Posted by: Heru Legowo | March 3, 2010

BOOK LAUNCHING


Tanggal 28 Pebruari 2010 yang lalu menjadi hari bersejarah bagi Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Sebagai bandara internasional yang merupakan pintu gerbang wisatawan nusantara dan wisatawan manca negara, Ngurah Rai menjadi bagian yang tak terpisahkan dari industri pariwisata. Perannya yang begitu penting, menjadikan bandara ini selalu menjadi sorotan dalam negeri dan luar negeri.

Berawal dari keinginan untuk memiliki kilas balik perjalanan sejarah Bandara Ngurah Rai sejak dari awal mula sampai dengan saat sekarang, dan juga memberi image yang lebih baik atas pelayanan bandara, maka terbersit untuk menuliskan kembali sejarah Bandara Ngurah Rai ini.  Dan, atas restu dari Direktur Utama maka penulisan sejarah ini dimulai. Tim penulisan buku segera dibentuk dan mulai bekerja mencari data, foto, dokumen, surat-surat, catatan sejarah.

Setelah bekerja keras dan tidak mengenal lelah, sebuah buku akhirnya terwujud juga. Yang membanggakan 3 menteri berkenan memberikan kata sambutannya pada buku tersebut, Menteri Perhubungan, Menteri BUMN dan Menteri Kebudayaan & Pariwisata selain Gubernur Bali dan Direktur Utama PT. Angkasa Pura I.

Akhirnya pada tanggal 28 Pebruari yang lalu PT. Angkasa Pura I Cabang Kelas Utama Bandara Ngurah Rai, di ball room Hotel Discovery Kuta-Bali menyelenggarakan acara peluncuran buku “Ngurah Rai Airport Bali Gateway to Paradise 1930-2010”.

Dan, sungguh merupakan kehormatan dan kebanggaan karena Menteri Kebudayaan & Pariwisata Ir. Jero Wacik, SE ditengah-tengah kesibukannya di pulau Bali yang begitu padat, menyempatkan diri dan berkenan hadir pada acara tersebut dan meluncurkan buku ini. Menteri Perhubungan seyogyanya juga hadir pada acara tersebut, tetapi sayang beliau tidak dapat meninggalkan kesibukannya di Jakarta.

Menbudpar memberikan tanda tangan pada mock-up sampul buku

Sebuah sejarah telah ditorehkan. Hari itu merupakan sejarah penting bagi Bandara Ngurah Rai, karena sejak saat itu Bandara Ngurah Rai memiliki sebuah buku yang menceriterakan bagaimana bandara ini berkembang dari sejak awalnya sebagai sebuah airstrip pada tahun 1935.

Pada sambutannya Menbudpar memberikan apresiasi penulisan buku kilas balik perjalanan sejarah Bandara Ngurah Rai ini, dan mengharapkan agar dapat diikuti oleh instansi-instansi lain menghargai perjalanan sejarahnya. Selain itu beliau mengharapkan juga agar pelayanan bandara terus ditingkatkan, sebagai gateway atau pintu gerbang suatu wilayah kesan awal suatu wilayah semestinya dapat dikesankan pertamakali di bandara.

Setelah sambutan yang sangat inspiratif, Menteri Kebudayaan & Pariwisata memberikan tanda tangannya diatas mock-up sampul buku Ngurah Rai Airport Bali Gateway to Paradise, diringi oleh Direktur Utama PT. AP I, Sekjen Dephub, Kadishub Propinsi Bali, Komisaris Bp. Suyitno Affandi, Ibu Gina dari ANRI, GM Ngurah Rai.

Sebuah buku tentang perjalanan sejarah sebuah bandara internasional, akhirnya hadir ditengah kita. Mudah-mudahan buku ini dapat memberikan manfaat, menjadi tambahan literatur kepustakaan tentang bagaimana sebuah bandara berkembang dan juga bagaimana cara mengelolanya.

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih yang tulus dan penghargaan disampaikan kepada :

  1. Kepada Bapak-bapak Menteri Perhubungan, Menteri BUMN, dan Menteri Kebudayaan & Pariwisata, yang telah memberikan Kata Sambutan bagi buku ini.
  2. Arsip Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan kesempatan untuk mendapatkan semua data, foto, dokumen dan film yang sangat berharga.
  3. Pemerintah Provinsi Bali, dalam hal ini Pusat Data Elektronik yang telah memberikan foto-foto Bandara Ngurah Rai di masa lalu.

Ibu Gina Deputi Pembinaan ANRI sempat hadir juga

Sudah pasti, buku ini masih jauh dari sempurna untuk itu semua masukan, kritik dan saran sungguh sangat diharapkan untuk menyempurnakannya pada edisi berikutnya.

PERJALANAN SEJARAH BANDARA

Menuliskan kembali perjalanan kilas balik sejarah Bandar Udara Internasional Ngurah Rai bukan suatu kerja yang mudah. Diperlukan usaha yang ekstra untuk mengumpulkan dan mensortir foto-foto, surat-surat, catatan, dokumen dan mewancarai para pelaku sejarah yang sudah sepuh, menceriterakan kembali dan memberikan gambaran bagaimana Bandar Udara Ngurah Rai berevolusi. Juga mencari konfirmasi dari para mantan General Manager, dan beliau-beliau sangat antusias dan berperan aktif memberi catatan dan saran.

Yang penting lagi, tim cukup beruntung bertemu dengan Bapak Suwena Bendesa Adat Desa Tuban, yang kakeknya menjadi prajuru desa Tuban sejak tahun 1924. Beliau banyak memberikan kisah sejarah dan ceritera pada waktu beliau masih kanak-kanak dan diperkaya dengan catatan pada awig-awig Desa Tuban

Malaysia-Singapore Airline singgah di Ngurah Rai

Bagaikan menyelesaikan sebuah puzzle kesemuanya menjadi hal yang benar-benar sangat menarik dan membangkitkan semangat untuk mengurutkannya sampai terwujud menjadi sebuah buku yang siap dibaca hari ini. Adalah hal yang sulit ketika harus membuat gambaran bagaimana sejarah awal dari Bandar Udara Ngurah Rai ini. Untunglah data tersebut dapat ditelusuri di Arsip Nasional Republik Indonesia.

Sekedar kisah balik, sebuah surat yang ditulis pada tanggal 28 Januari 1935 oleh Capt. Barnard dari Imperial Airways kepada Meneer L. de Vogel Director Civil Aviation Department Verkeer en Waterstaat di Bandung bahwa Qantas akan menggunakan South of Bali airstrip sebagai night stop sebagai ganti dari airstrip Rambang di Lombok Qantas juga meminta, agar airstrip di selatan Bali itu ditingkatkan dan diperbesar.

Bagian penting lain dari sejarah Bandara Ngurah Rai adalah proses pembuatan runway baru, dengan cara mengurug laut sejauh 1000 meter. Bukit kapur di Jimbaran diledakkan dengan dinamit, dan ribuan truk batu kapur diangkut dengan truk dan ropeway untuk mengurug laut Sementara batu untuk pondasi runway, diangkut dari Sungai Antosari di Tabanan.

Dua buah Runway Ngurah Rai

Ketika runway baru selesai pada saat itu Pelabuhan Udara Tuban seakan memiliki 2 buah runway. Runway lama, yang sekarang menjadi taxiway masih ada, sementara runway baru yang menjorok 1000 meter ke arah laut sudah selesai dibangun. Konon menurut ceritera saksi sejarah, karena ada dua buah runway pesawat Direktur Pertamina Ibnu Soetowo SALAH mendarat di runway baru yang belum diresmikan.

Ceritera lain dari saksi sejarah, tentang Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia yang begitu sering datang ke Bali melalui Pelabuhan Udara Tuban pada waktu itu. Begitu seringnya beliau datang, sehingga kadang-kadang ketika protokoler kenegaraan belum siap beliau sudah lebih dahulu tiba di bandara.

Ada juga kisah mistis dari pak Pudiono yang sekarang tinggal di Melbourne-Australia, yang ikut mengerjakan pengurugan laut beliau mengatakan bahwa ratusan truk batu kapur yang ditimbunkan seakan lenyap ditelan laut. Kemudian beliau mengadakan acara pertunjukkan wayang baru setelah itu pengurugan dapat berjalan dengan baik.

Beberapa tahap dilalui sampai akhirnya, Presiden Suharto mengganti nama Pelabuhan Udara Internasional Tuban menjadi Bandar Udara Internasional Ngurah Rai dan meresmikannya pada tanggal 1 Agustus 1969. Jadi, ulang tahun Bandar Udara Ngurah Rai sebenarnya jatuh pada tanggal 1 Agustus. 


Responses

  1. semoga sukses selalu pak..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: