Posted by: Heru Legowo | August 1, 2011

Kecerdasan Batin


Perjalanan karier seseorang, dalam strata apa pun selalu akan bersinggungan dengan leadership dan manajemen hanya skalanya saja yang berbeda. Perkembangan studi mengenai leadership telah berkembang sedemikian pesat, dan terus menghasilkan sesuatu yang baru. Dari kajian dan tulisan para ahli, sudah sering kita dengar bahwa terdapat hubungan erat antara leadership dengan IQ, EQ dan SQ.

Saya sekedar ingin menyampaikan sekelumit perenungan yang barangkali ada manfaatnya sebagai sedikit sentuhan spiritual. Dalam melakukan suatu pekerjaan, logika adalah hal yang mutlak diperlukan. Cara berfikir dengan logika ini mengembangkan cara menyelesaikan pekerjaan sedemikian rupa. Sistem dibuat dan prosedur ditentukan, sebagai cara untuk melakukan perkejaan, untuk memperoleh target.

Semua orang bekerja dengan logika penuh dan bekerja profesional sesuai dengan sistem dan prosedur yang sudah ditentukan. Dengan begitu, diharapkan akan diperoleh hasil yang optimal dan dihindari kesalahan yang se kecil mungkin. Kesalahan se kecil apa pun, dapat berujung kepada sebuah kecelakaan yang akan mengorbankan baik jiwa atau material.

Kita tentu berusaha sepenuhnya agar kecelakaan itu tidak terjadi. Tetapi jika masih terjadi, maka sebagai manusia yang mengandalkan logika, kita akan mengevaluasi dan merevisi ulang semua sistem dan prosedur kita. Jika semua sudah dikerjakan berdasarkan logika, prosedur, awareness, tetapi masih saja kecelakaan terjadi. Disitulah manusia yang bekerja dengan tenaga, fikiran, logika dan perasaan, perlu diingatkan dari sisi yang lain, spiritualnya! Sisi yang oleh sebagian orang disadari sepenuhnya, dan sebagian yang lain lalai.

Kecelakaan yang terjadi setelah semua usaha preventive dilakukan adalah mirip seperti ketika bibir tergigit gigi sendiri. Kok bisa? Padahal bibir dan gigi sudah bertahun-tahun bekerja dengan profesional? Bagi yang berfikir tradisional, peristiwa bibir tergigit sendiri, selalu diartikan ada sesuatu yang terjadi, dimana kita tidak cukup mengerti sebabnya. Sesuatu yang diluar nalar dan logika.

Spiritual (minimal bagi saya), bukan hanya mengerjakan shalat, ke mesjid atau ke pura dan ke gereja. Ada sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh hati nurani. Sesuatu yang akal sehat nggak sampai menjangkaunya. Sesuatu yang saya yakin, semua orang punya. Hanya saja ada yang sadar, tetapi lebih banyak yang lupa! Dengan sentuhan spiritual, masing-masing seperti “diingatkan” lagi, bahwa tenaga, fikiran, keahlian dan kecerdasan bukan segala-galanya.

Challenger ketika lift off sebelum meledak

Ingat pesawat ulang alik Amerika yang meledak di udara? Semua persiapan yang dilakukan dengan penuh perhitungan, profesional dan biaya yang sangat besar, lenyap hanya dalam hitungan detik! Mengapa begitu? Hanya Allah Swt yang mengetahui. Tetapi saya merasa ada kesombongan, yang tersembunyi di balik misi itu. Indikasinya? Nama pesawat ulang alik yang naas dan meledak itu adalah : CHALLENGER! Mari kita renungkan … siapa sebenarnya yang akan ditantangnya?

SQ spiritual qoutient selalu berada diatas kedua yang lainnya. Diakui atau tidak, keberadaannya yang tidak kasat mata, membuat dua hal yang lainnya menjadi dapat lebih dilakukan dengan lebih optimal.

Celakanya kita biasanya sangat mengandalkan Intelligence Quotient (IQ) dan sedikit melupakan Emotional Quotient (EQ). Apalagi SQ! Indikatornya, kita selalu ingin agar anak kita ranking satu di kelasnya! Padahal itu sesungguhnya beban bagi anak-anak kita. Karena terlalu fokus kepada IQ, maka kita jarang mengasah EQ anak-anak kita. Apalagi SQ mereka.

Sekali lagi SQ bagi saya adalah yang menggerakkan IQ dan EQ. Orang-orang yang digerakkan dengan SQ-nya akan bekerja dengan ikhlas, sabar dan tanggung jawab. Dan pada saatnya, ini akan memberikan kesadaran bahwa bekerja sebenarnya adalah ibadah! Dan bekerja adalah merupakan salah satu cara untuk mewujudkan dari kodrat manusia menjadi Khalifah Allah di dunia.

Saya membayangkan, seandainya masing-masing karyawan memahami dan melaksanakan hal itu dalam bekerja, maka saya yakin sepenuhnya seluruh komunitasnya akan mendapat rakhmat Allah Swt. Keselamatan adalah hasil akumulasi hal-hal yang sudah saya sebutkan diatas. Jadi, bukan akibat langsung dari memberi anak yatim dan menyantuni kaum dhuafa.

Mungkin kemudian ada yang “nyrekal” (mendebat) …. Amerika saja nggak pernah menyantuni anak-anak yatim, tokh finefine saja. Jangan salah! Justru orang bule secara sistematis menyerahkan sebagian hartanya untuk kemanusiaan, contohnya : mereka taat bayar pajak (berarti membantu pemerintah menyediakan infrastruktur), mendirikan Palang Merah Internasional, mereka menyumbang korban bencana alam, membantu suku-suku terasing, memberi bea siswa, memberi hadiah Nobel, penyanyi Bob Geldoff mengorganisir sumbangan internasional untuk Afrika, dan sebagainya.

Anak jalanan membutuhkan kita

Contoh nyata lainnya pada penerbangan Cathay Pacific, pramugarinya akan membagikan amplop untuk sumbangan kepada anak-anak miskin di dunia. Setelah membagikannya, maka mereka akan mengatakan : “Satu dollar recehan yang anda berikan, cukup untuk membeli 10 buku dan sebatang pensil untuk mereka anak-anak miskin yang sangat membutuhkan”. Sungguh sangat sistematis. Dan ini lebih efektif dan efisien, dibandingkan dengan permintaan sumbangan di pinggir-pinggir jalan dan di lampu merah yang menganggu lalu lintas dan membuat orang mendongkol itu!

Ilustrasi diatas, menunjukkan justru orang-orang bule barangkali yang lebih banyak beramal. Hanya saja mereka tidak meng-atasnamakan memberi untuk kaum dhuafa. Sumbangan mereka “melingkar” bukan berupa straight line, tetapi akhirnya sampai juga ke tujuannya, yaitu : memperbaiki kualitas hidup ummat manusia! Itulah barangkali menjadi salah satu faktor, mengapa mereka lebih sejahtera dan jauh lebih maju dari kita!

Marilah kita renungkan sejenak hal tersebut dan ini mudah-mudahan akan menjadi kesadaran kita untuk memberi tahu anak-anak, keluarga dan bagi yang mau mendengar di sekeliling kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: