Posted by: Heru Legowo | January 3, 2012

Legenda Lutung Kasarung


Tahun baru 2012 menurut penanggalan China adalah Tahun Kelinci. Persis awal tahun 1 Januari 2012 hari Minggu, saya sempatkan ke Bandung untuk melihat Drama Musikal Lutung Kasarung yang disutradai oleh Didi Petet. Ini hari terakhir, setelah dipentaskan mulai tanggal 27 Desember dan akan berakhir hari ini. Terus terang saja, nama besar Didi Petet dan publikasi yang intensif mempengaruhi saya melihat drama musikal ini.

Tanggal 1 Januari 2012, hari Minggu Bandung macet atau paling tidak jalan yang melalui Kebun Binatang Bandung macet. Saya butuh 1 jam dari mal Giant ke Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) tempat drama musikal ini dimainkan.

Jam 14.00 lebih sedikit acara simulai. Penonton tidak begitu penuh, saya duduk di balkon sayap kiri, kursi F1. Panggung masih tertutup, di depannya sudah siap sekelompok pemusik jumlahnya sekitar 20-an orang. Yang disebelah kiri peralatan musik modern, di tengah tampak sebuah harpa dan disebelah kanan alat musik tradisional gendang dan beberapa gamelan. Di kanan-kiri panggung ada dua layar monitor yang besar, sehingga penonton dapat mengikuti yang terjadi di pentas dengan baik.

Saya baca sekilas synopisnya di buku panduan. Alkisah Pasir Batang adalah sebuah negeri yang aman dan damai, subur dan makmur, dipimpin oleh Baginda Prabu Tapa Ageung. Baginda memiliki 7 puteri : Purbararang, Purbamanik, Purbaendah, Purbaleuwih, Purbadewata, Purbakencana dan Purbasari. Baginda raja menyerahkan takhta untuk sementara kepada Purbararang, sambil menunggu Purbasari dewasa untuk menjadi Ratu Pasir Batang. Tetapi sejak pimpinan beralih ke Purbararang, rakyat mulia menderita, ketidak-adilan dan keserakahan meraja-lela. Tali persaudaraan pun diantara ke 7 putri raja telah pecah. Purbasari disingkirkan ke Hutan Cupu Mandalayu.

Beberapa menit menunggu, kemudian panggung dibuka dan menggambarkan kemakmuran negeri Pasir Batang. Sungguh menarik gerak tari dan nyanyi yang menggambarkan kecerahan dan keceriaan rakyat Pasir Batang ini. Saya sangat menikmati ketika musik bergeser iramanya dari irama yang menggelora dan energik menjadi irama Sunda dengan pukulan gendangnya yang khas. Ismet Ruchimat dan Iman Ulle dua punggawa musik samba Sunda menata musik dengan bernas dan energik. Pentas ini mampu menggambarkan bahwa Pasir Batang benar-benar negeri yang indah makmur.

1325547356409277084Di sepanjang acara ini, pada setiap adegan rakyat Pasir Batang bersama-sama menari, menyanyi bahkan men-demo Purbararang menjadi tontonan yang asyik. Pergerakan pemain yang memenuhi panggung begitu dinamis, manis dan ciamik membentuk komposisi panggung yang memikat.

Adegan beikutnya, Indrajaya yang akan menikahi Purbararang ternyata menyukai Purbasari. Indrajaya yang merasa dirinya paling tampan berusaha merayu Purbasari. Dan ketika tengah merayu Purbasari, dia dipergoki oleh kakaknya Purbaendah, Purbaleuwih, Purbamanik, Purbakencana dan Purbadewata. Tetapi, yang disampaikan ke Purbararang adalah yang sebaliknya, bahwa Purbasarilah yang mau menggoda Indrajaya.

Purbararang kemudian berusaha menyingkirkan Purbasari, dengan cara memberikan lulur kecantikan kepada Purbasari. Alih-alih menjadi cantik, lulur itu justru merusak kulit dan muka Purbasari!

Sementara itu Purbararang akan mengadakan pesta dan makan daging lutung. Aki Panyumpit diperintah untuk menangkap lutung untuk dijadikan santapan, jika tidak berhasil akan dipancung. Dia berhasil memperdaya Lutung Kasarung dibawa ke istana. Lutung Kasarung marah setelah tahu ternyata dia akan dijadikan santapan lalu mengamuk memporak-porandakan istana, dan dia kembali ke hutan.

Purbararang yang semakin mabuk kekuasaan, dihasut oleh Indrajaya untuk memaksa Purbasari meninggalkan istana. Purbasari yang sebenarnya tidak berambisi menjadi Ratu, dipaksa meninggalkan istana. Ketika sampai di Hutan Cupu Mandalayu, Dia bertemu dengan Lutung Kasarung yang sebenarnya adalah anak Sunan Ambu penguasa negeri langit. Gubuk Purbasari atas bantuan Lutung Kasarung pun berubah menjadi istana.

Sementara itu rakyat semakin menderita dipaksa memberi upeti oleh Purbararang. Hasil tanaman dan usaha dagang mereka semakin menurun dan memberatkan hidup. Akhirnya mereka bersatu, melawan dan melancarkan demo ke istana.

Purbararang belum puas hanya menyingkirkan adiknya, dia ingin adiknya mati agar kekuasaan kekal berada di tangannya. Maka diutuslah Aki Panyumpit untuk membujuk Purbasari ke istana, akan diperdaya dengan mengikuti tantangan yang diberikan Purbararang. Purbasari sebenarnya tidak mau, tetapi atas dorongan Inang pengasuhnya dan Lutung Kasarung dia pun pergi ke istana.

Di istana Purbararang mengajukan 3 buah tantangan, siapa yang menang berhak atas mahkota kerajaan. Dan yang kalah akan meninggalkan istana tanpa leher, alias dipancung! Lagi-lagi Purbasari ragu-ragu, tetapi Lutung Kasarung kembali meyakinkan Purbasari untuk mengikuti tantangan tersebut.

Tantangan pertama adalah tanaman padi mana yang terbaik antara yang ditanam Purbasari dan Purbararang? Tantangan kedua, tenunan kain mana yang terbaik yang ditenun diantara mereka? Yang ketika Purbasari diminta menjinakkan banteng berkulit tembaga yang ganas. Dan ketiga-tiganya dimenangkan Purbasari.

Adegan yang menarik ketika Purbasari harus menundukkan banteng yang ganas. Alih-alih dengan kekuatan, Purbasari justru menyanyi dan meminta agar banteng berbelas-kasihan kepada dia dan masyarakat, dan jangan mengamuk. Si banteng pun tunduk, kemudian Purbasari sendiri yang melepaskannya dari dalam kerangkeng. Dan si banteng ganas itu menari-nari kesana kemari, diiringi rentak gendang khas Sunda yang energik. Si banteng ngebodor. Lucu! Malah sebelum keluar dari panggung, banteng itu mengangkat kedua tangannya eh kedua kaki depannya dan berteriak : “Hidup Persib!” … Ha … Ha … Ha … Penonton pun ikut bersorak riuh!

13255467851201133294

Purbararang yang merasa kalah disemua tantangan yang dibuatnya sendiri, akhirnya menentukan satu syarat lagi. Mana yang lebih ngganteng calon suami diantara mereka berdua! Purbasari pun panik dan tidak punya pilihan lain, terpaksa Lutung Kasarung-lah yang diajukan. Dan sudah tentu Lutung Kasarung bukan tandingan dengan ketampanan Indrajaya!

Purbasari pun diseret dan akan dipancung. Lutung Kasarung tidak rela dan mengamuk membela Purbasari. Untuk mengatasi amukan ini, Indrajaya menusuk leher Lutung Kasarung dengan senjatanya. Darah pun muncrat. Di Layar panggung, bercak darah yang disorot dari LCD, ada dimana-mana. Adegan menjadi dramatis, suara erangan sekarat Lurung Kasarung menjadi dominan. Dan semua pemain berdiri diam seperti posisinya yang terakhir. Yang bergerak hanya Lutung Kasarung dan suara erangan kematiannya. Purbasari ikut menangis, menangisi dirinya, dan kematian Lutung Kasarung. Sebuah adegan yang dramatis.

Sejenak kemudian, Lutung Kasarung berubah menjadi Guruminda, seorang pemuda tampan anak dari Sunan Ambu penguasa negeri langit. Selanjutnya, anda pasti tahu akhir ceriteranya.

Siang itu pemeran Purbararang Astrid Fitria Sari bermain lepas dan mampu membawakan karakter Purbararang dengan baik, sebagai ratu yang cantik, dingin dan kejam. Begitu juga Rachmi Awlya bermain apik, memerankan Purbasari yang cantik, anggun, sabar dan berjiwa besar. Mereka dan seluruh pemeran mampu menjanyi dengan artikulasi yang terjaga dengan baik.

Pegelaran ditutup dengan seluruh pemain dan semua yang terlibat muncul dipanggung. Irama musik Pasir Batang menjadi latar belakang, mengentak, meriah dan memberi kesan gegap gempita. Didi Petet muncul terakhir dengan udeng khas Sunda. Sebuah pertunjukan yang menarik dan apik. Selamat buat Didi Petet dan tim pendukungnya.

PESAN SPIRITUAL

Lurung Kasarung memberi pesan jelas, bahwa kesabaran selalu menghasilkan hal-hal positif. Kadangkala kelembutan lebih efektif untuk menundukkan keganasan dan kekerasan. Juga selalu masih ada kekuatan Adi kodrati yang menjadi tumpuan terakhir ketika semua daya upaya sudah dilakukan, tetapi hasilnya tidak optimal. Bahwa kasih sayang dan cinta kasih menghasilkan sesuatu yang positif.

Dan rakyat yang tertekan dan tertindas suatu saat akan melawan balik, dan menjadi kekuatan yang tidak dapat dikendalikan oleh kekuatan dan kekerasan dari penguasa.

Yang kemudian menjadi renungan, mengapa dalam ceritera rakyat dan legenda, selalu ada kera yang sakti dan berbudi baik? Kera itu biasanya adalah anak Dewa. Di China ada Sun Go Kong. Di India dalam hikayat Rama-Shinta, ada Hanoman yang sebenarnya anak dari Batara Guru dengan Dewi Anjani. Hanoman menjadi penyelamat dan dia akhirnya juga menikah dengan Dewi Trijata anak Rahwana.

Dan jika nanti Lutung Kasarung dipentaskan lagi, saya sarankan anda menyempatkan diri untuk menyaksikan …jangan lupa loh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: