Posted by: Heru Legowo | December 23, 2010

Merapi Tidak Ingkar Janji


Merapi & Kinahrejo yang rata

Sabtu, 19 Desember 2010 yang lalu penulis sengaja datang ke Yogya untuk melihat dari dekat, “hasil karya” Gunung Merapi yang meletus pada hari Selasa Legi 26 Oktober 2010 jam 17.02 yang lalu. Banyak kejadian dari letusan Merapi ini yang kemudian menjadi hanya sekedar laporan untuk diketahui masyarakat, tetapi juga banyak yang membuat kita merenung lebih dalam, tentang fenomena alam ini.

Kali Gendhol di desa Bronggang menjadi saksi pertama yang penulis kunjungi. Dukuh ini terletak 17 km dari puncak Merapi. Irwan yang temannya ikut menjadi korban di desa Bronggang ini, menemani kami. Memperhatikan Kali Gendhol yang biasanya curam, jarak antara permukaan tanah dan dasar sungai cukup dalam; kali ini dasarnya hampir rata dengan jalan! Timbunan pasir yang tebal dan terlihat masih panas, menutupi alur sungai hampir memenuhi semua badan sungai dari kiri sampai kanan. Sebuah batu besar, seukuran bus teronggok ditengah jalan, di tepi jembatan Kali Gendhol. Penulis membayangkan sungguh luar biasa kekuatan yang membuat batu sebesar itu duduk manis, ditengah-tengah ujung jembatan. Batu ini terlontar dari jarak 17 km … wuiihhh.

Dari jembatan ini, diujung hulu Kali Gendhol Gunung Merapi duduk dengan anggun. Awan putih memahkotai puncaknya. Dinding-dinding gunungnya tampak hijau kecokalatan disana-sini. Sebuah kedamaian yang menyimpan pesona, sekaligus ancaman. Di dalam sungai beberapa back hoe mengeruk pasir.

Kali Gendhol penuh dengan pasir

Dan setiap kali back hoe membuka timbunan pasir, uang panas langsung keluar dari dalam timbunan dan menimbulkan asap tipis. Di beberapa bagian masih ada timbunan pasir yang menguapkan bau belerang, bahkan ada yang mengeluarkan bunyi mendesis. Setelah 2 bulan berlalu dan diguyur hujan berminggu-minggu, masih juga panasnya terasa. Anda bayangkan, betapa panasnya ketika pertama kali menyentuh bumi! Di ujung pandangan ke selatan, seluruh sungai terisi pasir, air hanya mengalir seperti sebuah selokan yang berkelok ditengahnya. Puluhan pengunjung seperti penulis, sibuk berfoto dengan latar belakang Gunung Merapi.

Desa Bronggang yang paling parah
Desa Bronggang paling parah terkena dampak letusan

 

Ketika memperhatikan rumah-rumah penduduk ditepi Kali Gendhol, seperti kota mati. Hampir mirip dengan desa-desa korban lumpur Sidoarjo. Sebuah mobil sedan kecil hangus terbakar di depan sebuah rumah. Pohon-pohon menjadi kering kerontang seperti terpanggang. Dua buah pohon kelapa kering, bersama dengan buahnya yang masih menggantung di pohon. Penulis bergidik ketika membayangkan bagaimana ketika awan panas turun melalui Kali Gendhol ini.

Saksi mata berceritera, sebelum awan panas sampai, terdengar suara bergemeretak. Pohon-pohon bambu pecah hampir bersamaan, menimbulkan suara yang mengerikan. Beberapa hari sebelumnya binatang-binatang sudah memberi isyarat hanya manusia yang kurang tanggap. Puluhan ular keluar dari sarangnya dan melarikan diri, cacing2 tanah keluar dari tanah dalam jumlah besar. Angsa di kandang berteriak-teriak tanpa henti. Bahkan ada kisah harimau yang bermain-main didepan rumah penduduk. Konon binatang2 itu, mengungsi juga ke Gunung Merbabu, di sebelah utara Merapi.

Ada Pak Sabari yang kedua telapak tangannya terkena awan panas. Kulitnya terkelupas semua, jadi berwarna merah. Ngeri melihatnya. Beliau kehilangan isteri dan anaknya. Dia sempat menyelamatkan diri dengan menutup tubuhnya dengan kasur. Isterinya pada waktu itu pas membuka pintu, bersamaan awan panas datang. Dia terjerembab di depan pintu dan tidak dapat diselamatkan. Juga anaknya, tidak sempat berlindung. Beberapa kelompok pengunjung tampak serius mendengarkan Pak Sabari menceriterakan kejadian yang dialaminya..

Di Dukuh Ngancar sekitar 4 km diutara Bronggang menyimpan beberapa kisah misteri. Konon menjelang Maghrib, di sungai Gendhol ini sering terdengar suara-suara yang panik : “Panas … panas”.

Sebelum letusan kedua Merapi terjadi, banyak penambang pasir yang asyik terus bekerja mengambil pasir, padahal hari sudah Maghrib. Tiba-tiba terdengar suara dalalam bahasa Jawa : Wong wis surup kok ora leren, mengko tak terke neng ngarep omahmu (Jw = sudah Maghrib kok tidak berhenti, nanti kuantarkan pasir itu ke depan rumahmu). Dan benar saja, tumpukan pasir itu memang sampai di depan rumah dan meratakan rumah mereka!

Penambang pasir yang panen

Irwan semakin menambah ceritera misteri ini. Dia beceritera, 2 malam sebelum kejadian Merapi meletus bapaknya bermimpi banyak anak-anak kecil melarikan diri dari puncak gunung. Ketika ditanya mereka menjawab : “Neng nduwur kono panas pak!” Wah ternyata mahluk halus bisa juga merasa panas juga yah?

Di sisi lain, Kali Kuning seperti halnya Kali Gendhol, penuh dengan pasir. Sebuah jembatan menahan pasir dan memenuhi badan sungai penuh dengan pasir. Pagar jembatan di kedua sisinya hancur diterjang material gunung yang dibawa arus air sungai. Truk-truk pasir sekarang tidak perlu lagi harus turun jauh ke dasar sungai. Truk-truk itu tinggal parkir di tepi jalan dan pekerjanya sibuk menaikkan pasir dengan mudah. Beberapa back hoe juga sibuk mengeruk pasir, agar aliran sungai lebih mudah mengalir.

 

KINAHREJO

Dukuh ini menjadi terkenal karena menjadi kediaman mbah Maridjan yang fenomenal itu. Lokasi ini menjadi ramai dikunjungi orang. Sebelum memasuki area ini, di jalan masuk ada pos yang memungut sumbangan dari para pengunjung. Dukuh Kinahrejo adalah dukuh terakhir bagi para pendaki Merapi dari arah selatan, seperti Sembalun dan Senaru bagi Gunung Rinjani di Lombok.

Puing Rumah Mbah Maridjan

Ada 200-an KK di Dukuh ini, dan sekarang benar-benar rata dengan tanah. Memperhatikan bekas polah tingkah Merapi sungguh menggiriskan hati. Sungguh seperti ada sebuah sapu raksasa yang bekerja membersihkan punggung-punggung bukit Merapi. Rata dengan tanah dan tidak tersisa. Bkas-bekas pondasi rumah masih tampak. Dan bau bangkai sekali-kali menyengat hidung. Barangkali bangkai ternak atau jenazah manusia? Entahlah.

Penulis menuju ke rumah mbah Marijan. Terpaksa naik ojek karena kalau jalan cukup jauh. Banyak anak-anak yang menawarkan CD Merapi. Di sebelah kiri ada jurang yang sangat dalam dan kelihatan jelas karena pepohonan yang menutupinya sudah lenyap disapu awan panas. Rumah mbah Maridjan tinggal puing-puing. Beberapa alat gamelan sederhana kendang dan saron, tampak masih utuh. Ada sebuah papan sederhana berwarna hijau dengan tulisan : Kinah bali Rejo (Kinah kembali subur).

Serpihan sajadah Masjid Kinahrejo

Di sebelahnya bekas masjid sudah tinggal puing yang rata dengan tanah. Serpihan sajadah yang terbakar tampak tersisa menggeletak di tanah. Diujung tertinggi ada sebuah banner dengan tulisan merah : Daerah Berbahaya radius 50 meter.

Merapi tampak tetap berdiri megah, puncaknya tertutup awan. Awan yang terbawa angin dan tertangkap puncaknya, atau juga awan yang terbentuk dari asap yang keluar dari perutnya. Punggung gunungnya tampak terjal, menyimpan kesulitan yang menantang untuk mencapai puncaknya. Suatu trek yang keras. Pasti sulit mendaki Merapi dari arah sini.

Namun disisi lain, lokasi sekarang menjadi semacam tujuan wisata. Jam 12 siang sudah sulit mencari tempat parkir di Kinahrejo. Macet. Tukang ojek sibuk mengantar pengunjung pulang-pergi dari lokasi parkir ke bekas rumah mbah Marijan, yang jaraknya hanya kurang lebih 3 km.

 

KALI CODE

Kali Code menyimpan ceritera tersendiri. Permukaan airnya memang sempat naik dan mengancam penduduk di kiri kanan bantaran sungai. Deretan karung pasir sepanjang tepi sungai ditata rapi oleh penduuk untuk mengatisispasi naiknya air sungai. Tetapi sekarang mereka panen dan menangguk untung. Air sungai membawa serta pasir. Mereka mengeruknya dan menampungnya menumpuk di pinggir kali. Ibu-ibu tampak ikut giat, membantu suami mengeruk pasir dan menimbunnya di tepi sungai. Rejeki yang gratis.

Keraton Jogjakarta

Merapi memberi kemudahan lain, setelah batuk-batuk beberapa bulan yang lalu. Kini dia tetap berdiri dengan tegak dan memperhatikan sekelilingnya dengan tenang dan memberi rasa tenteram.

Kawula Jogjakarta percaya bahwa ada hubungan mistis antara Merapi, Keraton Jogja dan Ratu Kidul. Jika Merapi berulah, Keraton juga akan kena dampaknya.

Di kota Jogjakarta banyak tertempel spanduk yang bernada emosional, tentang pemilihan Gubernur. Apakah pemilihan Gubernur Jogjakarta menjadi salah satu akibat dari letusan Merapi?

Nggak tahulah …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: