Posted by: Heru Legowo | December 21, 2009

MENGENANG IGP MUSTIKA


IGP Mustika (alm) bersama isteri

Rabu Pon, 8 September 2004, penulis sedang menuju ke terminal F Bandara Soekarno-Hatta, dalam rangka perjalanan dinas ke Bandara Sepinggan-Balikpapan. Jam 17.00 ketika melewati Gedung Pusat PT. Angkasa Pura II, tiba-tiba saja penulis ingat Pak Mustika yang ketika itu sedang sakit. Penulis segera pencet nomor HP Pak Mustika. Dan setelah 5 kali dering dan hampir saja penulis memutuskan untuk membatalkan panggilan; tiba-tiba dari seberang sana terdengar suara Pak Mustika. Suaranya terdengar biasa walaupun agak lemah. Beliau di rumah dan sedang berada di tempat tidur. Menyadari hal itu, penulis segera memutuskan pembicaraan. Berdoa semoga beliau segera pulih kembali.

GA514 ke Balikpapan terlambat dari jadwal. Ketika roda pesawat baru saja menjejak landasan, dering nada sms langsung masuk terdengar.  Dan penulis sungguh sangat terkejut membaca sms dari Bpk. Gatot Pudjo Martono. Innalillahi wa inailahi rojiun …. Allah sungguh Maha Besar, baru lebih kurang 3 jam yang lalu penulis masih bertelepon langsung, dan tiba-tiba saja sekarang penulis kehilangan seorang teman, sahabat, rekan diskusi, “pelatih” dan “bapak” pendengar yang baik. Seorang pekerja keras yang memiliki talenta empowering yang kuat dan konsisten. Pak Mustika menghadap ke hadiratNYA.

AWAL KARIER

Ketika pesawat menuju ke tempat parking stand Bandara Sepinggan, angan-angan penulis bergerak mundur beberapa puluh tahun berselang. Tahun 1976 ketika penulis fresh graduate sebagai seorang ATC, Pak Mustika adalah senior penulis yang 6 bulan lebih dahulu ditempatkan di Bandara Sepinggan. Ketika itu Bandara Sepinggan masih mirip seperti “air strip”. Bandara dengan terminal yang mirip gudang dengan fasilitas sangat minim; tetapi pergerakan pesawatnya luar biasa, hampir 160 pesawat per hari! Blitu (Bli Putu) begitu panggilan akrab penulis kepada beliau, adalah seorang ATC generasi ke tiga yang ditempatkan di Bandara Sepinggan Balikpapan.

Di mata penulis dahulu Pak Mustika adalah ATC yang cuek, lebih banyak diam dan merenung (mungkin karena homesick). Tidak tampak sesuatu yang istimewa. Hanya saja kesan itu mendadak berubah, jika beliau sedang menguraikan suatu hal. Memberikan analisis atau tanggapan atas suatu masalah. Pada saat itu, beliau sangat sering mempunyai gagasan yang aneh, spektakuler dan keluar dari kebanyakan pemikiran rekan-rekan ATC.

TEMAN, SAHABAT DAN GURU

Ketekunannya jika sedang memikirkan sesuatu sungguh mengagumkan. Ketika bersama-sama penulis dan Pak Tulus Pranowo mengikuti ujian masuk Pasca Sarjana Transportasi ITB, Pak Mustika menunjukkan kemampuannya dalam berkonsentrasi pada beberapa topik secara bersamaan.

Menjelang upacara ngaben di Blayu - Tabanan

Kegiatan diluar kantor juga cukup menonjol. Di Balikpapan beliau sempat dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Balikpapan, sampai dengan peringkat Lektor Kepala. Di luar jam-jam kantor bersama beliau penulis sering terlibat diskusi yang cukup intens dan mempertajam pola fikir, wawasan dan pandangan. Pak Mustika adalah seorang yang pandai meng-explore, meng-encourage dan mengarahkan orang agar masuk ke dalam pola fikir dan pandangannya.

MELEJIT MENUJU PUNCAK

Pak Mustika barangkali hanya sedikit dari karyawan yang bekerja awal di Cabang Bandara yang tidak pernah menjadi Asisten Manager. Begitu Bandara Sepinggan masuk ke dalam jajaran PT. Angkasa Pura I (Persero), Pak Mustika langsung ditunjuk menjadi Kepala Divisi Operasi Lalu Lintas Udara!

Beberapa tahun kemudian dipercaya untuk menjadi Kepala Divisi Keuangan, suatu tour of duty yang tidak lazim. Dan prestasi beliau menjadi semakin diakui, ketika kemudian beliau dipercayai untuk menjadi Kasubdit Keuangan. Bukan main seorang mantan ATC jadi Kasubdit Keuangan! Berikutnya beliau duduk sebagai Kasubdit Perinbang. Oleh karena itu rasanya beliau menjadi salah satu dari sedikit orang yang sangat mengerti tentang PT. Angkasa Pura I.

Menjadi Direktur Keuangan di Angkasa Pura II barangkali tidak pernah terfikirkan oleh beliau, walaupun secara bergurau pernah diutarakan sekilas kepada penulis, di rumah beliau di Blayu, Tabanan Bali. Dengan bekerja keras yang cenderung kearah workoholic, kepercayaan dan rakhmat Allah SWT Pak Mustika menapaki puncak kariernya ! Penghargaan yang sungguh pantas atas kemampuan, konsistensi dan dedikasinya yang telah diberikan secara penuh kepada perusahaan.

Garis yang telah ditentukan oleh Allah SWT tetap akan datang secara pasti dan tak seorang pun dapat mengelak. Rabu Pon, 8 September 2004 jam 18.30 Sang Widi Waca memanggil beliau kembali pulang. Beliau meninggalkan 3 orang puteri dan seorang isteri yang dari pengamatan penulis sangat men-support beliau dengan sepenuh jiwa.

Seorang I Gusti Putu Mustika, barangkali menjadi salah satu dari sedikit sosok yang dapat kita teladani. Memang tidak ada gading yang tak retak, tetapi jejak-jejak kehidupan beliau pantas menjadi tauladan. Kemampuan beliau “mendengar secara aktif” dan empowering stafnya dan sikapnya yang plastis dan akomodatif dalam mencari suatu solusi, menjadi salah satu hal yang positif yang patut diteladani bagi staf dan koleganya.

Lima tahun berlalu Blitu, …. Semoga Ida Sang Hyang Widi Waca menerima semua amal baikmu … Amin.

herulegowo@yahoo.com


Responses

  1. Perjalanan Sejarah yang mungkin patut dicontoh..
    Saluuuuut Pak

  2. He is brother of everybody
    He is so close to me while in Betawi
    He is so great women lover
    He is so romantic
    He has no secret sealed to me
    He is forgetful in one thing … health instead of wealth
    He is unique and get lost
    But in the end he is recalled by His MASTER
    Bon voyage my Bro
    You are always in my mind….

  3. Tks pak…. tepat sekali …. mengingatkan kita semua akan rasa kekeluargaan dan penuh kebersamaan waktu itu, dengan Pak Mus.

  4. Mas Heru yang baik, tidak sengaja saya “terhantarkan” ke Situs ini. Membaca tulisan tentang Pak Mustika, saya berkaca-kaca, menitikkan ir mata kembali. Tengah malam ini, saat saya menulis, saya terbawa kembali ke masa lalu. Di hari hari itu, saat kami bersama Beliau menghadapi “tekanan” pekerjaan yang luar biasa berat. Saat mendengar kabar kepergian Beliau, saya langsung meluncur dari kantor ke rumah sakit, ikut urus jenazah. Lanjut ke rumah duka di Rawa kerbau sampai larut malam. Bersama isteri dan anakku yang kecil “Pras” ikut ke Denpasar.( malam ini saya sempatkan tunjukkan foto ngaben ke Pras, dia masih ingat…….) Semoga Beliau saat ini telah berada di tempat yang layak…..

    Mas Heru………, kangeeeeen……. Salam untuk keluarga!! (tulus.pranowo@yahoo.com)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: