Posted by: Heru Legowo | December 7, 2012

BADUY Masa Silam Yang Bertahan (1)


Sangsang warga Baduy Dalam

Sangsang warga Baduy Dalam

Baduy, ketika menyebut nama itu terbersit kelompok yang masih tradisional dan menjaga ketat adat-istiadatnya. Masyarakat Baduy bermukim di selatan Ciboleger sekitar 45 km disebelah selatan Rangkasbitung, Jawa Barat, lebih kurang 135 km dari Jakarta. Desa Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, adalah terminal wisata Baduy yang dibuka tahun 1992 dan tempat terakhir kendaraan. Pintu masuk utama menuju Baduy Dalam adalah Desa Kanekes di Baduy Luar. Jalur lain adalah melalui Cijahe lebih mudah karena treknya relatif lebih datar dan tidak terlalu terjal dan jaraknya hanya sekitar 4 km, sehingga waktu tempuh yang lebih cepat menuju ke Kampung Cibeo.

Suku Baduy tinggal di kampung-kampung di ketinggian 500-1.200 meter di atas permukaan laut dan berada di Pegunungan Kendeng yang merupakan daerah hulu sungai Ciujung. Mereka dikenal sebagai suku yang sangat kuat dan konsisten mempertahankan tradisinya, Sunda Wiwitan. Pada jaman teknologi yang canggih ini, keberadaan suku Baduy terus mengundang keingin-tahuan masyarakat modern. Bagaimana mereka mempertahankan keyakinan dan tradisinya ditengah teknologi digital dan wireless ini?

 Selama ini keberadaan suku Baduy menjadi misteri dan mitos, terutama bagi saya pribadi. Banyak cerita berkembang, bahwa suku Baduy adalah masyarakat yang terisolir masih sangat tradisional dan memegang teguh adatnya Sunda Wiwitan dengan kuat. Suku Baduy terdiri dari Baduy Luar, Baduy Dalam. Baduy Luar sudah lebih berinteraksi dengan dunia luar, berpakaian hitam-hitam dan boleh menggunakan kendaraan. Sementara Suku Baduy Dalam lebih kuat menjaga adatnya. Mereka berpakaian putih-putih dan tidak boleh menggunakan kendaraan, kemana-mana harus berjalan kaki telanjang dan tidak menggunakan alas kaki. Aturan adat sangat kuat dijaga oleh masyarakat Baduy Dalam, beberapa diantaranya antara lain tidak boleh menggunakan produk yang mengotori dan lingkungan, berkelahi, menebang pohon,

Ciri khas lainnya, mereka selalu membawa golok dipinggang kirinya. Golok atau bedok menjadi alat kelengkapan orang-orang Baduy. Ini memberi kesan seram, tetapi sebenarnya itu adalah alat bekerja, alat untuk mencari makan. Tanpa golok orang Baduy merasa tidak lengkap dan tidak percaya diri. Golok bagi mereka mungkin seperti bolpoin bagi orang-orang modern seperti kita.

ASAL MUASAL BADUY

Peta masuk ke Cibeo Baduy Dalam

Peta masuk ke Cibeo Baduy Dalam

Asal muasal masyarakat Baduy ada beberapa versi, salah satunya versinya bahwa konon pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, Priangan sampai ke wilayah Cirebon. Pada waktu itu yang menjadi raja adalah Prabu Bramaiya Maisatandraman dengan gelar Prabu Siliwangi.

Kemudian pada sekitar abad ke XV masuklah ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo, termasuk Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Agama Islam berkembang dari mulai pantai utara sampai ke daerah selatan Banten. Akibatnya kekuasaan raja semakin sempit dan terjepit, karena rakyatnya banyak yang memeluk agama Islam.

Akhirnya raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan kerajaan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti hulu sungai. Mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy “Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang, malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua” Artinya: “Jauh tidak menentu yang dituju, berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik gunung. Lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan“

Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampung Cibeo -Baduy Dalam, dengan ciri-ciri berbaju putih hasil jahitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua tenunan sendiri sampai di atas lutut. Penampilan dan sifatnya jarang bicara atau bicara seperlunya, tetapi ramah, kuat terhadap hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat dan bijaksana.

CIBOLEGER

Bermula dari hal tersebut, saya bersama 50 orang berombongan mengunjungi suku Baduy. Di pagi yang cerah, matahari bersinar terang, Sabtu 17 November 2012 kami sampai di Ciboleger. Saya lihat di spedometer, 135 km dari Jakarta ke sini. Ciboleger adalah pos terakhir menuju wilayah Baduy yang masih dapat dicapai mobil dan motor. Dari sini, anda harus berjalan kaki untuk menuju kampung Baduy.

Tim Bikers & Climbers di depan patung Ciboleger

Tim Bikers & Climbers di depan patung Ciboleger

Kami berombongan, semuanya ada 4 buah mobil dan 27 motor, cukup seru dan heboh. Foto bersama dulu, dengan spanduk dengan latar belakang patung suami-isteri dan 2 orang anak-anaknya. Sekedar bukti dan kenang-kenangan kami sudah pernah sampai disini. Mista dan Saat adalah pemandu kami, mereka warga Baduy Luar yang sudah tinggal di Ciboleger.

Jam 09.00 setelah meminta ijin dari kekolot kampung atau kepala kampung kami mulai berjalan perlahan-lahan. Diantara kami banyak yang belum pernah naik gunung, dan ini pasti cukup berat bagi mereka. Walaupun begitu, saya menghimbau agar mereka mencoba paling tidak sampai di kampung Baduy Luar. Ini kesempatan yang langka! Kami melalui sebuah lorong berbatu, di kanan kiri toko-toko souvenir. Lalu pada sebuah belokan yang menanjak, ada sebuah papan berwarna biru dengan tulisan putih: Selamat Datang di Baduy. Di sebelah kanannya, ada spanduk berisi aturan dan ketentuan ketika berada di wilayah Baduy.

Berjalan beberapa ratus meter, trek sudah berubah dari batu yang tertata rapi menjadi tanah biasa dan menanjak menaiki bukit. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga yang memanggul tebangan kayu dan berjalan turun. Itu pasti pekerjaan berat menuruni bukit yang terjal dengan beban yang tidak ringan dipundaknya.

MENUJU GAJEBOH

Di kanan kiri kami, hutan yang tidak begitu rapat. Jarak antar pohon agak jarang. Trek naik tidak terlalu panjang dan berkelok mengikuti punggungan bukit. Ada beberapa warga Baduy Luar yang sedang nyerod membersihkan rumput yang tumbuh disela-sela tanaman padi. Oh ya, mereka menanam padi bukan di sawah yang berair, tetapi di ladang dan di lereng-lereng bukit. Cara menanamnya yang lelaki berjalan membuat lubang tanaman padi dan wanitanya mengikuti sambil memasukkan benih pada lubang yang dibuat.

Trek menuju ke Gajeboh Baduy Luar

Trek menuju ke Gajeboh Baduy Luar

Kami berjalan tidak terlalu cepat sambil memperhatikan situasi sekeliling kami. Seorang ibu Baduy sedang membersihkan rumput pada ladang padinya. Di belakang kami ada seorang Baduy Dalam yang berjalan, saya berhenti dan mengajak berkenalan. Namanya Sangsang, berusia 30-an tahun sudah menikah dan anaknya 2 orang laki-laki, yang besar namanya Kasip dan yang kecil Kasiman.

Sangsang orangnya ramah dan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Tampak cerdas dan berbahasa Indonesia dengan baik, bahkan mengucapkan slank dialek Jakarta dengan lancar. Dia bercerita sudah pernah beberapa kali sudah ke Jakarta, Sunter, Pademangan, Gunung Sahari, dan lainnya. Saya bertanya: “Naik apa?” Jalan kaki, dan dalam dua setengah hari baru sampai. Waduuhhh! Saya membayangkan, bagaimana susah dan beratnya untuk bisa sampai di Jakarta, tetapi barangkali bagi Sangsang hal itu biasa saja.

Sungai Gajeboh Baduy Luar

Sungai Gajeboh Baduy Luar

Kami terus berjalan dan Sangsang menemani kami. Saya banyak bertanya banyak hal kepada dia tentang Baduy, dan dia cukup tangkas menjawab pertanyaan saya yang kadang-kadang cukup sulit. Syukurlah secara tidak sengaja saya mendapat pemandu tambahan dan nara sumber orang Baduy Dalam langsung. Ternyata Sangsang pun tanpa kami minta, terus berjalan menemani kami sepanjang perjalanan ke Baduy Dalam.

Kami terus berjalan dan melalui kampung Balimbing dan Marengo. Setiap kampung ada kira-kira 30-50 rumah, bentuk rumahnya relatif yang sama. Ada beberapa ibu muda dan anak gadis yang menenun kain didepan rumah mereka.

GAJEBOH BADUY LUAR

Di suatu ketinggian dimana dibawahnya ada sungai yang berkelok, kami berhenti sebentar beristirahat dan mengambil foto yang artistik ini. Kampung Baduy Luar tujuan kami sudah berada diujung pandangan. Kami terus berjalan dan sebentar kemudian kami ada papan yang dipaku disebuah pohon, selamat datang di Gajeboh, Baduy Luar. Kampung ini lebih besar daripada kampung yang kami lewati. Ditengah rumah-rumah mereka yang berhadapan ada jalan yang lebar dan menjadi seperti halaman yang berbatu-batu lebarnya kurang lebih 5 meter.

Sekelompok pria muda dengan baju hitam-hitam tampak bergerombol di sebuah rumah, ternyata mereka sedang bersiap memainkan angklung. Ada ibu-ibu yang sibuk menenun, seakan tidak peduli dengan kesibukan di halaman rumah mereka.

Peserta dari rombongan kami yang lebih dulu sampai, tampak duduk-duduk didepan rumah mereka. Kami duduk sebentar meluruskan kaki, dan menarik nafas. Alhamdulillah, sampailah  tahap pertama di desa Gajeboh Baduy Dalam.

ANGKLUNG & TARIAN

Setelah duduk sebentar, acara penyerahan bingkisan kepada kekolot kampung dimulai. Saya menyerahkan 4 karton box berisi mie, ikan asin, garam dapur dan terasi. Pak Salik menerima bingkisan tersebut, di halaman rumah yang menjadi jalan di depan rumah-rumah.

Angklung Kampung Gajeboh Baduy Luar

Angklung Kampung Gajeboh Baduy Luar

Kemudian acara diteruskan dengan atraksi angklung dan tarian Baduy Luar oleh 12 orang warga. Angklungnya terbuat dari bambu dengan ukuran yang lebih panjang dan diberi rumbai-rumbai di ujungnya. Suaranya berbeda dengan suara angklung yang biasanya. Pak Salik terlihat yang paling serius menari dan bergerak menyesuaikan suara angklung. Acara berikutnya makan siang bersama.

Kami makan siang dengan membuka bekal nasi timbel yang kami bawa dari Muncang. Musung mempersilahkan kami makan di rumah mereka atau ditepi jembatan. Beberapa dari kami memilih makan ditepi jembatan, karena lebih asyik dan alamiah. Hanya saja ketika kami membuka bekal, ayam-ayam peliharaan segera berkumpul dan menyerang kami yang sedang makan. Ayam-ayam itu barangkali setengah liar, karena berani mematuk makanan langsung dari tangan kami yang memegang nasi! Jadilah sembari makan, kami sibuk mengusir ayam-ayam itu.

Adella di Jembatan Gajeboh Baduy Luar

Adella di Jembatan Gajeboh Baduy Luar

Sambil makan saya memperhatikan jembatan bambu yang melintang diatas sungai. Diam-diam saya bertanya dalam hati bagaimana mereka membuat jembatan ini dan hanya dengan mengikatnya dengan tali ijuk? Jembatan bambu sepanjang lebih dari 25 meter ini tergantung kira-kira 5 meter diatas permukaan air sungai. Lebarnya kira-kira setengah meter, pas orang berjalan. Jembatan ini pasti sangat vital karena menghubungkan wilayah Baduy Luar dan Baduy Dalam dan sebaliknya.

Setelah makan, beberapa rekan kami berpamitan untuk turun kembali dan pulang ke Jakarta. Walaupun begitu, ternyata masih ada yang bersama saya untuk terus naik ke Baduy Dalam, semuanya 21 orang, dan 7 orang wanita diantaranya. Lumayan banyak.

KOKOLOT KAMPUNG

Kami diberi waktu untuk wawancara dengan Kokolot Kampung Pak Salik yang ditemani anaknya yang ke 2 Musung. Pak Salik terkesan santun dan tidak banyak bicara, tetapi Musung tanpak lebih terbuka dan berani menyampaikan pendapatnya. Ada 300 orang penduduk di Baduy Luar sini. Kokolot kampung biasanya dipilih turun-temurun dan yang dapat mengelola warganya. Hanya saja Musung berkata, jika seorang Kokolot Kampung merasa sudah tidak mampu lagi, maka ia menyerahkan kepada warga untuk memilih kokolot kampung yang lain selain dirinya. Alangkah jauh bedanya dengan para politisi kita.

Saya bertanya bagaimana membuat jembatan bambu yang melintasi sungai, tanpa menggunakan paku, berapa lama membuat jembatan itu? Pak Salik menjawab jembatan dibuat dengan gotong royong, dan mesti selesai dengan cepat karena digunakan untuk sarana transportasi. Jika pagi mulai dikerjakan, maka siang harinya sudah harus selesai. Luar biasa!

Pak Salik Kokolot KampungPak Salik kemudian menjelaskan bagaimana mereka mempertahankan budaya dan adat Sunda Wiwitan dengan ketat. Ketentuan adat dan sanksi atas pelanggarannya diberlakukan dengan ketat, tanpa kompromi. Jika ada warga luar yang menikah dengan warga Baduy, maka mereka harus mengikuti semua ketentuan warga Baduy. Sebaliknya jika ada warga Baduy yang menikah dengan orang luar Baduy, dan ingin keluar maka tidak ada halangan baginya untuk keluar dari Baduy.

Selanjutnya beliau mempersilahkan kami untuk bertanya lebih lanjut mengenai Baduy nanti, setelah tiba di Baduy Dalam. (bersambung)


Responses

  1. bersambungnya ditunggu pak her


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: