Posted by: Heru Legowo | December 17, 2009

NUNUKAN SELAYANG PANDANG


Nunukan semula hanyalah sebuah kota Kecamatan di utara Kalimantan berbatasan langsung dengan Sabah Malaysia. Otonomi daerah dan barangkali tuntutan ekonomi membuat kecamatan ini kemudian berubah menjadi sebuah kabupaten. Pemerintah segera mengadakan perubahan besar. Bupati nunukan yang semula adalah seorang pebisnis Bpk. H. Abdul Hafid Ahmad didampingi Wakil bupati Drs. H. Ngatidjan Achamdi M.Si, bekerja keras untuk membangun wilayah ini yang berhadapan dengan kota terdekat Tawau di Sabah Malaysia.

Kami bertiga datang melalui Tarakan. Pesawat ATR42-300 Trigana mengantarkan kami ke Nunukan. Captain Hasanuddin mendaratkan pesawatnya mulus. Segera saja kami merasa seperti di Bandara Temindung Samarinda beberapa tahun yang lalu. Begitu turun dari pesawat kami cukup surprise ternyata Nunukan memiliki terminal penumpang yang sangat bagus, untuk ukuran bandara kelas III ini. Terminal dengan atap melengkung dn bercat abu-abu tampak megah, kontras dengan sekelilingnya. Dari kejauhan Tower Nunukan tampak ramping dan manis. Membuat penulis membayangkan ketika bertugas di Tower semacam itu, beberapa puluh tahun yang lalu.

Bandara Nunukan yang semula hanya sebuah air strip, mendapat perhatian yang memadai. Sebuah terminal yang megah segera dibangun menggantikan terminal lama yang hanya seperti sebuah gudang yang tidak terurus. Bpk. Mirin Kepala Bandara Nunukan yang semula bertugas di Tanjung Selor, sudah 3 tahun bertugas di Nunukan. Beliau tampak berusaha melakukan banyak hal untuk membuat Nunukan menjadi sebuah bandara yang memadai. Pelebaran apron untuk menampung pesawat-pesawat kecil ringan terus diusahakan. Juga perkerasan strip di sisi landasan pacu.

Pesawat ATR42-300 melakukan penerbangan rutin ke Tarakan dan Samarinda. Sementara Susi Air dan Kura-kura Aviation menghubungkan Nunukan dengan bandara-bandara perintis di sekitarnya.

Nunukan dengan penduduk yang relatif masih sedikit merupakan kabupaten paling utara yang berbatasan dengan Malaysia. Oleh sebab itu, banyak produk-produk Malaysia yang diperjual-belikan di Nunukan. Teh tarik, Milo, Kopi Tongkat Ali sangat terkenal di Nunukan. Geliat perekomomian sangat terasa di sini.

LINTAS BATAS

Penulis bermaksud menyempatkan diri untuk menengok Tawau, kota terdekat yang berada di negara bagian Sabah Malaysia. Pertama sudah tentu, karena tidak membawa paspor harus mengurus Pas Lintas Batas (PLB). Untunglah Bapak Asdi Kepala Imigrasi Nunukan berbaik hati membantu sehingga pengurusan PLB berlangsung lancar dan cepat.

Setelah selesai mengurus PLB, kami menuju ke Tunon Taka, dermaga ferry dan kapal Nunukan. Salah satu fasilitas yang menghubungkan Nunukan dengan wilayah sekitarnya. Jam 10 pagi kapal boat Malindo dengan kapasitas 150-an orang siap berangkat. Kapten kapalnya Abdul Halim dari Sedayu-Gresik, memiliki jenggot yang dipelihara panjang. Tampaknya sangar, tetapi setelah ngobrol, ternyata dia ramah dan baik.

Perjalanan dri Nunukan ke Tawau 1 jam. Di televisi di tayangkan lagu-lagu cinta dengan bahasa Bugis. Lebih dari setengah penduduk barangkali berasal dari Bugis dan Sulawesi. Kapal terisi hampir ¾ nya, lebih kurang seratusan orang didalamnya. Dari tempat duduk, ketinggian air di luar kira-kira setinggi pundak. Jadi penumpang duduk “dibawah” permukaan air. Boat melaju dengan cepat dan mulus. Beberapa saat kemudian ketika pengecekan tiket dan PLB selesai. Seorang laki-laki membawa buku dan menawarkan kepada penumpang yang mau  menyumbang untuk pembangunan masjid di Nunukan. Dia berjalan dari depan ke belakang mencatat nama dan memasukkan uang sumbangan kedalam tas yang tergantung didepan badannya.

30 menit berjalan lancar, tiba-tiba terasa boat mengurangi kecepatannya dan kemudian berhenti. Penulis bertanya kepada Ali yang bertugas sebagai semacam kondektur dari boat ini. Dia menjawab : “Biasa, pemeriksaan Polis Diraja Malaysia”. Karena tertarik, penulis keluar boat berdiri di tepi kapal. Dan benar saja, 3 orang Polis Diraja Malaysia dengan seragam biru tua dengan boat kecilnya merapat ke Malindo. Mereka mengikatkan tali ke boat kami dan kemudian naik ke atas dek memeriksa kapal. Penulis berusaha untuk memotret mereka, tetapi Ali menahan: “Hati-hati pak, jangan sampai ketahuan” Setelah beberapa puluh menit, boat Polis Diraja Malaysia bergerak meninggalkan boat kami.

Penulis sempat memotret mereka dari belakang. Ali berceritera. Mereka selalu begitu, mengambil barang yang mereka suka dan juga minta uang. Jika kelihatan penumpangnya penuh, mereka mendekat, memberi tanda atau mengirim sms lebih dulu. Dan kapten serta crew kapal sudah tau maksudnya. Pada waktu masa penuh penumpang, dapat terjadi 4 kali mereka dihentikan di lokasi : Kampung Baru, Tanjung Baru dan 2 lokasi di wilayah dekat Tawau.

Menurut Ali maksimal mereka minta 250-an ringgit Malaysia. Kalau 4 lokasi brerati RM 1.000 X Rp. 3.000.- Lumayan juga. Ternyata “sempritan” bukan hanya di darat di laut pun terjadi! Waduuhh!


Responses

  1. Sudah 3 tahunan nggak ke Nunukan…apakah masih seperti yang dulu….he he he he…

  2. 2thn sudah tidak menerbangkan Airvan PK-WLV n PK-WLU

  3. maantap…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: