Posted by: Heru Legowo | December 17, 2011

Flying is easy


Terbang itu kayaknya mudah. Kesan itu muncul ketika saya melihat langsung simulasi terbang dengan Airbus A-330 di Pusat Latihan Garuda di Duri Kosambi. Jumat, 16 Desember 2011 yang lalu saya menghadiri undangan Garuda Indonesia meresmikan penggunaan simulator baru pesawat Airbus A-330 dan Boeing B-737-800 NG di Pusat Latihan Garuda di Duri Kosambi. Dua buah simulator itu berwarna putih mulus dengan logo Garuda disampingnya, besarnya seukuran truck besar dan ditopang oleh 4 penyangga hidraulik, dan harganya kira-kira USD 20 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar dalam sambutannya menyatakan bahwa Garuda Indonesia sedang melakukan program Quantum Leap. Garuda sekarang memiliki 90 pesawat dan pada tahun 2015 nanti akan menjadi 154 buah. Pengadaan simulator ini adalah bagian dalam rangka mempersiapkan SDM Garuda untuk merealisasikan program Quantum Leap tersebut. Beliau juga berterimakasih  kepada General Electric yang menyerahkan pesanan simulator Garuda dengan waktu yang lebih cepat dari yang seharusnya. Konon kontrak ditanda-tangani baru pada bulan Juni dan pada November lalu, simulator itu sudah dipasang di Gedung B Duri Kosambi.

Dalam sambutan berikutnya Wakil Menteri Perhubungan DR. Bambang Susantono menguraikan tentang ekonomi Indonesia yang naik kelas dan mencapai peringkat level investasi. (investment grade). Oleh sebab itu beliau yakin pada tahun mendatang lebih banyak orang yang terbang. Jika tahun ini tercatat 106 juta penumpang pesawat udara, maka tahun depan jumlah itu akan bertambah lagi. Oleh karenanya penghargaan tinggi kepada Garuda  Indonesia yang giat menyiapkan SDM-nya dalam mencapai program Quantum Leap-nya. Ini berarti pelayanan penerbangan akan semakin nyaman dan aman.

Setelah acara sambutan, Wakil Menteri Perhubungan, Direktur Utama Garuda, Direktur Operasi Garuda Capt. Ari Sapari dan beberapa tamu undangan mencoba menggunakan simulator A-330 selama 15 menit. Dari luar simulator yang berukuran hampir sama dengan yang sebenarnya itu, tampak naik turun dan bergerak-gerak diatas 4 penopang hidrauliknya. 15 menit berlalu dan para tamu VIP setelah acara seremonial penyerahan sertifikat Reaady For Training kemudian meninggalkan lokasi menujumke Gedung F untuk menyaksikan latihan crew cabin.

Didorong perasaan ingin tahu, saya naik ke atas dan ikut masuk melihat “cockpit” simulator tersebut. Kebetulan Bpk. Richard – Direktur Utama GMFAA – sedang duduk di seat sebelah kanan dan mencoba mengendalikan pesawat Airbus A-330 tersebut.  Dan begitulah, suasananya benar-benar seperti di cockpit pesawat.

Pada simulasi penerbangan itu di layar depan eh maksud saya di windscreen cockpit tampak di sebelah kiri Bandara Soekarno-Hatta, Towernya yang khas tampak dari kejauhan. Kami berada di ketinggian 4000 kaki dan sedang menurun mendekati final approach Rwy 25 R. Captain Burhan sebagai instruktur tampak sibuk memberi perintah dan arahan, sambil memencet-mencet layar monitor touch screen dibelakang Pak Richard. Dan pesawat melayang dengan anggun mendekati Runway.

Captain Burhan memberi simulasi mesin sebelah kiri mati. Dan segera suara warning berbunyi berulang-ulang dan sebuah tombol disebelah kiri di panel atas menyala merah. Pak Richard menekan tombol dan tombol itu pun pop-out. Mesin sebelah kiri dimatikan. Pesawat terus menurun. Di windscreen tampak runway yang berwarna keabu-abuan dan runway centre line yang putus-putus dan berwarna putih itu seakan-akan bergerak mendekati pesawat. Sementara itu keringgian pesawat oleh komputer disebutkan berturut-turut : 400, 300, 200, 100 … Retardretard … Dan roda pesawat menyentuh landasan. Pendaratan yang mulus Pak Richard.

Final Approach for touch down Rwy 25 R

Pada simulasi yang lain, dilakukan pendaratan ketika cuaca berkabut dengan Cat II. Captain Burhan menekan tombol di komputer dan pemandangan di depan windscreen langsung berubah menjadi putih dan buram. Kira-kira seperti itulah keadaannya, jika kita berada di Amsterdam sekarang ini. Putih dimana-mana. Suasana itu pasti membuat jenuh, membosankan dan juga was-was. Pesawat berada di final approach runway sekarang. Tidak tampak apa-apa, hanya putih buram. Captain Burhan bilang nanti runway baru akan kelihatan pada ketinggian 100 kaki. Anda bisa membayangkan bagaimana jika itu terjadi pada keadaan yang sebenarnya?

Dan benar saja pada ketinggian 100 kaki, runway centre line baru kelihatan. Gila! Jadi pilot hanya punya kesempatan sekian detik saja untuk mendarat atau membatalkan pendaratan (go round). Jadi begitu tokh Cat II ini? Kalau Cat III malah sama sekali tidak kelihatan, hanya remang-remang saja pada ketinggian 100 kaki. Ini lebih parah lagi. Pesawat mendarat dengan mulus dan taxy memasuki apron. Ketika sudah mendekati aviobridge, Captain Burhan bilang : “Jangan di rem, biar saja coba ditabrak!” Dan … ketika benar-benar menabrak, windscreen berubah semuanya menjadi merah! Tabrakan! Sayangnya jembatan penghubung antara simulator ke gedung tidak diangkat, sehingga sensasi gerakan pesawat tidak dapat dirasakan. Padahal simulator ini benar-benar dapat mensimulasikan semua keadaan dan situasi seperti yang sebenarnya terjadi.

Capt. Ari Sapari Direktur Operasi Garuda

Simulator ini sempurna dan memberi kesan akhirnya pekerjaan pilot hanya mengawasi komputer dan tombol-tombol yang ratusan jumlahnya si cockpit. Jika semuanya berjalan normal, pilot hampir dapat dikatakan tidak bekerja. Semua tugasnya sudah diambil alih oleh komputer. Anda dapat membayangkan bagaimana jika terbang long-haul selama 8-10 jam dan hanya duduk di cockpit, sambil terus mengawasi tombol-tombol itu. Kayaknya cukup membosankan juga ya? Pantas saja pilot gajinya besar!

Menurut hemat saya, pilot baru bekerja dengan sebenarnya, jika terjadi kondisi anomali atau pada situasi emergency. Baru disitulah pilot bekerja yang sesungguhnya. Dan tentu saja semua orang tidak ingin agar pilot bekerja pada kondisi semacam itu, bukan? Training make perfect. Kata-kata itu benar-benar nyata dan terjadi, di Pusat Latihan Duri Kosambi.

Setelah itu, sebenarnya saya ingin pamit pulang, tapi Sekjen Inaca Bpk. Tengku Burhanuddin mengajak saya untuk lebih dulu ke gedung F. Ketika kami memasuki gedung ini, sedang berlangsung latihan emergency para cabin crew. Situasinya seperti pada pendaratan darurat di perairan (ditching).

Ada sebuah kolam besar dan ditengahnya sudah ada perahu karet berwarna kuning kapasitas 25-an orang. Di sebelahnya ada sepotong pesawat yang tidak utuh. Diatasnya ada semburan air, barangkali simulasi pada kondisi hujan. Lampu putih diatas berkedip-kedip terus menerus dan diiringi suara mesin pesawat. Sungguh sebuah situasi yang dramatis.

Para cabin crew, pramugari sudah memakai pelampung dan satu demi satu terjun lurus ke dalam kolam, mereka berenang dan naik ke perahu karet. Kemudian dengan teriakan-teriakan kecil, mereka berusaha membuka tutup pelindung perahu. Cukup sulit tampaknya, karena licin. Sementara itu dari dari lantai atas, tamu-tamu VIP menyaksikan peragaan ini. Sebentar kemudian mereka berhasil membuka penutup perahu karet dan memasangnya dengan baik. Perahu kemudian ditarik ke tepi kolam, dan mereka berbaris, bersalaman dengan tamu undangan dan berfoto bersama.

Para cabin crew, pramugari itu ternyata selain cantik juga cekatan melakukan tugas pada kondisi darurat. Rasanya cukup meyakinkan juga jika kita terbang dengan awak cabin yang cekatan seperti itu.

Hanya saja beberapa kawan saya  yang sering terbang di business class  berkata, kalau di kelas bisnis tidak ada pramugarinya yang ada ibu pramugari! Hehehe … Kalau ibu pramugari, kira-kira bisa secekatan yang diperagakan itu apa tidak yah?


Responses

  1. Shh . . . being a pilot is not as easy as I thought.. terutama tanggung jawabnya ya pak..

    intothelights.blogspot.com
    dweeklypost.blogspot.com

  2. dweeklypost.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: