Posted by: Heru Legowo | April 10, 2012

Yogyakarta and beyond


Sabtu pagi yang cerah dan Tri & Bowo mengajak saya keluar jalan-jalan melihat Yogya. Sudah semua sih kayaknya. Dan kali ini Tri menawarkan bagaimana kalau menikmati brongkos? Dan dia lalu sibuk nelpon temennya. Pak Bregas diseberang sana mengarahkan agar ke Warung Bu Padmo di sebelah jembatan Krasak. Wah agak jauh dikit ke utara, tapi nggak papa-lah enjoy Yogya pokoknya deh. Dan jadilah kami menyelusuri jalan Magelang ke utara Yogya. Jalanan cukup ramai karena hari libur panjang. Jalan lebar, beraspal mulus dua jalur membuat perjalanan ke utara tidak terasa.

BRONGKOS BU PADMO
Pak Bregas mengarahkan kami melalui telpon, katanya dari arah Yogya, sebelum jembatan Krasak ambil jalan yang di sebelah kiri. Kemudian lurus saja dan di pertigaan pasar, belok kanan terus melintas dibawah jembatan Krasak. Dan begitu belok ke kanan, di sebelah kiri ada sebuah warung tulisannya besar Bu Padmo. Nah disitulah warung brongkos Bu Padmo. Warungnya tidak begitu besar, kira hanya mampu menampung untuk duduk 10-15 orang.

Dulu warung itu katanya menjadi salah satu kegemaran Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Saya berkomentar, pantas namanya Padmo dalam bahasa Jawa papat dan limo, jumlahnya sembilan juga. Kebetulan saja begitu kalee.
Bowo memarkir mobilnya agak jauh, karena tidak mungkin parkir di tepi jalan di depan warung Bu Padmo. Selain banyak yang juga dagangan, juga lokasinya sempit. Bu Eny yang melayani kami, adalah putri dari Bu Padmo. Pada usianya yang tidak muda lagi, garis wajahnya masih menunjukkan kecantikannya di masa lalu.

Bersamaan dengan kami, ada rombongan yang tampaknya juga datang dari Yogyakarta. Sementara melayani, bu Eny menjelaskan beberapa cabang warungnya yang ada di sekitar Tempel sini. Di belakang atas dinding tercantum print-out yang menjelaskan bahwa warung ini pernah didatangi oleh Program TV One Mak Nyusss yang dipandu oleh Bondan Winarno yang terkenal itu.

Sepiring brongkos segera tersaji di depan kami masing-masing dan juga para tamu lainnya. Sepiring nasi dengan daging yang dimasak semacam opor, telur ayam, krecek, sayur kacang tholo dan nasinya hangat. Tambahan lauk disajikan tersendiri jadi tinggal pilih, empal, daging, krupuk, tempe, tahu. Seperti sebagian besar warung dan makanan di Yogya, memang bumbunya miroso, terasa bumbunya meresap dan terasa sejak suapan pertama makanan terasa lumat di ujung lidah … mak Nyuss. Dan segelas teh panas melengkapi kenikmatan di pagi hari itu.
Jadi rekomendasinya Pak Bregas memang pas dan benar.

Para pecinta kuliner dari Ngayogyakarta

Sepertinya kami harus segera cabut, karena beberapa orang sudah ngantri di belakang kami. Dari warung Brongkos Bu Padmo, kami terus akan kembali Yogya eh di sebuah perempatan jalan di dekat Krasak, ada sebuah papan : Gardu Pandang Trumpon 5 Km. Saya bilang ke Bowo, kita kesana deh.

Kami pun lalu berbelok, ingin melihat gardu pandang ini, karena selama ini yang ada hanya dikenal Gardu Pandang Ketep yang terletak di lembah di antara dua Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Barangkali disini juga bisa melihat Gunung Merapi lebih jelas lagi.

RUANG LINDUNG DARURAT
Dan setelah 5 km berjalan, tidak ada tanda-tanda lokasi Gardu Pandang Trumpon tersebut. Ternyata kami keterusan sampai di desa Tunggul Arum. Ada sebuah bunker yang menarik perhatian kami. Di depannya ada bangunan bertingkat tiga, semacam Pos Pengamat kegiatan Gunung Merapi.

Kami berhenti sebentar disini. Saya naik ke pos pengamat. Dari lantai tiga sini, Gunung Merapi terlihat cukup jelas. Sayang puncaknya tertutup awan. Dan sebentar kemudian tertutup oleh awan seluruhnya. Menikmati pemandangan dari sini menimbulkan rasa tenteram, damai dan menyejukkan jiwa.

Bunker Ruang Lindung Darurat Tunggul Arum ini berupa ruangan dibawah tanah yang diberi tangga beton. Dalamnya kira-kira 5 meter dari permukaan tanah, dan dibawahnya ada ruangan untuk berlindung. Atapnya berupa beton melengkung dan bersaf dua. Lebarnya kira-kira 3 meter.

Puncak Gunung Merapi dari Gardu Pengamatan Tunggul Arum

Hanya saja kalau melihat bentuknya, bunker itu pasti tidak dapat melindungi manusia, jika awan panas wedhus gembel melintas diatasnya. Terlalu terbuka dan tampaknya tidak aman untuk berlindung dari sengatan hawa panas wedhus gembel.

LAHAR DINGIN
Sebentar kemudian kami berbalik arah, maunya mencari Gardu Pandang Merapi Trumpon. Tetapi kami masuk ke jalur jalanan desa dan menuju ke Kali Putih. Jembatannya hancur terkena lahar dingin dan Kali Putih terisi penuh oleh pasir sampai rata dengan pemukaan jembatan. Padahal melihat bentuknya, jembatan ini pasti jauh tinggi diatas permukaan air sungai.

Kali Putih yang dulu curam, sekarang tertutup pasir lahar dingin Merapi

Sejenak kami berhenti dan tanpa sadar melafazkan istighfar. Subhanallah … Sungguh luar biasa kekuatan yang melalui Sungai Kali Putih ini. Kekerasan alam yang kontras dengan sekelilingnya.\

Di depan kami melintas dua orang ibu-ibu yang memanggul rumput, seorang nenek yang sudah bongkok menggendong kayu bakar dan seorang kakek tampak masih tegar menyunggi kayu bakar di kepalanya. Khas perjuangan hidup di desa yang keras, tetapi damai dan tenteram.
Kedamaian yang membuat kami menundukkan kepala dan merenung. Sebentar kemudian kami segera berlalu, menuruni jalan kembali dan mencari lokasi Gardu Pandang Merapi Trumpon. Seorang kakek meluncur dengan sepeda tuanya menuruni jalanan. Rekan saya neyeletuk : “Keren … down hill !”

Dan di sebuah tikungan kami berhenti. Papan tanda Gardu pandang Trumpon katanya rusak terkena gempa, pantas saja nggak ditemukan!. Bowo memarkir mobil di halaman gedung bangunan, dan kami masuk dengan berjalan kaki. Kira-kira 800 meteran, ada bangunan berwarna putih bertingkat 3. Sayang pintu tangga keatasnya digembok, jadi kami nggak bisa naik ke atas.

Jadi itulah Menara Pandang Gunung Merapi di desa binaan Telkom, terletak di dukuh Salam Trumpon, Desa Merdikorejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman. Dari sini Gunung Merapi mestinya jelas kelihatan, sayang tertutup awan. Ada beberapa gazebo terbuat dari tembok dan atapnya dicat hijau. Sebuah halaman luas ditengahnya. Hanya saja kayaknya tidak terawat dengan baik.

Dalam perjalanan pulang kami melewati kebun salak yang sedang panen. Beberapa pekerja tampak sedang bekerja memanen salak. Di sebuah toko di pinggir jalan Bowo berhenti dan saya membeli salak sekedar untuk oleh-oleh di rumah.

Sungguh ternyata Yogya masih menyimpan banyak keanehan dan tempat-tempat yang belum diketahui secara luas. Dan tinggal kemauan dan kejelian kita untuk mencari dan menemukannya.
Sumonggo …


Responses

  1. -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ jd banyak tau tentang yogyakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: