Posted by: Heru Legowo | July 15, 2010

Nonton Bareng Final Piala Dunia


La Furia Roja - Championes

Sepak bola telah menyihir dunia dalam sebulan terakhir. Piala Dunia di Afrika Selatan seakan membuat seluruh orang dunia menyingkirkan sejenak kepentingannya dan memberi perhatian kepada momen dunia ini. Sepakbola barangkali cabang olahraga yang paling merakyat sekaligus paling popular di dunia. Semua lapisan masyarakat memainkannya, dari lapisan bawah sampai yang elite pun.

Senin 12 Juli 2010 dini hari, penulis bergabung dengan teman-teman nonton bareng di Stadium Café di kawasan Kuta. Jam 01.30 ruangan penuh sesak. Kebetulan penulis dapat duduk di tengah-tengah kerumunan pecandu bola ini. Bule-bule banyak berderet duduk di belakang. Tampaknya mereka pendukung tim Belanda, kaos mereka oranye dengan atribut Belanda. Di sebelah depan hanya beberapa kelompok pendukung Spanyol.

MC-nya seorang anak muda dengan topi dan syal di lehernya sibuk memberi komentar dan berusaha menghidupkan suasana. Dia membagi-bagikan hadiah dari sponsor, dengan memberi pertanyaan untuk di jawab. Seorang sexy dancer, tiba-tiba tampil di depan panggung meliuk-liukkan perut dan pinggulnya. Penulis menunjuk seorang gadis Belanda di depan penulis dan bilang sama Alex : “ Lebih sexy dia tuh suruh ke depan” hehehe …

Pendukung Belanda tak henti-hentinya berteriak : Holland … Holland ! Dan kelompok di depan membalas : Spain … Spain … Seru banget, dan suara mereka sungguh memekakkan telinga.

Penulis pegang Spanyol. Bukan karena ramalan si Paul Gurita yang meramal Spanyol akan menang. Semata-mata karena Belanda dalam perjalanan ke final tidak pernah kalah. Di arena Piala Dunia, tidak pernah ada tim yang tidak pernah kalah (?), sebelum menjadi juara dunia. Jadi kali ini, Belanda akan kalah! Alex jagoin Belanda, jadi seru deh nontonnya.

Lagunya Shakira berdentam keras dengan iramanya yang mengajak orang bergoyang …

The pressure is on You feel it

But you got it all Believe it

When you fall get up, oh oh

If you fall get up, eh eh

Tsamina mina zangalewa

Cuz this is Africa

Tsamina mina, eh eh

Waka waka, eh eh

Tsamina mina zangalewa

This time for Africa

JALANNYA PERTANDINGAN

Pertandingan berjalan seru 2X 45 menit, dan dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Wasit Howard Webb seorang sersan polisi Inggris memimpin pertandingan dengan tegas. 13 kartu kuning dikeluarkan pada pertandingan final itu. John Heitinga pemain belakang Belanda, bahkan harus keluar lapangan, karena mengganjal keras Iniesta di dekat kotak penalti.

Spanyol sudah membuka kesempatan di menit kelima lewat sundulan Sergio Ramos. Akan tetapi, kiper Belanda Maarten Stekelenburg berhasil mengamankan gawangnya dengan baik.

Memasuki masa injury time babak pertama, Arjen Robben mendapat kesempatan lewat tendangan kaki kiri. Akan tetapi kapten tim Iker Casillas mengamankan bola yang mengarah ke tiang dekat gawang Spanyol. Barangkali bintang lapangan pada malam itu adalah kipper sekaligus kapten kesebelasan Spanyol. Beberapa kali aksi penyelematannya, membuat gawangnya aman, padahal beberap kali pemain depan Belanda sudah tinggak berhadapan dengan Ikker Cassilas.

Oranje Squad

Di paruh kedua babak perpanjangan waktu, Belanda kehilangan salah satu pemainnya, John Heitinga, karena akumulasi dua kartu kuning. Bek Belanda itu melanggar Iniesta yang akan masuk ke kotak penalti. Hadiah tendangan bebas pun diberikan kepada Spanyol, namun gagal diselesaikan Xavi.

Di menit 116, Spanyol akhirnya bisa memecah kebuntuan. Iniesta yang mencetak gol lewat tendangan kerasnya dari dalam kotak penalti, setelah mendapat bola sodoran dari Xavi. Iniesta berlari merayakan keberhasilannya dengan membuka kaos. Di dadanya ada tulisan yang sepertinya sudah dipersiapkan. Tindakannya membuka baju itu membuat dia mendapat kartu kuning. Gol itu pun disambut dengan meriah kubu Spanyol. Semua pemain di bangku cadangan pun mengejar Iniesta dan merayakan golnya di pinggir lapangan.

Dan itu adalah satu-satunya gol pada pertandingan final itu.

Penonton berteriak keras dan pendukung Spanyol di Stadium Café, melonjak-lonjak penuh emosi kemenangan. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana jika ini terjadi di lokasi pertandingan yang sebenarnya. Di depan TV saja mereka sudah begitu antusias dan emosional merayakan kemenangan timnya. Apalagi jika nonton langsung. Sementara itu di deret belakang, para pendukung Belanda terbengong-bengong seakan tidak percaya tim-nya kalah. Ini kekalhan tim Belanda di final untuk yang ke 3 kalinya. Suasana riuh rendah, gaduh dan ribut sekali.

Ikker Cassilas Kapten dan juga Sang Penyelamat

Secara umum, Spanyol telah berhasil memainkan strategi tiki-takanya nyaris sempurna. Sama dengan strategi yang digunakan ketika menundukkan Jerman. Pada pertandingan semi final tiki-taka-nya Spanyol membuat Jerman frustasi. Bola seakan lengket di kaki para pemain Spanyol, dan sulit untuk merebutnya dari kaki mereka. Ikker Casilas membuktikan diri sebagai kiper yang handal dan mempunyai naluri tinggi dalam menempatkan diri mengamankan gawangnya.

Sementara itu Tim Oranye cenderung bermain kasar. Sliding tackle-nya mengerikan. Puncaknya ketika De Jong melakukan tendangan kungfu dan mengenai dada Alonso. Seharusnya dia bukan hanya diberi kartu kuning, De Jong harusnya diberi kartu-merah. Wasit Howard Webb masih berbaik hati.

Spanyol juga sukses mengawinkan gelar juara setelah dua tahun lalu meraih tropi Piala Eropa dengan mengalahkan Jerman di laga final. Sementara Belanda harus kembali puas untuk ketiga kalinya harus menjadi runner up di turnamen akbar Piala Dunia. Sebelumnya Belanda juga menjadi runner up di tahun 1974 dan 1978.

SUSUNAN PEMAIN :

BELANDA : Stekelenburg, Van Bronckhorst (Braafheid 105), Mathijsen, Heitinga, Van der Wiel, De Jong (Van der Vaart 99), Van Bommel, Kuyt (Elia 71), Sneijder, Robben, Van Persie.

Pelatih : Bert Van Marwijk

SPANYOL : Casillas, Capdevilla, Puyol, Pique, Sergio Ramos, Xabi Alonso (Fabregas 87), Busquets, Pedro (Navas 60), Xavi, Iniesta, Villa (Torres 106).

Pelatih : Vicente Del Bosque

PERTANDINGAN TERBAIK

Die Mannscaft

World Cup telah berakhir. Bagi penulis pengamat bola amatiran ini, pertandingan yang menarik dan pantas disebut sebagai Match of The World Cup, adalah pertandingan memperebutkan juara ke III, antara Uruguay dan Jerman. Itu benar-benar sebuah pertandingan yang menarik untuk ditonton. Ke dua tim bermain lepas, saling menyerang dan bertahan dengan baik. Jerman barangkali lebih beruntung karena dari sekian kesempatan yang ada, dapat menghasilkan gol.

Pemain muda mereka Mueller mencetak gol lebih dahulu. Uruguay membalas melalui Cavani yang lepas dari jebakan off side. Kemudian, tendangan first time Forlan membuat Uruguay unggul lebih dahulu. Pemain sayap kiri Jerman Jansen yang menggantikan Podolsky menyamakan kedudukan. Akhirnya Sami Khedira membuat Jerman unggul melalui tandukan kepalanya ke gawang Uruguay. 3-2 untuk Jerman.

Tim Uruguay

Pada detik terakhir, Forlan yang bermain luar biasa harusnya dapat menyamakan kedudukan, sayang tembakannya mengenai pojok mistar gawang. Selamatlah gawang Die Mannscaft dan Jerman pun menjadi juara ke tiga untuk yang kedua kalinya secara berturut-turut.

HIKMAH DAN PELAJARAN

Tim-tim yang menonjol dan menunjukkan kelasnya sebagai tim dunia, kebanyakan diawaki anak-anak muda. Jerman sukses meraih gelar ke juara ke tiga. Dan Jerman juga sukses membuat Thomas Mueller menjadi top scorer.

Walaupun Thomas Mueller tidak bermain di final, tetapi dia mampu mencetak 5 gol sama dengan Diego Forlan, David Villa dan Welsey Sneijder. Jumlah assist Thomas Muller lebih banyak dari David Villa dan Sneijder, selain itu Mueller juga menciptakan gol yang lebih cepat dibandingkan dengan 3 pemain itu. Keberhasilan ini membuat Thomas Mueller pun mengulang keberhasilan Miroslav Klosse sebagai pencetak gol terbanyak piala dunia tahun 2006, dan Muelller pun dinobatkan menjadi pemain muda berbakat, juga mendapat sepatu emas. Dia pantas menerima penghargaan itu.

Thomas Mueller pemain muda berbakat & peraih sepatu emas

Tim Spanyol juga demikian. Tim mereka dibentuk dari materi pemain muda usia 17 dan kemudian uisa 20. Mereka yang terbiasa main dalam sebuah tim sejak dari yunior, membuat kerjasama tim sangat mudah dibentuk. Masing-masing sudah tahu karakter rekan bermainnya. Aliran bola, pergerakan dari kaki ke kaki seakan-akan mengalir begitu saja, seperti instink!

Itulah sepak bola … dan kini histeria yang melanda dunia pun berakhir. Sampai jumpa lagi di Brazil.


Responses

  1. spain memang top……………^_^b


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: