Posted by: Heru Legowo | December 14, 2012

BADUY : Masa Silam Yang Bertahan (3)


Yuli, Jakri, Anas, Sangsang warga Baduy Dalam di Kampung Gajeboh Baduy Luar

Yuli, Jakri, Anas, Sangsang warga Baduy Dalam di Kampung Gajeboh Baduy Luar

Setelah makan malam kira-kira jam 9, kami masih ngobrol di ruang tengah rumah Pak Anas. Tiba-tiba Mista masuk dan memberi tahu bahwa Puun Ketua Adat Baduy Dalam, berkenan menerima 4 orang wakil dari kami. Mista mengatakan sebaiknya nanti di depan Puun jangan banyak bertanya dan bicara, sekedarnya saja. Ini sungguh sebuah kesempatan langka. Tadinya, rencananya beliau akan menerima kami di ladang, pada saat kami akan pulang besok.

Kami pun bergegas mengambil senter memakai tudung topi ladang yang lebar untuk menahan air hujan. Kami berempat dan Mista didepan. Berjalan melalui lorong-lorong rumah Baduy Dalam, malam hari, hujan dan gelap menjadi pengalaman tersendiri. Sebentar kemudian kami sampai dirumah Puun, Mista mengucapkan salam dan mendorong pintu bambu masuk. Rasanya kami masuk rumah agak terlalu cepat, karena saya melihat Puun buru-buru masuk ke kamarnya dan memakai baju dan udengnya yang berwarna putih.

Ketika beliau siap dan keluar menemui kami, Jaro Tangtu Sami datang dan menemani Puun menemui kami. Puun berusia kira-kira lebih dari 60 tahun. Dibawah cahaya penerangan minyak, beliau tampak sabar, wajahnya teduh dan bijaksana. Kemudian beliau bertanya maksud kedatangan kami, dengan bahasa Sunda, yang tidak kami mengerti. Suaranya lirih tetapi cukup jelas. Mista menterjemahkannya untuk kami. Beliau juga mengatakan jika ingin bertanya segala sesuatu, agar bertanya kepada Jaro Tangtu Sami. Saya mewakili teman-teman menyampaikan kepada Puun bahwa kedatangan kami sekedar ingin bersilaturahmi, semoga semua sehat, selamat dan berjalan sesuai dengan ketentuan yang ada. Puun pun mengangguk-angguk setelah diterjemahkan oleh Mista.

Kami menyerahkan beberapa jenis bahan berupa : mie, garam, terasi, gambir, kain putih dan pisau. Saya merasa Jaro Tangtu Sami memperhatikan atau lebih tepat mengawasi kami dengan sorot mata tajam dan waspada. Tetapi perasaan itu hanya saya rasakan ketika beliau dekat dengan Puun. Ketika nanti kami ngobrol, beliau ternyata ramah dan cukup luas pengetahuannya. Puun kemudian membacakan doa bagi kami dan Mista segera memberi isyarat agar kami segera pamit dan mohon diri.

Sungai di wilayah Baduy Dalam

Sungai di wilayah Baduy Dalam

Tanpa bicara, kami bangun dan beringsut keluar tanpa sepatah kata pun, karena diminta seperti itu. Saya hanya menangkupkan kedua telapan tangan di dada, didepan Puun, terus bergerak keluar. Oh ya, Mista menterjemahkan kalimat Puun bahwa setelah turun ketanah jangan bernafas, agar menahan nafas lima langkah dan dalam tujuh langkah tidak boleh menengok. Saya ikuti saja, menghormati adat mereka. Barangkali ini bagian dari mistis Baduy Dalam.

Mengenai hal ini saya jadi teringat kisah mengenai Baduy. Ketika Wakil Presiden Adam Malik meninggal dahulu, ada 8 orang warga Baduy yang datang ke Jakarta dan ikut menyampaikan bela sungkawanya. Mereka berjalan kaki dari kampungnya di Baduy Dalam, lebih dari dua hari sebelum sampai di Jakarta. Ini berarti mereka tepat memperkirakan hari meninggalnya Pak Adam Malik, atau mendapat firasat mengenai hal itu. Apakah ini hanya sebuah kebetulan, saya tidak tahu persis.

JARO TANGTU SAMI

Kami kembali ke rumah Pak Anas dan tidak berapa lama kemudian Jaro Tangtu Sami datang. Beliau membawa lilin yang dilindungi setengah batok kelapa yang bawahnya diberi lubang untuk tempat masuknya lilin, agar tidak mudah padam ditiup angin. Kami kemudian berbincang panjang lebar, Pak Anas, Sangsang dan Ardi ikut mengobrol.

Jaro Sami sudah 16 tahun menjadi Jaro, dan itu biasanya turun-temurun dari nenek moyangnya. Kami pun terlibat dalam pembicaraan yang akrab, santai dan bersahabat. Banyak hal yang kami bicarakan. Saya memang menggunakan kesempatan berharga ini untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Baduy Dalam.

Jembatan di Baduy Luar

Jembatan di Baduy Luar

Pembagian tugas Jaro adalah sebagai berikut : Jaro Tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro Dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur didalam dan diluar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang Jaro Tangtu disebut sebagai jaro duabelas. Pimpinan dari Jaro Duabelas ini disebut sebagai Jaro Tanggungan.

Selain itu ada Jaro Pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung

Jaro Sami mengatakan suku Baduy tidak boleh belajar, tetapi kalau ngobrol-ngobrol seperti ini boleh. Dan saya mengerti dengan cara mengobrol itulah mereka tahu dunia di sekelilingnya. Ada 90-an rumah di Cibeo, di Cikeusik jumlahnya kira-kira sama, sedangkan di Cikertawana lebih sedikit, hanya 25-an rumah. Jumlah penduduk Cibeo kira-kira 500 orang, dengan luas wilayah Baduy 5.138 Hektar.

Suku Baduy memegang teguh amanat leluhurnya, diantaranya berbunyi : lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung. (panjang tidak bisa / tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa / tidak boleh disambung). Yang bermakna bahwa segala sesuatu mesti berjalan seperti apa adanya, jangan ada upaya untuk mengubahnya. Dan di jaman yang modern dan sophisticated ini, keberadaan sebuah keyakinan itu dan mempertahankan sungguh harus diberi tempat khusus. Mereka bukan terisolir, tetapi dengan sengaja mengisolir kelompok mereka sendiri, dan menjaga jarak dari dunia modern.

Amanat Buyut yang dijunjung tinggi

Amanat Buyut yang dijunjung tinggi masyarakat Baduy Dalam

Secara harfiah sebenarnya apa yang dilakukan oleh Green Peace, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keyakinan mereka untuk menjaga alam dan mempertahan-kannya dengan sangat kuat dan teguh. Di dalam wilayah Baduy dalam berlaku aturan ketat, dimana warga tidak boleh menggunakan odol, shampoo, memainkan musik dan lagu, membuang puntung rokok yang masih menyala, membuang sampah sembarangan dan lain sebagainya.

Saya bertanya pada waktu awal menjadi Jaro dulu berapa jumlah rumah Baduy Dalam? Menurut Jaro masih 70-an rumah. Berarti tambah 20 rumah dalam 16 tahun, tidak terlalu banyak. Tetapi ini yang dikuatirkan Pak Ardi, dia khawatir jika penduduk Baduy Dalam terus bertambah, maka lahan yang ada tidak akan cukup untuk menyediakan bahan makanan bagi penduduknya.

Jaro Sami dan warga Baduy ternyata mengikuti perkembangan situasi diluar. Salah satu buktinya pertanyaan mereka membuat saya terperangah : “Berapa pendapatan bandara dalam satu tahun? Besar mana jika dibandingkan dengan Krakatau Steel?” Wah.

Kemudian Pak Anas bertanya mengenai bandara dan pesawat, karena dia pernah ke bandara di Cengkareng dan melihat pesawat dari waving gallery. Terus pengin tahu bagaimana rasanya naik pesawat? Saya harus berhati-hati menjawabnya. Bagaimana tidak mereka tidak boleh naik alat transportasi apa pun, kemana-mana harus berjalan kaki menggunakan kekuatan kaki. Jangankan pesawat, naik sepeda pun belum pernah. Saya hanya mengatakan bahwa naik pesawat ya seperti duduk-duduk begini ini pak, bedanya dari dalam pesawat terdengar suara mesin pesawat, tetapi pelan saja. Mereka mengangguk-angguk barangkali membayangkan bagaimana burung besi yang sangat besar itu bisa terbang? Pak Anas tampak begitu antusias, dan dia beruntung karena kali ini dia mendapat penjelasan dari orang yang tahu tentang dunia penerbangan. Terus dia mengejar dengan pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan penerbangan haji ke Jeddah? Saya menjelaskan pelan-pelan. Dan saya berkata bahwa pesawat haji itu sangat besar. Seluruh warga Baduy Dalam, bisa muat masuk semua di dalam perut pesawat itu. Mereka heran, masa sih, pak Heru?

Trek menuju ke Gajeboh Baduy Luar

Trek menuju ke Gajeboh Baduy Luar

Pembicaraan bersama mereka, dengan Jaro Tangtu Sami yang tampak well-informed tentang yang terjadi di luar kampungnya membuat saya merasa, tidak berada diatas mereka. Saya kagum dengan ingatan dan daya tangkap mereka. Mereka tidak belajar, tetapi dapat mengikuti semua pembicaraan dengan baik bahkan menimpali dengan pertanyaan dan pernyataan yang cerdas dan berisi.

Saya bertanya mereka bisa menjaga adat dengan kuat? Wahana apa saja yang dipakai? Apakah ada peran spiritual atau magic didalamnya? Jaro Sami menjawab, bahwa setiap 2-3 bulan dia mengumpulkan seluruh warga. Pertemuan itu bisa diadakan di tanah terbuka didepan rumah atau di rumah Jaro Sami. Pada pertemuan itulah diberikan wejangan untuk tetap menjaga adat dan amanat dari leluhur mereka. Hanya itu, soal spiritual beliau tidak mau menjawabnya.

Pohon Duren sebagai check point

Pohon Duren sebagai check point

Pembicaraan terus berlangsung sampai Jaro Sami mengatakan bahwa mereka juga keturunan Adam. Saya tidak berani masuk kedalam bahasan mengenai agama, jadi saya diam saja. Tetapi Jaro Sami kemudian mengejar dengan pertanyaan yang mengagetkan : “Menurut bapak, Adam itu ada berapa?” Beliau kemudian menjelaskan, bahwa Adam menurut kepercayaan mereka ada 4 : Adam Tunggal yang menurunkan suku Baduy, Adam Tapel yang menurunkan Prabu Siliwangi, Adam Serti yang menurunkan suku-suku Dayak, dan Adam Hawa yang menurunkan kaum muslim. O, begitu. Saya mengangguk sebagai tanda mengerti penjelasannya, tetapi saya tidak menimpali atau berusaha untuk membahasnya..

MALAM DI BADUY DALAM

Jaro Sami kemudian pamitan, memberi kesempatan kami untuk beristirahat. Sangsang sudah lebih dulu pamitan tadi. Pintu ditutup dan kami pun bersiap untuk tidur. Lampu minyak ditengah ruangan tetap menyala dan diluar gelap pekat. Situasi ini pasti telah berlangsung berabad-abad. Saya memejamkan mata, dan merasakan kaki yang kaku dan tegang, untunglah tadi sudah sempat dipijat sama Bahrul.

Hari ketiga, jam 3 pagi saya terbangun, karena udara dingin sekali dan juga dengkuran keras rekan seperjalanan. Saya perhatikan sekeliling, lampu minyak masih menyala di tiang tengah. 5 orang rekan masih tergeletak tidur pulas. Pintu rumah yang hanya dari anyaman bambu kasar, disangga atau diganjal dengan bambu panjang barangkali agar tidak terbuka. Saya beringsut keluar, buang air kecil. Tadi malam sempat bertanya kalau mau buang air dimana, karena sungai kira-kira 500 meter dari rumah. Jadi, kata Pak Anas pemilik rumah, boleh disamping rumah saja. Ha?

Pak Anas memperhatikan Titiek memotret

Pak Anas memperhatikan Titiek memotret

Saya bangun perlahan, sebenarnya bukan hanya karena mau buang air saja, tetapi ingin tahu diluar situasinya bagaimana? Saya membuka pintu, dan gelap pekat menyergap di depan mata. Melihat telapak tangan sendiri saja tidak bisa. Jika malam di hutan, kita masih bisa melihat langit dan bintang, tapi ini benar-benar gelap. Saya membayangkan sejak berabad-abad yang lalu, barangkali situasinya juga masih tetap begini.

Jam 03.50 pagi, dikejauhan terdengar ayam berkokok, dan kemudian bersahut-sahutan. Di sebelah rumah, ayam jantan berkokok dengan mengepakkan sayapnya terlebih dahulu. Saya seakan terbawa ke masa kecil, dan berusaha mengingat, kapan terakhir kali saya mendengar suara kokok ayam seperti itu ya? Saya seperti terlempar ke suatu masa puluhan tahun yang lalu.

Pak Anas dan isterinya sudah sibuk memasak air dan nasi. Saya ikut masuk ke dapurnya. Tungkunya terletak diatas palupuh, dan diberi alas pasir, sehingga api tungku tidak membakar palupuh-nya. Terasa hangat duduk di depan tungku, dengan beberapa kayu bakar yang menyala.

Pak Anas memberi saran, sebaiknya pulangnya melalui Cijahe saja lebih dekat, hanya 4 km dari sini dan jalanan pun lebih landai. Saya berterimakasih atas saran yang cerdas ini. Dan saya minta agar tim ini mengambil jalan pulang melalui Cikertawana dan mampir di Cikesik.

Pak Anas bertanya nomor HP saya. Saya bertanya apakah dia punya HP? Dia diam saja, tetapi terus mengambil buntelan kain putihnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan telepon dan sebuah bolpoin. Dia berkata kalau mau menghubungi dia, agar menghubungi nomor itu saja, salah satu kerabatnya di Baduy Luar.

Ternyata Pak Anas dengan sadar mempraktekan dengan baik dan mengerti apa artinya marketing dan networking. Di dalam buku catatan teleponnya, tertulis banyak nama dengan alamat dan nomor telepon. Dan dia kemudian juga minta saya menuliskan nama, alamat dan telepon. Lain kali pasti dia bisa menunjukkan kepada pengunjung lain, bahwa dia pernah bertemu dengan saya. Sungguh cerdas!

Jembatan Masuk ke Baduy Dalam

Jembatan Masuk ke Baduy Dalam

Kemudian ketika matahari mulai terang, saya turun ke sungai, membersihkan badan, dan mencari toilet. Sungai yang lebarnya sekitar 25 meteran, sedang deras arusnya karena hujan tadi malam. Di sebelah jembatan ada sekelompok gadis sedang sibuk mencuci. Saya meniti jembatan menyeberangi sungai melalui jembatan bambu, dan diseberangnya ada sebuah pancuran dari bambu yang dibelah dan menadah air yang keluar dari celah-celah tebing.

Beberapa orang sedang sibuk membersihkan muka dan badan. Toiletnya diberi tutup dengan anyaman bambu, hanya satu sisi dan sisi lainnya terbuka. Ada dua buah batu dimana ditengahnya ada aliran air kecil. Sangat sederhana tetapi cukup memadai.


Responses

  1. Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    Informasi yang bermanfaat. Terima kasih banyak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: