Posted by: Heru Legowo | April 23, 2011

Hombo Batu “Jumping Stone” – Nias


Hombo Batu - Bawomataluo Teluk Dalam

Sabtu sore itu, 2 April 2011 pesawat ATR 72 Wings Air mengurangi kecepatannya, pilot memberi tahu pramugari agar bersiap untuk mendarat. Roda pesawat bergeretak turun, tetapi kemudian mesin pesawat menderu keras kembali. Penulis duduk di seat 1F, memperhatikan ke luar dan was-was, pasti nggak jadi mendarat nih. Dan benar saja, pramugari mengumumkan bahwa tidak jadi mendarat karena hujan menutupi jarak pandangan. Untunglah setelah berputar beberapa kali, pandangan menjadi lebih baik dan pesawat mendarat di landasan yang basah. Selamat datang di Bandara Binaka Gunung Sitoli Nias. Tidak ada perbedaan waktu antara Medan dan Gunung Sitoli. Ini perjalanan pertama penulis ke Nias.

Bandara Binaka ini mirip dengan Bandara Nunukan di Kalimantan Timur atau di Tambolaka di Nusa Tenggara Timur. Towernya yang dicat putih dan biru ditepinya tampak kokoh dan sendirian, tidak ada gedung disekitarnya. Dibawahnya ada 2 buah kendaraan PKPPK terlihat siaga. Gedung Terminalnya cukup tinggi dan tampaknya relatif baru. Dari jauh, Rommy yang baru penulis tahu nomor HP-nya di Bandara Polonia Medan melambaikan tangannya. Dia mempersilahkan penulis naik mobil kijang coklat sambil berkata : “Ucok yang akan mengantar bapak ke Hotel”.

Hujan belum reda, jalanan basah. Tidak banyak lalu lintas kendaraan. Kota Gunung Sitoli kira-kira 20 km dari Bandara Binaka. Jalannya mulus, mengingatkan jalan antara Dompu ke Tambolaka begitu deh. Ucok mengantarkan penulis ke Libi Hotel, hotel kelas Melati. Lumayanlah sekedar untuk istirahat semalam saja, karena besok sudah harus kembali lagi ke Polonia Medan. Ini perjalanan singkat untuk memanfaatkan waktu yang senggang. Setelah check in penulis memanfaatkan waktu dan mencoba naik “becak-mesin” kendaraan Nias mirip dengan betor (becak motor) di Medan, hasil modifikasi dari becak. Mirip becak, hanya penggeraknya adalah sebuah motor yang dihubungkan disisi kanannya.

Batu Megalitikum di depan rumah adat

Penulis minta diantar keliling kota, pengemudinya minta ongkos Rp. 10 ribu. Gunung Sitoli adalah ibukota Nias. Penduduknya lebih kurang 300 ribu. Pelabuhan Angin adalah pelabuhan yang berperan penting menghubungkan Nias ke luar selain Bandara Binaka. Malam harinya, Rommy yang sejak kecil tinggal dan besar di Teluk Dalam datang dan mengajak penulis makan ikan bakar. Setelah itu mencoba menikmati durian di tepi jalan. Yang aneh, penduduk Gunung Sitoli tampaknya lebih suka makan durian yang masih belum matang. Harga durian yang belum matang justru 2 kali lebih mahal dari yang sudah masak. Menarik juga memperhatikan bagaimana durian dikupas seperti buah nangka yang mentah. Diiris menjadi kepingan-kepingan tipis, dan baru dikeluarkan buahnya. Sayang penulis tidak sempat ikut mencicipinya.

Besok pagi, jam 06.30 Ucok sudah siap di depan hotel. Pagi ini kami akan ke Teluk Dalam, melihat lokasi Lompat Batu di desa Bawomataluo yang terkenal itu. Kata Ucok, kira-kira 3 jam dengan mobil. Jauh juga yah. Jadilah kami berjalan pada pagi yang sedikit berkabut. Jalanan masih bagus dua sisinya dan tengah jalan diberi marka putih yang jelas dan nampak baru. Apakah ini karena ada Pemilukada yang akan berlangsung? Barangkali juga. Tidak banyak yang aneh di sepanjang jalan. Rasanya seperti ketika menyelusuri jalan dari Waingapu ke Tambolaka di Pulau Dompu.

Pantai Genasi - Teluk Dalam

Ada beberapa makam nasrani yang ditempatkan di samping atau depan rumah. Makam itu tampak lebih terawat dengan baik, dibandingkan dengan rumah itu sendiri. Anak-anak tampak berjalan berbarengan di tepi jalan menuju ke gereja. Ucok berkali-kali harus menekan klakson agar mereka tidak berjalan ke tengah. Menjelang siang sedikit, gantian yang ke gereja para remaja dan orang dewasa. Kami menyusuri pantai, melewati desa dan kecamatan di sepanjang pantai Idanogawo, Bawolato, Lahusa, Genasi.

Di Genasi kami mampir sebentar, minum kopi, sekedar istirahat dan mengisi perut. Lokasinya diatas tebing menghadap laut, mirip lokasi pantai di sekitar Senggigi, Lombok Barat. Kami terus berjalan, sebentar kemudian sampai di Teluk Dalam. Di pertigaan jalan ada patung naga yang menghadap ke empat arah, walaupun jalannya sendiri hanya 3 arah. Patung ditengah-tengah jalan tersebut menjadi landmark Teluk Dalam. Patung naga itu juga menjadi penjaga pintu masuk Bowamataluo, lokasi lompat batu. Kota kecil ini, tampak biasa-biasa saja.

Pantai Sorake sayang ombaknya sedang surut

Untuk menghemat waktu, penulis bilang ke Ucok sebaiknya ke pantai Sorake lebih dahulu sebelum ke lokasi lompat batu. Pantai Sorake cukup terkenal karena ombaknya bergulung-gulung tinggi dan menjadi salah satu idaman bagi para peselancar. Tetapi pagi itu, ombaknya surut. Gulungan ombak yang berwarna kehijauan hanya tampak dari kejauhan. Menurut Ucok gelombang dan ombak laut ini baru bagus pada bulan Agustus. Pantas saja cafe dan cottage yang ada di sepanjang pantai tampak sepi, tidak ada pengunjung. Kami hanya berpapasan dengan 2 orang bule disini. Hanya sebentar di Sorake. Segera cabut dan menuju tujuan utama, yaitu tempat lompat batu yang terkenal itu.

Patung Naga Lasara di gerbang pintu masuk

Memasuki daerah Bawomataluo, dibalik gereja tampak tangga terbuat dari batu. Kemudian Ucok memarkir mobilnya. Desa Bawomataluo luasnya + 5 hektar terletak di ketinggian 270 meter. Untuk memasuki desa ini anda harus melalu tangga yang cukup curam, kira-kira kemiringannya lebih dari 60 derajat. Ketika menginjakkan kaki dihalaman gerbang bawah bawomataluo, kami disambut dua patung penjaga gerbang desa adat berupa patung hewan berkepala lasara. Tangga batu ini tampak terjal, di kiri kanannya ada sebuah patung naga?

Penulis bersiap naik ke tangga, ketika seorang anak muda menawarkan, jika ingin melihat pertunjukan lompat batu, maka dia bisa melakukan itu. Persis seperti yang dikatakan Ucok sebelumnya! Dia menawarkan Rp. 150 ribu, untuk sekali melompat dengan pakaian adat khusus. Penulis bilang nanti saja, dan mulai naik tangga. Tangga ini terjal juga. Kemiringannya lebih terjal dari tangga makan ke Imogiri Yogyakarta. Jumlah anak tangganya 86 buah semuanya.

Batu Peringatan untuk Raja Inal Siregar Gubernur Sumut yang menjadi korban pesawat Mandala

Setelah melalui tangga kami memasuki pelataran yang berbentuk seperti jalan lebarnya kira-kira 15 meteran lebih, beralaskan batu yang rata seperti landasan pacu. Deretan rumah adat berada di sebelah kiri dan kanannya. Dan penulis tiba di kompleks rumah adat, dengan tumpukan batu seperti yang sering muncul di majalah dan televisi. Menjelang ke tengah ada sebuah tugu kecil yang terdiri dari tumpukan batu. Hombo Batu.

Jadi inilah batu yang terkenal di seantero Indonesia dan dunia itu? Tugu batu kecil yang tingginya 2.10 meter dan permukaan diatasnya seluas 90X60 cm ini, telah menjadi asosiasi dan berkonotasi kuat dengan Nias. Sedikit di belakang kirinya ada sebuah rumah adat tua Oma Sebua (rumah besar). Desainer dari rumah adat ini adalah Raja Laowo pendiri kerajaan wilayah ini dan menjadi nenek moyang dari keturunan Gomo. Diperkirakan pembangunan rumah adat ini dimulai pada abad ke 18. Kemudian pembangunannya diselesaikan oleh Saonigeho yang juga menjadi generasi pertama dari raja Laowo.

Jalan batu yang rata dan lebar seperti landasan pacu

Memandang berkeliling, kita seakan kembali ke masa silam. Jalanan batu yang rata ini bersilang ditengahnya persis di sudut Oma Sebua. Jadi dua jalan ini bersilang 90 derajat dan membentuk tanda “+”. Diseberang Hombo Batu ada sebuah balai pertemuan, semacam Balai Desa. Ukiran batu megalitik menghias di beberapa tempat. Di depan Oma Sebua beberapa buah batu besar berukuran 20 X 2 meter berwarna abu-abu kehijauan, permukaannya rata tampaknya pada jaman dulu digunakan untuk duduk-duduk para penguasa.

Sejenak penulis mencoba mencermati pemandangan yang spektakuler ini. Jumlah rumah adat ini lebih dari 300 buah rumah, dan masih dihuni. Ada kurang lebih 1000 orang yang tinggal didalamnya. Kemudian masuk ke Oma Sebua. Tiang-tiangnya terdiri dari kayu yang bulat dan panjang. Sekarang rumah adat cenderung lebih pendek, karena sulit untuk memperoleh kayu bulat yang cukup panjang untuk membuat bentuk seperti aslinya. Tangga keatas rumah cukup curam, 80 derajat, harus berhati-hati dan berpegangan kayu di tepi tangga yang di desain untuk naik dan turun tangga. Didalamnya ruang kosong kira-kira berukuran 8 X 6 meter.

Oma Sebua di Bawomataluo membawa kita ke masa silam

Ada beberapa pahatan kayu di dinding yang menggambarkan kapal Portugis pertama yang berlabuh di Teluk Dalam dan beberapa bentuk perhiasan raja. Sebuah kursi terletak dipojok, replika kursi raja. Sebuah gendang panjang berukuran 2,5 meter lebih digantung di langit-langit. dan seorang remaja tanggung meng-claim dirinya sebagai cucu keturunan raja duduk didalamnya. Penulis diminta mengisi buku tamu dan memberi sumbangan sekedarnya. Tidak banyak yang dilihat di ruangan yang gelap hanya diterangi sinar matahari dari celah-celah dinding kayu. Kami kemudian turun.

Imran dan Ajas dua orang pemuda mendatangi kami, apakah jadi melihat Hombo Batu? Lompat batu yang khas Nias itu? Baiklah, kapan lagi kita menyaksikan atraksi yang langka ini. Imran dan Ajas bersiap dengan pakaian adatnya. Penulis bertanya apa yang membuat mereka mampu melompati batu itu? Apakah karena kekuatan magis dari baju adat itu? Mereka menjawab, sebenarnya karena kemampuan fisik dan faktor kenekadan mereka saja, dan bukan karena kasiat baju adat tersebut!

Hombo Batu pernah menjadi ilustrasi uang pecahan kertas Rp 1.000. Lompat Batu atau Fahombo pada 2009 pernah diajukan bersama Ubud, Tanah Toraja, dan Trowulan ke Unesco untuk dijadikan ‘World Heritage’. Sayangnya, Bawomataluo, lompat batu, ratusan rumah tradisional warisan abad ke-18, dan berbagai artifak warisan zaman megalitikumnya hanya sampai tentative list saja. Bawomataluo tidak jadi masuk nominasi.

Imran dan Ajas pun bersiap. Mereka mundur kira-kira 15 meter dari Hombo Batu. Ajas duluan yang melompat. Mengambil ancang-ancang dan berlari. Setengah meter sebelum tugu Ajas menjejakkan kakinya dan melayang melewati tugu setinggi 2,10 meter. Dan persis ketika melewati puncak batu, dia memutar tubuhnya dan mendarat dengan kakinya yang kokoh menghadap ke arah Hombo Batu. Sebuah lompatan yang artistik dan indah!

Ajas setelah melompati Hombo batu

Imran berikutnya, dan dia pun menyajikan lompatan batu yang cantik. beberapa pengunjung dan orang-orang di sekitar Hombo Batu memperhatikan, hanya saja tidak ada tepuk tangan. barangkali bagi mereka ini sudatu pertunjukan yang biasa saja. Ajas dan Imran kemudian meminta setengah memaksa penulis agar memakai baju adat mereka dan berfoto di depan Hombo Batu. Lumayan juga nampang sedikit. Mereka mengatakan akan ke Jakarta bulan Juni mendatang, untuk memperagakan kebolehannya dalam sebuah acara pariwisata. Ada nada kebanggaan bahwa mereka akan datang dan melihat Jakarta.

Sebentar kemudian penulis beranjak pulang. Menjelang menuruni tangga, di ujung pandangan tampak Pantai Sorake itu berada di lekukan pantai. Angin bertiup sepoi-sepoi mengusir panas matahari yang mulai bergerak ke titik kulminasinya. Anak-anak kecil berebut menjajakan souvenir berupa kalung dan gelang. Ketika penulis memegang salah satu, semua berebut minta dibeli … Nias masih menyimpang misteri masa lalu. Dan anda harus mencoba membuktikannya suatu waktu …

Mafalukha Ita Nafuri … Sampai jumpa lagi lain waktu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: