Posted by: Heru Legowo | May 13, 2011

Cheng Ho the Explorer


Cheng Ho or Zheng He

Laksamana Cheng Ho begitu terkenal namanya di seantero dunia. Perjalananannya ke beberapa tempat di dunia, membuat namanya tercatat dengan tinta emas dalam sejarah. Sejarah mencatat Cheng Ho melakukan 7 kali pelayaran laut yang  luar biasa, apalagi itu dilakukannya pada abad ke 14 dalam rentang waktu antara 1405-1433. Enam dari 7 perjalanan lautnya beliau mampir ke Jawa. Salah satu kunjungannya adalah tercatat pada tahun 1405 dan 1419, beliau singgah dua kali ke daerah Simongan, di wilayah Semarang sekarang ini.

Untunglah masyarakat keturunan Tionghoa yang sangat menghormati leluhur, mendirikan Vihara Sam Po Kong di Semarang untuk menghormati beliau, sehingga kita bisa menyaksikan jejak besar Laksamana Cheng Ho.

Cheng Ho juga disebut Zheng He seorang panglima laut, penjelajah dan juga seorang diplomat dikenal sebagai Ma San Bao dan Hajji Mahmud Shamsuddin, adalah penganut agama Islam. Lahir sebagai anak ke dua. Nama kecilnya Ma He. Cheng Ho adalah keturunan dari Sayyid Ajjal Shams al-Din Omar seorang Persia yang bekerja di pemerintahan Mongol dan diangkat sebagai Gubernur di Yunan.

Cheng Ho melakukan 7 kali perjalanan laut, tercatat sampai sejauh ke Tanjung Harapan di Afrika bagian selatan. Armadanya berkekuatan 200 buah kapal, dan 30.000 awak kapal. Armada laut yang sungguh sangat besar. Kekuatan itu sebenarnya cukup untuk menaklukkan raja-raja dimana beliau singgah. Tetapi Cheng Ho tidak melakukan itu, misinya adalah menyebarkan ke dunia keberadaan negeri China dan membangun persahabatan dengan para raja di dunia. Bisa dibayangkan jika sekelompok kapal itu bergerak bersama, kelompok kapal itu akan menutupi horizon di  ufuk laut!

Sam Poo KongUntuk mengenal dan mengenang kebesaran Laksanama Cheng Ho sang penjelajah, maka pagi hari itu, Senin 2 Mei 2011 kami mengunjungi Vihara Sam Po Kong di Semarang. Di pintu gerbang yang berwarna merah cerah ada tulisan besar SAM POO KONG, disisinya dua ekor naga mengapitnya.

Memasuki vihara ini, kemudian kami diantar Pak Ratman, mengelilingi Vihara Sam Poo Kong. Pak Ratman yang dikenal sebagai A Jong tampak mengenal dan fasih menjelaskan keberadaan Sam Poo Kong ini.

Ada 2 buah pintu masuk, jika anda hanya ingin melihat dari luar dan sekedar melewati biaya masuknya Rp. 3 ribu. Jika anda mau masuk ke Vihara, biayanya Rp. 20 ribu. Sayang loket pungutan tiket masuk, tidak cukup bagus dan terkesan asal ada saja, barangkali masih dalam tahap pembangunan.

Bangunan pertama adalah lokasi pemujaan kepada Dewa Bumi, Hok Gik Cing Sien. Gedung ini selesai dibangun pada tahun 2006. Gedung dengan arsitektur terbuka, tanpa dinding ini membuat udara bebas masuk, dan memberi kesan lapang. Di pintu masuk ada patung penjaga yang memegang tanda Yin dan Yang. Yin menggambarkan bulan dan Yang matahari. Dua ekor singa menjaga pelataran.

Gedung Dewa Bumi

Dari arah masuk sebelah kanan kita, ada sebuah patung Singa yang memegang bola dunia, dan sebelah kiri patung Singa memegang anaknya seekor singa kecil. Suatu penggambaran bagaimana masyarakat Tionghoa menyikapi hidup ini. Dewa Bumi ini dikenal juga Toa Pek Kong. Pada waktu penulis kecil dulu, patung ini sering diarak mengelilingi kota dengan musik tradisional China yang hingar-bingar. Di gedung ini, anda tidak boleh memotret di dalamnya, jika dari luar masih boleh.

Di sisi gedung ada cebuah Ho Lo berwarna merah adalah tempat melakukan persembahan dengan membakar “uang”. Di holo inilah, kertas mirip uang tiruan uang yang dibakar sebagai persembahan. Di depan bangunan ini, ada spanduk besar bertuliskan Patung Cheng Ho Terbesar.

Tampaknya ada persiapan peresmian Patung Cheng Ho terbesar. Patung ini yang masih dibungkus dengan kain merah, terletak disebelah kanan, dekat pintu gerbang keluar. Rencananya patung Cheng Ho terbesar ini, akan diresmikan oleh Wakil Presiden pada bulan Juli mendatang.

Pohon Kekacil

Kami kemudian berpindah ke gedung sebelahnya. Disini adalah gedung tempat jurumudi Cheng Ho dimakamkan. Sang jurumudi di Indonesia dikenal sebagai Dampu Awang. Ada sebuah pohon di sebelah kanan makam jurumudi, yang menjadi tanda dimana jurumudi dimakamkan. Pohon Kekacil itu masih dipelihara dengan baik. Pohon ini sekarang berada di dalam gedung, sehingga gedungnya “menyesuaikan” dengan Pohon Kekacil yang tetap dipertahankan dan tidak ditebang. Akibatnya dari dalam gedung, pohon itu seakan-akan menembus atap gedung. Jadi kesannya menjadi dramatis.

Di sebelah kanan luar Gedung Jurumudi ini, ada Pohon Rante. Disebut demikian, karena akarnya yang bergelantungan, mirip rantai kapal. Bentuk akar pohon ini berlubang-lubang seperti rantai. Pohon ini menurut Pak Ajong, tidak terdapat di mana pun di Indonesia, hanya ada di vihara Sam Po Kong ini. Konon pohon ini dibawa dari daratan China sebagai alternatif pengganti tambang kapal, jika keadaan mendesak. Berarti akar pohon ini memiliki kekuatan yang memadai untuk digunakan di kapal.

Di sebelah kanan makam jurumudi adalah Gedung Utama. Bangunan terbesar yang menurut Ajong, merepresentasikan budaya Islam. Ciri-cirinya ada 3. Arah bangunan mengarah ke kiblat, atapnya berwarna hijau dan ada bedug besar didalamnya. Ini melambangkan bahwa meskipun Vihara Sam Poo Kong ini dibangun oleh masayarakat Tionghoa penganut Kong Hu Chu, tetapi demi menghormati leluhurnya yang beragama Islam mereka membangun gedung besar yang memiliki filosofi Islam.

Pintu Masuk Gua Batu

Di depan gedung ini ada sebuah gua yang berada dibawah gedung ini. Jadi dari depan ada lorong khusus yang masuk kedalam tanah, menuju Gua Batu. Itulah sebabnya maka bangunan ini disebut juga Gedung Batu.

Didalam gua batu ini ada sebuah sumur kecil. Konon menurut cerita, jika Cheng Ho masuk ke gua ini, maka dengan kekuatan supra-naturalnya melalui sumur itu beliau bisa sampai di daratan Chung Kuo (China).

Dalam perkembangannya, Gua Batu ini menjadi terlalu kecil bagi para peziarah yang datang untuk melakukan doa dan persembahan. Oleh sebab itu, di belakang Gedung ini dibangun gua buatan tempat para peziarah melakukan doa. Pintu Gua Batu buatan ini terletak ditengah-tengah diorama yang menggambarkan perjalanan laut Admiral Cheng Ho dan pertemuannya dengan para Raja setempat. Salah satu diorama itu menggambarkan ketika Cheng Ho menerima hadiah dua ekor jerapah dari seorang raja di Afrika. Sayang salah satu dari 2 jerapah yang dibawa Cheng Ho, mati sesampainya di China.

Disebelah gedung utama ini, adalah gedung tempat salah satu tempat jangkar ditemukan. Gedung yang tidak terlalu besar ini menyimpang jangkar kapal Cheng Ho. Sebuah Jangkar tua diletakkan di pojok kiri bangunan, bersandar dan menempel di dinding dan terlindung oleh meja persembahan. Ketika penulis masuk, beberapa orang peziarah tampak khusyuk berdoa didepan meja persembahan, dan dipandu oleh pengurus gedungnya.

Disebelahnya Gedung Jangkar, adalah makam Kyai Tumpeng, yang dipercaya sebagai juru masak kapal Cheng Ho. Penulis ditemani Pak Suhendro penjaga dan pemelihara bangunan ini yang tadinya petugas Satpam Sam Po Kong. Dia menjelaskan bahwa isteri Kyai Tumpeng berasal dari Betawi, seorang penari China beragama Islam. Jadi tumpeng yang kita kenal sebagai sarana bersyukur atas sesuatu, berasal dari nama Kyai Tumpeng ini? Ketika penulis bertanya kepada Pak Suhendro, dia mengangguk hanya saja jawabannya terkesan kurang meyakinkan.

Di tiang luarnya ada sebuah tanda merah, Pak Suhendro menjelaskan bahwa kedua bangunan Gedumg Jurumudi dan Kyai Tumpeng ini rencananya akan dinaikkan lantainya 1.75 cm lebih tinggi dari yang sekarang. Ini pasti pekerjaan yang rumit dan butuh biaya besar.

Perbandingan para penjelajah besar

Cheng Ho, Zheng He atau Ma “San Bao” (Tiga Permata) benar-benar seorang penjelajah laut yang besar. Namanya dikenang sebagai seorang muslim yang taat, yang menghargai berbagai macam agama dan kepercayaan. Cheng Ho dengan kekuatan armadanya sebenarnya dengan mudah dapat menaklukkan raja-raja kecil yang disinggahinya, tetapi dia tidak melakukan itu. Sungguh suatu suri tauladan yang benar-benar lestari sampai kini.

Dengan segala kehebatannya dan jauhnya pelayaran yang sudah dilakukan, Cheng Ho juga barangkali mestinya sejajar atau justru lebih besar dari Christophorus Columbus.

Pintu Keluar - Patung Cheng Ho masih terbungkus kain merah

Kompleks Sam Poo Kong selain sebagai tempat ibadah juga menjadi alternatif wisata yang menarik, juga menjadi sarana mengingatkan keberadaan dan kebesaran Cheng Ho. Sam Poo Kong menjadi identik dengan Cheng Ho dan Kota Semarang yang sedang terus berbenah diri. Kota pantai berbukit ini, meyimpan berbagai macam situs dan peninggalan jaman lampau seyogyanya dijaga dan dipelihara dengan baik.

Setelah 2 jam berkeliling, penulis berjalan ke luar. Patung Cheng Ho terbesar masih terbungkus kain merah. Rencananya akan dibuka dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI. Kalau sudah dibuka nanti pasti akan semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi vihara Sam Poo Kong ini. Di pintu luar ada kios yang menawarkan untuk berfoto dengan Seragam Kebesaran Cheng Ho, sayang penulis tidak sempat mencobanya.

Mudah-mudahan lain kali.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: