Posted by: Heru Legowo | April 5, 2012

Ullen Sentalu The Javanese Royal Museum


Yogya memiliki berbagai keunikan, khas dan khusus yang menjadikannya menjadi sangat spesial di Indonesia dan juga di dunia. Kultur dan budayanya yang merupakan derivasi dari sejarah masa lalu tetap menjadikan Yogya menjadi tujuan kunjungan turis dan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia.

Yogya selalu identik dengan Malioboro, Gajah Mada, Parangtritis, Imogiri dan Keraton. Hanya saja ketika kami akan diajak tour mengunjungi Ullen Sentalu. Saya bertanya-tanya, dimana itu yah? Saya yang merasa sudah tahu dan sok ngerti tentang Yogya menjadi kecele, ternyata saya tidak tahu tentang Museum Ullen Sentalu ini. Dan saya juga percaya, banyak juga warga Yogya yang belum tahu dimana letak Ullen Sentalu ini. Yakin deh!

Museum Ullen Sentalu Terletak di kawasan wisata Kaliurang tepatnya di dalam Taman Kaswargan dengan luas tanah 11.990 m2. Secara filosofis, nama Kaswargan dipilih karena terletak di ketinggian lereng Gunung Merapi, di mana kultur masyarakat Jawa menganggap Gunung Merapi sebagai tempat sakral.

Museum Ullen Sentalu, menampilkan budaya dan kehidupan putri dan wanita Keraton Yogyakarta juga koleksi bermacam-macam batik, baik gaya Yogyakarta maupun Solo. Museum ini juga menampilkan tokoh raja-raja di keraton Yogyakarta dan permaisurinya dengan berbagai macam pakaian yang dikenakan sehari-harinya.

Sore itu bus kami parkir di depan pintu gerbang museum yang tertutup oleh dedaunan, sehingga hampir tidak tampak bahwa itu adalah pintu masuk museum. Pramuwisatanya seorang wanita berambut pendek dan sangat tangkas berbicara, namanya Ida. Dia menyilakan kami masuk bergantian dengan grup di depan, dengan jeda 15 menit.

Dan Ida memulai penjelasannya, kalimatnya jelas, tegas, dan tidak pernah memberi kesempatan pengunjung bertanya diluar topiknya. Ida yang mampu berbicara dengan baik, cepat dan jelas tampak sangat  menguasai para tamunya.

ULLEN SENTALU

Nama Ullen Sentalu adalah singkatan dari bahasa Jawa: “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” artinya “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Blencong adalah lampu minyak yang digunakan dalam pertunjukkan wayang kulit.

Penjelasannya mengenai keadaan budaya Jawa kuno dengan segala aturannya dan museum yang dibangun dengan baik, mampu membuat kami semua seperti terserap ke masa Jawa kuno yang mengagumkan.

Museum Ullen Sentalu mulai dirintis pada tahun 1994 dan diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997, oleh KGPAA Paku Alam VIII, Gubernur DIY pada waktu itu. Museum swasta ini diprakarsai keluarga Haryono dari Yogyakarta dan berada di bawah payung Yayasan Ulating Blencong.

Ida bergerak cepat, tampak tidak ingin berlama-lama pada suatu lokasi dan bergerak sambil menjelaskan barang, lukisan, patung, dan apa saja yang ada di depannya yang kita lewati. Sebenarnya saya tudak begitu suka dengan caranya yang trrkesan terburu-buru. Kami belum sempat mencerna sesuatu yang kami lihat, tetapi dia sudah bergerak cepat ke ruangan berikutnya.

JEJAK BUDAYA JAWA

Ida dengan cepat mengajak kami masuk ke Ruang Seni dan Gamelan. Ruangan ini memamerkan seperangkat gamelan. Gamelan yang merupakan hibah dari salah seorang pangeran Kasultanan Yogyakarta dan pernah dipergunakan dalam pertunjukkan wayang orang dan pagelaran tari di kraton Yogyakarta. Di ruangan ini juga terdapat beberapa lukisan tari.

Berikutnya kami memasuki Gua Sela Giri. Ini adalah ruang pamer yang dibangun di bawah tanah, untuk menyesuaikan dengan kontur tanah yang tidak rata. Ruang ini berupa lorong panjang. Arsitektur Gua Sela Giri didominasi penggunaan material bangunan dari batu Merapi. Ruang ini memamerkan lukisan dokumentasi dari tokoh Kraton Dinasti Mataram.

Kemudian ke Kampung Kambang. Ini areal yang berdiri di atas kolam air dengan bangunan berupa ruang-ruang di atasnya. Konsep areal ini diambil dari konsep Bale Kambang. Kampung Kambang terdiri dari lima ruang pamer yaitu : Ruang Syair untuk Tineke, Royal Room Ratu Mas, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan.

Ruang Syair Untuk Tineke menampilkan syair-syair yang diambil dari buku kecil GRAj Koes Sapariyam (putri Sunan PB XI, Surakarta) dan ditemukan di suatu ruang di dalam Kaputren Kasunanan Surakarta. Syair-syair itu ditulis periode 1939-1947, oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam, yang akrab dipanggil Tineke. Beberapa syair itu memiliki emosi yang kuat, menjadi ungkapan rasa hati sekaligus juga menunjukkan kemampuan intelektual para putri di balik tembok kraton.

Salah satu syair yang sempat saya catat, adalah seperti ini :

Puisi Tineke Gusti panggilan Raden Ayu Koes Sapariyam

Kemudian kami masuk ke Royal Room Ratu Mas. Suatu ruang yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, yaitu permaisuri Sunan Paku Buwana X. Di ruang ini dipamerkan lukisan Ratu Mas. Foto beliau bersama Sunan serta putrinya, serta pernak-pernik kelengkapan beliau, seperti topi, kain batik, dodot pengantin, dodot putri, asesori dan lainnya.

Berikutnya adalah Ruang Batik Vorstendlanden. Menampilkan koleksi batik dari era Sultan HB VII sampai Sultan HB VIII dari Kraton Yogyakarta serta Sunan PB X hingga Sunan PB XII dari Surakarta. Melalui koleksi tersebut terlihat suatu proses seni dan daya kreasi masyarakat Jawa dalam menuangkan filosofi yang dianutnya melalui corak motif batik.

Saya bertanya mengenai batik, dan Ida cukup tangkas menjelaskan bagaimana para leluhur Jawa membuat batik. Ternyata batik memiliki arti dan makna filosofis yang mendalam pada setiap coraknya. Corak dan gaya Yogya dan Solo berbeda, karena perbedaan pengaruh dari Belanda. Yogya yang relatif kuat bertahan dari pengaruh Belanda, memiliki corak yang lebih Jawa dengan warna-warna gelap dengan motif Garuda. Berbeda dengan corak Solo yang lebih cerah, lebih beraneka karena berinteraksi dan meng-absorbsi budaya Belanda.

Memasuki Ruang Putri Dambaan. Ruang ini menjadi album hidup GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Menampilkan dokumentasi foto pribadi dari masa kanak-kanak hingga pernikahannya (1921-1951).

Ruang ini terasa istimewa, karena Gusti Nurul sendiri yang meresmikan Ruang Putri Dambaan tersebut, pada ulang tahun ke-81 pada tahun 2002. Jadi, seperti ada ikatan batin antara tokoh dan Ruang Putri Dambaan. Album perjalanan hidup putri Mangkunegaran, ini dititipkan secara pribadi dalam ruang tersebut.

Gusti Nurul adalah putri Mangkunegaran yang memberi inspirasi para pangeran Mataram untuk tidak berpoligami. Beliau merupakan putri permaisuri yang gemar berkuda, yang tidak lazim pada era tersebut.

Dengan cepat ida terus mengajak memasuki Sasana Sekar Bawana. Di ruang ini dipamerkan beberapa lukisan raja Mataram. Lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta.

Dan pada akhir kunjungan kami mendapat suguhan minuman spesial, semacam air jahe. Resepnya merupakan warisan Gusti Kanjeng Ratu Mas, putri Sultan HB VII yang disunting sebagai permaisuri Raja Surakarta, Sunan Paku Buwono X. Ida dengan antusias berkomentar, minuman ini membuat sehat dan awet muda.

Selain bangunan fisik, areal Taman Kaswargan didominasi oleh hutan alami dan bagian-bagian taman yang menonjolkan atmosfer pegunungan. Juga dilengkapi dengan restoran. Restoran Beukenhof diambil dari bahasa Belanda yang berarti “bangunan yang dikelilingi pohon-pohon”. Sayang kami tidak sempat menikmati masakannya.

Dan akhirnya Ida mengantarkan kami ke ruangan suvenir, dan memberi kesempatan membeli oleh-oleh. Toko souvenir yang menyediakan produk yang hanya dibuat untuk Museum Ullen Sentalu ini. Berbagai macam corak batik, dan beraneka macam barang souvenir tersedia disini.

Akhirnya selesailah sudah, rasanya cepat sekali, bahkan terlalu cepat. Sayang tidak boleh memotret ketika berada di dalam ruangan-ruangan yang eksotis itu. Jadi tidak bisa menggambarkan dengan lebih detil dan nyata. Jadi, sebaiknya lain kali anda kesini sendiri deh.

Dan pun keluar dari Museum dan di jalan beberapa pedagang salak menawarkan salak yang besar-besar kuning dan coklat. hanya berhati-hatilah, setelah saya buka yang besar hanya yang ada di permukaan saja. dibawahnya kecil-kecil. Ketipu deh …

Jadi, kalau ke Yogya sempatkan untuk melihat Mueseum Ullen Sentalu ini. Harga tiket masuk cukup terjangkau hanya Rp. 25. 000.- dan untuk wisatawan asing USD $ 5.

Kupu tanpa sayap
Tak ada di dunia ini
Mawar tanpa duri
Jarang ada atau boleh dikata tak ada
Persahabatan tanpa cacat
Juga jarang terjadi
Tetapi cinta tanpa kepercayaan
Adalah suatu bualan terbesar di dunia ini.


Responses

  1. Pak Heru… Ullen sentalu memang belum tentu diketahui semua warga jogya, terutama bagi yang sudah keburu meninggalkan jogya sebelum tahun 1997. Suatu yang positif dalam rangka “menguri-uri budaya jogya”… siiip


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: