Posted by: Heru Legowo | December 15, 2012

BADUY : Masa Silam Yang Bertahan (4)


Keluar Kampung Baduy Dalam

Keluar Kampung Baduy Dalam

Selesai membersihkan diri, kembali ke rumah dan bersiap untuk perjalanan berikutnya, Cikertawana. Setelah berpamitan kepada tuan rumah, kami pun mulai beranjak meninggalkan Cibeo. Kami berpamitan di depan rumah pak Anas. Beberapa warga ikut mengantar kami keluar dari kampung : Anas, Ardi, Sangsang, Jakri dan Yuli. Pandangan warga Baduy yang menyaksikan kami pamit, terasa kosong ketika melepas kepergian kami.

Dan di pagi hari yang sejuk karena sisa hujan deras semalam, kami berjalan perlahan meninggalkan Cibeo. Kami meninggalkan perumahan warga Baduy Cibeo dengan berbagai perasaan yang berkecamuk. Saya memperhatikan beberapa bumbung bambu tempat menyimpan air, yang tergeletak di dinding depan rumah mereka. Tadinya saya menduga itu adalah kentongan, ternyata itu adalah tempat menyimpan air! Kami melangkah perlahan-lahan, tanah sedikit becek karena hujan semalam. Menapaki tanah basah dan sedikit licin, kami berjalan perlahan dengan semangat tinggi.

 CIKERTAWANA

Peta menuju kampung  Baduy

Peta menuju kampung Baduy

Beberapa saat berjalan dan jam 06.45 pagi kami sampai di kampung Cikertawana, ada 25-an rumah disini. Rumah-rumah kosong, penghuninya sudah pergi ke ladang. Saya memperhatikan sekeliling. Mista pemandu kami menunjukkan sebuah rumah yang terletak di ujung, katanya itu rumah Puun Cikertawana. Di sebuah sudut ada sebuah lesung panjang tempat menumbuk padi. Saya mendekat dan memperhatikan. Lesung itu sudah aus karena ditumbuk terus-menerus, dan hampir menembus dasar lesungnya. Dan di dekat sebuah rumah ada bambu yang sudah dipecah menjadi palupuh sedang dikeringkan. Kampung ini sepi, tanpa ada kegiatan apapun. Senyap.

Jembatan keluar Kampung Baduy Dalam

Jembatan keluar Kampung Baduy Dalam

Kami terus berjalan dan melewati beberapa lumbung padi sekitar 200 meter dari kampung. Menurut Sang Sang yang mengantarkan kami, lumbung sengaja ditempatkan di luar kampung, agar jika terjadi kebakaran di kampung, maka lumbung padi tidak habis terbakar bersama. Sebuah tindakan preventif yang cukup cerdas.

KELUAR WILAYAH BADUY DALAM

HL & TitiekJam 07.30 kami sampai di sebuah jembatan, batas antara Baduy Dalam dan Baduy Luar. Berarti kami boleh mulai memotret dan mengambil gambar disini. Saya buru-buru menyiapkan kamera, dan mulai memotret dan merekam video sambil berjalan perlahan melewati jembatan. Sungai tampak sedikit keruh karena sisa hujan tadi malam. Setelah melalui jembatan, saya minta teman-teman berkumpul dan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan pada waktu keluar dari wilayah Baduy Dalam.

Kami terus berjalan dengan tujuan mampir di Cikesik, salah satu kampung Baduy Dalam lain. Tetapi Ardi mengatakan di Cikesik sedang ada warga yang stress, mengamuk dan sering mengancam pendatang seperti kami ini. Saya sebenarnya berkeras dan ingin terus mengunjungi Cikesik, karena kesempatan ini mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tetapi informasi dari Ardi membuat saya membatalkan niat ke Cikesik, apalagi beberapa teman sudah menyerah dan ingin cepat sampai di Cijahe dan pulang.

Berfoto setelah keluar dari Jembatan Baduy Dalam

Berfoto setelah keluar dari Jembatan Baduy Dalam

Dari kejauhan sebuah antena BTS sudah kelihatan, berarti desa Cijahe sudah dekat. Sungguh sebuah kelegaan sendiri, melihat tanda-tanda masyarakat modern yang dapat dilihat dari kejauhan. Ardi menunjuk sebuah kampung Baduy Luar jauh di lembah, di sebelah kanan kami. Batubeulah, itu sebuah desa tempat pembuatan bedok atau golok khas Baduy.

Sebenarnya ini hal yang cukup mengherankan, ternyata suku Baduy memproduksi sendiri golok di kampung Batubeulah, Cisadane dan Cibageuleut. Ardi menjelaskan bahan bakunya dari per bekas, yang dibeli dari luar Baduy. Berarti suku Baduy memiliki kemampuan teknologi untuk membuat alat bekerja yang sangat vital ini. Sayang terlalu jauh untuk turun menyambangi ke kampung-kampung itu. Padahal saya ingin melihat proses produksinya dan membeli golok khas Baduy sebagai kenang-kenangan.

Kami berhenti sebentar di sebuah pondok dibukit, beristirahat sedikit. Dikejauhan tampak sawah berundak-undak seperti di Bali. Dan di sekeliling pondok tanaman padi setinggi 25 cm yang ditanam di kebun, sudah mulai tumbuh menghijau. Setelah istirahat sebentar kami segera bergerak turun.

Dan sebentar kemudian kami sampai di sebuah jembatan bambu. Ini jembatan bambu terakhir dan menandai kami keluar dari wilayah Baduy. Ada sebuah prasasti tertulis: Selamat datang di kawasan hakulayat Masyarakat Baduy. Desa Kanekes, Kec. Leuwidamar Kab. Lebak.

Trek turun menuju ke Cijahe, berpapasan dengan ibu Baduy barangkali habis belanja

Trek turun menuju ke Cijahe, berpapasan dengan ibu Baduy barangkali habis belanja

Lega rasanya ketika kami berjalan melalui rumah penduduk di Cijahe, ada warung yang menjual makanan kecil, minuman dan souvenir. Ada papan yang bertuliskan Amanat Buyut, yang merupakan petuah adat dari leluhur Baduy.

Jadi saran pak Anas benar. Lebih mudah dan cepat melalui Cijahe untuk masuk ke Baduy Dalam. Hanya saja tetap perlu ijin lebih dahulu dari Jaro di Ciboleger. Jika tidak, warga Baduy tidak bertanggung-jawab ketika anda berada di wilayah mereka. Pernah terjadi sekelompok mahasiswa dari Bandung, sudah diingatkan untuk jangan mandi di sungai. Dan ketika peringatan ini kurang diindahkan, mahasiswa tersebut tenggelam di sungai yang tidak dikenalnya dengan baik.

Kami berpisah dengan warga Baduy Dalam disini: Anas, Ardi, Sangsang, Jakri dan Yuli. Seperti pak Anas, ketika saya berada dirumahnya, mereka mengeluarkan buku catatan teleponnya dan minta saya menuliskan nama, alamat dan telepon saya. Mudah-mudahan suatu saat nanti pembaca dapat melihat nama saya disitu, yang saya tulis dengan huruf besar dan jelas! Jangan-jangan saya meniru mereka, mempraktekkan marketing juga. Ha?

Pondok di Baduy Luar Cijahe tinggal kira-kira 2 km lagi Baduy

Pondok di Baduy Luar Cijahe tinggal kira-kira 2 km lagi Baduy

Terasa sedih juga melihat mereka menatap dan memperhatikan kami bersiap-siap pulang. Saya bilang ke Sangsang, banyak foto yang saya ambil, bagaimana saya mengirimkan kepada dia? Sangsang hanya tersenyum dan berkata: “Suatu saat barangkali nanti saya datang ke rumah Bapak dan ambil fotonya”.

Setelah beberapa hari bersama mereka, terasa ada pemahaman dan kedekatan tersendiri. Mereka orang-orang yang tulus, ramah dan friendly. Sebentar lagi kami segera kembali dan berkutat dengan kehidupan rutin dan mereka pun juga menjalani kehidupan seperti biasanya. Dua buah kultur berbeda yang terus berjalan. Entah sampai kapan mereka mampu menjaga dan melestarikan keyakinan mereka, Sunda Wiwitan.

KEMBALI KE JAKARTA

Saya berhenti sejenak di sebuah warung. Sambil menunggu mobil, secangkir kopi panas terasa sungguh sangat nikmat. Sebuah pagi yang rasanya lebih segar, karena kami berhasil melakukan misi kami melihat langsung kampung Baduy Dalam, dan tinggal bersama mereka walaupun hanya satu malam.

jembatan keluar desa Kanekes menuju ke Cijahe

jembatan keluar desa Kanekes menuju ke Cijahe

Sekarang Baduy bukan lagi menjadi mitos, karena kami telah melihat langsung dan merasakan sendiri bagaimana mereka hidup dan mempertahankan adat leluhurnya, Sunda Wiwitan dengan teguh.

Sambil menghirup kopi panas yang terasa lebih nikmat rasanya, saya merenungkan sedikit perjalanan ini. Dan sampailah saya pada sebuah pemahaman bahwa sebenarnya bahwa Suku Baduy bukan suku yang terisolir dari masyarakat modern, tetapi mereka memang dengan sadar mengisolir kelompok mereka sendiri dan mengambil jarak dari dunia modern di sekelilingnya. Mereka adalah orang-orang yang konsisten menjaga adatnya dengan cara sederhana, tetapi hasilnya sangat nyata. Mereka tidak belajar, dan melarang anak-anak mereka belajar. Bagi meteka belajar akan membuat pintar, dan setelah pintar maka dia akan menipu dengan kepintarannya itu.

Amanat Buyut Baduy yang dipertahankan sampai sekarang

Amanat Buyut Baduy yang dipertahankan sampai sekarang

Orang Baduy tidak belajar, tetapi memiliki kecerdasan yang memadai ketika berinteraksi dengan dunia luar. Kesempatan ketika bertemu dengan orang luar, selalu digunakan untuk mengerti apa yang terjadi di dunia luar. Jadi jika nanti anda mempunyai kesempatan untuk bertemu dan melakukan wawancara dengan mereka, yang biasanya diwakili Kokolot Kampung atau Jaro Tangtu; sebenarnya bukan hanya anda yang mendapat informasi tentang Baduy tetapi mereka pun meng-eksplore tentang anda dan kegiatan anda. Seperti kali ini, mereka menjadi mengerti tentang pesawat terbang dan penerbangan haji ke Jeddah, karena penjelasan saya. Sungguh cerdas!

Seperti masyarakat pada umumnya, mereka sebenarnya juga mulai memperhitungkan bahwa suatu saat nanti wilayah adat mereka akan tidak mampu lagi menyediakan bahan makanan bagi warganya yang terus bertambah. Kegalauan semacam ini sudah dirasakan dan disampaikan oleh Pak Ardi.

Bus Elf tidak cukup, sebagian naik ke atas atap bus

Bus Elf tidak cukup, sebagian naik ke atas atap bus

Jam 09.00 bus mini Elf dari Ciboleger yang kami pesan datang menjemput kami di Cijahe. Jalanan rusak, sedang diberi batu-batu di sepanjang jalan desa Karang Nunggal. Sopir bus berhenti di sebuah warung membayar restribusi perbaikan jalan Rp.10 ribu. Setelah kira-kira 7 km melalui jalanan rusak, bus kami berbelok ke kanan melalui jalan beraspal mulus, melaju dengan cepat menuju ke Ciboleger, masih 40 km lagi perjalanan kesana.

Jam 11.45 setelah membersihkan diri dan beristirahat, kami berkumpul dan berdoa bersama. Mission accomplished! Sejenak kemudian mobil kami meluncur ke Jakarta. Kembali lagi ke dunia nyata, menghadapi macet dan udara yang penuh asap knalpot.

Didalam mobil yang sejuk, saya membayangkan bagaimana Sangsang warga Baduy Dalam berjalan ke Jakarta dengan berjalan kaki, menyusuri rel kereta api dan menghabiskan waktu 2.5 hari ke Jakarta. Sebuah kontradiksi budaya yang nyata dan ini benar-benar sungguh terjadi di jaman yang serba wireless dan canggih ini.

Panjang jangan dipotong & pendek jangan disambung

Panjang jangan dipotong & pendek jangan disambung

Kunjungan budaya kali ini telah mampu memperluas wawasan dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai suku Baduy. Secara spiritual bermakna mendalam bahwa mereka melakukan itu semua karena keyakinan yang begitu kuat dan selama berabad-abad tidak tergoyahkan oleh teknologi, kemudahan, dan kemewahan diluar komunitas mereka.

Luar biasa !


Responses

  1. Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    Informasi yang bermanfaat. Terima kasih banyak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: