Posted by: Heru Legowo | February 1, 2010

TAMBORA EXPEDITION II


Puncak Gunung Tambora

Jumat 16 Mei 2008, tepat jam 2 malam, setelah berdoa bersama dipimpin Pak Husein dari KSDA Dompu, kami bergerak naik ke puncak. Summit attack! Tim dibagi menjadi 3 grup, masing2 dipandu oleh Erry Mildranaya, Syaiful dan Adi Kurniawan dari  KSDA. Pak Nanang, Sadam dan Pak Maman driver-driver kami, ikut sebagai penunjuk jalan. Dan inilah perjalan terakhir yang mendebarkan jantung! Dibawah cengkeraman udara dingin yang menusuk tulang tim bergerak perlahan tetapi pasti. Penulis sempat berfikir keras, karena diantara anggota kami ada Pak Suwardie yang sudah operasi bedah jantung, tetapi tetap bersikeras untuk ikut naik ke puncak Tambora. Akhirnya, terpaksa penulis minta Sadam untuk menjaga Pak Suwardie. Jika ada situasi gawat, agar segera mengantarkan Pak Suwardie turun. Bismillah …


Akhirnya sampai juga!

100 meter pertama semuanya nampak biasa-biasa saja. Anak-anak muda dengan kecepatan dan semangatnya, nampak tidak sabaran berada di belakang penulis. Head lamp mereka berkelebet menyinari kegelapan trek. Melihat ketidak-sabaran mereka, penulis mempersilahkan mereka untuk berjalan lebih dahulu. Satu demi satu mereka mendahului penulis. Semakin jauh dan menjauh. Dan mulailah penulis harus mengatur nafas untuk melangkah dengan lebih cermat. Ditnegah dinginnya malam, dan udara yang tipis, nafas mulai pendek-pendek. beberapa kali penulis harus berhenti berjalan, menghirup udara yang tipis, dan menetralkan nafas. Sambil duduk istirahat, penulis bertanya kepada mas Ais rekan penulis yang memegang GPS. Ternyata kami berada di ketinggian 2.358 M dengan kemiringan 570 Perlahan-lahan setelah beristirahat sejenak kami bergerak terus. Istirahat tidak boleh terlalu lama karena akan terlena dan dapat melemahkan semangat.

Beberapa kali kami kehilangan arah. Di beberapa lokasi, karena pada beberapa lokasi tongkat penunjuk yang diberi warna putih, dan ditancapkan, ternyata ada 2 buah pada tempat yang berseberangan!. Sadam perlu berulang kali naik-turun untuk meyakinkan jalur yang tepat yang harus kami lalui. Beberapa kali kami berhenti dan menghela nafas. Mencek keberadaan kami di GPS. Jika melihat melihat data yang tercatat di GPS, ternyata kami tercecer di belakang rombongan; dan bergerak sangat lambat.

Demikianlah setelah beberapa kali berhenti, tepat jam 05.22 penulis menjadi orang ke empat terakhir yang menyentuh puncak Tambora. Alhamdulillah semua anggota tim berhasil mencapai puncak, termasuk Pak Suwardie Aiport Duty Manager. Sungguh surprise dan juga salut kepada Pak Suwardie. Beliau sudah menjalankan operasi jantung. Namun berkat semangat dan usahanya yang keras, akhirnya berhasil sampai ke puncak Tambora! Siapa bilang orang yang sudah dioperasi jantungnya tidak bisa naik dan mencapai puncak gunung? Luar biasa!

Puncak Tambora

Puncak Tambora pada GPS kami tercatat 2.421 M, menimbulkan kesan tersendiri. Matahari yang ditunggu-tunggu ternyata terbit diantara sekelompok awan, sehingga keindahannya kurang sempurna. Di sebelah kanan masih ada puncak lagi yang lebih tinggi. Sebetulnya penulis masih ingin mendaki ke puncaknya, tetapi tenaga sudah habis. Di depan kami, nampak sebuah danau  jauh di dasar kaldera Tambora. Di sebelah kiri nampak sebagian puncak Tambora dengan gigir-gigir tebing yang artistik, terjal dan curam. Menimbulkan rasa ngeri dan mendirikan bulu roma, jika melihat dasar kaldera yang begitu jauh dibawah. Inilah kaldera Tambora yang tercatat memiliki diameter 7 km dengan kedalaman 1,5 km. Kaldera terbesar di dunia!

Kami duduk membuat setengah lingkaran dan berdoa bersama. Mengucapkan syukur kepada Allah SWT karena diperkenankan melihat sebagian dari karyaNYA yang luar biasa. Setelah beberapa saat mengambil foto keindahan puncak Tambora, merayakan keberhasilan tim dan berfoto bersama. Kemudian, kami bergerak turun.

SELAMAT TINGGAL TAMBORA

Pos terakhir dari Puncak Tambora

Jam 06.45 kami bergegas turun. Para pemandu kami mengingatkan agar segera turun, karena jika kabut turun menyelimuti puncak maka kami akan kesulitan mencari jalan. Perjalanan turun relatif mudah, sinar matahari yang menyirami lereng2 puncak Tambora menimbulkan pemandangan yang eksotis. jauh dibawah nampak perkemahan tenda kami seperti noktah kecil berwarna oranye, di kaki gunung. Di ujung pandangan, teluk Saleh nampak membiru. Di sebelah kiri nampak Dorocanga = bukit terbelah, nampak seperti kue bolu dengan belahan 4 puncaknya. Doropeti disebelah kanan nampak sayup-sayup. Yang lebih dekat adalah Dorobolo = bukit bulat. Di ketinggian ini kami mencari-cari Gunung Rinjani, tetapi tidak nampak karena tertutup awan. Sayang sekali.

Jam 10.00 setelah berkemas, melipat tenda dan membersihkan bekas sampah plastik. Kami segera cabut dari Pos 3. Di Pos II kami bertemu sebuah Jeep DR783 yang mogok karena accu-nya tidak bekerja dengan baik. Menurut mereka, sebenarnya jam 3 sore mereka akan join kami untuk naik bersama-sama, tetapi karena masalah teknis mereka terhenti disitu. Sebenarnya malam harinya mereka memberi tanda ke atas, dengan membuat kedipan lampu-lampu mobil mereka. sayang kami tidak dapat mengartikan bahwa mereka sedang meminta bantuan kami. Pak Nanang kemudian membantu menyelesaikan kesulitan teknis mereka dan mengantarkan kami ke pos dimana mobil Kijang kami diparkir.

Tambora Summit small

Puncak Gunung Tambora 16 Mei 2008

Jam 11.15 Tim Eekspedisi Tambora pun meninggalkan Pos I, membawa kenangan luar biasa dan tak terlupakan! Selamat tinggal Tambora. Begitu besar kuasa Allah SWT. Semoga keberadaanmu dan keindahanmu semakin dikenal dunia.

Akhirnya, tim ini membuktikan bahwa melalui kerjasama dan koordinasi  yang baik, saling percaya dan saling memberi motivasi, dan ridha Allah SWT; tujuan seberat apapun akan dapat kita capai! Inilah message yang tersembunyi dari misi Tim Expedisi Tambora ini.

Bagi dunia pariwisata, Tambora menjadi pilihan yang menarik setelah Rinjani di Lombok. Pemerintah mestinya lebih aktif menjual Tambora, dengan memperbaiki sarana transportasi dan jalan akses ke Tambora. Penulis yakin, dengan perbaikan tersebut dapat dipastikan Tambora yang memiliki hinterland keindahan Pulau Satonda, akan mampu menarik lebih banyak wisatawan dan pendaki seperti kami ini. Mudah2an.

Pull out ! Mission accomplished. All members of Tambora Expedition have successfully climbed up to the summit of Tambora 2.421 M. Thanks to Allah SWT we can see by our eyes the incredible view and can imagine the great explosion Tambora ever had.


Responses

  1. kami bertemu di Cengkareng tanggal 13 juli 2010?

  2. datang tuk berkunjung lagi ke tambora dmn tambora memiliki banyak keunikan jadi kami yakin andapun pasti puas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: