Posted by: Heru Legowo | December 4, 2012

Mencapai Puncak Batur Bali


Gunung Batur Bali

Gunung Batur Bali

Kintamani adalah salah satu tujuan wisata utama Bali. Daya tariknya yang utama adalah danau Batur yang cantik, yang diapit oleh Gunung Abang disebelah kanan dan Gunung Batur di sisi kirinya. Kintamani dikelilingi 6 desa Bali yang dipercaya sebagai salah satu wilayah dari Bali Age, Bali Age adalah Bali Permulaan yang tidak dipengaruhi oleh Budaya Jawa. Desa-desa itu adalah Kedisan, Buahan, Abang, Trunyan, Songan dan Sukawana. Salah satu bukti peninggalan Bali Age adalah Pura Penulisan di Puncak Penulisan. Tidak seperti kebanyakan pura di Bali, Pura Penulisan tidak memiliki Meru, bentuk atap yang bertumpuk keatas yang dipercaya sebagai bagian dari budaya Jawa. Jadi Pura Penulisan benar-benar khas dan spesifik Pura Bali.

Kintamani benar-benar eksotis karena selain memiliki Danau Batur danau terbesar di Bali, juga punya Gunung Batur. Paduan antara gunung dan danau ini menjadikan Kintamani menjadi tujuan wisata istimewa dan pasti selalu berada dalam daftar kunjungan wisatawan.

Kintamani berjarak kira-kira 60 km dari Denpasar, jika situasi jalan lancar dan tidak macet, Kintamani dapat dicapai dalam waktu 2 jam. Bila anda singgah di Kintamani, dari Penelokan atau ditepi Danau Kintamani maka Gunung Batur tampak terlihat menjulang didepan mata. Pemandangan di Kintamani yang terbaik biasanya antara jam 10.00 sd 15.00, diluar jam-jam tersebut biasanya Gunung Batur diselimuti awan atau terhalang kabut sehingga menghalangi pandangan.

Baskoro1

Pak Padang Baskoro sampai di Puncak Pertama

Puncak Gunung Batur tampak terbelah, menunjukkan dulunya pasti terjadi letusan gunung yang sangat besar, sehingga membuat puncaknya lenyap dan bentuknya menjadi seperti sekarang ini. Melihat kondisi alamnya, barangkali dulu kala Kintamani mirip dengan Segara Anakan di Gunung Rinjani di Lombok. Gunung Batur itu mirip dengan Gunung Barujari yang seakan muncul dari dasar Segara Anakan.

Gunung Batur sudah pernah meletus sebanyak 24 kali sejak tahun 1800 dan masih aktif sampai dengan sekarang. Salah satu kaldera Gunung Batur adalah Danau Batur, letaknya di sebelah tenggara dengan area  seluas 10 X 13 Km. Kaldera lainnya seluas 7.5 kilometer berada didekat Gunung Batur. Sedangkan desa yang berada di dekat puncak adalah desa Songan dan Toyabungkah. Penduduknya  mendapat nafkah dari bertani juga dari pariwisata trekking yang semakin populer, karena adanya trek langsung menuju ke puncak Batur

Sunrise at Mt Abang

Matahari terbit di sisi Gunung Abang, di sisi kanan yang kelihatan tipis adalah Gunung Agung

Setiap kali memperhatikan Gunung Batur yang menjulang disebelah danau, dan membayangkan indahnya danau Batur dari atas sana, mendorong saya ingin melihat danau Batur dari puncaknya. Dan saya beruntung mendapat dukungan rekan-rekan di Bali yang tergabung dalam Gapura Angkasa Biker Community Chapter Bali. Jadilah saya bersama mereka menuju ke Kintamani dan mendaki ke puncak Gunung Batur.

Malam itu, kami meninggalkan Denpasar dan menuju ke Kintamani. Kami menginap di Puri Bening, yang terletak di tepi Danau Batur. Jaraknya lebih kurang 65 km dari Denpasar. Jumlah peserta 43 orang semuanya, bersama bikers dari Gapura Angkasa Cabang Bali. Sebagian yang memutuskan tidak ikut naik ke puncak Gunung Batur, membuat api unggun di tepi danau Batur dan menikmati keindahan alam.

Masyarakat Hindu-Bali memiliki filosofi Tri Hita Karana, bahwa manusia hidup mesti menjaga tiga hubungan utama. Pertama, hubungan dengan Sang Pencipta, kedua hubungan dengan manusia dan hubungan dengan alam. Dan kali ini mereka sedang mempraktekkan hubungan yang ketiga, yaitu hubungan manusia dengan alam semesta.

Gunung Abang pada pagi dini hari

Gunung Abang pada pagi dini hari

Jam 04.30 pagi kami mulai bergerak, pemandu kami Ketut Mula sudah menjadi pemandu sejak tahun 1997. Menurut dia, dulu yang naik ke Puncak Batur kebanyakan adalah wisatawan asing, 95% orang bule. Tetapi sekarang wisatawan domestik mulai banyak mendaki ke puncak. Jumlah pendaki wisatawan domestik sudah mencapai sekitar 20 %, berarti kami termasuk dalam kelompok itu.

Dari Puri Bening tempat kami menginap, ada beberapa jalur naik. Untuk menyingkat waktu dan mengingat beberapa dari kami belum pernah mendaki, kami memilih jalur terpendek. Ketut Mula membawa kami melalui jalur Pura Jati. Sebagian besar dari kami adalah para biker, mereka naik motor dari Denpasar ke Kintamani. Usul Ketut Mula menjadi menarik, kami bisa naik motor lebih dahulu ke lokasi terdekat, baru kemudian naik berjalan kaki. Ide yang bagus. Sebelum berangkat kami berdoa bersama, 18 orang semuanya.

MULAI MENDAKI

Kami naik motor menuju jalur pendakian Pura Jati. Sebelum masuk jalur kami membayar biaya di loket restribusi terletak didekat sebuah perempatan jalan. Setelah membayar kami belok ke kanan, menyusuri jalan yang masih dapat dilalui motor. Setelah + 2 km di tepi trek kami memarkir motor dan mulai mendaki. Bulan masih terang mengambang di ufuk barat dan beberapa bintang masih terang berkerlap-kerlip.

Trek naik nafas sudah pendek, tapi kalau lagi difoto nampang dah dul;u dah

Trek naik nafas sudah pendek, tapi kalau lagi difoto nampang dah dulu dah

Pada awalnya trek berupa jalan yang rata, tampaknya memang disiapkan penduduk atau oleh desa. Saya merasa, bahwa penduduk sekitar Kintamani pasti sangat sadar bahwa pariwisata menjadi salah satu mata pencaharian selain pertanian. Setelah menapaki jalan yang relatif rata, kami mulai menapaki trek yang menanjak. Bulan purnama baru lewat 2 malam yang lalu, sekarang bulan masih cukup bundar dan cahayanya kekuningan menambah keheningan suasana dini hari. Gunung Abang terlihat remang-remang di sebelah kanan kami, dan beberapa lampu penduduk tampak bersinar dibawahnya.

Bebeberapa saat berjalan nafas mulai terengah-engah, beristirahat sebentar. Sambil menunggu nafas longgar, teman-teman belajar memotret Gunung Abang dengan teknik low light. Ternyata agak susah, karena nafas tidak mau berkompromi untuk menahan shutter speed lebih dari 15 detik! Tapi setelah melihat hasilnya, amazing! Boleh juga.

Trek yang menghabiskan nafas dan tenaga

Trek yang menghabiskan nafas dan tenaga

Kami terus berjalan dan ketika memandang, keatas lampu senter yang dibawa pendaki didepan kami tampak bersinar menyala dan mati bergantian. Dari nyalanya kami memperkirakan jalan yang akan kami lalui. Dua orang bule, Red bersama teman wanitanya yang berkaus merah dari Australia, berjalan melewati kami,. Saya melihat Red sudah kepayahan, kayaknya tidak bakal kuat ke puncak. Dan benar saja dia berhenti sejenak dan saya mengajaknya berfoto. Red berasal dari Victoria Australia, sudah seminggu di Bali dan masih akan tinggal seminggu lagi.

Red from Victoria Australia

Red and his girl friend in red, from Victoria Australia

Ketika matahari mulai terang, seorang bule setengah baya berjalan pasti dengan memegang tongkat di kedua tangannya. Dia berasal dari Toronto Canada, tanpa ditanya dia menjelaskan suaminya berada dibelakangnya. Dia mengatakan dengan bangga sudah mendaki ke Lempuyang di Bali Timur, katanya mereka berdua harus menaiki 1700 tangga batu, sebelum sampai di puncak Lempuyang. Bule itu terus berjalan. Sebentar kemudian, Red turun bersama pacaranya. Ternyata benar perkiraan saya, stamina Red tidak cukup prima untuk terus ke atas dan akhirnya dia turun lagi kebawah.

Diam-diam saya memperkirakan trek terjal yang menuju ke Puncak. Kemiringannya sekitar 60-70 derajat. Treknya berubah menjadi batu gunung. Mesti lebih berhati-hati melangkah, dan mencari pijakan kaki. Matahari pun mulai tinggi dan bersinar terang dan sinarnya hangat menerpa kulit.

Sunrise

Sunrise di tengah trek menuju ke Puncak Batur

Kami terus berjalan, mengatur langkah, menghela nafas di udara yang mulai tipis. Dari bawah sini, sayup-sayup suara teriakan rekan-rekan yang sudah dulu sampai di puncak membuat kami lebih bersemangat. “Ayo tinggal 5 menit lagi” saya selalu bilang begitu kepada rekan-rekan, Betapa pun lama dan jauhnya, pokoknya 5 menit lagi aja deh!

PUNCAK PERTAMA

Jam 06.45 kami sampai di puncak pertama Gunung Batur dan Gunung Abang di depan kami. Matahari sudah agak tinggi diatas sebelah kiri Gunung Abang ketika kami sampai. Sayang tersaput awan tipis, sehingga tidak begitu jelas sunrise yang dinantikan pada saat matahari muncul dari balik Gunung Abang. Di puncak sini situasnya mirip dengan Gunung Tambora di Sumbawa. Yang membedakan ada beberapa warung diatas puncak disini, dan di kawah Tambora tidak ada danaunya, hanya ada genangan air didasar kawahnya.

Monyet di Puncak Pertama menunggu makanan

Monyet di Puncak Pertama menunggu makanan

Didepan kami Danau Batur danau terbesar di Bali tampak memanjang, hanya saja sisi danau Batur sebelah kiri tidak tampak, karena terhalang puncak lain di sebelah kiri. Danau Batur tampak biru kehitaman dibawah bayangan Gunung Abang, danau itu menjadi sarana irigasi dan sumber air bagi  petani di sekitarnya dan barangkali juga bagi Bali. Dari ketinggian sini, dapat dimengerti mengapa Kintamani menjadi terkenal sebagai tujuan wisata, udara yang sejuk dan pemandangan yang bervariasi antara gunung dan danau, sungguh eksotis.

Di sebelah kiri puncak ini, masih ada puncak lagi sekitar 500 meter lebih tinggi. Istirahat dulu sejenak disini dan rekan-rekan kami berfoto dengan berbagai gaya. Saya memperhatikan sekeliling. Di belakang kami ada asap yang keluar dari kawah di bawah, berarti ada kawah disitu. Ngopi dulu deh. Penjualnya perempuan yang masih muda namanya Ketut Depi dari Toyabungkah. Dia mulai naik jam 4 pagi, dan jam 9 sudah turun lagi ke bawah. Satu gelas plastik kopi panas, harganya Rp. 5 ribu. Di puncak sini, seteguk kopi panas terasa sungguh sangat segar dan membangkitkan semangat.

Setelah beristirahat sebentar dan mengambil foto-foto kami segera bergerak lagi ke puncak di sebelah. Dari pondok tempat istirahat di puncak pertama, kami berjalan pada trek yang menurun menuju ke kawah Batur. Kemudian dari kawah, treknya mendaki hampir tegak menuju ke puncak.

Puncak pertama semakin kecil dari trek ke puncak

Puncak pertama semakin kecil tampak dari trek ke puncak

Dasar kawah kira-kira 100-200 meter dari tepi atas gunung. Di tebing-tebingnya keluar asap hanya saja bau belerangnya tidak begitu menyengat, bahkan nyaris tidak berbau. Di tepi kawah, seorang pemandu wisata sedang menjelaskan sesuatu kepada para turis perempuan yang mengelilinginya. Seorang dari mereka berdiri dekat saya, tampaknya takut kepada kera-kera kecil yang tampak agresif menunggu makanan yang diberikan. Banyak kera di puncak. Kera-kera itu bergerombol jumlahnya puluhan dan sangat aktif. Kelompok kera itu kadang-kadang berani merebut makanan yang sedang kita pegang. Seorang bule perempuan berteriak-teriak karena seekor kera kecil melompat dipunggungnya. Ternyata bule itu memegang makanan ditangannya, kemudian setelah makanan dibuangnya, maka kera pun turun dan tidak lagi mengikutinya.

Trek dari Puncak Pertama menuju ke Puncak Tertinggi

Trek dari Puncak Pertama menuju ke Puncak Tertinggi

Saya kembali konsentrasi menyimak apa yang diterangkan si pemandu wisata dan ikut mendengarkan si pemandu wisata yang sedang menunjuk ke bawah kawah. Ternyata dibawah sana ada seekor kambing berbulu hitam yang masih hidup! Kok bisa ada kambing dibawah sana? Kemungkinan kambing itu adalah persembahan pada acara adat Pekelem. Alih-alih mati, kambing itu sampai sekarang masih hidup. Kasihan juga. Saya bilang, mestinya dilepaskan lagi kambing lain, agar kambing hitam itu tidak sendirian didasar kawah sana dan juga bisa berkembang-biak disitu. Sekedar saran, tapi sulit dilakukan.

PUNCAK BATUR

Kami terus bergerak ke puncak, 11 orang semuanya. Yang 7 orang tinggal di puncak tampak sadar mengukur kekuatan, dan merasa cukup sampai disitu. Trek keatas puncak, bervariasi batu dan pasir, semakin ke atas semakin berpasir. Matahari mulai tinggi dan terasa hangat, kami berkonsentrasi penuh agar tidak terpeleset karena trek yang berpasir. Perlahan tetapi pasti, kami menggunakan metode kami sendiri TSTS : ten step, ten stop! Berjalan sepuluh langkah dan berhenti untuk sepuluh tarikan nafas, terus jalan lagi. Terus begitu. Ritmis perlahan dan pasti.

Trek ke puncak, berpasir dan melorot kalau tidak hati-hati

Trek ke puncak berbatu dan berpasir dan melorot kalau tidak hati-hati

Saya bilang kepada rekan-rekan, alon-alon waton kelakon. Yang penting kelakon meskipun alon-alon! Beberapa tampak sudah sangat kepayahan dan mau menyerah, ternyata metode TSTS berjalan dengan baik. Perlahan tetapi pasti, kami berjalan eh lebih tepatnya merambat ke puncak! Ada seekor anjing kecil berwarna hitam mulus yang mengikuti kami sejak dari Puncak Pertama. Kalau kami berhenti dia ikut berhenti dan mengamati dari jauh, anjing itu setia berjalan didepan atau disamping kami.

Akhirnya, jam 07.15 kami tiba di puncak Batur 1.717 M diatas permukaan laut. Berarti setelah 2 jam 45 menit kami mencapai puncak. Saya memandang bekeliling. Danau Kintamani terlihat jauh dibawah. Sayang matahari sudah tinggi sehingga sinarnya menyilaukan mata. Sinarnya terlalu terang, mestinya lebih pagi ke sini. Ada 2 buah warung yang kosong, penjualnya mungkin sudah turun.

Ada sebuah papan kayu berwarna coklat yang dibuat oleh Hotel Adi Dharma : Congratulation. You reach the peak of Mt. Batur-Bali. Saya bertanya kalau begitu, kami juga boleh memasang logo perusahaan disini? Ketut Mula menjelaskan bahwa itu sudah menjadi masalah dan dia salah satu yahg diminta untuk mencabut papan itu! Tidak tahu mengapa, sampai sekarang masih ada. Semestinya yang membuat papan itu adalah pemerintah atau desa setempat. Bagaimana pun papan itu, akan menjadi obyek foto yang otentik dan menarik!

Tebing Puncak Gunung

Tebing di Puncak Gunung Batur … butuh waktu 2 jam 45 menit

Di depan mata, dibawah kami sungguh sebuah lukisan alam yang eksotis. Dari puncak sini Danau Batur kelihatan dari ujung yang satu ke ujung lainnya. Sayangnya danau tertutup bayangan Gunung Abang, jadi agak berwarna biru ke hitaman. Di ujung pandangan dibalik Gunung Abang sebelah kanan, bayangan Gunung Agung tampak samar-samar, dinding gunungnya hampir berimpitan dengan Gunung Abang. Jadi hanya tampak sedikit saja. Saya membayangkan ketika dulu sempat berada dipuncak Gunung Agung 9 tahun yang lalu, tempat tertinggi di Pulau Bali!

Angin berembus perlahan sejuk sekaligus hangat karena sinar matahari yang sudah mulai tinggi. Akhirnya setelah mengerahkan tenaga, mengatur nafas dan menguatkan semangat, sampai juga kami 11 orang sampai dipuncak Gunung Batur ini. The eagle has just landed!

Jam 07.45 setelah setengah jam berada di puncak kami, segera turun kembali. Tidak disarankan berlama-lama di puncak. Selain awan yang kemungkinan menutup puncak, juga harus memperhitungkan sinar matahari yang menyengat pada waktu turun nanti. Ketika kemudian awan bergerak menutupi puncak kami bergegas turun.

Matahari terbit disisi kiri Gunung Abang

Akhirnya tibalah kami di Puncak Batur … Matahari terlalu terang dan beberapa hari tidak hujan di Bali

Sebenarnya kami merasa sayang meninggalkan puncak terlalu cepat, setelah pendakian yang menguras tenaga dan semangat. Mengalami sendiri dan melihat sendiri keindahan ini, pantaslah jika tanggal 20 September 2012 UNESCO menentukan Kaldera Gunung Batur sebagai bagian dari jaringan dunia Taman Bumi, Global Geopark Network. Batur selain indah, juga menyimpan sejarah geologi yang menarik untuk dikaji lebih lanjut lagi. Dan para geologist pasti sangat tertantang untuk membuka misterinya.

Menuruni trek berpasir gampang-gampang susah. Saya meluncur turun pada trek yang berpasir, sambil menjaga keseimbangan badan agar tidak terjungkal. Anjing kecil berwarna hitam masih juga setia mengikuti kami, berjalan di depan dan kadang-kadang disamping kami. Mungkin anjing itu terus mengharap, kok tidak kunjung diberi makanan dari tadi? Sebentar kemudian kami bergabung kembali dengan teman-teman yang menunggu di Puncak Pertama. Ketut Depi menyiapkan kopi yang terasa sungguh sangat istimewa di ketinggian puncak ini. Kopi yang paling nikmat didunia!

Eka1

The Eagle has just landed

Pendakian yang manis. Berada di Puncak Batur sebenarnya sudah lama menjadi target saya, kira-kira 5 tahun yang lalu. Sekarang akhirnya tercapai juga, saya benar-benar disini, di puncak Batur. Dan yang penting lagi, saya berhasil mencoret satu lagi “tempat yang wajib dikunjungi” pada daftar catatan saya. Semoga memberi berkah bagi semua yang mengikuti pendakian dan juga yang membaca tulisan ini.


Responses

  1. Nice Post Pak….sangat terkesan dengan perjuangan mencapai goalnya

  2. mantaaaapppppp

  3. Waaaoooowww… Kereeennn abiiiisss… Top bangeeett!!

  4. kereeeen….. ! untuk medan uji nyaliiii !

  5. Unforgetable…mantapppp…kuerennn….hope to see on next mission..

  6. Woww kereeen n sangat menantang dan butuh stamina dan tekad yang kuat

  7. Nice Post….top abis dah!. perlu diikutin nih perjalanannya.
    Moga2 Pak Baskoro gak keberatan menemani lagi.

  8. menakjubkan…ditunggu rute selanjutnya….

  9. astungkara,, terima kasih atas pengalamannya , sehingga saya dapat menerapkan ajaran Tri Hita Karana sesungguhnya… wait for next experience


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: