Posted by: Heru Legowo | January 10, 2012

Drini beach South of Jogya


Jogya selatan ternyata menyimpan begitu banyak lokasi pantai yang eksotis. Sementara ini yang sering terdengar dan dikunjungi wisatawan adalah pantai Parangtritis. Padahal begitu banyak pantai yang indah di pantai selatan Jogya yang belum banyak tersentuh oleh Dinas Pariwisata dan layak dijual ke wisatawan.

Senin 26 Desember yang lalu, saya mencoba untuk mengeksplorasi pantai selatan Jogya. Seorang teman bilang untuk ke pantai Drini saja, masih alami dan belum banyak yang datang kesana. Jadilah. Di pagi yang cerah itu, setelah Jogya gerimis pada beberapa hari terakhir ini, kami meluncur ke pantai Drini. Dari informasi di internet, jaraknya 60 km dari Jogya. Semula saya ingin nyetir sendiri dan menikmati perjalanan ini, tetapi karena saya belum pernah kesana, maka saya minta Bowo mengantarkan kami. Dan jalanan beraspal mulus mengantarkan kami kesana.

Melewati Piyungan, jalan mulai ramai. Ada Kids Fun, kompleks tempat anak-anak bermain di kanan jalan menjelang perempatan Piyungan. Dan di perempatan itu kami belok ke kanan. Sebentar kemudian jalan beraspal hotmix dan mulus mulai berkelok naik mendaki bukit. Lalu lintas mobil cukup padat, barangkali karena hari libur sehingga banyak yang berwisata.

Di Bukit Bintang kami berhenti sebentar. Dari ketinggian sini kota Jogya tampak menghampar di bawah sana. Dan horizon Gunung Merapi tampak utuh dari kejauhan. Puncaknya terkoyak, barangkali karena letusan batu-baru ini. Saya membayangkan, ketika Merapi meletus dahulu, pasti sangat jelas dilihat dari sini. Pagi yang cerah dan banyak anak-anak muda yang duduk berdua menikmati keindahan disini. Melihat keindahan ini rasanya tidak ingin buru-buru pergi, tetapi perjalanan masih jauh, 40 km lagi. Ya sudah, apaboleh buat jalan lagi. Jalan aspal mulus, menuju ke Wonosari. Beberapa saat kemudian kami melewati airstrip Gading milik TNI-AU, disini menjadi alternatif bagi siswa penerbang TNI-AU untuk berlatih dasar-dasar terbang. Sebuah Tower pengendali lalu lintas penerbangan, dengan cat merah putih kotak-kotak tampak dari jalanan.

Gunung Merapi dari bukit Bintang

Sebentar kemudian kami memasuki Wonosari. Kota ini kecil barangkali se ukuran Wates-Kulonprogo, tetapi jalan utamanya beraspal hotmix dan mulus. Belok kanan menuju ke Tepus. Jalan beraspal hotmix mulai menyempit, cukup untuk dua mobil berpapasan. Dari sini masih 20 km lagi ke pantai Drini. Mulai terasa kami memasuki daerah wisata.

Pantai selatan Yogya menyimpan keindahan hampir di sepanjang garis pantainya. Yang terkenal Pantai Parangtritis itu. Padahal masih banyak pantai yang belum sepenuhnya diusahakan sebagai obyek wisata. Di depan kami nanti ini ada jajaran pantai yang eksotis, Pantai Baron, Kukup, Drini, Krakal, Sundak dan masih banyak lagi yang masih alami dan belum banyak didatangi pengunjung.

Menjelang sampai ke pantai, di sepanjang jalan banyak kupu-kupu kuning yang beterbangan dan tampak susah bertahan karena ditiup oleh angin pantai yang kencang. Barangkali ini musimnya ketika kepompong berubah menjadi kupu-kupu. Seperti kebanyakan pantai di selatan Pulau Jawa, ada bukit dikiri kanan jalan dengan pepohonan yang menghijau. Saya membayangkan pada musim kemarau pasti ini gersang dan kering. Dan di sebuah pertigaan yang dijaga polisi, ada baliho besar petunjuk lokasi pantai. Jika terus ke pantai Baron, kalau belok ke kiri ke Kukup, Drini, Krakal dan Sundak. Kami ambil belokan kekiri.

Akhirnya beberapa menit kemudian, Bowo membawa mobil kami berbelok ke kanan. Pantai Drini 1 km di depan kami. Kanan kiri jalan, sawah yang hijau tampak subur. Bowo memarkir mobil dibawah pohon yang agak rindang, di depan kami deretan kapal nelayan yang sedang “parkir”. Ketika kami turun dari mobil, debur suara ombak cukup keras membentur pantai. Selamat datang di pantai Drini!

Angin pantai yang cukup keras dan dingin menerpa wajah kami. Saya langsung ambil sandal, menuju ke pangai yang hanya beberapa meter dari kami parkir, dan memperhatikan sekeliling. Di sebelah kanan ada warung makanan dan minuman yang cukup sederhana. Yang dekat sekali dengan pantai ada beberap- orang yang sedang asyik menikmati pantai dengan minumannya. Di sebelah kiri ada bangunan permanen, semacam TPI tempat pelelangan ikan, dan di depannya ada ibu-ibu yang menjajakan ikan dan ada yang sedang menggoreng ikan.

Pemandangan dari atas Pulau Drini kearah timur, gelombang laut yang bergemuruh

Dari garis pantai di sebelah kanan ada tanjung yang menjorok ke laut dan tebingnya curam dikikis ombak. Deburan ombak begitu keras, dan gulungan ombak membentuk gunungan air yang bergerak ritmis dan artistik. Di sebelah kiri ada sebuah pulau kecil yang ketika air surut tampak menempel ke pantai. Itulah Pulau Drini. Oleh karena itu, pantai ini disebut sebagai pantai Drini. Di titik pertemuan pulau Drini dengan pantai ada sebuah tangga naik yang terbuat dari semen Dari jauh beberapa orang sedang mendaki naik keatasnya. Di depan pulau, ada teluk yang airnya tenang karena terlindung Pulau Drini. Di situ banyak orang dan anak-anak yang berendam menikmati pantai, tanpa takut dihempas gelombang laut selatan.

Menceburkan diri ke pantai, segera terasa air laut berarus sangat kuat ketika ombak menyentuh bibir pantai. Sebaliknya ketika ombak kembali ke laut, pasir di pijakan kaki terasa menyusut dengan cepat dan menyedot tajam. Barangkali inilah yang menjadi ciri pantai di laut Selatan, yang beberapa kali menelan korban. Di kejauhan ombak memcah menimbulkan buih putih dan bergulung ke pantai. Sekilas jadi ingat bagaimana tsunami menyapu bersih pantai di Aceh dan Fukushima. Pasti ngeri sekali!

Setelah sejenak menikmati deburan ombak dan gerusan pasir di kaki. Saya beranjak ke Pulau Drini, dari sini jaraknya sekitar 400-an meter. Hari masih pagi jam 10, barangkali masih belum banyak yang datang, atau memang Drini belum se-terkenal Baron, Kukup dan Krakal, jadi belum banyak yang mendatangi.

Saya menaiki tangga semen yang sebagian sudah terendam air laut. Tangga semen ini melingkar dan sampai ke “puncak” pulau. Diatas puncak sini ada bekas puing balai bengong atau gazebo, tetapi sudah rusak tinggal tiang dan lantainya saja. Sayang sungguh. Padahal lokasi disini sangat strategis untuk melihat keindahan pantai selatan.

Pantai yang terlindung Pulau Drini tidak ada gelombang , nyaman untuk berendam

Dari ketinggian sini garis pantai selatan tampak hijau gelap, dihiasi buih ombak putih yang terus bergelombang menyentuh pantai. Angin bertiup keras, matahari cerah sinarnya mulai menyengat kulit. Semak-semak tidak terawat dan menutupi pandangan sehingga keindahan laut tidak sepenuhnya tampak terlihat. Rasanya perlu sentuhan dari pemerintah Kabupaten atau dari Dinas Pariwisata untuk mengelola potensi ini.

Saya tergelitik untuk mengeksplorasi lebih lanjut puncak ini. Ada jalan setapak yang menuju ka bagian lain dari pulau kecil ini. Salah satunya menuju ke dinding pulau yang terjal, dimana dibawahnya gelombang laut berdebur sangat keras membentur dinding pulau yang terjal. Berada di ketinggian ini, “diatas” gelombang yang bergelora dan di depan mata adalah garis pantai dengan buih putih yang memanjang menimbulkan sensasi tersendiri. Betapa eksotisnya pantai selatan Jogya.

Saya mengambil beberapa foto yang eksotis ini. Di pagi yang cerah, debur ombak yang dalam bergelora dan tiupan angin yang keras memberikan situasi tersendiri. Berada di ketinggian pulau ini, terasa mampu mengasah emosi dan kehalusan rasa. Entah mengapa ditengah alam yang lepas begini, selalu saya merasa begitu.

Tebing curam yang digerus gelombang laut selatan

Sayang kemudian saya harus menjadi menyesal. Mengapa? Ketika foto-foto itu akan dicetak, karyawan studio foto salah men-copy dan datanya menjadi corrupt. Dan semua foto pulau Drini rusak. Karena kejadiannya ini di wilayah laut selatan, maka yang kemudian muncul pertanyaan sekilas, apakah ini karena daya mistis lain? Atau hanya sekedar kesalahan teknis? Saya tidak tahu, yang jelas itu benar terjadi. Foto-foto itu tidak bisa dicetak. Marah-marah kepada karyawan foto studio juga tidak ada gunanya, dan tokh tidak dapat mengembalikan foto yang diperoleh dengan susah payah itu.

Hal yang sama pernah terjadi ketika saya mengambil gambar di Pura Kehen di Bangli. Pura yang di-claim sebagai yang paling bersih di Bali. Ketika saya mengambil gambar disana, semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Tetapi pada pagi hari ketika akan dicetak, semua foto tidak ada di kamera. Miracle still happened in Bali.

Apa boleh buat, saya hanya dapat meng-insert foto yang diambil dengan HP, seperti yang ada sekarang ini. Mudah-mudahan itu dapat menginspirasi pembaca untuk suatu saat datang kesana. Melihat keindahan Drini …


Responses

  1. Sepi pantainya.. eksotis. Dan kejadian photo yang tidak bisa tercetak, membuatnya lebih eksotis lagi.

    Terima kasih. Pantai Drini bisa menjadi option ketika liburan.🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: