Posted by: Heru Legowo | December 2, 2011

RINJANI the sleeping beauty


Trek berpasir ke puncak Rinjani

Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter diatas permukaan laut merupakan gunung tertinggi ke tiga di Indonesia. Bagi masyarakat suku Sasak Lombok dan suku Bali, Gunung Rinjani dianggap sebagai tempat suci yang merupakan istana para dewa. Trek menuju ke puncaknya rumit, terjal dan sangat memakan tenaga. Oleh karenanya diakui oleh negara2 di dunia sebagai trek yang terbaik di Asia Tenggara. Menuju ke puncaknya anda harus sudah mulai berjalan sejak dari bawah. Tidak seperti gunung2 lainnya terutama yang di Jawa, di trek ini tidak ada transportasi yang memudahkan atau memperpendek jarak pendakian. Ada 3 jalur trek menuju ke puncaknya, yaitu melalui Sembalun, Senaru dan Torean. Jika anda ingin langsung ke puncak, sebaiknya mengambil jalur Sembalun. Dengan jalur ini setelah berhenti dan bermalam di Plawangan Sembalun esok paginya anda dapat langsung ke puncak. Waktu tempuh jalur ini adalah 2 hari. Alternatif lain adalah jalur Senaru, jika anda tidak ingin ke puncak dan hanya ingin melihat danau Segara Anak dari Plawangan Senaru di ketinggian 2.641 meter dpl.

Jalur Torean adalah jalur lama. Penduduk menganggap jalur ini angker sehingga hanya beberapa orang yang cukup punya nyali yang berani melalui jalur ini. Penulis sempat tersesat pada perjalanan pulang dan hampir memasuki jalur ini.

Tulisan ini menjadi nostalgia perjalanan spektakluler 5 tahun yang lalu yang barangkali tergelitik oleh Ekspedisi Cincin Api yang berlangsung baru-baru ini …

Begitulah kami berangkat Kamis 31 Agustus 2006 jam 04.15 sore.S saya ditemani Priyono dan Wayan Arjana mengambil jalur yang tidak lazim yaitu dari Senaru – Plawangan Senaru – Segara Anak -Plawangan Sembalun – Puncak. Jalur yang sungguh sangat memakan tenaga dan membutuhkan semangat tinggi dan tak kenal lelah. Cuaca cerah dan angin bertiup sepoi ketika kami memulai langkah pertama pendakian ke Rinjani. Sudah sejak lama saya ingin menyapa puncak Rinjani, tetapi baru kali inilah Rinjani mempersilahkan kami untuk melihat puncaknya. Bismillah

 PLAWANGAN SENARU

Setelah berjalan mulai jam 07.15 pagi dengan menaklukkan trek yang terjal dan rumit, akhirnya pada jam 12 sampailah kami di   Plawangan Senaru. Segara anak dibawah nampak membiru dengan Gunung Baru berdiri ditengahnya, ajaib semua kecapaian seakan lenyap begitu melihat hamparan keindahan alam yang spektakuler ini. Dengan penuh semangat  saya menaiki puncak bukit tertinggi disekitar daerah ini untuk dapat menikmati keindahan yang menakjubkan ini. Rasanya semua kepenatan dan kecapaian sejak mendaki dari bawah, hilang bersama sejuknya angin yang berhembus membelai pucuk-pucuk pepohonan pinus.

Setelah beristirahat sejenak, meminum air sedikit. kami meneruskan perjalanan, kali ini menuruni tebing yang tegak hampir 80 derajat. Menuruni tebing perlu ektra hati-hati, sedikit salah langkah dan terpeleset maka dasar jurang dibawah akan menadahkan tangan menyambut kita. Kami justru sangat berhari-hati pada segmen trek ini. Bertiga saling mengingatkan untuk selalu berhati-hati terutama jika treknya rumit dan berbahaya.

SEGARA ANAK

Akhirnya jam 5 sore kami tiba di Danau Segara Anak.  Danau dengan luas 200 Ha ini dipercaya masyarakat menyimpan berbagai misteri dan kekuatan gaib. Masyarakat percaya disinilah komunitas mahluk gaib bermukim. Dan masyarakat juga percaya apabila Danau Segara Anak terlihat luas menandakan bahwa usia orang melihat akan panjang, sebaliknya jika nampak sempit maka usianya pendek. Pantangan ketika berada disana adalah tidak boleh melakukan hubungan suami-isteri, tidak boleh berkata kotor, jangan mengeluh, dan harus tetap sabar dalam menghadapi tantangan Segara Anak memiliki pesona tersendiri,  airnya yang tenang dinaungi bayangan Gunung Baru memberikan suasana spiritual yang dalam.

Segara Anak dari Plawangan Senaru

Beberapa orang nampak memancing di depan tenda-tenda di belakang mereka. Di tebing yang agak tinggi sekelompok mayarakat Bali sedang melakukan upacara Nunas Tirta, mencari air suci untuk melakukan ritual tertentu. Suara gemerincing lonceng kecil di tangan pedanda menimbulkan suasana magis tersendiri.

Memperhatikan danau di ketinggian selalu menimbulkan rasa yang religius dan sensasi yang luar biasa. Rasanya hampir tak percaya, sekarang kami berada di tepi danau yang sebelumnya hanya pernah penulis lihat di TV dan foto di majalah. Lasadi mendirikan tenda. Setelah melepaskan lelah, kami mencoba mandi air panas dibelakang tenda kami.

Mata air panas masyarakat menyebutnya Aiq Kalaq dipercaya masyarakat dapat menyembuhkan penyakit, juga sebagai uji coba kesaktian suatu senjata. Jika senjata dicelupkan kedalam aiq kalaq menjadi lengket berarti senjata tersebut tidak cukup mempunyai “tuah” Airnya panas sekali, yang membuat bingung adalah karena jika berendam airnya terasa panas, sedangkan bagian badan yang berada dimuka air terasa dingin karena tiupan angin. Akhirnya saya memaksakan diri berendam di dalam air. Panas sekali. Tetapi dibawah pancuran air panas tumpahan airnya yang mengenai kepala dan tengkuk sangat menyegarkan dan menghilangkan penat dan letih.

Malam hari,  bulan separo yang dikelilingi bintang-bintang nampak sangat terang, barangkali karena sekelilingnya sungguh gelap dan pekat. Api unggun tidak cukup kuat menyaingi sinar bulan yang jernih menyentuh pucuk-pucuk pohon pinus. Di punggung gunung Sangkareang di belakang tenda, tampak terjadi kebakaran. Penulis bertanya kepada Lasadi siapa yang membakar di tempat yang sangat tinggi itu? Lasadi hanya menjawab pelan : ”Itu pekerjaan yang “punya” gunung !” Ha ?

 

PELAWANGAN SEMBALUN

Jam 11.00 setelah dengan penuh hati-hati meniti tebing yang terjal, sampailah kami di Plawangan Sembalun. Matahari sangat cerah dan Rinjani bagaikan gadis cantik yang berbaring miring dengan “kepalanya” menengok dan melirik kebawah memperhatikan para pendaki yang ingin bertemu dengannya. Punggungnya dihiasi cerukan-cerukan yang curam dengan beberapa pohon pinus yang sudah mulai jarang2. Dikakinya ada sebuah gua, tapi yang tampak hanya mulutnya yang menganga. Gua susu. Konon karena bentuk batunya seperti puting, maka dinamakan begitu.

Wayan, Priyono Lasadi dan Jumanom masak nasi

Lasadi & Jumanom sudah dari tadi sampai, kami ketinggalan jauh. Kami segera beristirahat di bawah pohon pinus, suara angin yang bertiup kencang membentur pohon-pohon pinus menimbulkan suara menderu yang keras mendirikan bulu roma. Danau Segara Anak sudah tidak keliatan, tertutup awan putih tebal seakan-akan busa raksasa yang menghampar menutupi lembah. Di Plawangan Sembalun ada sebuah mata air. Setelah melepaskan penat kami turun, ambil air dan membersihkan badan.

Air yang menetes dari mata air di ketinggian 2.639 M ini dingin, sungguh sangat segar dan nikmat. Sebenarnya ingin mandi, tetapi puluhan monyet berkerumun di sekitar mata air, mereka bersiap-siap mengambil segala sesuatu yang tertinggal. Menurut Lasadi, mereka nggak nakal, tetapi saya tetap saja tidak berani ambil resiko. Monyet-monyet itu selalu bergerak dan mencoba mendekat untuk mengambil sesuatu atau barang2 yang jauh dari jangkauan. Lasadi & Jumanom mempersiapkan makan siang, ditengah keletihan yang mulai memuncak nasi panas dan mie kuah yang mereka hidangkan jadi kurang menarik, tetapi kami harus makan agar punya energi untuk naik.

Sore hari, para pendaki mulai berdatangan. Aneh sungguh di ketinggian ini berkumpul pendaki dari hampir dari semua bangsa, mereka berasal dari Amerika, Inggris, Denmark, Belanda, Austria, Perancis, Belgia, Australia dan Jepang. Menjelang matahari tenggelam mereka bersiap di tepian tebing dengan kamera masing-masing.

Plawangan Sembalun, titik di sebelah matahari adalah Gunung Agung di Bali

Matahari bergerak turun, hamparan awan menjadi latar depan dan  disebelah kirinya nampak puncak Gunung Agung di Bali. Begitu matahari tenggelam kesenyapan langsung menyergap Plawangan Sembalun. Angin gunung menderas menimbulkan suara menderu yang mendirikan bulu roma. Dan situasi sekeliling berubah menjadi temaram dan syahdu. Berbeda dengan di perkotaan, karena tidak ada lampu-lampu, perubahan siang ke malam menjadi sangat kontras dan sangat nyata. Gelap dan dingin mulai menyergap. Saya bergegas memasuki tenda, sambil minta Lasadi untuk menyiapkan minuman panas.

 

MENUJU PUNCAK

Dari beberapa pendaki yang sudah berhasil ke atas, rata-rata diperlukan waktu 3 jam, dari posisi Plawangan Sembalun. Awalnya dengan kami merencanakan untuk ke puncak jam 2 malam, dengan harapan jam 7 sudah akan sampai di puncak. Angin gunung bertiup kencang menimbulkan suara gemerasak ketika membentur pohon pinus, menimbulkan perasaan kecil di ketinggian 2.639 meter. Bulan separuh bersinar sangat terang dengan taburan bintang yg sangat indah di sekelilingnya. Fenomena yang sangat fantastis, karena tidak ada secuilpun lampu buatan manusia, kecuali beberapa api unggun yang dibuat pendaki untuk menghangatkan badan atau sekedar membuat mie untuk persiapan naik.

Dibalik tenda dengan pakaian rangkap 5 : jaket penahan dingin dan berada didalam kantong tidur penulis masih juga kedinginan. Kain tenda bergetar keras karena tiupan angin, suaranya masih tetap mengecutkan hati. Jam 2 malam penulis keluar tenda menyiapkan diri dengan semua peralatan, lampu, air, kamera dan lainnya. Siangnya penulis sempat minta Lasadi untuk membuat tongkat untuk jalan ke puncak.

Jam 02.30 dini hari rombongan pertama dari bawah dengan beberapa bule dengan pemandu mulai bergerak naik. Saya dengan beberapa pendaki mengikuti dari belakang. Begitu lepas dari tenda, para pendaki langsung berhadapan dengan dengan trek yang keras, medan yang sulit, terjal dan keras. Sebenarnya setelah beberapa puluh langkah, saya sudah mau beristrirahat lebih dahulu tetapi dibelakang saya anak2-anak muda yang masih kuat dan bertenaga, jadi malu kalau harus berhenti sebentar.

Puncak Rinjani bersama Wayan dan Priyono

Alhamdulillah matahari timbul di ufuk timur, muncul dari balik kalderanya Gunung Tambora di Sumbawa. Paling tidak sebentar lagi tidak kedinginan, namun angin gantian bertiup kencang. 500 m menjelang puncak, saya mulai harus mengempos semangat. Treknya berupa pasir berbatu. Setiap kali diinjak permukaannya turun dan melorot kebawah. Sungguh sangat memakan tenaga. Saya sudah tidak mau melihat ke puncak karena rasanya nggak jalan-jalan. Saya melihat jam dan membuat target sendiri, sebuah batu kira2 100 meter harus bisa dicapai dalam 15 menit. Eh, ketika 15 menit berlalu, jaraknya tidak berkurang dan batu itu rasanya masih juga ada ditempatnya. Perlahan tetapi pasti, setiap 5 langkah dengan dibantu tongkat penulis berhenti. Syukurlah Lasadi telah membuat sebuah tongkat penopang yang sungguh sangat membantu.

Di belakang penulis Brian 27 tahun dari Amerika, dari langkahnya sebenarnya dia sudah akan menyerah. Barangkali melihat kenekadan penulis dia tetap berjalan dibelakang penulis. Temennya yang sama-sama naik dan sudah mulai turun meragukan Brian dan bertanya : “Are you sure you wanna continue to go up?” Brian menunjuk penulis dan berkata : “Yes, I still have a friend”

PUNCAK RINJANI

Jam 07.45 setelah menghentakkan semua tenaga dan semangat dan nafas yang hampir putus, tibalah kami di puncak. Saya segera melakukan sujud syukur dan tiba-tiba saja rasa haru merasuk dan menguasai dengan kuat. Di usia 51 tahun Allah Swt masih memperkenankan penulis untuk melihat sebagian kecil dari karyaNya dan semakin menyadarkan penulis bahwa sebenarnya manusia bukanlah apa-apa dihadapanNya! Membutuhkan 3 malan dan 4 hari untuk sampai disini, padahal ini baru Lombok hanya sebagian kecil dari Indonesia. Bagaimana dibandingkan dengan alam semesta?

Akhirnya, di puncak Rinjani gunung ke tiga tertinggi di Indonesia

Saya tertunduk dan berlutut, kemudian bersujud. Semua kesombongan dan kehebatan luruh di depan alam yang maha hening ini. Diatas sini, saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Tanpa terasa air mata menitik dan penulis menyerukan takbir di puncak Rinjani, 3,726 m diatas permukaan laut ! Perasaaan ini sungguh mengharu-biru dan menguasai emosi begitu kuat. Luar biasa.

Setelah lepas dari perasaan itu, kemudian saya memperhatikan sekeliling. Langit biru bersih, karena awan berada jauh dibawah. Puncak Rinjani tidak begitu luas, + hanya 5 X 10 meter. Gunung Baru dibawah keliatan coklat kemerahan seakan muncul dari permukaan air Segara Anak yang airnya nampak biru kehitaman. Dilatar depan ada rengkahan gunung dengan tebing yang terjal, dan di sebelah utara 2 buah pulau nampak keliatan jelas ditepian pantai utara Lombok. Memperhatikan dasar kepundan Rinjani keliatan jauh dibawah menimbulkan citra mengerikan, jika membayangkan seandainya tergelincir kesana.

Di ketinggian ini saya bertemu Mr. Shim dari Tokyo. Yang mengagetkan beliau berusia 61 tahun ! Hebat benar di usia se tua itu, kakek Shim masih segar, tegar, optimis dan nampak bahagia berada di puncak Rinjani. Ternyata masih ada yang lebih tua dari saya dan berada disini dalam kondisi fisik yang lebih baik. Hebat Mr. Shim.

 

PERJALANAN TURUN

Setelah berhasil ke puncak, kami segera turun ditengah sengatan sinar matahari pagi dan tiupan angin yang kencang menusuk kulit. Sebaiknya memang jangan berlama2 di puncak. Kami sungguh excited dapat menyentuh puncak Rinjani. Ketika turun barangkali karena terlampau, yakin kami tersesat masuk jalur ke Torean, untunglah kami segera cepat ambil keputusan untuk kembali, kalau tidak barangkali kami hilang di jalur Torean yang angker itu!

Segara Anak dari 500 meter menjelang puncak Rinjani

Rinjani, sebagian warga menganggapnya sebagai penunggu pulau Lombok, dan mereka melakukan upacara ritual yang mereka percayai akan menyelamatkan Lombok dan lingkungannya. Bagaikan gadis cantik yang masih tidur, rasanya masih banyak yang dapat dilakukannya. Sampai suatu saat dia “terbangun” menarik dunia pariwisata dan mengundang semakin banyak orang yang datang mengunjunginya.

Mudah-mudahan ….


Responses

  1. jadi inget naek ke topnya rinajni tahun 1998


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: