Posted by: Heru Legowo | March 16, 2012

Biak tempat ideal peluncuran satelit


Biak Numfor anda tahu dimana? Betul! Pulau Biak dan Pulau Numfor berada di dekat kepala burung, di Papua bagian utara. Biak Numfor dikenal karena memiliki bandara Frans Kaisiepo yang memiliki landasan pacu terpanjang di Indonesia 3.750 M, yang dahulu pernah menjadi air base pasukan Jenderal Douglas McArthur. Bandara ini pernah melayani pesawat Garuda yang menerbangi jalur internasional JKT ke Los Angeles. Pesawat itu transit di Bandara Frans Kaisiepo untuk mengisi bahan bakar sebelum melakukan penerbangan antar benua ke Los Angeles.

Biak yang berasal dari kata v`iak itu adalah sebutan penduduk yang bertempat tinggal di daerah pedalaman pulau. Kata tersebut sebenarnya mengandung ejekan bagi penduduk yang tinggal di hutan, yang tidak pandai kelautan, tidak pandai menangkap ikan di laut, tidak pandai berlayar di laut dan menyeberangi lautan dan lain-lain. Nama tersebut diberikan oleh penduduk pesisir yang memang mahir dalam hal-hal kelautan. Dan akhirnya dipakai menjadi nama pulau tersebut.

Biak menurut versi lain berasal dari ceritera rakyat, yang menceritakan bahwa suku Burdam meninggalkan Pulau Biak karena pertengkaran dengan suku Mandowen. Suku Burdam meninggalkan Pulau Warmambo (nama asli Pulau Biak) untuk menetap di tempat yang jauh. Ketika mereka berangkat, tetapi setiap kali mereka menoleh ke belakang mereka melihat Pulau Warmambo tampak di atas permukaan laut. Dan mereka berkata : “v`iak wer atau “v`iak! Artinya ia muncul lagi. Kata v`iak kemudian berubah menjadi Biak.

PELUNCURAN SATELIT

Biak juga menjadi topik pembicaraan, karena Rusia tengah menjajagi kemungkinan untuk meluncurkan satelitnya dari bandara Frans Kaisiepo. Menurut perhitungan, Biak menjadi titik terdekat di bumi ke garis orbit satelit. Rusia akan menggunakan teknik peluncuran satelit dengan membawanya di perut pesawat raksasa Antonov An-124, dan tidak menggunakan teknik konvensional peluncuran dengan menggunakan roket di darat.

Pesawat raksasa Antonov-An124 dapat "menelan" apa saja

Pesawat raksasa An-124 akan mengangkut satelit di dalam perutnya. Satelit itu pada ketinggian kira-kira 45.000 kaki atau + 15 km diatas muka laut akan dilepaskan dari perut pesawat Antonov An-124, kemudian satelit akan menyalakan roket pendorong, yang akan mengantarkannya ke orbitnya. Teknik ini dengan jika dibandingkan dengan teknik konvensional peluncuran dari darat, biayanya akan sangat jauh lebih murah. Dalam perhitungan Rusia peluncuran dari Biak dapat menghemat biaya lebih murah 8-10 kali lipat jika dilaksanakan di tempat lain.

Pesawat raksasa Antopnov-An 124 Ruslan

Pesawat Antonov An-124 seukuran dengan pesawat Amerika Lockheed C-5 Galaxy, tetapi memiliki daya angkut 25% lebih besar. Pesawat ini memiliki kemampuan untuk memuat cargo dari depan. Dari moncongnya yang dapat dibuka ke atas dapat dimuat dengan mudah : lokomotif, yachts, body pesawat, satelit dan cargo berukuran raksasa lainnya. Daya angkutnya sangat besar. An-124 ini mampu mengangkut 150 ton cargo, untuk jarak 3.500 km. Luar biasa!

Secara umum proyek ini akan membuka peluang yang sangat bermanfaat bagi penduduk lokal karena mereka akan terlibat dalam pembangunan infrastruktur, mereka akan dapat pekerjaan, belajar profesi baru. Saya mendengar Rusia juga akan membangun sekolah dan rumah sakit di sana, yang pasti akan sangat berguna bagi penduduk lokal. Pembicaraan teknis terus berlangsung antara pemerintah Indonesia dan Rusia. Mudah-mudahan segera ditemukan kesepakatannya.

Kendala di lapangan tampaknya berkisar dengan sosialisasi kepada masyarakat mengenai rencana proyek peluncuran satelit tersebut. Seyogyanya perlu diberikan penjelasan yang lebih transparan dan detil tentang dampak atau untung rugi terhadap masyarakat terkait dengan peluncuran satelit itu. Ini menjadi prasyarat sebelum proyek itu disepakati.

Jika ini disepakati Biak akan mencatatkan diri di peta dunia. Jika dulu pernah menjadi batu loncatan dari Jenderal Douglas McArthur untuk menyerang Jepang, maka kali ini akan menjadi salah satu perhatian dunia dan terlibat langsung dalam teknologi peluncuran satelit. Keren juga kan?

Pagi itu sambil menunggu teman, saya sarapan pagi di hotel Aerotel-Irian dan ngobrol panjang lebar dengan Rainer seorang theologist dan dosen di Universitas Cendrawasih. Rainer kelahiran Jerman, bahasa Indonesianya fasih sekali, sampai logat dan dialeknya Indonesia banget. Ternyata dia sekolah SMP dan SMA di Malang, dan melanjutkan kuliahnya sampai S3 di Jerman. Dia sudah 16 tahun tinggal di Papua, tepatnya di Waena Jayapura. Anaknya 3 orang, yang paling besar kuliah si Jerman, yang ke dua SMA di Malang dan paling kecil kelas 3 SMP di Jayapura.

Yang menarik dia mengelola klub sepakbola putri. Para pemainnya terdiri dari beberapa suku asli di Papua. Katanya klubnya sudah menjadi klub putri yang disegani di Papua, beberapa kali menjadi juara. Dia berbicara bola dengan baik dan pengetahuannya tentang bola begitu mendalam. Ketika saya bertanya bagaimana menurut dia tentang PSSI? Dia bilang sambil berbisik, itu bukan sepakbola tetapi politik! Waaa …. ?

PANTAI DI UTARA

Pagi hari itu hujan cukup deras. Dan masih juga belum reda ketika saya dijemput Benno, Al dan Robert. Kami akan ke utara Biak, katanya pantainya indah. Jalanan sepi, barangkali karena hujan, atau memang karena penduduk Biak sedikit, hanya + 145 ribu orang. Ditengah jalan beberapa anak berjalan kaki bergerombol pulang sekolah. Melihat jarak antar rumah yang berjauhan, mereka pasti berjalan kaki cukup jauh. Di kiri dan kanan jalan adalah semak dan perdu yang cukup lebat. Sekali-kali berpapasan dengan mobil dan motor.

Setelah berjalan sekitar 50 km ke Biak Utara, kami sampai di pantai Wari. Hujan rintik-rintik. Kami berhenti sebentar dan berteduh di balai-balai di tepi pantai. Sayang hujan, awan menutupi langit sepenuhnya. Jika saja langit biru dan matahari bersinar, pantai ini pasti tidak kalah dengan Kuta di Bali atau pantai Krakal di selatan Yogya. Ombak berdebur menyentuh pantai yang menyerupai teluk.

Hujan mulai reda dan kami harus memanfaatkan waktu sebaiik-baiknya. Kami tinggalkan Wari terus menyusuri pantai. Sebentar kemudian kami sampai di pantai yang konon terkena gelombang tsunami. Perbaikan pantai tampak pada beton yang dibangun di sepanjang pantai. Kami turun dan mendekat ke arah pantai. Dan sungguh sebuah keindahan muncul di depan mata.

Gelombang laut menggulung membentur pantai yang terdiri dari batuan karang.  Air laut muncrat keatas menimbulkan buih yang tinggi berwarna putih kebiruan. Indah dan keren banget ! Saya mendekat dan mengambil gambar keindahan yang fantastis ini. Keasyikan memotret, saya tidak mendengar peringatan dari penduduk setempat yang menunjuk ke laut. Ombak besar datang dan membentur lantai. Airnya muncrat ke atas sangat tinggi, dan saya seperti diguyur hujan deras. Basah kuyup ! Waduuhh

Di sisi sebelahnya, saya memperhatikan air laut yang masuk melalui lubang karang. Ketika air muncrat melalui lubang itu, menimbulkan suara dengung yang bergaung sangat keras. Semburan air disertai suara dengung memberikan sensai tersendiri. Ada lagi sebuah lubang di karang, jika kita berdiri didepannya dan ombak datang, maka kita seperti disembur oleh dorongan angin yang sangat kuat! Saya kaget, dan hampir terjatuh karena semburan angin yang kuat, seperti keluar dari compressor itu.

Pantai Tenuri ini sungguh salah satu tempat yang layak untuk dikembangkan sebagai salah satu tujuan wisata. Sayang tempatnya cukup jauh, tetapi jerih payah kita terbayar, jika menyaksikan keindahannya. Kami berhenti cukup lama disini, seakan-akan enggan untuk meninggalkan sajian keindahan alam ini.

Kami berjalan kembali dan berikutnya berhenti di air terjun Wafsarak di kampung Amoi Distrik Warsa. Air terjun setinggi 20 meter-an dan lebarnya kira-kira 10 meter ini, dekat jalan utama Wari Moost, kira-kira 500 meter dari pinggir jalan. Airnya tampak deras sekali, suaranya cukup keras. Didepannya ada panggung dari kayu yang dibuat untuk menyaksikan air terjun ini.

PINTU ANGIN

Sudah hampir jam 2 siang, jadi kami buru-buru kembali lagi ke Biak. Dan menyempatkan diri untuk melihat Pintu Angin di bukit di seberang Bandara Frans Kaisiepo. Dari sini seluruh landsan pacu dan Bandara Frans Kaisiepo terlihat dengan jelas. Dari ketinggian sini, sebuah pesawat Boeing B-737 milik Merpati Nusantar tampak parkir di apron.

Di atas bukit masih tersisa beberapa meriam penangkis udara peninggalan Jepang. Besinya masih tampak utuh dan tergeletak begitu saja dan berserakan diatas bukit Pintu Angin. Itu menjadi bukti Biak dulu menjadi ajang pertempuran seru antara Jepang dan tentara sekutu. Sayang saya tidak punya cukup waktu untuk melihat goa Jepang.

Di bukit Pintu Angin ini juga ada kepercayaan, pamali untuk membawa pacar kesini karena akan putus dan hubungan cinta tidak langgeng atau tidak dapat diteruskan lagi. Wallahu’alam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: