Posted by: Heru Legowo | March 16, 2013

Cristo Rei Dili – Timor Leste


Peta Timor LesteIni sebuah catatan perjalanan ke dua saya ke Dili. Yang pertama tahun 2011 yang lalu, ketika saya mengikuti  penerbangan perdana Batavia Air dari Bandara Ngurah Rai ke Dili, sayangnya hanya beberapa jam saja di Dili, karena pesawat segera kembali lagi ke Bali. Sekarang Batavia berhenti terbang. Timor Leste kehilangan satu penerbangan ke Bali, dan itu sangat mempengaruhi pergerakan orang dan barang ke dan dari Dili. Kali ini saya diundang pemerintah Timor Leste mengikuti Public-Private Partnership Investor Conference mengenai pembangunan pelabuhan laut dan bandar udara, diselenggarakan oleh Ministry of Foreign Affairs tanggal 6 sd 8 Maret 2013.

Sungguh suatu keberuntungan, saya dapat melihat dan lebih memahami Timor Leste lebih dekat apalagi setelah bertemu dengan beberapa Menteri bahkan sampai ke Panglima Angkatan Bersenjata Timor Leste Mayor Jenderal Lere Annan. Saya selalu tertarik untuk memahami dan mengerti suatu etnik, masyarakat, negara tentang sejarah, perilaku dan keindahannya. Saya berusaha untuk menuliskannya sekedar untuk sharing mudah-mudahan bermanfaat.

KOTA DILI

Dili adalah ibu kota dan juga kota terbesar di Timor Leste, terletak di pantai utara Pulau Timor. Jumlah penduduknya kurang lebih 200 ribu jiwa. Dili mulai dihuni orang-orang Portugis pada tahun 1520. Pada tahun 1596 Dili menjadi ibu kota Timor Portugis. Pada masa Perang Dunia II, Dili diduduki pasukan Jepang.

Rsz Mercu Suar Dili

Pada tanggal 28 November 1975 Timor Leste mengumumkan kemerdekaannya dari Portugal. Tetapi 9 hari kemudian, pasukan Indonesia merebut Dili. Pada pada 17 Juli 1976, Timor Timur dinyatakan sebagai provinsi ke-27 Indonesia dan Dili dijadikan ibu kota provinsi. Pada tahun 1991, di Dili terjadi Pembantaian Santa Cruz, di Indonesia disebut sebagai Insiden Dili. Lebih dari 250 orang terbunuh dan ini menarik perhatian dunia.

Tanggal 20 Mei 2002 Timor Leste memerdekakan dirinya dan Dili menjadi ibu kota negara baru tersebut. Saat terjadi krisis politik pada Mei 2006, kota Dili menjadi sasaran konflik, sehingga kota Dili mengalami kerusakan yang cukup parah.

PANTAI DILI

Pada hari Jumat itu, saya dijemput Ze Lobato jam 06.30 pagi. Pagi yang cerah, matahari baru tampak semburat sinarnya di ufuk timur. Kami bersama Nico menyusuri jalan Avinida da Portugal, menuju ke Cristo Rei. Melewati monumen 12 November 1991. Di kiri jalan, ada sebuah monumen barupa patung orang yang terbaring terkena tembakan dan dipangku orang lain. Patung itu masih dibungkus kain putih, menunggu peresmian.

Rsz Pantai Fatucama 1

Menurut Ze, monumen itu menjadi pengingat kejadian pembantaian di makam Santa Cruz yang menewaskan ratusan anak muda. Salah satu sejarah penting bagi Timor Leste. Dan salah satu pemicu yang membuat Indonesia harus melepaskan Timor Timur. Sebuah stigma dari masa lalu yang kelam.

Sebentar kemudian kami melewati pantai dengan tulisan berwarna jingga Largo de Licedere. Kami terus menyusuri pantai. Dan melewati sebuah tikungan disisi bukit yang terjal. Beberapa restoran berada di tepi kiri dan kanan pantai. Dan di sebuah pertigaan yang ditandai dengan sebuah tugu kecil ditengahnya, Ze bercerita bahwa dulu Ramos Horta ditembak disitu oleh orang-orang yang berseberangan politik, ketika sedang berolah-raga lari pagi. Rumah Amos Horta kira-kira kurang dari 1 km dari pertigaan itu.

SONY DSC

Setelah menempuh sekitar 10 km, kami sampai di pelataran parkir Cristo Rei. Pagi itu suasana masih sepi, hanya beberapa orang yang ada di sekitar lokasi ini. Belakangan nanti baru saya tahu banyak bule memanfaatkan lokasi ini untuk rekreasi dan menjaga kebugaran jasmani.

Patung Kristus dari bawah tampak kecoklatan berdiri dengan dua tangan mengembang seakan mengucapkan selamat datang atau memberi berkah. Patung Yesus ini berdiri diatas bukit Fatucama, yang menjorok ke pantai, kanan kirinya laut.

Kami mulai menapaki tangga naik ke atas. Untunglah tangganya dibuat sedemikian rupa sehingga setiap beberapa anak tangga ada lantai yang datar sedikit ada jeda untuk bernafas. Kalau tidak dibuat begitu, pasti berat naik langsung ke atas. Untunglah tangga naik yang terbuat dari keramik berwarna merah, dibuat tidak terlalu tajam mendaki, melainkan kemiringannya berkisar hanya 40 derajat saja, sehingga mudah menaikinya.

Rsz Fatucama Timur

Di tepi kanan jalan naik, pada beberapa ratus meter dibuat perjalanan spiritual Jesus. Pohon rindang menaungi jalan naik ke atas, sehingga teduh, sejuk dan memberi oksigen yang melimpah.

Nico menghitung anak tangga dan sampai diatas dia menyebut angka 692 buah anak tangga naik. Tentu saja membuat nafas sedikit terengah dan berkeringat. Rasanya ini cocok menjadi sarana kebugaran para remaja dan juga untuk mengisi waktu bagi orangtua.

Setelah melalui pelataran yang cukup luas kami terus naik ke atas. Dan akhirnya sampailah kami diatas bukit Fatucama. Matahari bersinar terang, angin berhembus sepoi-sepoi. Disitu, ditengah bukit Fatucama, patung Jesus berdiri megah kedua tangannya mengembang mengarah laut. Saya perhatikan arahnya, Cristo Rei ini menghadap ke tepian kota Dili. Ze Lobato bilang, sebenarnya mengarah ke Pulau Alor yang tampak remang-remang di garis cakrawala

SONY DSCCristo Rei ini tingginya 27 meter, berdiri pada tahun 1996. Desainnya dibuat oleh Mochamad Syailillah yang lebih dikenal sebagai Bolil. Ide dari pembangunan patung Cristo Rei ini diusulkan oleh Gubernur Timor Timur pada waktu itu Jose Abilio Osorio Soares kepada Presiden Suharto, sebagai hadiah dan peringatan ke 20 tahun integrasi Timor Timur. Biaya pembangunan seluruhnya lebih dari Rp. 5 Milyar pada waktu itu.

Pada tanggal 15 Oktober 1996 pendeta Katholik Roma Carlos Filipe Ximenes Belo, bersama dengan Presiden Suharto dan Gubernur Timor Timur Jose Abilio Osorio Soares, secara langsung menyaksikan pembukaan selubung patung yang dilakukan dengan menggunakan helicopter dari udara.

Saya keluar menerobos pagar, agar lebih luas melihat pemandangan dari atas bukit ini. Dari atas bukit ini, kota Dili tampak sayup-sayup diujung pandangan. Di arah depan Pulau Atauro. Jalan satu-satunya menuju ke Cristo Rei dibawah sana tampak lurus, seperti sepotong runway bandara. Bukit hijau di belakang kami terkena sinar matahari dari samping kiri, sehingga warna hijaunya lebih terang dibandingkan dengan sisi kanannya yang masih gelap.

Berpindah kesebelah kanan sisi bukit, sebuah teluk langsung dibawah bukit yang cukup tinggi dan terjal. Jalan dibawah tampak rusak terkena abrasi air laut. Garis gelombang laut yang perlahan bergerak susul menyusul menyentuh pantai tampak indah, seperti lukisan. Tentu saja ini menjadi sasaran kamera yang tidak ada habisnya.

Sebenarnya saya masih ingin berlama-lama disini, tetapi masih ada acara pertemuan berikutnya, jadi saya segera turun. Di pelataran sudah mulai banyak pengunjung yang datang, diantaranya David Martz yang kemarin berbicara di acara konperensi. Kami segera turun kebawah.

Rsz Facutama Dili

Selama di kamar hotel saya sangat menikmati lezatnya kopi asli Timor. Oleh karena itu setelah turun dari Cristo Rei, saya minta Ze mengantarkan kami untuk membeli kopi asli. Dan dalam perjalanan pulang ke hotel, Ze mengantarkan kami ke pabrik pengolahan kopi Timor. Saya diantar Ze datang langsung ke penjualan di pabriknya. Satu bungkus kecil 250 gram, harganya USD 4. Cukup murah dan terjangkau. Di bungkusnya tertulis : 100% washed Arabica Mountain Cafe.

Di tengah hutan Timor tumbuh satu dari sekian banyak biji kopi di dunia, Cafe Timor. Diatas tanah di dataran tinggi, kondisi tanah, dan kelembaban yang tinggi menghasilkan biji kopi yang asli dan memiliki aroma khas. Penanaman kopi di Timor Leste sudah berlangsung lebih dari 2 abad. Penanaman kopi ini dilakukan oleh petani kecil di gunung-gunung. Biji kopi dipetik dengan tangan, ketika benar-benar sudah kemudian diproses dengan supervisi teknis dari Amerika. Bagi para penggemar kopi, saya anjurkan untuk mencobanya. Konon kabarnya kopi ini menjadi salah satu bahan dari kopi Star Buck.

Rsz Monumen 12 November (2)

Jam 09.30 pagi mesti cepat kembali pulang ke hotel, karena sudah ada janji untuk  bertemu dengan Menteri Luar Negeri Timor Leste, Jose Luis Guterres. Ze membawa kami menyusuri pantai, kembali ke hotel. Di depan Monumen 12 November saya minta berhenti dan mengambil beberapa foto. Kain putih yang sengaja ditutupkan di tubuh patung yang terbaring, dan juga menutupi muka patung yang menolong dan memegangi badan patung yang tertembak. Kain putih yang membalut patung membuat bentuk patung itu yang konon dibuat di Eropa, semakin tampak dramatik!

Empat hari berada di Dili, ditengah-tengah kesibukan kantor pasti belum banyak yang dapat dilihat. Saya masih ingin melihat distrik-distrik lainnya, menyeberang ke Pulau Atauro dan melihat Los Palos dan ke ujung pulau Timor Tutuala, yang katanya sangat indah.

Mudah-mudahan lain kali masih ada kesempatan lagi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: