Posted by: Heru Legowo | October 10, 2012

Gapura di Puncak Lawu


Adella sebelum pendakian

Wafatnya Wakil Menteri ESDM Prof. Widjajono Partowidagdo, di puncak Tambora 2.815 M pada tanggal 21 April 2012 menjadi perhatian, tetapi tidak menyurutkan niat kami untuk naik ke Puncak Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Waktu pendakian memanfaatkan libur Waisak 17 Mei dan libur bersama 18 Mei 2012. Terimakasih kepada Google, data dan informasi mengenai Gunung Lawu dapat diperoleh dengan mudah dan akurat.

Ada 2 jalur naik ke Puncak Lawu, melalui Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Ke dua gerbang naik itu, terletak di tikungan tepi jalan antara Tawangmangu ke Sarangan, jaraknya terpisah hanya ratusan meter saja, dekat. Menurut Google jalur Cemoro Kandang lebih landai, masih alami dan waktu tempuhnya lebih lama, sedangkan jalur Cemoro Sewu lebih terjal sudah diberi batu-batu;  jaraknya lebih pendek sehingga dapat cepat sampai ke puncak.

Melalui pertimbangan masak, kami memilih naik melalui Cemoro Kandang. Dan ternyata ini menjadi pilihan yang tepat, karena jika naik dari Cemoro Sewu barangkali sebagian besar peserta tidak mampu sampai ke puncak. Treknya terjal dan berbatu-batu yang menghabiskan tenaga, butuh berkonsentrasi penuh dan tidak boleh lengah sedikit pun.

Jadilah, rendezvouz point di Cemoro Kandang. Hari Jumat pagi kami berangkat dari Yogya dan 5 orang rekan dari Surabaya akan bergabung. Shalat Jumat di masjid kecil An Nuur di pinggir jalan Cemoro Sewu. Setelah makan siang di warung Cemoro Kandang, kami bersiap melakukan pendakian. Semuanya 23 orang, termasuk 3 orang porter Jontit, Aji dan Lekuk. Saya yang tertua dan yang terkecil Adella Sekar Kinasih 10 tahun. Dia ikut sebagai penggembira dan rencananya hanya akan ikut sampai Pos 2 atau Pos 3, terus berhenti dan menunggu di tenda.

Cemoro Kandang – Start awal Pendakian

Dimulai berdoa bersama, jam 14.25 rombongan berangkat meninggalkan Cemoro Kandang di ketinggian 1.830 M. Udara terasa segar dan cerah. Trek menuju ke Pos 1 relatif masih rata. Pohon rimbun di sepanjang jalan, sesekali ada tanjakan yang diberi kayu untuk menahan longsor.

POS 1 TAMAN SARI BAWAH 2.300 M

Jam 4 sore kami tiba di Pos 1 Taman Sari Bawah 2.300 M, berupa pondok kecil yang sederhana. Istirahat sejenak disini, minum air dan makanan kecil. Adella peserta terkecil, masih tertawa-tawa, bercanda dan sibuk memotret kesana kemari.

Setengah jam berjalan, trek berubah menjadi lebih menanjak. Setelah satu jam lebih mendaki, awan mulai menutup langit. Suara titik hujan mengenai dedaunan, dan suara gerimis terdengar dari kejauhan. Saya mempercepat langkah, kehujanan di gunung di ketinggian 2.400 M pasti bakal dingin sekali. Cuaca kering saja dingin, apalagi hujan!

Di Pos Taman Sari Bawah

Dan apaboleh buat, hujan lebih cepat datang sebelum sempat memakai jas hujan. Dan trek menjadi licin dan menjadi jalan air yang turun deras dari atas! Sepatu pun basah. Hujan deras sekali. Saya tercecer di belakang, berusaha memercepat langkah. Apalagi kemudian cuaca gelap. Harus dibantu senter kepala, agar dapat melihat trek dengan baik. Ini sungguh pengalaman baru yang luar biasa.

POS 2 TAMAN SARI ATAS 2.430 M

Jam 18.30 sampai di Pos 2 Taman Sari Atas 2.430 M. Adella sudah lebih dulu sampai bersama rekan-rekan yang lain, berjejal masuk di shelter Pos 2 yang berukuran kira-kira 4X3 M. Para peserta tampak tunduk dan lesu. Kami memutuskan istirahat di sini, pasang tenda dan bersiap masak makan malam. Saya perhatikan satu per satu para peserta, dan mencoba mengukur semangat mereka, seraya berdoa dalam hati mudah-mudahan mereka masih sehat dan tegar.

Melihat kondisi para peserta, saya berfikir keras. Ini situasi yang tidak bagus, dan akan sangat mempengaruhi semangat peserta. Sebaiknya beristirahat lebih lama di sini. Dua tenda didirikan. Setelah makan malam spagheti dan kornet, kami beristirahat. Sebagian tetap di ruang Pos 1 yang lantainya basah. Dan mereka tidak peduli dan tetap tidur diatasnya, setelah diberi alas. Disini baru terasa pentingnya peralatan mendaki yang memadai.

Pos 1 bersiap untuk terus ke Pos 2

Jam 1 malam, di kejauhan suara angin terdengar keras sekali seperti suara kereta api, gemerasak dan mendirikan bulu roma. Suara angin sedikit menyurutkan semangat, dan membuat meringkuk semakin dalam ke sleeping bag. Tangan terasa kebas, dingin sekali. Sebenarnya saya tidak bisa tidur. Sebentar-sebentar terbangun selain karena dingin juga dibayangi was-was bagaimana caranya menjaga semangat peserta untuk terus bertahan? Dan ternyata prediksi saya benar, sebagian besar mereka sudah berniat untuk turun besok pagi.

Setelah sarapan dan berkemas, ternyata 11 orang memutuskan terus naik ke puncak, 6 orang turun kembali ke bawah. Alhamdulillah ketika mental jatuh, dibutuhkan motivasi untuk menjaga semangat. 3 orang porter akan terus mendampingi tim. Adella ternyata ngotot dan tetap ingin ikut ke puncak.

Jam 7.10 pagi, hari kedua Sabtu 19 Mei 2012 tim mulai bergerak naik. Cuaca  terang, udara tidak terlalu dingin dan matahari masih berada dibalik punggung gunung. Trek berupa tanah dan tidak terlalu menanjak, menyelusuri punggung gunung. Disebelah kiri adalah tebing dari jurang yang tidak keliatan bawahnya karena ditumbuhi pohon dan belukar. Barangkali mirip dengan lokasi jatuhnya Sukhoi Superjet 100. Ini trek yang tidak susah, tetapi panjang.

Pos 3 – pemandangan keren … masih semangat terus ke atas puncak

Jam 10.40 kami sampai di Pos 3 Penggik 2.780 M, berupa bangunan berdinding seng di cat merah jingga. Istirahat dulu sebentar, menarik nafas dan menetralkan detak jantung. Di Pos 3, saya mulai merasa kepayahan. Jadi teringat Wakil Menteri ESDM, Prof. Wijajono Partowidagdo. Saya menarik nafas panjang dan memeriksa kondisi tubuh. Rasanya baik-baik saja.

Jam 11.25 kami terus bergerak naik, 200 meter setelah Pos 3, ada sebuah mata air. Saya mengambil airnya meneguknya dengan tangan. Segar sekali rasanya. Saya ambil botol aqua kecil dan mengisinya. Trek dari pos 3 berbatu dan cukup variatif, ada yang rata dan juga yang terjal. Saya melangkah penuh perhitungan, mengatur nafas dan beristirahat. Ini benar-benar trek terberat bagi saya, rasanya tidak sampai-sampai.

POS 4 COKRO SURYO 3.025 M

Jam 12.30 kami sampai di Pos 4 Cokro Suryo 3.025 M. Pos 4 berdinding batako. Teman-teman yang lebih dulu sampai, beristirahat dibawah rindangnya sebuah pohon besar. Ada yang tertidur. Di pos 4 ada dua buah makam pendaki. Di pahatan marmernya tertulis M. Darwin lahir 6 Januari 1956, meninggal 30 Januari 1985 (29 tahun) dan Purwanto Champos lahir Jakarta 7 Desember 1978, meninggal 12 Maret 1998 (20 tahun). Semoga Allah Swt melapangkan jalan bagi mereka berdua. Amin.

Pos 4 – point of no return ketika fisik & mental berada pada titik terendah

Sambil berbaring diatas rumput, saya dengar ada yang berteriak: “Puncak tinggal 3 km lagi!” Hanya saja, diatas sini masalahnya bukan jarak, tetapi waktu. Berapa jam untuk jarak 3 km? Cahyo bilang, kira-kira 1.5 jam, tetapi untuk saya berarti 2 kali lipatnya. Di pos 4 ditentukan setelah puncak, turun melalui Cemoro Sewu, dan tidak kembali ke Cemoro Kandang. Saya tetap berbaring mengumpulkan tenaga.

Jam 13.00 kami meninggalkan Pos 4 Cokro Suryo, berjalan perlahan menguatkan semangat dan menghimpun tenaga. Ini titik balik, saya harus melaluinya dengan baik. Kami bertemu pendaki yang turun, mereka bilang puncak tinggal beberapa jam lagi dan ini membuat semangat naik kembali. Mereka menunjuk sebuah puncak dimana ada bendera merah putih diatasnya. Itulah Puncak Hargo Dumilah, dari kejauhan sini tampaknya dekat saja.

Pemandangan cantik ke Pos 3

Setelah berjalan sekitar 1.5 jam kami sampai di sebuah pertigaan. Ke kanan ke Puncak Hargo Dumilah, terus kearah kiri ke Hargo Dalem dan Warung Mbok Yem. Nah inilah ajaibnya Gunung Lawu, dipuncaknya ada sebuah warung! Mendengar ada warung, semangat kembali berkobar, sebentar lagi akan sampai bisa sedikit istirahat dan minum teh hangat.

POS 5 HARGO DALEM

Di Pos 5 ada bangunan makam, saya ikuti tangganya dan naik keatasnya. Dan di ujung tangganya terletak sebuah makam. Ada lukisan Semar di sebelah sisi kirinya dan di belakangnya ada 3 buah lambang dengan tulisan Jawa. Konon menurut ceritera, disitulah Prabu Bhrawijaya ke 5, Raja Majapahit moksha.

Alkisah putera Sang Prabu, yang bernama Raden Patah yang juga menantu Sunan Ampel; mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak. Sang Prabu mendapat firasat bahwa masa kejayaan Majapahit akan berakhir, maka beliau mengajak pembantunya Sabda Palon naik ke puncak Gunung Lawu. Ditengah jalan Sang Prabu bertemu kepala dusun dan pembantunya, Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Ke dua orang itu ikut mengantar Sang Prabu ke puncak. Sang Prabu berpesan kepada Dipa Menggala untuk mengurus semua mahluk ghaib Gunung Lawu, Gunung Merapi, Merbabu dan sekitarnya sampai gunung Wilis, dan mengangkatnya sebagai Sunan Gunung Lawu, dan Wangsa Menggala sebagai patihnya bergelar Kyai Jalak.Sang Prabu Bhrawijaya akhirnya moksha di Hargo Dalem, dan abdinya Sabda Palon juga moksha di Hargo Dumiling. Kedua pembantunya Dipa Menggala dan Wangsa Menggala karena kesaktiannya akhirnya berubah wujud menjadi makhluk ghaib, dan konon tetap menjalankan tugasnya menjaga wilayah Gunung Lawu sampai sekarang.

Pos 5 Hargo Dalem – disini dipercaya Prabu Barwijaya V moksha. Ada makam yang di depannya terpampang Gambar Ki Lurah Semar

Saya turun dan rekan-rekan sudah berkumpul di depan warung Mbok Yem. Warung itu berupa los panjang dan tertutup rapat. Saya masuk dan berbaring di lantai warung yang sudah diubah menjadi tempat tidur beralaskan tikar yang digelar diatasnya. Sungguh nyaman berbaring dan meluruskan kaki, setelah sejak jam 7 pagi tadi terus berjalan. Segelas teh hangat manis, terasa sungguh nikmat sekali. Makan siang berupa nasi, dengan telur ceplok dan sayur tidak mengundang selera, saya hanya makan beberapa sendok sekedar mendapatkan tenaga tambahan saja.

Setelah istirahat sebentar, kami segera bersiap untuk pendakian terakhir ke puncak. Tas punggung dan bawaan lainnya ditinggal sementara di Warung Mbok Yem. Ternyata treknya terjal karena ini short cut langsung ke puncak. Kemiringannya hampir 70 derajat! Berat, tetapi semangat kami tinggi. Setiap 20 langkah saya berhenti, menarik nafas dan mengistirahatkan kaki. Dari atas sini warung mbok Yem tampak kecil berdampingan dengan bangunan dari Keraton.

 

PUNCAK LAWU HARGO DUMILAH 3.265 M

Alhamdulillah, jam 4 sore setelah 7 jam mendaki yang menguras tenaga dan mental akhirnya kami tiba di Puncak Gunung Lawu Hargo Dumilah 3.265 M. Beberapa pendaki sudah disana, bahkan ada yang memasang tenda. Di sebuah pojok ada semacam lumpang batu yang lubangnya terisi air. Jontit bilang lumpang itu selalu berisi air walaupun musim kering, entah benar atau tidak!

Akhirnya … Puncak Lawu Hargo Dumilah … Alhamdulillah

Di puncak Puncak Hargo Dumilah ada sebuah tugu batu. Dan sebuah bendera merah putih berkibar diatasnya. Luas puncaknya sekitar 10 meter persegi. Beberapa pohon kecil masih tumbuh di puncaknya. Di arah barat ada sebuah tebing yang menjorok. Dan beberapa puncak berada dibawah kami.

Akhirnya Adella sampai juga di Puncak Lawu

Berada di tempat tertinggi, selalu memberikan sensasi tersendiri. Di ketinggian ini memberi kesadaran, bahwa dihadapan Sang Khalik manusia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Subhanallah …

Langit cerah, matahari bersinar terang. Pendakian yang cukup fenomenal, terutama bagi Adella. Barangkali Adella adalah pendaki termuda yang sampai di puncak Hargo Dumilah. Kami ber-11 : Tri Wibowo, Bahrul Rahmantono, Eddy Natalianto, Iswanto, Muchtarom, Reny Jusniawati, Bangun cahyo, Alwan, Yusuf Supriyadi, Akbar Ainur pamungkas, Adella Sekar Kinasih dan saya; selamat sampai di Puncak Gunung Lawu. Alhamdulillah …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: