Posted by: Heru Legowo | December 11, 2012

BADUY : Masa Silam Yang Bertahan (2)


Bingkisan ke Kekolot Kampung

Bingkisan ke Kekolot Kampung

Selesai wawancara dengan kokolot kampung, kami mohon diri kepada Pak Salik dan berjalan lagi, berangkat menuju Baduy Dalam. Kami meniti jalan bambu perlahan-lahan, sedikit groggy karena jembatan bergoyang-goyang. Dan mereka memperhatikan kami dari jauh, barangkali merasa aneh kok ada orang seperti kami yang “kurang kerjaan” jauh-jauh datang hanya ingin melihat kampung mereka.

Baru beberapa ratus meter menyusuri tepi sungai, jalanan langsung menanjak memanjat bukit. Perlahan dan pasti, sungai yang tadinya berada disisi kiri kami, sekarang sudah jauh berada dibawah sana. Setelah melewati 3 buah bukit, nafas mulai pendek dan nafas seakan berloncatan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Saya baru menyadari alangkah tepatnya terminologi orang Jawa “ngunjal ambegan” (mengangkut nafas). Dalam kondisi udara tipis dan tenaga terkuras atau dalam kondisi tertekan, tanpa sadar orang biasanya “ngunjalambegan” untuk menetralkan tekanan yang dialaminya.

Di sebuah belokan sungai saya memperhatikan beberapa anak muda sedang menaikkan tebangan kayu ke tepi sungai. Satu orang ditengah sungai mengarahkan potongan tebangan kayu, satu orang lagi agak ditepi sungai mengatur agar satu-satu potongan kayu itu dapat menepi, dan ditepi sungai di sebuah tebing 2 orang menaikkan potongan kayu itu ke atas tanah di pinggir sungai, kemudian 2 orang lagi mengatur tebangan kayu berukuran 2-3 meteran itu menjadi tumpukan yang teratur.

Jembatan Baduy Luar

Jembatan Baduy Luar

Saya bertanya kepada Sangsang, mengapa mereka boleh menebang pohon? Menurut dia itu sudah seijin Jaro dan dipergunakan untuk membangun rumah, atau keperluan lainnya. Saya turun kebawah sungai dan mengamati proses bagaimana mereka menaikkan potongan kayu itu ke atas tebing. Semua dikerjakan dengan tangan tanpa bantuan alat apapun.

Setelah kira-kira dua jam berjalan, kami memasuki sebuah desa yang sayang saya kurang ingat namanya, kalau tidak salah desa Cipaler. Ada sebuah pintu bambu yang memiliki dua daun pintu, dan berputar pada poros ditengahnya, seperti revolving door di hotel-hotel berbintang. Berarti masyarakat Baduy juga cukup cerdas menciptakan pintu yang berputar ini. Di depan rumah mereka beberapa gadis dan ibu-ibu muda sibuk menenun kain. Ada sekitar 20-an rumah disini. Kami berhenti dan memperhatikan bagaimana mereka membuat kain tenun. Sehelai kain dapat diselesaikan dalam satu bulan.

Sunagi semakin jauh dibawah

Trek mulai naik dan sungai pun semakin menjauh dibawah

Sebagai tanda kenang-kenangan kami membeli sehelai kain berwarna merah, harganya Rp. 200 ribu rupiah. Nanti setelah keluar dari wilayah Baduy, saya baru tahu bahwa harga kain itu diluar Baduy ternyata sedikit lebih murah. Ibu muda yang membuat kain merah itu, bernama Ramis. Ardi mengatakan dia kenal Ramis, sejak ketika dia dinikahkan pada usia 9 tahun. Wah, masih anak-anak!

WILAYAH BADUY DALAM :

Jam 2 siang setelah menyusuri sungai, kami sampai di sebuah jembatan. Sangsang mengingatkan ini jembatan masuk ke Baduy Dalam. Berarti setelah melalui jembatan ini tidak boleh memotret, dan semua ketentuan adat Baduy Dalam berlaku diwilayah ini. Saya memotret jembatan ini dari berbagai sudut, memotret suasana dan sungainya, mumpung masih ada kesempatan. Setelah melalui jembatan ini saya benar-benar tidak berani memotret, padahal tidak ada yang mengamati atau memperhatikan. Saya respek dan menghormati adat Baduy Dalam.

Pondok ditengah ladang menuju Baduy Dalam

Pondok ditengah ladang menuju Baduy Dalam

Setelah beberapa lama berjalan, kami melalui sebuah ladang yang menghampar luas, ini ladang Baduy Dalam dan di tengahnya ada beberapa pondok kayu. Sangsang bilang kadang-kadang warga Baduy meninggalkan rumah dan tinggal disini berhari-hari melakukan berbagai kegiatan. Dan kami berkelakar jika membawa isteri kesini, maka pondok ini berubah menjadi pondok cinta. Tempat memadu kasih jauh yang ideal karena jauh dari mana-mana, dan dunia benar-benar milik kita berdua. Sangsang pun tertawa dan membenarkan bahwa memang kadang-kadang begitu juga adanya.

Peraturan Baduy Dalam

Peraturan Baduy Dalam

Di pondok ini kami beristirahat sejenak, sayang tidak bisa memotret dan saya hanya dapat bercerita tanpa ada gambar nyata dari situasi disini. Kami melanjutkan perjalanan ditengah ladang yang luas menghampar. Tiba-tiba kami mendengar suara seperti seruling yang mendenging. Sangsang menjelaskan itu adalah suara Calinto bambu berlubang yang berbunyi ketika ditiup angin.

Proses pengangkatan kayu dari sungai ke atas tebing

Proses pengangkatan kayu dari sungai ke atas tebing

Biasanya yang membuat Calinto anak-anak kecil yang tanggung yang berusia sekitar 10 tahunan. Bentuk Calinto adalah potongan ujung bambu sepanjang 5 meteran, masing-masing ruasnya diberi lubang selebar dua jari tangan. Calinto ini kemudian diikat di puncak pohon yang tinggi. Dan jika ditiup angin mengeluarkan suara yang khas bunyinya. Ditengah ladang yang jauh dari mana-mana ini, suara itu mampu memberi suasana tersendiri. Membuat suasana terasa mendayu dan ngelangut, suasana ideal untuk meditasi.

Sebentar kemudian, Kampung Cikertawana tampak dikejauhan, kira-kira 500 meter dari sini. Hanya saja mendung mulai tebal dan sebentar lagi pasti turun hujan. Selain itu tenaga sudah cukup terkuras, jadi diputuskan besok pagi saja kesana. Sekarang langsung ke Cibeo.

Trek mulai menanjak dan sawah Baduy

Trek mulai menanjak dan sawah Baduy

Dan benar saja jam 3 sore hari, yang dikuatirkan pun terjadi, hujan rintik-rintik mulai turun. Untunglah dekat dengan sebuah pondok. Kami memakai jaket dan bersiap melanjutkan perjalanan ditengah hujan. Kami bungkus kamera dengan kantong plastik dan mulai berjalan lagi, karena takut cuaca keburu gelap. Mista mengatakan kampung Baduy Dalam tinggal 2 km lagi. Ditengah hujan deras dan trek yang menjadi licin, pasti butuh yang cukup waktu lama untuk sampai kesana. Perlahan tetapi pasti, kami rombongan terakhir tinggal 3 orang dan 2 pemandu berjalan menembus hutan, rombongan yang di depan mudah-mudahan sudah sampai dengan selamat.

Setelah melalui lumbung padi, saya menjadi bersemangat lagi karena ini berarti kampung sudah dekat. Dan benar saja, Mista bilang sebentar lagi ada jembatan di depan, jembatan masuk ke Kampung Baduy Dalam Cibeo!

Jembatan masuk ke Baduy Dalam

Jembatan masuk ke Baduy Dalam, setelah jembatan ini dilarang memotret

Ditengah hujan yang masih turun dengan deras, kami pun memasuki kampung Cibeo. Saya melangkah hati-hati meniti jembatan masuk ke kampung Baduy Dalam, dibawah curah hujan yang deras, beberapa rumah warga Baduy Dalam berjarak hanya kira-kira 200 meter dari jembatan ini. Seakan tidak percaya saya terus melangkah, akhirnya saya benar-benar memasuki kompleks rumah Baduy Dalam. Saya memperhatikan di depan sebuah rumah ada beberapa bambu yang mirip seperti kentongan, tetapi anehnya kok banyak sekali? Nanti saya baru tahu bahwa itu bukan kentongan, tetapi tempat air.

CIBEO BADUY DALAM

Anak Baduy Dalam bersama ibunya

Anak Baduy Dalam bersama ibunya

Kami memasuki Kampung Cibeo dibawah cuaca hujan deras. Rumah-rumah beratap ilalang berdiri berhadapan cukup dekat, jaraknya sekitar 2 meteran dan jarak antar rumah kurang dari 2 meter. Warga Baduy Dalam duduk di depan rumah mereka sambil memperhatikan kami yang berjalan didepan mereka. Ada sekitar 90-an rumah disini dengan bentuk yang sama antara satu dengan lainnya.

Akhirnya saya bertiga bersama pemandu kami Mista dan Saat, tiba di rumah Pak Ardi. Yang lain sudah lebih dulu datang dan beristirahat di Rumah Pak Anas dan Jaro Tangtu Sami. Pak Ardi dengan ramah menawarkan minum air putih yang dituangkan langsung dari botol kaca ke dalam mangkok porselen putih. Orang Baduy dalam tidak boleh memakai teko, atau bentuk yang menyerupai teko. Dan gelasnya memakai mangkok porselen atau potongan bambu.

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Kampung Cibeo Baduy Dalam. Benar-benar, sebuah perjalanan yang membutuhkan semangat dan menguras tenaga.

Setelah minum sejenak di Rumah Pak Ardi, saya mencari rekan-rekan yang lain. Dimana mereka sekarang? Ternyata sebagian sudah berada di rumah Jaro, dan sebagian lagi di rumah Pak Anas. Ada 7 orang wanita bersama kami, saya minta agar yang wanita bergabung menjadi satu, di rumah Pak Ardi.

Pak Ardi memiliki anak 6 orang, yang sulung sudah menikah dan menantunya masih tinggal bersama satu rumah. Saat ini menantunya sedang ke Jakarta ada suatu urusan. Biasanya kalau orang Baduy ke Jakarta, untuk keperluan menjual hasil kerajinan, menyanbangi sahabat atau mengikuti pertemuan budaya.

Pak Ardi bercerita bahwa dia pernah mengikuti pertemuan budaya semacam itu di Jakarta, dan tidak seorang pun orang Indonesia yang ada, semuanya orang bule. Oh iya, sekedar tambahan informasi, bahwa orang bule tidak diperbolehkan masuk kedalam wilayah Baduy Dalam!

jakri membantu membuat tongkat bambu

Jakri membantu membuat tongkat bambu

Menurut Pak Ardi setiap selesai mengikuti pertemuan semacam itu, hampir selalu mendapat bingkisan berupa pakaian atau kain dari mereka. Sayangnya itu tidak bisa dipakai, dan hanya disimpan begitu saja. Suku Baduy memiliki adat kuat dan tidak boleh memakai pakaian lain selain baju tradisional mereka yang terbuay dari katun dan biasanya ditenun sendiri. Pakaian adat Baduy Luar adalah baju dan celana hitam, sedangkan untuk Baduy Dalam, dengan warna putih atau biru. Warga Baduy Luar tidak boleh memakai warna putih!

Setelah semua berada di tempatnya masing-masing, saya kembali dan duduk di depan rumah Pak Anas, ngobrol bersama Sangsang, Pak Anas dan Jakri. Menurut mereka kunjungan ke Baduy Dalam semacam ini terjadi hampir setiap Minggu. Bahkan pernah 500 orang sekaligus datang kesini dan menginap disini, berarti sama dengan penduduk Baduy Dalam.

Sangsang masih setia menemani saya duduk dan ngobrol di depan rumah Pak Anas. Saya bertanya bagaimana dengan kehidupan sehari-hari mereka? Biasanya pagi-pagi mereka sudah pergi ke ladang, isteri lebih banyak dirumah mengurus anak-anak dan rumah tangga. Sangsang diladang sampai sore, kadang-kadang pulang ke rumah membawa makanan yang sudah dimasak diladang dan sudah siap dimakan di rumah. Praktis. Kebanyakan mereka membeli kebutuhan hidup sehari-hari dari pedagang keliling yang masuk ke wilayah Baduy Dalam, atau dari warung salah satu rumah yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari dengan jenis dan jumlah barang yang sangat terbatas.

Sangsang menemani sepanjang jalan masuk ke Baduy Dalam

Sangsang menemani sepanjang jalan masuk ke Baduy Dalam

Saya bertanya mengenai lumbung padi. Sangsang menjelaskan bahwa itu hanya digunakan sebagai stok dan cadangan, jika terjadi sesuatu yang mengacam pasokan makanan. Jika tidak, padi didalam lumbung tidak pernah digunakan. Kebutuhan sehari-hari dipenuhi dengan membeli. Jadi lumbung padi berubah menjadi sesuatu yang sakral dan dijaga dengan baik, karena menjadi penyelamat mereka ketika terjadi musim paceklik atau kekurangan pasokan makanan.

Hujan masih terus turun, ketika hujan sudah agak reda sedikit rekan saya Tri Wibowo dan Imam mau mandi. Sangsang bilang bisa ke pancuran di dekat sungai, tetapi kalau di bawah jembatan airnya keruh karena habis hujan. Jadi mesti mengambil lokasi di sungai yang agak jauh, dari jembatan bambu tempat kami masuk tadi. Saya masih melepaskan lelah dan mengatur nafas, nanti saja deh mandinya.

Sebentar kemudian saya memasuki rumah Warga Baduy Dalam. Ada 3 bagian dari rumah dengan ukuran kira-kira 8X10 meter ini. Cukup besar. Pintu rumah terbuat dari bambu yang dianyam kasar, didalamnya ada ruang terbuka dalam berbentuk L. Ruang tamu khusus di sebelah kiri pintu. Ruang tidur utama berdampingan dan dibelakang ruang tamu, terletak dipojok kiri rumah. Ruang tidur utama diberi dinding bambu dan menjadi satu dengan dapur. Di belakangnya ada ruang penyimpanan melintang memanjang.

Alas ruangan berupa bambu yang dipecah melebar memanjang, namanya palupuh. Diatasnya tikar yang terbuat dari pandan. Saya merebahkan diri diatas palupuh, berusaha beristirahat. Hujan diluar masih turun dengan deras.


Responses

  1. Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    Informasi yang bermanfaat. Terima kasih banyak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: