Posted by: Heru Legowo | January 12, 2010

A WONDERFUL HERCULES A1305


Herki A1305

Senin, 11 Januari 2009, Bandara Ngurah Rai-Bali, hujan gerimis. Jarak pandangan hanya + 8 km. Overcast. Awan hampir menutupi seluruh bagian langit. Tiba-tiba telpon masuk dari Komandan Lanud Ngurah Rai Letkol. Pnb. Aldrin Petrus Mongan. Beliau menawari penulis untuk ikut terbang dengan pesawat Hercules. Gila! Cuaca sedang jelek begini terbang joy flight? Kurang kerjaan aja. Tetapi Danlanud yang baru dan keren ini ngeledek, masa hanya terbang dengan pesawat yang enak saja. Sekali-kali terbang dengan Hercules biar tahu rasanya. Takut sama cuaca ya?

Mendapat tantangan begini, penulis lalu meng-iyakan saja. Boleh deh, siapa takut? Dan jadilah penulis ke Base Ops Lanud Ngurah Rai. Dan Lanud Ngurah Rai dan crew pesawat dibawah pimpinan Kapten Penerbang Urip Widodo sedang briefing tentang penerbangan ini. Penulis masih mengamati langit yang kelam dan abu-abu. Ragu-ragu, jadi ikut nggak yah?

Kemudian, briefing selesai. Dan Lanud keluar bersama crew menuju ke pesawat. Para pejabat, wartawan dan adik-adik pramuka bersama-sama naik ke pesawat. Di apron sebuah pesawat Hercules dari skuadron 32 yang bermarkas di Malang, parkir di apron. Beberapa crew pesawat dengan overall oranye tampak mempersiapkan penerbangan ini.

Crew Hercules A1305 Skuadron 32 Malang

Pesawat angkut yang handal ini tampak kokoh dan kuat. Pesawat dengan nomor A1305 sedang dalam perjalanan dari Malang-Bali-Makassar-Madiun dan kembali ke Malang. Captainnya Kapten Penerbang Urip. Kami berfoto sebentar di depan hidung pesawat, sebelum boarding.

Sebentar kemudian, semua penumpang naik. Penulis naik ke cockpit. Kapan lagi punya kesempatan terbang dengan pesawat angkut militer ini. Duduk dii cockpit lagi. Capt. Urip sudah duduk di seat kapten, di sebelah kiri. Disebelah kanannya Lettu Pnb Bandung. Di belakang copilot duduk navigator, Kapten Nav. Jausan dan di sebelah kirinya flight engineer Peltu Supriyadi.

TERBANG RENDAH MENYUSURI PANTAI BALI

Captain Urip Widodo segera start engine. Deru mesin tidak begitu keras terdengar di cockpit. Tidak berapa lama kemudian pesawat pun taxy. Goncangan pesawat juga tidak terasa. Di ujung landasan 27, pesawat berhenti, menunggu pesawat Batavia mendarat lebih dahulu. Sebentar kemudian pesawat Hercules A1305 line-up dan siap berangkat. Mesin pesawat menderu dan pesawat bergerak perlahan bergoyang sedikit karena akselerasi. Beberapa saat kemudian pesawat pun lahir ke udara (air borne). Tinggal landas. Penulis memasang kamera dalam posisi video. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Kapten Pnb. Urip

Pesawat kami berbelok ke kanan, menyusuri pantai. Kuta tampak dibawah sedikit disaput awan rendah.  Captain Urip Widodo mempertahankan ketinggian terbang pada 500 kaki. Barangkali beginilah kalau surveillance dilakukan. Di atas cockpit, suara warning berkali-kali terdengar : terrain, terrain, terrain. Pull up, pull up. Tetapi kami tetap pada ketinggian 500 kaki. Dari cockpit pemandangan asyik sekali. Semua kekhawatiran tentang cuaca jelek lenyap seketika.

Kapten Nav. Jausan tampak sibuk memperhatikan GPSnya. Di atas paha kirinya peta Bali lengkap dengan rute penerbangannya, dan ditangan kanannya GPSnya. Dia dengan cermat memperhatikan arah pesawat dan peta disekelilingya.  Ketika kemudian mau sampai di atas Tanah Lot, dia menunjukkannya ke penulis. Pesawat terus terbang dengan stabil awan-awan tipis bergerak disamping kanan.

Kemudian kami memasuki Gilimanuk. Capt. Urip Widodo melintasi selat dan terbang rendah diatas dermaga ferry Ketapang. Yang dibawah sana, pasti heboh melihat pesawat terbang begitu rendah diatasnya. Dengan elegan A1305 berbelok kekanan ke pantai utara Bali.

BANDARA LETKOL WISNU

Meninggalkan Gilimanuk dan Ketapang, pantai utara Bali mulai tampak jelas. Dan Pulau Menjangan tampak di depan mata. Terbang di atas Bali utara, pasirnya berwarna hitam. Disebelah kanan arah terbang kami, deretan bukit yang cukup tinggi. Beberapa menit kemudian sebuah landasan kelihatan. Bandara Letkol Wisnu di Gerogak.

Penulis pernah kesana  beberapa tahun yang lalu, dan sekarang melihat langsung dari udara. Bandara ini pernah diisukan akan dikembangkan menjadi bandara internasional. Sekarang ini menjadi base dari Bali International Flying Academy (BIFA). Mudah-mudahan dari training centre pilot ini akan melahirkan pilot-pilot handal kebanggaan Indonesia.

Capt. Urip mengurangi kecepatan pesawat. Pesawat sedikit melambat. Ramp door di belakang dibuka, untuk simulasi operasi penerjunan pasukan. Fotografer pindah ke belakang, untuk mengambil gambar, termasuk Adil. Dan setelah itu Adil kembali ke cockpit. Duduk dan pucat! Dia bilang, ternyata di belakang goyangan terasa banget, pak! Di cockpit lebih stabil. Ya iya laah …

Pesawat terus terbang. Tetap stabil. Straight and level. Capt. Urip Widodo dengan elegan, safe dan confident, membawa Herki-nya menjauhi bukit dan terbang di atas laut. Sebentar kemudian kami melewati pantai Lovina dan Buleleng.

BALI TIMUR DAN SELATAN

Terus ke timur dan di pantai timur Bali, Dan Lanud menunjukkan arah Lombok. Disela-sela kabut atau awan rendah Pulau Lombok keliatan sayup-sayup. Harusnya 3 Gili kelihatan dari sini. Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Sayang cuaca mendung.

Di sebelah kanan kami Amed dan Culik. Pasir pantai dibagian timur Bali, berwarna hitam. Di beberapa tempat, puluhan perahu nelayan ditambatkan di pantai. Hanya saja tampak pantainya begitu curam, sehingga perahu-perahu seakan-akan “menggantung” di bibir pantai.

Dermaga Padang Bai dari ketinggian 500 kaki

Kemudian terus ke selatan. Karangasem sekilas terlewat dari pengamatan. Sempat mencari-cari Taman Ujung dari ketinggian 500 kaki ini, tapi nggak kelihatan. Atau kelewatan yah? Yang tampak dermaga Pertamina dan kemudian dermaga ferry, Padang Bai. Terus menyusuri pantai. Sekarang di Bali Selatan. Candidasa tampak tidak terlalu menyolok.

PENDARATAN YANG MULUS

Setelah satu jam lebih, kami melintas diatas Nusa Dua. Dua pulau itu sekarang sudah “menempel” ke Pulau Bali, dulunya masih terpisah. Ketinggian terbang kami masih 500 kaki. Sebentar kemudian kami melintas rendah sekali di atas Bandara Ngurah Rai. Memotong diatas runway dari arah Kuta. Rendah sekali! Capt. Urip pun bilang bahwa dia belum pernah terbang serendah itu di Ngurah Rai. Bandara Ngurah Rai tampak cantik, belum banyak pesawat yang parkir di apronnya.

Hercules kemudian membumbung ke ketinggian 1500 kaki, dan berputar untuk mendarat. Fotografer di cockpit sibuk dengan kameranya, termasuk Kapten Pnb. Gultom, anak muda penerbang pesawat tempur Sukhoi, Hawk dan Fighting Falcon F-16, yang sudah mengantongi 850 jam terbang.

Final approach Runway 27

A1305 masuk ke final approach. Runway 27 tampak jauh, lurus, tepat di depan windscreen. Perlahan tetapi pasti, Capt. Urip menurunkan ketinggian pesawat. Pesawat ini stabil sekali. Bunyi shutter release kamera terdengar kerap sekali. Mengabadikan moment yang sedikit dan sangat langka ini. Dan akhirnya, Hercules A1305 mendarat dengan sangat mulus. Dari cockpit hampir tidak terasa ketika roda pesawat menyentuh landasan. Mulus sekali.

Terimakasih kepada DanLanud Letkol. Pnb. Aldrin Petrus Mongan, yang telah mengajak kami semua mengikuti joy flight ini. Pengalaman terbang ini pasti membuka wawasan adik-adik pramuka untuk mencintai dirgantara, nusantara dan Indonesia. Juga kepada rekan-rekan wartawan dan pejabat yang beberapa diantaranya, baru kali ini terbang dengan pesawat militer. Termasuk Kapten Polisi Agung Mudita Komandan KP3U Bandara Ngurah Rai, nggih bli bagus?

Capt. Urip Widodo

Sungguh sebuah pengalaman terbang yang spektakuler …

Bravo Capt. Urip Widodo … Indonesia harus bangga punya anak-anak muda yang pintar dan cekatan seperti anda semua …

herulegowo@yahoo.com


Responses

  1. Ternyata nggak enak yang di belakang pak, nggak liat apa2. Mual banget di belakang deh pak. Pantes yang dicockpit ketawa-tawa aje …. hehehe ….

  2. Kayaknya enak naik pesawat tempo dulu yah. Jadi pengen … Enaknya mas Adil! Kebiasaan duduk di seat belakang sih. Eh giliran di Hercules, mules deh di belakang hehehe …. Tapi kereennn … Mauuu dong!

  3. Hanya satu kata “MANTAP” !!!

  4. saya juga pernah terbang dgn hercules saat jadi relawan
    mmmm gagah pswt ini


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: