Posted by: Heru Legowo | December 28, 2009

THE BEAUTY OF NEW YORK (2)


Bus Hop On Hop Off Gray Line

Hari berikutnya, masih di Hotel Inqonguin room 1201, New York. Bangun pagi, sarapan dan bersiap keluar. Tanya di resepsionis tentang bus pariwisata. Dan dengan tourist map ditangan, berjalan ke arah Times Square. 10 menit berjalan sudah tampak seorang berkulit hitam sedang menawarkan bus city tour Hop On Hop Off. Harga tiket untuk 2 hari $54. Jadilah bersama beberapa turis dari Italia, kami membeli tiket Bus Gray Line.

Berjalan 2 blok, ada sebuah bus Gray Line bertingkat dua, yang kebetulan sedang menunggu penumpang. Setelah dicek tiketnya, naik ke atas tingkat atas. Cari posisi dengan pandangan lepas untuk menikmati keindahan New York. Bus berjalan perlahan. Seorang wanita pemandu wisata menjelaskan apa yang berada disekeliling kami, jalan, jembatan, gedung, perumahan, kantor dsbnya. Bahasanya jelas dan mudah diikuti. Setiap ada bus stop dan bus berhenti, dia selalu mengatakan : jika ada tip, maka kami akan berterimakasih. Gratuity is appreciated. Lugas dan langsung!

Bus berjalan dengan kecepatan sedang, lalu lintas belum padat. Mengelilingi New York dan memperhatikan dari atas bus, memberikan kesan berbeda dari imajinasi. New York tampak manis, friendly, dan lugas.

New York, ternyata nggak seperti yang ada dibayangan saya. Kota metropolis ini memberi kesan ramah dan mudah. Ramah dengan fasilitas umumnya. Mudah dalam mencapai dari suatu sudut kota, ke bagian kota lainnya yang akan kita kunjungi. Udara yang dingin menerpa. Sebenarnya tidak masalah, hanya saja jika angin berhembus, dinginnya menjadi berlipat. Harus kuat bertahan dari udara dingin, agar tetap dapat melihat New York dari atas bus.

 

PULAU LIBERTY

Pagi ini, targetnya adalah melihat Patung Liberty. Oleh sebab itu, ketika pemandu wisata menjelaskan tentang Liberty, saya lompat turun. Berjalan ke tempat ferry untuk menyeberang ke pulau Liberty, dimana Patung Liberty terletak. Berjalan 10 menit dari tepi jalan dan antri untuk beli tiket. Harga tiket $12 per orang, tidak termasuk naik ke atas Patung. Sayang cuaca mendung, tidak bagus untuk memotret.

Kami antri untuk naik ferry. Pemeriksaan sebelum masuk kapal ketat sekali. Seperti di bandara saja. Di pintu X-Ray semua penumpang harus memasukkan barang bawaannya, melepas sepatu, jaket, juga membuka ikat pinggang! Wuihh, ketat deh pokoknya. Ferry penuh sekali. Dek atas bawah penuh. Naik ke atas juga padat. Udara sangat dingin. Beberapa burung Seagul terbang rendah sekali diatas kepala. Kadang-kadang “berhenti” diudara, berbelok tajam dan menyambar makanan yang dilemparkan keatas. Keren banget, melihat atraksinya.

15 menit lebih sedikit, ferry Miss of New York mendekati Pulau Liberty. Dan Dewi Liberty semakin jelas, walaupun cuaca mendung dan sedikit berkabut. Ferry merapat, dan penumpang antri dengan tertib turun. Di dermaga penumpang yang akan balik ke New York, antri bagaikan ular; panjang banget.

Setelah berjalan sebentar, akhirnya … Patung Liberty di depan mata! Rasanya seperti mimpi, sampai juga disini akhirnya! Patung Liberty tinggi menjulang dan berwarna hijau. Tingginya 46 M, jika dengan alas dan dasar, tingginya 93 M. Patung Liberty, diresmikan 28 Oktober 1886, untuk memperingati seratus tahun  penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.  Diberikan kepada Amerika Serikat oleh rakyat Perancis, mewakili persahabatan antara ke dua negara.

Mengapa Liberty berwarna hijau? Ternyata warna itu adalah karat tembaga yang telah terjadi selama puluhan tahun. Warna hijau justru semakin membuat Liberty tampak anggun, dan memancarkan wibawa sebagai dewi perdamaian. Jadi ternyata, butuh waktu lebih dari 30 tahun, untuk menjadikan Liberty berwarna hijau.

Mengapa Liberty berwarna hijau?

Frédéric Auguste Bartholdi desainer patung. Maurice Koechlin kepala insinyur Gustave Eiffel perusahaan teknik dan perancang Menara Eiffel, yang merancang struktur dalamnya. Alasnya, dirancang oleh arsitek Richard Morris Hunt, dan Eugène Viollet-le-Duc bertanggung jawab kontruksi pembuatan patung tembaga.

Berkeliling sebentar, sayang tidak punya kasempatan untuk naik ke alas patung Liberty. Dibawah patung ada restoran dan souvenir shop. Pengunjung datang dan pergi dalam kelompok maupun sendiri-sendiri. Gerimis mulai turun. Saya bergegas untuk antri naik ferry kembali. Cukup lama menunggu dan akhirnya ferry pun dating juga. Tujuan berikutnya Ellis island.

ELLIS ISLAND

Pada jaman dulu, pulau Ellis menjadi entry point ke Amerika. Semua imigran datang pertama kali ke pulau kecil ini. Kemudian petugas akan mendata para imigran tsb, memeriksa  barang-barang bawaannya. Jadu dari sinilah, kata imigrasi barangkali bermula. Proses mencatat memproses barang bawaan dan menangani para imigran, kemudian disebut sebagai imigrasi! Dari pulau inilah para imigran memasuki Amerika dan memulai perjuangannya mencari hidup baru, di tanah baru, Amerika!

Miss New York

Ellis island, setelah ferry sandar kami diarahkan masuk ke gedung imigrasi. Di dalamnya berbagai macam ruangan display. Ada ruangan yang memajang barang-barang bawaan para imigran dulu. Ada kissing room. Di ruangan ini konon jaman dulu, tempat bertemunya para imigran dan keluarganya. Suami-isteri, bapak-anak, kakak-adik, keluarga bertemu di untuk pertama kali setelah beberapa tahun berpisah. Berbagai macam cara dilakukan oleh masing-masing bangsa dan etnis dalam melampiaskan kerinduannya. Melalui peluk dan cium. Oleh karenanya dinamakan sebagai kissing room. Di lantai dua ada sebuah hall besar dan luas dengan 2 bendera Amerika yang besar di didindingnya. Ruang pemrosesan imigran.

Gedung Imigrasi di Ellis

Di ruang diplay ada quiz bagaimana nama negara-negara bagian Amerika tercipta. Kebanyakan teripta dari kata dan nama suku asli dimana negara bagian itu berada. Sayang  tidak sempat mencatat dan memotretnya.

Mengamati gedung imigrasi di pulau Ellis memberikan pemahaman yang lebih dalam, bagaimana Amerika terbentuk dari hampir berbagai macam etnis dan suku bangsa di dunia. Jadi Amerika adalah melting pot dari bangsa-bangsa.

Hampir 30 menit disini, setelah merasa cukup penulis kembali ke dermaga menunggu ferry kembali ke New York. Antrian tetap panjang, pengunjung bergantian datang dan pergi. Hampir tanpa berhenti.

Kembali ke New York dan beberapa bus Gray Line sudah menunggu di bus stop. Lompat keatas ke tingkat dua. Pemandu wisatanya seorang pemuda keturunan Mesir, mulai menjelaskan situasi kota. Dia berceritera bahwa New York dengan penduduk 2 juta orang, merupakan melting pot terbesar di Amerika. Hampir seluruh etnik dan bangsa ada disini. New York adalah walking city. Semua fasilitas dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki. Itulah mengapa, banyak penduduk New York bahkan tidak mempunyai SIM. Mereka lebih mengandalkan transportasi umum : bus, taksi, kereta subway sangat efektif, efisien dan murah. Pompa bensin hanya ada 2 di dalam kota New York. Lainnya berada di jalan tol atau di pulau Manhattan.

City Park New York

Menjelang sore, saya menyempatkan diri turun di City Park di tengah kota. Taman ini dulunya adalah batuan keras dan bukit-bukit gundul. Pemerintah sengaja mengubahnya menjadi taman kota yang indah dengan danau dan penghijauan. Taman ditengah kota memberikan refreshing, paru-paru kota dan tempat melepaskan stress. Berjalan di taman kota selain sehat, memberikan inspirasi dan menimbulkan ide baru. Ini barangkali yang perlu difikirkan untuk Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia.

Gerimis mulai turun, buru-buru ke bus station menunggu bus Gray Line berikutnya. Benar saja, setelah naik ke atas bus, hujan turun. Kembali ke Times Square saja dah

Cukup untuk hari ini. Besok adalah Thanksgiving day …  pasti rame sekali

herulegowo@yahoo.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: