Posted by: Heru Legowo | December 10, 2009

VANCOUVER (1)


Indonesian Team

Hari pertama di Vancouver. Tubuh belum juga menyesuaikan diri. Jam 8 pagi, biasanya masih tengah malam di Bali. Ngantuk. Hari ini kami baru akan melakukan regsitrasi untuk mengikuti 125th IATA Schedules Conference dari tgl 19 – 22 November di Westin Bayshores.

Setelah sarapan pagi kami ber-enam : Tenten, Wieta (Garuda), Yuni, Ervinna(DJU), Ahdi (AP2), dan penulis menuju ke lokasi konferensi di Hotel Westin Bayshore. Jalan kaki dari Listel Hotel tempat kami menginap. Kami mendaftarkan diri. Masing-masing mendapat sebuah tas dengan nama peserta. Semua peserta harus menggunakan badge namanya masing-masing, jika masuk ke lokasi, jika tidak akan ditolak. Tempat pelaksanaan tampak belum siap, masih diadakan persiapan disana-sini. Di luar ruang utama, terletak banyak booth bandara-bandara terkenal di dunia yang memajang dirinya : Dallas Forworth, Arlanda-Stockholm, Aeroporti de Roma, dan beberapa airport dunia lainnya.

Bersama rekan dari Malaysia Nik & Yusof

Setelah itu, kami sengaja mampir di Konsul Indonesia di Vancouver. Maksudnya mau lapor dan minta cap Konsul untuk kenang-kenangan saja. Menurut kabar ada 500-an orang Indonesia yang tinggal di Vancouver. Di depan loket seorang lelaki setengah baya, melayani kami. Ternyata dia minta kami mengisi formulir, pasfoto dan fotocopy paspor kami. Wah, ribet. Nggak jadi saja! Balik kanan dan nggeloyor pergi. Mendingan jalan-jalan daripada repot hehehe …

Angin mulai berhembus. Dingin di telinga yang tidak tahan. Juga tangan menjadi kebas, menyetuh shutter release kamera digital pun menjad sedikit susah. Terpaksa mampir di tokonya Karim seorang Afghanistan yang sudah puluhan tahun tinggal di Vancouver. Beli sarung tangan! Harganya $24 sepasang. Harga-harga di Vancouver tidak termasuk pajak. Kalau anda membeli barang, mereka akan tambahkan pajak 10% dari harga barang yang anda beli. Jadi harus bayar $27. Mahal ya? Karim mengingatkan sore hari nanti akan hujan, dia sarankan agar kami membeli payung juga. Tapi kami tidak mau.

Vancouver Lion's Gate Bridge

Kami jalan saja. Melihat-lihat Vancouver. Di luar dingin, dan hujan mulai turun. Ternyata Karim benar, harusnya beli payung tadi. Terpaksa kami menggunakan teknik keluar-masuk toko. Karena di dalam toko ada pemanasnya, jadi hangat. Jika mulai dingin dan nggak tahan, masuk toko, pura-pura mau beli … kalau sudah hangat jalan lagi. Gitu deh.

Setelah capek, ada pilihan lain : naik bus umum. Belum tau jalannya pokoknya naik saja dah. Di depan, ketika kami menyodorkan uang kertas, sopirnya bilang : only for small change, it’s OK! Jadi, nggak usah bayar! Wah, kalau di Jakarta, bisa bangkrut perusahaannya neh.

Setelah lelah seharian jalan ditengah hujan dan dingin, kami makan malam di resoran HON di jalan Boston. HON adalah singkatan House of Noodles. Nasi goreng dan ikan bumbu menjadi santapan yang lezat. Ketika selesai sebagai penutup, masing-masing kami diberi sebuah kue kering yang berongga didalamnya. Dan ternyata didalamnya ada sebuah kertas dengan pesan tertulis tinta merah.

Tulisan pada kue penulis berbunyi : Keep a “go-for-it” attitude, and you are sure to be a winner … Wah, fortune teller nih. Mudah-mudahan saja ini berlaku … Amin3X

herulegowo@yahoo.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: