Posted by: Heru Legowo | March 15, 2012

Wamena the heart of Papua


Sabtu pagi, 10 Maret 2012, jam 11 pagi pesawat ATR 72 Trigana Air melayang menuruni pegunungan menuju ke Bandara Wamena. Dari atas ketinggian ini Wamena tampak sebagai daratan yang rata, di dasar sebuah “mangkok”, dengan bukit-bukit pegunungan tinggi mengelilinginya. Oleh sebab itu mestinya ada teknik khusus dari para pilot, jika akan mendarat di Wamena. Saya memperhatikan bunyi pesawat ketika melayang di atas pegunungan, jaraknya begitu dekat dengan puncak-puncaknya. Pada saat menurun menuju ke landasan pitch suara mesin pesawat meninggi, terasa power mesin sedikit bertambah. Sampai dengan di final approach ke landasan pacu, saya merasa kecepatan pesawat sedikit agak tinggi. Feeling saja sih! Dan benar saja, ketika mendarat terasa pesawat di rem cukup kuat. Alhamdulillah mendarat dengan selamat. Selamat datang di Wamena.

Ini perjalanan ke dua saya ke Wamena. Dan ketika turun dari pesawat, betapa terkejutnya saya ternyata Terminal Penumpang Bandara Wamena tampak habis terbakar. Tinggal puing-puing dindingnya yang masih berdiri, atapnya habis tidak bersisa. Katanya pada tanggal 26 september 2011, Terminal Penumpang terbakar karena korsleting listrik. Kami turun menuju ke terminal penumpang sementara, disamping Pos Polisi. Terminal ini berbentuk bangunan berlantai tanah, dengan atap seng. Sangat sederhana.

Sambil menunggu rekan saya mengambil bagasi, saya berdiri di sebelah kantor pos polisi. Dan seorang anak Papua mendekat, menawarkan koran Cenderawasih Post, namanya Pegi katanya sekolah di SMP Klas III dan mau ujian. Harga koran Cendrawasih Post Rp. 15 ribu, saya beli satu bukannya mau membaca, hanya sekedar berbagi saja sama Pegi.

Terminal Penumpang Bandara Wamena terbakar pada tanggal 26 September 2011

Sambil menunggu saya perhatikan situasi apron, kegiatan bongkar muat cargo, lalu lintas penumpang dan orang. Ruwet sekali dan standar baku keselamatan penerbangan tampak terabaikan. Pesawat Trigana tampak mendominasi penerbangan. Empat flight cargo dengan B-737-200 dan 3 flight sehari pesawat ATR-72 hilir mudik Sentani-Wamena. Pesawat lainnya adalah Merpati, Susi Air dan sekali-kali pesawat Hercules TNI-AU Sebuah forklift masuk melalui gerbang tembok pos polisi, dan mengangkat garpunya tinggi-tinggi agar dapat melalui pintu tembok dan menurunkannya lagi disamping “terminal”, dan penumpang pun lalu berebut mencari barangnya sendiri-sendiri. Seru!

 

KOTA WAMENA

Setelah itu kami keluar bandara. Ternyata di luar bandara banyak mangkal becak yang menunggu penumpang, seperti di depan stasiun kereta api di Jawa. Kami langsung menuju ke Hotel Putri Dani. Wamena tampak sedang berbenah diri, katanya akan menjadi ibu kota propinsi. Beberapa jalan diperlebar dan jajaran lampu listrik di tengah jalan utama Jalan Yos Sudarso; sedang dipasang.

Hotel Putri Dani lebih tepat motel barangkali, berada di pojok jalan Irian No. 40, memiliki 6 kamar tidur dibawah dan 2 kamar tidur diatas. Pemiliknya Ibu Cecilia Bambang  menatanya dengan apik, kesannya seperti di Losmen bu Broto yang dibintangi Meike Wijaya, Mang Udel almarhum, Mathias Muchus, Dewi Yul di TV jaman dulu itu.

Beristirahat sebentar dan kami jalan city tour sendiri deh. Mobil APV kami jalankan perlahan menyelusuri jalan-jalan di Wamena. Sekilas Wamena sepertinya punya masterplan yang cukup baik. Jalan raya utamanya adalah Jalan Yos Sudarso memiliki dua jalur dan lampu-lampu penerangan jalan sebagian sudah terpasang, sisanya sedang dalam proses pemasangan. Gedung Kabupaten, masjid Baiturahman dan Gereja besar terletak di jalan ini. Beberapa jalan sedang dalam proses pelebaran.

Gereja Bethlehem - di tengah kota Wamena

Wamena adalah satu-satunya kota terbesar yang terletak dipedalaman tengah Papua. Wamena berasal dari bahasa Dani, Wa dan Mena, yang berarti Babi Jinak. Wamena bagaikan surga dan mutiara yang belum banyak tersentuh di pedalaman pegunungan tengah Papua. Kota yang terletak di lembah Baliem ini dialiri oleh sungai Baliem serta diapit pegunungan Jayawijaya diselatannya memiliki ketinggian sekitar 1600 meter di atas permukaan laut. Udaranya segar dan jauh dari polusi udara seperti di Puncak atau Bedugul deh. Wamena banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara karena indah dan asri alamnya. Pada musim penyelenggaraan pesta budaya Papua di distrik Kurulu, kota ini dibanjiri oleh para wisatawan baik lokal dan mancanegara.

Melewati jalan Yos Sudarso, kantor Bupati Jayawijaya di Wamena tampak megah dan luas, diatas pintu gerbangnya yang putih tertulis : Yogotak Hubuluk Motok Hanorogo. Saya bertanya-tanya artinya dan baru esok harinya saya bertemu Marius anak SMA kelas III yang berasal dari Yahukimo menjelaskan artinya. Kurang lebih kalimat itu berarti bahwa “hari ini lebih baik daripada hari esok“. Sesuai kata-kata dalam bahasa Inggris sekarang adalah present atau hadiah, dan besok pagi adalah sebuah harapan.

Yogotak Hubuluk Motok Hanorogo - Today is better than tomorrow

Marius bercerita dia berjuang keras untuk hidup dan sekolah di Wamena. Menurut dia di kampungnya di Yakuhimo, hidup lebih mudah karena betapapun sulitnya, tetap bisa makan setiap hari. Di Wamena barangkali mudah cari uang tetapi kontinyuitasnya tidak bisa dijamin, hari ini dapat uang untuk makan, besok belum tentu.

Tidak ada jalan darat dari Wamena ke kampungnya di Yahukimo, adanya dengan pesawat ke Bandara Dekai, waktu terbangnya 30-45 menit. Kalau rindu ke kampungnya, maka marius harus berjalan kaki menembus hutan belantara, sungai, danau dan air terjun. Marius pernah ber-sembilan dengan kawan-kawannya pulang ke Yahukimo, dan mereka butuh waktu satu minggu penuh! Tidak ada tenda, dan mereka tidur dibawah pohon, di balik batu, di ceruk goa agar terlindung dari udara dingin yang menggigit tulang. Saya ikut membayangkan bagaimana mereka berjuang menembus belantara Papua. Luar biasa.

Pemandangan di luar kota Wamena sejuk, asri dan membuat teduh perasaan

Sebentar kemudian kami mengarah ke luar kota menuju ke Kurulu tempat rumah tradisional Honai dan mummy. Kami melewati jembatan Baliem, salah satu jembatannya patah di tengah. Untung kami masih bisa melewati jembatan ini, walaupun dititik patahannya sudah menyentuh permukaan air sungai Baliem yang coklat warnanya.

Gunung Susu di luar kota Wamena dari arah Batalyon Infanteri 756/ WMS

Dari kejauhan pegunungan Jawijaya tampak tertutup awan. Dikiri-kana jalan padang dan perdu silih berganti. Udara sejuk sedikit dingin. Rasanya damai sekali, tidak seperti berita-berita di koran. Kami terus menelusuri jalan ke luar kota, tetapi ketika 2 mobil di depan kita berhenti dan berbalik arah, kami tidak mau ambil resiko ikut balik arah. Pasti ada apa-apa di depan sana. Mendingan kembali saja dah.

Malam harinya kami makan di Rumah Makan Blambangan. Masakan Jawa. Di daftar menu tertulis udang selingkuh. Ternyata itu adalah udang sungai Baliem yang memiliki sepasang capit yang besar. Jadi jika dibilang udang, kok memiliki capit seperti kepiting; disebut kepiting tetapi ada ekornya seperti udang. Dagingnya terasa kenyal. Kami menikmati makan malam, seakan-akan bukan di Wamena situasinya seperti rumah makan di Jawa deh.

Jembatan Sunagi Baliem patah hampir ditengahnya, untung masih dapat dilalui mobil

Ketika selesai makan, Sekan seorang pria Papua dengan pakaian tradisonal mendatangi kami dan menjual kalung tulang Kasuari. Saya hanya merasa kasihan saja, dan membeli satu buah harganya Rp. 50 ribu. Ketika saya bayar, dia minta uang untuk naik angkutan ke rumahnya di Hom-Hom Rp.10 ribu. Sekan minta dengan setengah memaksa. Saya  mengalah dan nggak mau ribut, jadi saya beri lagi Rp. 10 ribu.

Masjid Baiturrahman - Wamena

Esok pagi harinya kami masih sempat melihat Wamena keluar kota. Sebenarnya target utama kami adalah melihat lokasi rumah tradisional Honai dan melihat mummy di Kurulu. Sayang saya kurang cermat memperhitungkan waktu. Hari ini Minggu, jadi lokasi wisata di Kurulu tidak dibuka untuk umum. Kalau pun dibuka setelah jam 12 siang, padahal flight ke Sentani jam 11. Apaboleh buat lepaslah kesempatan itu. Untunglah beberapa tahun yang lalu saya sudah sempat ke situ.

KEMBALI PULANG

Di Bandara Wamena, sambil menunggu pesawat Trigana dari Bandara Sentani, saya berjalan di sekitar terminal penumpang sementara yang lebih mirip gudang. Seorang pria Papua telanjang hanya memakai koteka, menggamit lengan saya. Dia menyatukan dua jari telunjuk dan jari tengahnya dan menempelkan ke bibirnya. Minta rokok ! Terus dia bicara dengan bahasa isyarat. Tangannya menunjuk ke arah pegunungan di seberang landasan, terus menunjuk kedua lututnya dan menekan perutnya. Oh jadi, dia berjalan dari atas pegunungan dengan berjalan kaki, dan sekarang perutnya lapar.

Saya memberi isyarat bagaimana kalau ambil foto dia, boleh nggak? Eh dia  buru-buru berdiri, mencari posisi dan mensilahkan saya berdiri di sebelahnya. Kali ini dia bisa bicara pelan-pelan tetapi jelas : “Dua puluh ribu!” sambil tangannya mengacungkan dua jarinya. Kayaknya sudah biasa diminta foto berdua. Dan saya segera mengambil foto, sebelum dia berubah pikiran. Setelah itu saya berikan lembaran biru, saya nggak yakin apakah dia tahu bedanya? Atau justru dia sangat faham bedanya? Saya beringsut mau pergi, eh dia memegang tangan saya dan berusaha untuk menjual ikat kepalanya yang dihiasi bulu burung. Kreatif sekali …

Pesawat Trigana flight kedua mendarat, penumpang Flight Trigana 274 segera boarding. Untuk menghemat waktu, mesin sebelah kanan tidak dimatikan hanya berputar idle saja. Dan 31 penumpang segera naik. Hanya 15 menit di darat, dan captain segera menghidupkan mesin sebelah kiri. Sebentar kemudian, pesawat ATR 72 bermesin baling-baling ganda Trigana 274, sudah tinggal landas. Dari jendela pesawat tampak jalan berkelok-kelok menembus perbukitan Jayawijaya.

Cuaca berawan, sehingga puncak bukit Jayawijaya tidak tampak. Saya membayangkan beberapa pesawat yang jatuh di wilayah Papua, cuaca memang berubah cepat di sini tumpukan awan menutup jarak pandangan. Ini yang menyebabkan petaka pada beberapa kecelakaan pesawat, selain garis ketentuan yang ditetapkan Allah Swt.

Trigana flight 3 flights daily, and the schedule depend very much on the weather condition

Setengah jam lebih 5 menit kemudian, danau Sentani danau terbesar kedua setelah Danau Toba, pun sudah kelihatan. Pulau-pulau kecil ditengah danaunya tampak ada yang dihuni oleh penduduk. Bukit-bukitnya berwarna hijau seperti gambar yang diwarnai anak-anak dalam lomba melukis. ATR 72 melayang dengan elegan masuk ke final approcah runway Sentani. Welcome back to Sentani.

Berakhir pulalah kunjungan singkat saya ke Wamena  mutiara yang mulai bersinar di pegunungan tengah Jayawijaya. Waktu yang singkat tetapi memberi pemahaman yang lebih mendalam mengenai Wamena dan situasinya.

Jadi teringat kalimat yang tertulis di badan pesawat Boeing Merpati : Izakod Bekai Izakod Kai = Satu Hati Satu Tujuan. Mudah-mudahan


Responses

  1. perubahan kota wamena bgitu apik… jadi tak sabar ingin segera pulang ke kota kelahiran.. minta ijin ya pak, saya mau donwnload foto2nya…🙂 trimakasih..

    • Silahkan pak, sayang saya tidak sempat masukmke Honai lagi waktunya mepet. Salam untuk keluarga

  2. maaf apa gak kebalik tuh pak artinya yogotak hubuluk motok hanorogo? “today is better than tommorow” ?, bukankah yogotak hubuluk motok bermakna “harapan” yang di terjemahkan dalam bahasa indonesia : Hari esok harus lebih baik dari hari ini….. salam traveling danang

    • Barangkali … mereka melihat bahwa hari ini adalah nyata, sedangkan besok belum terjadi dan masih “akan” terjadi. Jadi lebih baik yang sudah nyata terjadi daripada yang baru nanti akan terjadi! Yang Mas Danang sebut kan berlaku bagi kebanyakan orang, tetapi bagi yang sangat menghargai hari ini (dalam kondisi khusus), barangkali artinya begitu. Tetapi biarlah yang mengerti bahasa aslinya yang menjelaskan deh …

  3. a good post..
    i like it😀
    Mau menikmati liburan dengan paket wisata unik dari Sumatera Barat, kunjungi kami di TOURS MINANGKABAU
    Terima kasih

  4. mas heru punya peta gunung susu enggak, saya dulu sampling tanah disana dan untuk penulisan saya membutuhkan peta lokasi gunung susu yang kearah batalion


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: