Posted by: Heru Legowo | June 4, 2011

Siem Reap – Cambodia


Lingga Yoni

Kamis sore 24 Maret 2011 setelah 4 hari mengikuti The 4th Ground Handling International Conference di Ho Chi Minh City – dulu bernama Saigon –  saya duduk di waiting room Bandara Internasional Than Son Nat. Jam menunjuk 15.30 ketika petugas TIAGS ground handling Vietnam Airlines mempersilahkan penumpang tujuan Siem Reap – Kamboja untuk boarding. Sambil antri, saya perhatikan sekali lagi seat 11G, flight Cambodian Airlines K-6821. Ini perjalanan memanfaatkan kesempatan yang singkat, untuk mengunjungi Candi Angkor Wat di Kamboja, yang terkenal itu.

Tidak berapa lama kemudian pesawat Boeing B737-400 Cambodian Airlines yang rupanya  sudah melakukan code shared dengan Vietnam Airlines, menjejak landasan dan terbang mengangkasa.  Bismillah … Ada sedikit rasa was-was juga. Saya belum pernah ke Siem Reap dan nggak sempat searched di internet. Ini benar-benar perjalanan yang mendadak. Ternyata daya tarik Angkor Wat begaikan magnet dan mampu menarik saya untuk sedikit nekad mengunjunginya.

Tidak terasa 45 menit berlalu begitu cepat, dan pramugari yang imut-imut dengan kecantikan khas Kamboja mengingatkan untuk mengencangkan seat belt, karena pesawat bersiap segera mendarat. Dan di suatu sore yang cerah dan sedikit berawan, roda pesawat menyentuh landasan dengan mulus. Kemudian terdengar suara lembut pramugari : Welcome to Siem Reap – Cambodia.

Turun dari tangga pesawat, bandara Siem Reap ini mirip dengan Sam Ratulangi Manado. Ini bandara turis, rata-rata melayani penumpang 1.5 juta per tahun. Panjang landasan pacunya 2.550 X 45 M, memiliki 8 parking stands. bandara ini tampak sederhana tetapi bersih, dan cukup artistik. Terminal Internasionalnya diresmikan tgl 28 Agustus 2006, melayani lebih dari 2 juta turis se tahun. Daya tarik utama Siem Reap adalah Candi Angkor Wat, Ta Phrom dan puluhan candi lainnya berada di sekitar Siem Reap ini.

Memasuki terminal, saya ragu-ragu karena nggak mengerti sepatah kata pun bahasa Kamboja. Untunglah dari jauh diantara deretan penjemput, ada seorang lelaki setengah baya yang mengacungkan nama dengan tulisan nama saya Henru Legowo. Sebenarnya salah tulis tapi ternyata benar, dia menjemput saya. Lega juga rasanya, ketika orang itu dengan bahasa Ingris yang patah-patah meminta paspor untuk mengurus visa on arrival. Setelah membayar USD $ 20 untuk pengurusan visa on arrival, dengan lancar saya keluar dari terminal. Cepat dan praktis!

Di luar terminal seorang pemandu wisata yang tampak seperti kebanyakan orang Indonesia itu, menyapa dengan ramah dalam bahasa Inggris yang fasih. Ros Savoun berusia sekitar 30-an, memperkenalkan dirinya dan mengatakan bahwa dia menggantikan temannya yang seharusnya mengantarkan saya.

CANDI PHNOM BAKHENG

Program sore ini melihat candi Phnom Bakheng, yang terletak diatas bukit dan menyaksikan sunset dari atasnya. Diatas mobil, Ron bercerita bahwa Bandara Siem Reap terletak dekat dengan kompleks candi Angkor Wat, hanya sekitar kurang dari 5 kilometer.

Puing Bkaheng di pelataran tertinggi

Siem Reap secara harfiah berarti tempat dimana penjajah Siam (Thailand) dikalahkan disini. Tampaknya perseteruan antara Kamboja dan Thailand bermula sudah sejak jaman dahulu kala, sampai dengan sekarang. Walaupun sesama anggota ASEAN, perselisihan di perbatasan diantara mereka pada saat ini, sudah sampai tahap kontak senjata dan juga telah memakan korban jiwa.

Gerbang di tingkat atas

Siem Reap menjadi kota tujuan wisata. Daya tarik terbesar adakah kompleks candi kuno Angkor Wat. Hanya sekitar 15 menit dengan mobil, melewati jalan yang sepi dan menembus ladang, persawahan. Kami memasuki wilayah kompleks Angkor Wat. Wilayah cagar alam wisata ini dijaga dengan baik, sehingga tidak banyak bangunan didalam kompleks Angkor Wat. Lokasi konservasi budaya ini lebih mirip hutan perdu dengan pepohonan yang rimbun di kanan kiri jalan. Kami berhenti di sebuah kaki bukit. Dari sini harus berjalan kaki untuk naik ke candi Phnom Bakheng.

Hari menjelang sore, penjual souvenir berebut mencari pembeli menawarkan barang-barang khas Angkor Wat. Banyak turis yang baru datang dan akan naik, sebaliknya banyak juga yang akan turun. Jadi jalanan dari tanah selebar 2 meteran ini penuh orang yang naik dan turun. Di sebuah tanah yang agak lapang dibawah rerimbunan pohon, sekelompok orang menyanyikan lagu-lagu tadisional Khmer dengan gendang sitar dan alat tiup. Dan didepan mereka ada CD hasil rekamannya. Jalan ke atas menanjak dan berkelok-kelok, lumayan juga membuat badan menjadi berkeringat.

Sampai di pelataran candi, Pnomph Bakheng tampak sedang direnovasi disana-sini. Ros Savoun menjelaskan dengan baik dan tampak sangat menguasai cerita tentang candi ini. Tidak seperti candi-candi di Jawa, disini tangganya sangat terjal, dan pijakannya sangat tipis hanya selebar kurang dari tapak kaki. Ini merupakan penggambatan bahwa untuk dapat mencapai ke tingkat atas selalu tidak mudah, perlu perjuangan dan konsistensi.

Jadi kalau naik, kita harus miring, agar seluruh lebar telapak kaki dapat menapak dengan baik. Menurut Ros mengatakan ada 5 pelataran dari bawah ke atas, yang menunjukkan strata kehidupan. Dari bawah urutannya adalah : Naga, Garuda, Raksasa, Yaksa dan Maharaja. Candi ini sudah tidak digunakan untuk beribadah lagi. Dan sampai di pelataran tertinggi, sudah banyak orang diatasnya, mereka semua bersiap dengan kameranya menunggu matahari tenggelam. Di latar depan adalah West Baray, danau buatan tempat penampungan air.

Saya berjalan berkeliling di pelataran paling atas. Candi dulunya pasti sangat kokoh, batu-batu tampak tebal dan berat. Beberapa puncak candi sudah mulai runtuh dimakan usia. Upaya renovasinya tampaknya tersendat-sendat. Ditengah pelataran teratas ini, ada tempat persembahan untuk Dewa Syiwa. Ada dupa menyala dan sedikit bunga di tengah bangunan yang direnovasi ini. Sebentar saya mengeksplorasi bangunan candi, kemudian bersama para turis mengamati tenggelamnya matahari. Lebih separuh diantaranya adalah bule-bule dari berbagai negara.

Sunset at West Baray from the top of Bakheng temple

Di ufuk barat, matahari perlahan-lahan menuruni cakrawala. Sayang cuaca sedikit berkabut, sehingga keindahan sunset kurang sempurna. Walaupun demikian susah juga mencari sela-sela, diantara ratusan turis yang memadatai puncak untuk memotret dramatisasi dari tergelincirnya matahari. Begitu banyak moncong kamera yang menutupi sisi barat dari Phnom Bakheng ini. Dan akhirnya matahari pun memasuki cakrawala dibalik permukaan air West Baray yang warnanya abu-abu kehitaman.

Sebelum sore berubah malam, kami segera turun dari puncak Phnom Bakheng. Ros Savoun mengantar ke Angkor Hotel. Setelah mandi dan sedikit istirahat, kami ke night market. Dengan waktu yang sangat singkat ini, mesti menggunakan waktu se efektif mungkin.

Siem Reap night market

Kota Siem Reap, adalah kota terbesar kedua setelah Phnom Penh ibukota Kamboja. Penduduknya sekitar 1.5 juta orang. Sebagai daerah wisata yang menyimpan peninggalan kekuasan dan keajaiban masa silam, wajar juga jika kota sekecil ini memiliki lebih 10 hotel berbintang lima. Dahulu Kamboja dijajah oleh Perancis dan Perancis juga yang menemukan kompleks Angkor Wat ini pada tahun 1910. Pada malam hari, rasanya seperti di kampung sendiri di Indonesia. Jadi kami menuju ke night market, agar dapat melihat yang sedikit berbeda.

PASAR MALAM SIEM REAP

Night market Siem Reap mirip dengan di Phuket Thailand. Hingar-bingar suara musik, suasana dan atmosfirnya mengingatkan Phuket. Transaksi banyak dilakukan menggunakan dollar Amerika. Mata uang Kamboja adalah Riel dan kursnya  USD $ 1 = 80 riel. Harga-harga di pasar relatif murah, dengan pilihan barang yang berbagai macam. Hanya saja sutra yang menjadi khas Khmer, tetap saja mahal harganya.

Remok menunggu penumpang

Di luar pasar banyak remok yang parkir menunggu pelanggan. Remok mirip Tuk-Tuk di Thailand atau Bajaj di Jakarta. Bedanya kompartemen tempat orang duduk penumpangnya terpisah dan dicantolkan di bagian belakang sepeda motor. Jadi mirip kereta gandeng begitu deh. Remok menjadi pilihan turis back-backers karena praktis dan biayanya cukup murah.

Jam 22.00 setelah makan malam kami kembali ke hotel, rasanya untuk sore dan malam ini sudah cukup. Harus cukup istirahat, karena besok pagi-pagi harus sudah bangun. Ros meyakinkan saya agar sempat melihat sunrise yang muncul dari balik  Meru Angkor Wat. Selain itu, rasanya memang harus cukup segar untuk menjenguk dan mengekplorasi Angkor Wat Candi yang sangat terkenal dan menjadi lambang Kamboja itu.

Juga Ta Phrom tempat lokasi pembuatan filmTomb Raider


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: