Posted by: Heru Legowo | December 17, 2009

TAWAU TETANGGA DI UTARA


Boat at Nunukan

Boat meluncur terus dengan mulus. 30 menit kemudian kami merapat di Tawau. Dari jauh tampak sebuah masjid dengan kubah berwarna hijau. Masjid Al-Kauthar. Warga Tawau sangat membanggakan masjid.  Selamat datang ke Tawau! Setelah selesai dari pemeriksaan Imigresyen dan Kastam Diraja Malysia, kami keluar. Sambil menunggu mobil yang kami pesan, kami minum teh tarik RM 1,4 untuk yang panas dan yang sejuk RM 1,8 sekitar Rp 5.000.-. Situasi warung di sini masih sama dengan di wilayah Indonesia. Pelayannya juga berbahasa Indonesia atau Melayu? Sebentar kemudian Herman driver mobil carteran kami datang. Dia lahir di Tawau tetapi kakek moyangnya asli dari Bugis.

Kapten kapal bilang jadwal kapal akan kembali jam 03.30 sore, tetapi kami tetap akan ditunggu. Berarti kami punya waktu 4 jam untuk melihat-lihat Tawau. Jadi harus efektif nih. Jadilah, kami minta Herman ke airport lebih dahulu. Sekedar untuk benchmarking. Dari dermaga ke Tawau International Airport (TIA) butuh waktu 45 menit. Jalannya mulus. 2 sisi jalan dengan 2 jalur terpisah. Jalan ini juga menuju ke Kota Kinabalu.

TAWAU INTERNATIONAL AIRPORT

Tawau Air Traffic Control Tower

Sebenarnya kunjungan ini sekedar hanya ingin membandingkan saja. Mengingat waktu yang terbatas. Jadilah kami masuk ke TIA. Bandara ini kecil saja, hanya sebesar Bandara Juata Tarakan barangkali. Towernya di cat pink. Sexy. Terminal sedang sepi, hanya beberapa orang duduk-duduk. Di depan terminal, sebuah kantor polisi.  Kami naik ke atas di lantai dua. Ketika mencoba duduk, aliran udara bergerak dengan bebas. Jadi ketika duduk-duduk tidak terasa panas. Konstruksi atapnya hampir mirip dengan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dengan rangka baja yang di cat putih.

Bandara Tawau meskipun kecil, memiliki canopy yang melindungi penumpang dari hujan dan panas. Jadi di depan terminal di curb side, tertutup baik dengan atap, sehingga penumpang tidak takut kehujanan atau tampias air. Sayang bandara sedang sepi, tidak ada kegiatan sehinga kami tidak dapat melihat aktivitasnya. Di luar terminal jajaran pohon rindang terpelihara dengan baik. Kesan green cukup terasa.

Tawau Airport Terminal Curbside

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Berikutnya kami ke Masjid Al-Kauthar di tepi laut. Masjid ini menjadi kebanggan warga. Kalau Jumat dua lantainya penuh terisi. Yang menarik tempat wudhunya terletak dibawah. Sehingga kita harus jongkok di depan kolam wudhu besar yang tersedia. Setelah shalat Dzuhur, kami mencari tempat makan siang. Restoran Sri Keningau menyediakan menu beraneka macam. Mirip  Rumah makan Padang. Kari ikan terasa berbeda. Barangkali karena dipengaruhi India, kari nya berbdea dengan kita. Kalau kare kita berwarna kuning dan dengan santan. Kari mereka tidak dengan santan, berwarna agak kemerahan dan bumbunya terasa cukup tajam di lidah.

Yang menarik di jalan Pesisiran atau Higway Beach di sisi kearah laut tidak ada bangunan sepotong pun! Kecuali tempat untuk fasilitas umum. Jadi pemandangan ke arah laut bebas dan lepas. Beberapa orang duduk di bangku-bangku taman. Kapal-kapal yang hilir mudik tampak jelas. Di depan sana, Sungai Nyamuk wilayah Indonesia. Seandainya saja pemerintah tegas dan dapat menerapkan seperti ini, kita pasti banyak dapat melihat pantai yang bagus. Tetapi pantai-pantai kita tertutup oleh warung-warung, restoran, bangunan sehingga keindahannya tidak dapat diniklmati semua orang. Sayang sungguh. Barangkali ini hal kecil yang membedakan kita dengan mereka.

Masjid Al-Kauthar Tawau

Jam 03.30 sore kami kembali ke dermaga. Kapten Abdul Halim duduk bersama kami minum Kopi O, kopi tanpa gula. Kami ngobrol kesana-kemari. Ketika penulis bertanya jam berapa kita berangkat? Kapten kapal dengan enteng menjawab : “Terserah bapak, kalau masih lama saya tunggu”. Wah !

Perjalanan pulang terasa lebih cepat, juga tidak ada gangguan dari Polis DM. Penulis sengaja ke luar dan duduk di haluan kapal. Laju kapal yang 25 knots per jam sangat terasa. Mulus dan asyik. Di kejauhan di bukit-bukit wilayah Tawau tampak pohon-pohon sawit yang ditanam dengan lajur yang teratur dan rapi. Sempat terbetik di benak penulis, mengapa kita tidak dapat menanam seperti mereka? Pada tanah dan cuaca yang tidak berbeda?  Mereka mendapat devisa besar dari perkebunan ini. Sedangkan kita?

Matahari bersembunyi

Deru mesin boat terdengar di belakang. Angin berhembus sepoi. Matahari tertutup awan. Sinarnya keluar di sela-sela awan memancar dan menyentuh permukaan laut. Indah sekali. Satu lagi perjalanan singkat untuk melihat dunia lain telah dilakukan. Ini semakin memberi pemahaman, bahwa Indonesia begitu besar. Potensinya sungguh luar biasa. Kita harus dapat mengolahnya dengan baik.


Responses

  1. keren neh

  2. mantaps …. pake p gak pake f..^_* … niar

  3. Nice post about Tawau!

  4. Dua Tahun aku kat situ … ada banyak kenangan tak bole aku lupa …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: