Posted by: Heru Legowo | January 7, 2010

GILI TRAWANGAN – LOMBOK


Trawangan-Benoa speed boat

Sabtu, 5 Des 2009, matahari terang padahal katanya 2 hari yang lalu Lombok diguyur hujan deras. Kami menginap di Hotel The Santosa Senggigi Lombok, di tepi pantai Senggigi dengan deburan ombaknya yang khas. Sarapan pagi di The Santosa Senggigi cukup berkesan juga. Hotel ditepi pantai ini, memberi kesan berlibur yang cukup kuat.

Sebentar kemudian 3 buah kijang bergerak meninggalkan The Santosa, menyusuri pantai Senggigi ke utara menuju ke Pemenang. Kami berombongan akan mengunjungi 3 buah pulau kecil di Lombok Barat, yang terkenal di kalangan wisatawan : Gili Air, Gili Meno & Gili Trawangan.

Pemandangan sepanjang jalan menyusuri pantai barat Lombok sungguh eksotis. Tebing yang tinggi, dan dibawahnya pantai dengan debur ombak yang tak henti membasuh pantai. Pada posisi ini, selalu akan memaksa orang untuk berhenti sejenak, dan menyempatkan untuk memotretnya. Pemandangan yang paling eksotis, adalah pada lengkung pantai yang membentuk busur dengan jajaran kelapa di tepi pantai. Lekukan pantai seperti ini, jika dilihat dari jalan diatas tebing, eksostis sekali. Luar biasa. Cantik sekali! Barangkali ini salah satu kekuatan pantai-pantai di Lombok Barat.

Pantai Malimbu

Setelah hampir 45 menit berjalan, kami berhenti sebentar di sebuah bukit di tikungan jalan, terus naik keatasnya. Dan 3 buah pulau kecil : Gili Air, Gili Meno & Gili Trawangan, tampak di kejauhan. Pantai Malimbu di depan mata, dibawah sana di ujung karang yang menjorok ke laut, batunya berlubang. Mirip seperti Pintu Kota di Ambon. Pemandangan yang menenteramkan mata dan hati.

Melewati Pemenang, banyak kapal sandar di pelabuhan kecil itu. Terus ke utara. Kami masuk ke tempat penyeberangan. Kali ini mobil tidak dapat masuk sampai ke Bangsal tempat perahu bersandar. Petugas meminta masuk ke tempat parkir dan berganti dengan Cidomo. Dokar kecil khas Lombok. Berargumen sebentar, minta dapat dispensasi masuk. Petugas tetap ngotot. Ya sudah kami ganti memakai Cidomo, ongkosnya Rp. 15 ribu per Cidomo. Katanya Cidomo ini dikelola koperasi.

Cidomo di Trawangan

Naik Cidomo berempat sempit juga. Dari parkir mobil ke Bangsal, jaraknya hanya 3 km. di Bangsal beberapa perahu sudah siap untuk berangkat. Pengumuman di pengeras suara mengatakan sebuah perahu segera akan berangkat, penumpang agar segera mempersiapkan diri dengan tiketnya. Harga sebuah tiket Rp. 10.000.- Kami berombongan 25 orang semuanya, jadi harus carter perahu sendiri. Biaya carter sebuah perahu Rp. 250.000.- Kami butuh dua perahu. Dan akan mengunjungi 3 Gili. Jadi minta ke pengemudi perahu, untuk melihat ke 3 pulau bergantian.

Sebelum naik, penjaja asongan menawarkan sandal dan tudung kepala. Harga sandal jepit Rp. 10 ribu se pasang. Sepatu di lepas dan ganti sandal jepit. Semua naik ke perahu. Dan sebentar kemudian motor perahu pun menderu. Perahu bergerak perlahan meninggalkan Bangsal. Kami berkeras untuk ke Gili Air dulu baru Gili Meno dan Gili Trawangan. Tetapi crew perahu ngotot, katanya harus ke Trawangan lebih dahulu, baru pulangnya ke mampir ke Gili Meno dan Gili Air. Ya sudah.

Menyeberang ke Gili Trawangan memberikan nuansa tersendiri. Cuaca cerah. Laut agak bergelombang. Alunan gelombang silih berganti menerpa dinding perahu. Penulis pindah ke depan persis di lunas perahu. Angin sakal menyapu wajah dengan cukup keras. Berdiri di lunas perahu, memandang jauh ke depan. Gili Trawangan di depan mata, disebelah kanan Gili Air dan Gili Meno.

Pantai Gili Trawangan yang terkenal itu

Setelah 30 menit, perahu mengurangi kecepatannya. Pantai Gili Trawangan mulai jelas terlihat. Dari kejauhan pantainya hijau membiru. Indah sekali. Sayang deretan perahu di tempat berlabuh perahu menutupi keindahannya. Perahu pun merapat kepantai. Kami turun satu-satu, dan hati-hati berusaha tidak kena air. Lucu juga, wong sudah niat liat pantai masih juga takut kena air laut hehehe …

Di dekat perahu kami berlabuh, ada sebuah kapal cepat. Kapal ini melayani rute Benoa-Trawangan  pergi-pulang. Waktu tempuhnya hanya 2 jam, dengan biayanya Rp. 500 ribu. Lebih mahal dari harga tiket pesawat. Kemudahan bagi para wisatawan untuk langsung ke Trawangan dai Bali. Hanya saja bagi Lombok, keberadaan kapal ini mengurangi potensi, untuk mendapatkan rejeki dari turis yang dibawa.

Gili Trawangan luasnya + 300 Ha, merupakan pulau terbesar dari 3 Gili. Secara administrasi terdiri dari 1 (satu) dusun dan 6 (enam) Rukun Tetangga. Berpenduduk 1.000-an orang, dengan + 300 kepala keluarga.

Kami turun dan berjalan sepanjang pantai. Panas sekali. beberapa mencoba naik Cidomo untuk berkeliling pulau Trawangan. Beberapa bule tampak bergolek ditepi pantai, menikmati sinar matahri yang cerah.

Penulis bertemu teman lama Kris. Dia dari Perancis yang sudah menikah dengan wanita Lombok, punya seorang anak laki-laki, dan tinggal di Montong-Lombok Barat. Kris dulu membantu penulis memotret Bandara Selaparang dari udara, menggunakan payung bermotor. Bertemu penulis, dia sangat antusias dan langsung mengajak penulis untuk makan siang di sebuah warung. Kami pun ngobrol panjang-lebar. Kris berusaha menghidupi dirinya dengan menjual kartupos hasil karyanya. Langsung menjajakan ke toko-toko suvenir di Trawangan. Dia mengeluh kualitas cetak-mencetak dari foto hasil karyanya. Dan menunjukkan hasil cetak yang gagal tersebut kepada penulis.

leaving all the worries behind

Menurut Kris, dan juga sesuai pengamatan penulis; Trawangan mulai crowded dan perlu ditata ulang. Harus ada upaya pemerintah untuk menjaga keindahan Trawangan dan tidak membiarkan orang membangun seenaknya, untuk kepentingan bisnis, tetapi merusak keindahannya. Pantai yang indah dan eksotis, mulai tertutup oleh bangunan yang tidak teratur. Ini sungguh memprihatinkan, dan tidak boleh dibiarkan.

Rombongan makan siang di Villa Ombak sebuah restoran dan resort ditepi pantai. Cuaca panas. Barangkali bagi bule-bule sangat nyaman, mengingat di negerinya cuaca bisa sangat berlawanan. Tapi bagi kami, cuaca panas ini tidak nyaman. Barangkali harusnya memakai bikini atau pakaian renang, dan langsung mencebur ke laut. Pasti menyenangkan.

Setelah jam 2 siang kami bersiap-siap pulang. Mampir dahulu di Gili Meno dan Gili Air. dan segera bersiap untuk kembali dengan mampir lebih dahulu di Gili Meno dan Gili Air.

Gili Meno - Elizabeth Gilbert memasukkan dalam bukunya : Eat, Pray & Love

Perahu kami bergerak meninggalkan Trawangan. Di pantai masih banyak bule-bule yang berjemur di pasir pantai dan mandi sinar matahari. Sebagian dari mereka benar-benar membuka penutup badannya. Suatu pemandangan yang menarik, bagi yang benar-benar tahu bahwa itu memang menarik.

Berhenti sebentar di Gili Meno. Pulau yang berada ditengah dan yang terkecil. Penduduknya 300 an orang. Disini ada kebun binatang kecil ditengahnya. Seorang dari Australia memelihara burung dan binatang. Dan membuat lokasi seperti kebun binatang. Yang unik pulau yang kecil ini ternyata ditengahnya ada semacam danaunya. Tetapi konon airnya asin. Barangkali dasarnya tersambung ke laut.

Gili Meno, cocok untuk yang sedang berbulan madu, atau bagi seseorang yang ingin melupakan kegaduhan dan kebisingan metropolitan. Itulah mengapa Elizabeth Gilbert menulis kesannya di pulai ini dalam bukunya : Eat, Pray & Love. Yang menarik jika kita naik glass boat kita akan menyaksikan Meno Wall. Pada lokasi Meno Wall ada palung laut yang dalam. Jadi jika kita mengintip melalui kaca dibawah kapal, permukaan dasar laut terlihat sangat curam dan sangat dalam. Melihat dari balik kaca bawah kapal, kita ikut merasa ngeri dan takjub melihat keindahan ini. Selain itu disini juga ditemui penyu laut dan Karang Biru. Pantainya di bagian timur sangat cantik dan bagus untuk snorkeling.

Pantai Gili Air - Lombok

Berikutnya Gili Air. Pulau yang terdekat ke Lombok. Mirip dengan Gili Meno, hanya agak rame sedikit. Kegiatan snorkeling, melihat karang biru menjadi pilihan menarik. Tidak begitu lama disini, semuanya tampak lelah dan kepanasan. Selain itu hari sudah sore, dan kami masih ingin melihat ke Narmada dan Suranadi bagian keindahan Lombok yang lain.

Kami segera saja naik ke perahu dan melaju menuju kembali ke Bangsal. Matahari terik, sore yang panas, pantai membiru meneduhkan. Dan deru mesin perahu mendengung ditelinga …

herulegowo@yahoo.com


Responses

  1. makasih pak …dah nyaranin kami mengunjungi tempat ini…seperti yang bapak bilang… memang indahhhhhhhh sekaliiiiii…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: