Posted by: Heru Legowo | April 7, 2010

WAVE ROCK -WEST AUSTRALIA


Salah satu tempat wisata yang ditawarkan jika anda datang ke Perth adalah Wave Rock. Wave Rock dinamakan begitu, karena bentuknya seperti ombak pantai. Batuan yang karena kreasi alam menjadi seperti puncak gelombang ombak yang mau jatuh di laut. Sayang letaknya jauh perlu  5 jam untuk sampai ke lokasinya di Hyde, sekitar 350 km ke arah timur Perth.

Pagi hari itu, sabtu 3 April 2010, pemandu wisata Ian dari Gray Line Tour menjemput kami di hotel Ibis Perth. Kami bergabung dengan beberapa orang yang semuanya dari Asia. Hanya beberapa menit setelah menjemput tamu yang lain, kami sudah sampai di kantor tour ini. Ada 7 bus yang sudah siap untuk berangkat. Penulis harus ke kantor tour untuk menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu, karena baru booking kemarin malamnya melalui telepon. Travis melayani dengan cepat dan mengatakan bahwa dia baru saja ke Bali dan tinggal selama seminggu . Menurut dia : that was a wonderful and fantastic moment in Bali.

Jam 08.05 bus pun berangkat, driver merangkap pemandu wisatanya Nigel, yang sudah bekerja di perusahaan tour ini 2 tahun; sebelumnya di perusahaan tour yang lain. Cuaca cerah. Di dalam kota, bus berjalan dengan kecepatan sedang, dan Nigel menjelaskan gedung dan jalan yang dilalui dengan sejarahnya. Kami melintasi Swan River Causeway, dan mulai perjalanan melintasi daratan Australia barat.

Jalan beraspal mulus. Tidak banyak kendaraan yang lewat sepi sekali. Di depan kami hanya ada sebuah mobil SUV, dan sangat jarang berpapasan kendaraan dari arah depan. Sungguh berbeda jika nyetir di pantura Jawa. Tidak ada kendaraan yang menyalip kendaraan di depannya. Untuk menyalip kendaraan di depan, ada sebuah sign di pinggir jalan : overtaking lane 3 km ahead. Dan benar saja pada lokasi itu, marka jalan terbagi menjadi 3 jalur. Di bagian yang kita akan menyalip ada 2 jalur, sedangkan jalur arah berlawanan dari depan hanya ada sebuah jalur. Pada posisi itulah baru kita dapat menyalip kendaraan di depan kita. Para sopir sangat disiplin dan tidak berani melanggar peraturan. Sungguh sebuah peraturan yang ketat yang diberi alternatif dan fasilitas yang memadai untuk mentaatinya.

YORK

Balaikota York

Setelah satu setengah jam, Nigel membawa kami berhenti untuk morning tea di kota York. Sebuah kota kecil kira-kira 100 km timur Perth, di tepi Great Eastern Highway. Kota yang berdiri pada tahun 1831 ini adalah pemukiman Europa pertama di Australia Barat. York tampak sangat berbeda dengan kota disekitarya dan memiliki bangunan tua dengan arsitektur kolonial.

Sebenarnya kami diberi waktu 30 menit untuk minum teh dan beristirahat, tetapi kami gunakan waktu singkat ini untuk melihat-lihat kota York. Bangunan-bangunan kuno masih terpelihara dengan baik seperti : gereja, Town Hall, The Old York Hospital, Residency Museum dan Old Gaol & Courthouse. Itu adalah bangunan yang memiliki karakteristik yang sangat khas. Waktu ternyata cepat sekali berlalu belum sempat melihat semuanya, dan Nigel sudah memberi isyarat dan kami harus berangkat lagi.

Kami berjalan kembali, dan ini benar-benar sebuah perjalanan melintasi padang dan lahan pertanian yang sangat luas. Di kiri dan kanan jalan hamparan ladang yang kelihatannya tak terbatas, sedang disiapkan untuk proses penanaman berikutnya. Jadi sejauh mata memandang hanya dataran rumput kering berwarna kekuningan. Di tengah-tengahnya ada beberapa pohon yang tegak ditengah sendiri dan disekitarnya bergerombol. Biri-biri dan sapi dibiarkan bebas ditengahnya. Di beberapa tempat tanahnya sengaja di gali untuk menampung air. Ladang-ladang ini dibatasi dengan pagar setinggi + 1,5 meter.

Nigel terus menyetir dan terus berbicara menjelaskan pemandangan yang dilewati. Di Corrigin, kami singgah sebentar di sebuah kuburan anjing. Nigel berhenti dan memberi waktu 15 menit untuk melihat-lihat. Ajaib juga ada kuburan khusus anjing ditengah-tengah padang dan ladang begini. Ada 100-an kuburan anjing lengkap dengan nama dan kalimat-kalimatnya untuk mengenang anjing kesayangan mereka. Nigel berkata dulu untuk mengubur anjing disini gratis, sekarang harus bayar, dan cukup mahal lagi.

HIPPO YAWN

Hippo Yawn

Kami terus berjalan melalui kota-kota kecil di sepanjang rute melewati Corrigin,  Kondinin, beberapa desa yang hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Dan akhirnya sampai juga di Hyden. Nigel membawa kmi langsung melihat sebuah terowongan batu besar Hippo Yawn. Batu yang berlubang besar karena proses alam, tertimpa hujan dan angin selama ribuan tahun. Sayang hanya sebentar, 15 menit dan kami harus terus meluncur ke Wave Rock untuk makan siang. Sebenarnya dari Hippo Ywan ke Wave Rock hanya berjarak 1 km dan cukup dekat berjalan kaki.

MAKAN SIANG DI SEBUAH PONDOK

Akhirnya sampai juga di Wave Rock. Di perempatan jalan ada plank dengan tulisan : Welcome to Wave Rock. Nigel membawa kami berhenti di sebuah pondok untuk makan siang. Setelah kami semua turun, Nigel mempersiapkan makan siang. Semuanya dikerjakan sendiri. Praktis sekali. Sopir, pemandu wisata dan pelayan sekaligus. Sungguh professional dan cekatan. Ketika salah seorang peserta tour menawarkan diri untuk membantu, Nigel dengan halus menolak : No Thank You.

Dan makan siang disebuah pondok cukup berkesan, penulis keluar ruangan dan duduk di atas sebuah kolam buatan. Ada 2 ekor angsa hitam yang sedang berenang, mondar-mandir seakan minta makanan, di cabang pohon beberapa burung gagak berteriak-teriak. Suaranya mirip suara manusia, agak ngeri juga mendengarnya barangkali karena kisah yang terbawa sejak mulai kecil. Jika ada burung gagak berarti akan ada orang mati … hehehe.

WAVE ROCK

Wave Rock tinggi 15 M, panjang 110 M

Setelah makan siang dan minum kopi, kami mulai berjalan menuju ke Wave Rock. Beberapa menit berjalan dan kami sampai di depan Wave Rock. Jadi inilah bentruk batu purba yang sangat menghebohkan itu? Dan sekarang kami benar-benar berada didepannya.

Wave Rock – batu ombak, adalah bagian dari Hyden Rock, tingginya 15 meter dan panjang 110 m bentuknya bagaikan sebuah ombak menggulung yang akan jatuh, tetapi terhenti oleh waktu selama berabad-abad. Wave Rock dipercaya terbentuk lebih dari 2700 juta tahun yang lalu, terbentuk karena erosi yang berlangsung jutaan tahun, dan menggerus batuan bagian bawah yang lebih lunak.

Warna Wave Rock disebabkan oleh hujan yang membasuh larutan kimia karbonat dan hidrosioksia turun ke bawah dan membentuk garis-garis vertikal  merah keabuan dan kuning. Jika anda tinggal lebih lama anda akan melihat Wave Rock yang berbeda warnanya sepanjang hari karena sinar matahari mengubah warna dan tampilannya. Disamping sebagai atraksi wisatawan bebatuan di sekitar Wave Rock juga sudah diubah dan dimanfaatkan sebagai daerah tampungan air untuk kota Hyden, dengan cara membangun tembok beton dan mengarahkan aliran air hujan ke sebuah dam penampung air.

Sebenarnya ada beberapa bentuk  batu ombak di wilayah Hyden, jika anda memiliki banyak waktu untuk mengeksplorasinya. Dan waktu anda akan cukup bermanfaat dan bernilai jika anda dapat melihat batuan yang ukurannya lebih kecil lagi. Sayang waktunya terbatas.

Air hujan yang tertangkap di ceruk di atas Wave Rock

Kemudian kami naik keatas “puncak”nya dan mengeksplorasi batuan dari jaman prasejarah ini. Batu-batuan yang sudah dibasuh oleh air hujan berjuta-juta tahun keliatannya rapuh ternyata sangat kokoh. Permukaannya yang terdiri dari batu-batu kecil membulat dan kesat. Berjalan dengan melepas sepatu, terasa sangat enak di kaki. Bule-bule yang memperhatikan jadi ikut mencoba melepas sepatunya.

Berdiri di atas batuan purba ini dan memandang berkeliling, di sepanjang ujung pandangan cakrawala hanyalah hamparan padang atau ladang. Tanah yang lapang dengan beberapa pohon Black Path yang tumbuh bergerombol. Beberapa lahan diupayakan oleh penduduk. Sejenak penulis berfikir bagaimana mereka hidup sendiri, hanya beberapa tinggal di daerah terpencil begini dan mengusahakan tanah yang sangat luas dan jauh dari keramaian. Seperti kisah dalam film televisi jaman penulis kecil dulu : “Little House in the Prairie” yang dibintangi Michael Landon.

Didekat tepi batuan dibuat tembok beton, dulu namanya Rabbit Proof Fence didirikan untuk menjaga ladang dari serbuan kelinci. Selain itu fungsinya juga untuk menahan air hujan dan mengalirkannya ke sebuah dam penampungan air. Dam ini menjadi sumber air minum bagi penduduk sekitar.

Di atap batu purba ini masih tumbuh beberapa perdu dan tanaman Sandalwoods da lainnya. Di ceruk-ceruknya ada air hujan tertangkap dan tidak mengalir kebawah dan menggenang. Air seperti ini pasti menjadi minum binatang dan juga burung-burung. Sungguh Allah Swt maha besar mengatur semuanya. Kami berputar menaiki “gunung batu” dan terus melingkari untuk kembali ke tempat semula. Ternyata 2 jam terlalu sebentar untuk menyaksikan keindahan dan keajaiban alam ini. Kami kembali dan Nigel sudah bersiap menunggu : Did you enjoy this place?

GOA MULKA

Goa Mulka

Pulangnya Nigel membawa kami singgah sebentar di Mulkas Cave, goa Mulka. Pada goa Mulka ini pada jaman dahulu dipercaya menjadi tempat tinggal Mulka. Menurut legenda Aborigin, Mulka adalah anak dari seorang wanita Aborigin dengan seorang lelaki yang perkawinan antara mereka terlarang. Mulka menjadi seorang anak dan laki-laki yang liar dan ganas dan menjadi lingkungannya. Mulka tinggal di goa batu ini, dan akhirnya terbunuh oleh penduduk.

Batu purba ini memiliki rongga didalamnya memiliki “pintu” di depan dan belakang yang sempit. Didalamnya ada ruangan seukuran kira-kira 8X8 meter. Di tengah “ruangan” batu ini diatapnya batu ada sebuah pahatan tapak tangan, melihat atap batu yang tidak terjangkau oleh tangan penulis; Mulka pasti sangat tinggi. Di pintu ada pahatan gambar ikan, barangkali menunjukkan dimana ikan dapat diperoleh.

Penulis mencoba keluar dari pintu belakangnya dan mengekplorasi bagian belakang goa ini, ternyata dibelakangnya ada sebuah dinding batu atau bukit batu yang besar sekali. Jadi Mulkas Cave ini sungguh sangat ideal untuk tempat tinggal. Jika berada didalamnya, penghuninya dapat bertahan dari serangan udara dingin dan dari binatang.

Diluarnya pohon-pohon mulai berganti kulit. Pohon Black Path kata Nigel. Penulis memperhatikan dengan seksama, ternyata pohon juga seperti manusia menyesuaikan kulitnya sesuai waktu atau musim. Kulitnya yang keras dan kasar mulai terlepas dan muncul kulit baru yang mulus berwarna kuning kemerahan. Pohon Black Path jadi tampak indah dan cantik. Untuik menjadi cantik ternyata perlu waktu dan kesabaran. Learning point-nya: ternyata, pohon juga berhias bukan manusia saja!

Lebih kurang seperempat jam kami singgah disini. Nigel segera meminta kami kembali ke bus untuk meneruskan perjalananan. Dan kami sempat melewati sebuah danau garam. Danau garam ini mengingatkan penulis seperti di daerah di sekitar Gresik yang menghasillkan garam. Tetapi itu daerah di tepi laut, bagaimana di tengah daratan ini dapat juga menghasilkan garam? Allah sungguh Maha Besar memberikan karuniaNya kepada mahlukNya yang mau berusaha.

MINUM KOPI DI BABAKIN

Setelah berhenti sejenak dan kami meneruskan perjalanan. Mampir untuk minum kopi,  afternoon coffee di kota kecil lebih mirip kampung, Babakin. Penduduknya hanya + 25 orang. Kami berhenti di sebuah rumah kecil berdampingan dengan Babakin Hall. Seorang ibu segera bergegas masuk rumah dan kemudian bersama  2 orang anak gadisnya menyiapkan kopi, teh dan kue-kue. Harga secangkir kopi $2 jika dengan kuenya $5. Rumah ini terpencil jauh dari mana-mana. Di depannya ada jalan, dan diseberangnya deretan pohon Black Path. Sebuah kampung yang sungguh sangat terpencil.

Nigel berceritera di Babakin sini ada sebuah sekolah yang muridnya hanya 20 orang. Gurunya hanya satu dan merangkap sebagai kepala sekolah, sopir bis, penjaga sekolah dan semuanya. Kami berhenti 25 menit disini barangkali menarik jika hanya sebentar singgah, tapi memnbayangkan jika harus tinggal di tempat terpencil ini, sungguh perlu ketabahan yang luar biasa.

Setelah tegukan kopi terakhir yang sungguh terasa special di tengah kesenyapan ini, kami segera naik ke bus lagi. Babakin ini menjadi pemberhentian terakhir, karena berikutnya kami terus berjalan ke Perth. Masih 3 jam lagi. Matahari sore begitu terang dan cerah. Ladang-ladang di kiri kanan berwarna kuning karena masa tanam belum tiba. Ditengah-tengahnya gerombolan biri-biri dan sapi dibiarkan lepas, hanya dibatasi pagar kawat setinggi + 1,5 meter.

Beberapa menit berjalan Nigel melambatkan busnya. Di sisi jalan, 3 ekor kanguru terjebak di balik pagar dan sedang berusaha ke luar. Bus berhenti sebentar dan kanguru itu mengangkat dua kaki depannya melihat ke arah kami dengan pandangan aneh. Dan kemudian mereka berbalik arah dan berlari … eh melompat dengan cepat menyusuri pagar.

Black Path trees

Matahari mulai turun di ufuk cakrawala dan meninggalkan suasana yang sepi, ngelangut dan sangat alami. Penulis berusaha memotret matahari sore yang akan tenggelam, berlatar depan ladang yang sangat luas. Sayang sekali dari atas bus ini posisinya selalu kurang menguntungkan. Dan sebentar kemudian matahari benar-benar hilang di ufuk barat. Semburat merah kekuningan mewarnai ufuk cakrawala dan bintang sore telah muncul dan bersinar terang. Perlahan tetapi pasti, gelap malam mulai menyelimuti permukaan bumi. Di layar sebuah dibelakannya Nigel memutar film Mr Bean yang sedang sibuk ngerjain orang, berlagak jadi tukang cukur.

Jam 20.30 Nigel membawa bus masuk ke Perth, setelah muter-muter mengantar tamunya, akhirnya dia berhenti di Murray Street, Ibis Hotel.

Thank you Nigel it is really a long and wonderful trip of the day.

See also


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: