Posted by: Heru Legowo | September 15, 2010

Shalat Ied di Alun-Alun Jogya


Jl. P. Senopati Jogya

Idul Fitri 1431H di Jogyakarta. Sebagai kota tujuan wisata Jogya dibanjiri pemudik dan para pelancong yang memanfaatkan waktu libur nasional tanggal 9 dan 13 Sept 2010. Di jalan-jalan mobil-mobil bagus dengan nomor polisi B, L, H, D bersliweran menambah macet jalan-jalan.

Pada hari Idul Fitri kali ini untuk ke sekian kalinya, penulis kembali shalat di alun-alun utara keraton Jogyakarta. Pagi itu 10 September 2010 hari Jumat, penulis memarkir mobil di depan Taman Pintar Jl. P.Senopati, di depan SMP Negeri 2. Tukang parkir sibuk sekali dan sangat antusias menawarkan lokasi parkir yang sudah mulai penuh. Mereka meminta uang parkir Rp. 2 ribu, sambil meminta tambahan zakat.

Meninggalkan lokasi parkir, penulis berjalan menyusuri Jalan P. Senopati, di depan Gedung Bank Indonesia di kanan kiri masih banyak mobil yang mencari parkir dan juru parkir menawarkan lokasi. Di perempatan jalan di gedung BNI, beberapa petugas polisi sibuk mengatur lalu lintas. Lalu lintas dari arah jalan Malioboro ditutup,

Beberapa orang sibuk menggelar lembaran koran untuk alas sajadah di kanan-kiri Jl. Trikora, jalan masuk ke keraton Jogya dari arah utara. Ada seutas tali raffia yang terentang diantara pohon-pohon palm dan ditulisi : sholat disini tidak lurus shof alun-alun. Tetapi tampaknya mereka tidak peduli dan tetap saja menggelar koran dan sajadah untuk shalat di lokasi ini. Ada beberapa loud speaker ditempatkan di kanan kiri jalan ini., sehingga jemaah dapat mengikuti jalannya shalat Idul Fitri. Beberapa orang anggota pramuka menjaga beberapa kotak infaq di tengah jalan Trikora.

Masjid Gedhe Kauman Jogya, dibangun 29 Mei 1773

Masuk ke alun-alun, ratusan orang berduyun-duyun memasuki alun-alun. Beberapa jemaah memaksa menggelar koran dan sajadah di jalan lingkar alun-alun dan petugas sibuk melarang dan meminta mereka masuk ke alun-alun. Persis di depan jalan masuk ke alun-alun ada spanduk besar bertuliskan : Shalat Idul Fitri 1431 dengan khatib DR. Hamim Ilyas MA. Matahari pagi bersinar terang dan cerah setelah beberapa hari hujan di Jogya. Masuk ke tengah alun-alun dibelakang ringin kurung, ternyata masih banyak tempat yang kosong. Panitia shalat menghimabu jemaah agar segera masuk : “Sholat akan dimulai 10 menit lagi, monggo monggo mas”. Di dekat ringin kurung penulis menggelar koran dan menaruh sajadah di atasnya.

DR, Hamim Ilyas, MA dengan khutbahnya mengulas dengan baik bagaimana berperilaku sebagai menjadi insan muslim. Beliau menutup khutbahnya dengan mengatakan bahwa setiap shalat selalu didahului dengan Takbiratul Ihram : Allahu Akbar dan ditutup dengan salam. Artinya jika mengenal Allah, maka kita harus mampu memberikan salam dan kesejahteraan bagi orang lain. Nasehat sederhana yang cukup sulit menerapkannya.

MASJID GEDHE JOGYA

Dari lokasi duduk penulis, sambil mendengarkan khutbah, tampak dari jauh masjid besar Kauman. Masjid Gedhe Kauman ini dibangun pada tanggal 29 Mei 1773. Kemarin sore kebetulan penulis nonton fim Sang Pencerah, kisah dari perjalanan hidup seorang anak muda Muhammad Darwis yang kemudian berganti nama menjadi Ahmad Dahlan sepulangnya dari menunaikan haji di Mekkah. Jadi membayangkan kisah Kyai Haji Ahmad Dahlan yang diceriterakan dengan menarik oleh Hanung Bramantyo dalam film yang inspiratif dan heroik.

Pembetulan arah qiblat. Perhatikan ruang Imam yang berbeda dengan arah qiblat yang telah dibetulkan oleh KH Ahmad Dahlan

Salah satunya bagaimana KH Ahmad Dahlan berani melawan arus dan membetulkan arah qiblat Masjid Gedhe Kauman ini. Perjuangan yang sungguh berani dan penuh resiko, mengingat yang dilawan adalah para pemuka agama yang sudah sangat sepuh dan senior.

Setelah selesai shalat penulis menyempatkan diri melihat Masjid Gedhe Kauman ini. Di dinding pintu masuk ada sebuah lambang. Lambang itu sepertinya dahulunya lambang Hamengku Buwono IX, tetapi ada perubahan sedikit. Lambang huruf Jawa H & B yang terletak ditengah diganti dengan sebuah jam. Sayang jamnya mati. Dan diatasnya sebuah mahkota kerajaan. Lambang ini berwarna kuning emas.

PEMULUNG

Selesai shalat, jemaah langsung bubar, meninggalkan koran-koran yang membuat alun-alun utara seakan berubah menjadi hamparan koran. Dan para pemulung kemudian sibuk mengumpulkan koran-koran untuk dijual.

Nenek Juminten

Diantara para pemulung ada seorang nenek, ketika penulis bertanya dia menjawab: “Mboten disade mas, niki kangge ndamel bungkus tempe” = “Tidak dijual mas, ini saya buat untuk bungkus membuat tempe”. Nenek Juminten ini tampak sehat dan cekatan. Anaknya 8 orang dan cucunya ada yang bekerja di Palembang. Shalat Idul Fitri ternyata memberi dia koran gratis dalam jumlah yang banyak sekali.

Beberapa fotografer tampak sibuk mengabadikan situasi di depan alun-alun utara yang berubah menjadi tumpukan koran disana-sini

KEHIDUPAN LAIN

Di jalan Trikora, jalan keluar alun-alun juga dipenuhi koran. Pengemis ada disana sini sibuk meminta-minta. Sebentar kemudian situasi pun berubah para penjual makanan mulai dikerubuti pembeli. Ada penjual mie, soto, pecel, urab dan makanan khas Jogya lainnya. Pembelinya terutama ibu-ibu, mereka mengatakan sudah bosan dengan masakannya sendiri jadi cari alternatif makanan lain.

Di pojok trotoar tampak beberapa orang pengemis sibuk menghitung uang perolehannya pagi itu. Seorang lelaki setengah baya tampak menggenggam tumpuikan uang yang cukup tebal. Sedikit kebahagiaan bersemu di wajah mereka, senyum kecil dan canda tawa dan bahagia meluap keluar. Rejeki hari ini …

Para fotografer yang sibuk mengabadikan kejadian setiap tahun sekali ini, dengan tele lens. Mereka memotret setiap gerakan orang dan situasi sesuai rasa seni mereka masing-masing.

Di tepi jalan di depan monumen Serangan Umum 11 Maret, seorang nenek pengemis sedang bingung, tampaknya sedang mencari seseorang. Kemudian seorang anak muda – barangkali cucunya – datang mencari dan menggandengnya. Lalu sebentar kemudian, nenek itu dituntun dan pergi naik becak. Mungkinkah nenek ini dimanfaatkan dan menjadi “alat” untuk mendapatkan uang dengan mengemis? Barangkali juga.

Kraton Jogya & koran yang menyampah

Idul Fitri meninggalkan begitu banyak kenangan dan juga memberikan rejeki walau sekecil apapun kepada orang-orang kecil seperti nenek Juminten …

Minal ‘Aidin wal Faizin Semoga kita semua kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah kita sebagai khalifah di dunia dan mendapat “kemenangan”

Mohon maaf lahir batin …

herulegowo@yahoo.com


Responses

  1. tulisan yg bgs bgt pak..kita kadang tidak memperhatikan sisi2 lain dr hal2 yg bpk tulis…sekali lg salute pak..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: