia. Tetapi ketika di konformasi dengan DGCAnya Jepang yang duduk disampingnya, mereka mengatakan tergantung slot dan harus dibicarakan lebih dahulu. Pokoknya … gagal! Pak Tenten, mangkel banget kayaknya. Padahal nilainya sudah 2 kali 10 : ten + ten … Waduuhhh!

Berikutnya kami ke slot koordinator Shanghai China. Kali ini berjalan mulus, mereka setuju dan membubuhkan tandatangan approvalnya di sheet Appcal IATA. Pak Tenten, segera memfotocopy approval tsb, dan memberikan copynya ke petugas coordinator Shanghai. Lupa namanya.

Di meja Garuda-Indonesia, Wieta sudah 2 kali menerima tamu dari KLM, Qantas, Malaysian Air System dan Silk Air. Dari sisi Garuda Indonesia tampaknya tidak ada masalah yang berarti, kecuali perbedaan waktu sedikit saja. Semuanya tampaknya OK saja.

Kemudian penulis datang ke pameran Narita Airport. Mr. Yoshihiro Hihara Senior Manager Operations dan Mr. Hideharu Miyamoto Senior Manager Strategic Planning, menemui kami. Mereka berceritera telah menyelesaikan pembangunan parallel runway sepanjang 2500 meter. Dan pada tanggal 22 Okt 2009 sudah dioperasikan. Narita melayani 32 juta penumpang/tahun, dan ranking ke tiga pelayanan cargo setelah Hongkong dan Incheon. Pada 7 Mei, Narita mendapat klasifikasi “diamond” dari Indonesian Service Quality Awards 2009.

Menjelang sore, penulis memanfaatkan waktu. Lagi-lagi harus cerdas dan cermat, menggunakan waktu yang sempit. Kali ini targetnya : Lion Gate Bridge. Jembatan yang konon identik dengan jembatan Golden Gate di San Fransisco ini menghubungkan Vancouver di selatan dengan Vancouver utara dan barat. Jembatan ini dibangun pada tanggal 31 Maret 1937. Biayanya $5,873,837. Dimulai ketika keluarga Guinness yang terkenal memproduksi bir, akan membeli tanah di utara pantai. Tahun 1932 mereka membeli tanah seluas 4.000 acre di Vancouver Barat. Keluarga Guniness akan mengembangkan tanah tsb, dan mengangkut pekerja kesana.

Lion's Gate Bridge menghubungkan dg Vancouver Utara

Dinamakan Lions, karena ada 2 buah gunung kembar di bagian utara Vancouver. Panjangnya 1.823 M dengan 2 buah menara penyangga setinggi 111 M. Tinggi jembatan dari muka air,  dimana kapal bisa lewat dibawahnya adalah 61 M. Jumlah mobil yang lewat 60–70 ribu/hari, atau 50 mobil/menit. Tanggal 24 Maret 2005 jembatan ini dinyatakan sebagai benda bersejarah Canada.

Agar praktis, kami memilih taksi untuk kesana. Dan lagi-lagi kami cukup beruntung, karena sopir taksi kami suku Sikh dari India. Namanya sulit jadi penulis lupa. Si Sikh ini mau saja diminta menunggu, sementara kami mengambil foto Lions Gate Brdige dari beberapa sudut.

Akhirnya jadilah kami menyusuri Lions Gate Bridge. Sedikit lebih panjang dari Jembatan Suramadu dan Jembatan Ampera di Palembang lah. Dari tengah ketinggian lengkungan jembatan, gedung-gedung ditepi teluk Burrard tampak indah. Sebuah kapal sedang berlayar ditengah buritanhya meninggalkan buih. Dan sebuah pesawat amphibi, tengah mendarat di pelabuhan. Keren. Eksotis sekali. Mestinya berhenti sebentar, untuk menikmati keindahan yang langka ini. Setelah lewat, kami minta untuk foto dari sisi yang lain di utara, ternyata tidak ada lokasi yang pas. Kami terus dan berhenti di Lonsdale Quay. Maksudnya mau kembali ke Vancouver Selatan dengan Sea Bus. Tapi ketika mau beli tiket, kami melewati stasiun bus, lalu ingat pengen lihat Grouse Mountain. Dasar pemanjat gunung, nggak bisa denger kata mountain hehe …

Salju di Grouse Mountain 1100 M

Ya sudah, dan Ahdi nurut saja ketika penulis maksa, naik bus 236 jurusan Grouse Mountain. Bayar $ 2,5 per orang. Naik bus, harus pakai koin, nggak bisa bayar pakai uang kertas! Announcement di atas bus selalu berbunyi ketika kita melewati tempat tertentu.Juga ada display di atas sopir. Bus berjalan menyusuri jalan yang sedikit demi sedikit mendaki. Penjelasan audio, menyebut jalan dengan terminolgi berbeda-beda. Padahal jalannya hampir sama. Terus penulis jadi bertanya-tanya, apa bedanya : street, avenue, road, drive, boulevard? Hayooo …?

herulegowo@yahoo.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: