Posted by: Heru Legowo | April 12, 2010

Ketut Liyer – The Medicine Man


Ketut Liyer, seorang balian yang tinggal di Banjar Pengosekan, kira-kira 1 km dari restoran Bebek Bengil-Ubud, tiba-tiba menjadi selebritis. Sejak ditulis oleh Elizabeth Gilbert dalam bagian ke tiga bukunya Eat, Pray, Love banyak turis yang datang sekedar ingin bertemu atau dibaca garis tangannya.

Buku Eat, Pray, Love yang menjadi best seller di New York ini merupakan ceritera dari  seorang perempuan bernama Liz yang sudah menikah, seorang yang sukses, mapan, dan berkecukupan tetapi sedang dalam masalah dengan perkawinannya. Dia “melarikan diri” dan mencari jati dirinya sendiri. Dia memuaskan selera makannya di Italia, belajar mengenal dirinya dan tentang yoga di India, kemudian bertemu dengan pria Brazil setengah baya Felipe yang sangat memuja dan mencintainya di Bali. Di Bali inilah Elizabeth Gilbert bertemu dengan Ketut Liyer dan juga belajar yoga. One woman search’s for everything across Italy, India and Indonesia.

Buku ini yang sudah difilm-kan. Julia Robert memerankan Liz dan akan di Gala Premiere kan di Washington DC tanggal 10 Agustus yang akan datang. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik juga ikut mempopulerkan buku ini, karena beliau pulalah dulu berinisiatif yang mencoba menjual Indonesia melalui film. Beliau sadar benar bahwa image dan persepsi seuatu negara dan wilayah, sangat mudah dibentuk melalui sebuah film. Film ini menurut beliau akan dibuka dengan sebuah pemandangan yang eksotis dan indah di pantai Nusa Lembongan. Nonton yuk!

Ketut Liyer melayani pasien

Hari Minggu yang cerah, tanggal 11 April 2010 kemarin penulis sengaja mengunjungi rumah Ketut Liyer. Sekedar ingin tahu bagiamanakah sosok seorang balian – The Medicine Man, yang diceriterakan oleh Elizabeth Gilbert dengan begitu detil dan beliau juga yang mengajarkan dia ber yoga dengan cara Bali, dan juga berusaha memahami kepercayaan bali tentang Kandhapat.

Rumah Ketut Liyer agak masuk ke dalam gang, tetapi mobil masih bisa berpapasan dengan sangat pas. Di depan pintu gerbang kul-kulnya ada sebuah papan berwarna hijau dengan tulisan kuning : Ketut Liyer Painter and Wood Carving, Medicine Man. Rumahnya tertata baik, asri dan bersih. Di pintu masuk sebelah kanan ada sebuah ruangan dimana di dindingnya ada beberapa puluhan gambar mistik Bali. disebelah kiri rumah utama, kemudian Balai Dangin dan Balai Kaja disinilah Ketut Liyer duduk dan sedang menerima tamu turis asing. Satu orang turis perempuan muda sedang menunggu giliran. Sambil menunggu penulis berjalan terus kebelakang rumah.

Di bagian belakang rumah ini ada sebuah homestay. Di depannya ada sebuah ruangan terbuka, tempat melukis. Penulis bertemu anaknya Ketut Lantra yang sedang menyelesaikannya lukisannya. Ketut Lantra seorang guru melukis di SMP I Sukowati.  Ketut Lantra mengatakan homestay di depannya dapat disewa ongkosnya Rp. 300 ribu se malam. Jika berjalan terus kita akan menemui sawah dan kemudian sungai. Sungguh sebuah tempat tinggal yang nyaman, asri dan membuat tenteram.

Setelah tiba giliran penulis, diterima Ketut Liyer. Beliau berusia 95 tahun, dan duduk didepan pintu Balai Kaja. Disisi kirinya tumpukan lontar kuno yang ditutupi kain kuning. Beliau bertanya nama dan darimana? Penulis mengatakan hanya ingin berkenalan dan ingin tahu ceritera bagaimana seorang Ketut Liyer berubah, dan sekarang menjadi terkenal sejak bertemu dengan Elizabeth Gilbert dan menjadi tokoh dalam bukunya.

Dan … Ketut Liyer pun berceritera, isinya persis seperti dalam buku Eat Pray, Love. Beliau berceritera bagaimana dahulunya dia seorang pelukis yang melukis situasi yang ada di sekelilingnya misalnya : sawah, kerbau di sungai, pohon. Kemudian ada seorang Belanda(?) yang mengajarkan dia melukis dengan teori dan kaidah-kaidah yang baku.

Pada suatu saat ketika dia melukis sampai malam dan lukisannya belum selesai, dia memaksakan diri menyelesaikan lukisannya memakai petromax. Dan ketika lampu petromax sedikit meredup, dia pompa kembali dengan keras, dan petromax pun meledak! Tangan kanannya melepuh, bengkak besar sekali. Dokter tidak sanggup mengobati. Beberapa malam kemudian dalam mimpinya Ketut Liyer bertemu dengan arwah kakeknya, dan dia disarankan untuk mengolesinya dengan air dari kayu cendana. Ternyata dia heran sekali, kok sakitnya menjadi sangat jauh berkurang dan akhirnya sembuh. Dalam mimpinya Ketut Liyer dipesankan untuk meneruskan tradisi keluarga sebagai balian atau dukun, The Medicine Man. Jadilah Ketut Liyer kemudian menjadi balian sambil tetap menjalankan bakatnya sebagai pelukis.

Di pintu masuk rumah Ketut Liyer

Penulis datang bersama beberapa teman, dan untuk membuktikannya 2 orang teman penulis menjadi volunteer dan dibaca tangannya.

Sebelum membaca Ketut Liyer mengatakan, bahwa dia belajar dari buku dan lontar, profesinya adalah pelukis, maka jika tidak tepat dalam meramal agar dimaafkan. Dia mulai membaca wajah, menjelaskan pipi, alis, bentuk bibir. Kemudian membaca tangan : garis harta, garis kesehatan, garis karir dan menjelaskan situasi pernikahan. Berikutnya pasiennya diminta berbalik dan dia membaca tanda  the perfume flower sedikit di bawah tengkuk. Dan terkahir dia meminta pasiennya untuk berselonjor dan membaca kaki mulai dari lutut ke bawah.

Dalam menjelaskan ramalannya Ketut Liyer yang selalu menyebut dirinya kakek, lebih banyak berbicara dalam bahasa Inggris, kelihatannya untuk hal-hal yang umum dia lebih mudah dan fasih mengucapkannya dalam Bahasa Inggris. Dari untaian kata-katanya, yang diucapkan Ketut Liyer merupakan kalimat-kalimat baku yang tampaknya sudah dihapal dengan baik.

Kami harus pamit segera, karena beberapa orang turis bule dengan guidenya mulai berdatangan dan antri untuk menemui Ketut Liyer. Dia benar-benar sudah menjadi seorang selebritis. Bule-bule itu pada datang selain diajak oleh guidenya sedikit banyak mereka tahu tentang buku Eat, Pray, Love nya Elizabeth Gilbert.

Barangkali kita harus semakin banyak mencari penulis yang bagus untuk menulis buku tentang Bali dan mem-filmkannya. Benar-benar terbukti bahwa buku itu menjadi memperkuat magnet dan membuat turis semakin banyak mendatangi Bali.

Eh iya bagi yang penasaran, buku Eat, Pray, Love sekarang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Jadi, silahkan cari dan baca yah …


Responses

  1. nice


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: