Posted by: Heru Legowo | September 21, 2013

PALEMBANG


Adella ISG Arya Duta Room 508Palembang memiliki daya tarik yang khas : pempek, kain songket, jembatan Ampera dan bekas lokasi kerajaan Sriwijaya. Meskipun begitu, tidak banyak tempat wisata di Palembang. Padahal sejarah mencatat bahwa sebuah kerajaan besar dan berpengaruh kuat pernah ada di daerah ini, Kerajaan Sriwijaya. Sebuah kerajaan yang begitu terkenal dan pengaruhnya melebar ke segenap wilayah, bahkan menjadi pusat agama Budha di seluruh Asia Tenggara pada waktu itu. Sayangnya jejaknya sampai sekarang tidak nyata. Lokasinya yang tepat masih belum ditemukan. Dan ini menjadi tantangan para ahli sejarah untuk menentukan dimana sebenarnya letak kerajaan besar Sriwijaya itu?

Dari Jakarta Palembang ditempuh dalam waktu 55 menit dengan pesawat. Sore itu pesawat Garuda yang saya tumpangi melayang dengan anggun memasuki jalur pendaratan ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin III. Cuaca sedikit berkabut, karena hujan tadi malam. Di sebelah kiri dari jendela pesawat, tampak sungai Musi yang menjadi semacam “jalan raya” bagi Provinsi Sumatera Selatan. Ada sebuah pulau yang menempel ke sisi sungai Musi, Pulau Kemaro. Sebentar kemudian roda pesawat menjejak mulus landasan pacu, dan suara pramugari terdengar lembut selamat datang di Palembang Sumatera Selatan.

Bandara Sultan Mahmud Baddaruddin II (SMB II) ini terletak di Kecamatan Sukarame, dioperasikan oleh PT Angkasa Pura II. Nama bandara ini berasal dari nama Sultan Mahmud Badaruddin II (1767-1862), seorang pahlawan yang pernah memimpin Kesultanan Palembang Darussalam (1803-1819). Bandara ini memiliki landasan 3000 meter dan menjadi salah satu Embarkasi Haji dari 10 bandara embarkasi Haji di Indonesia. Melayani penumpang rata-rata 2,5 juta penumpang per tahun, bandara ini terus mengembangkan diri untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah penumpang.

SMB II Palembang

Peristiwa penerbangan penting di Bandara SMB II antara lain adalah, pembajakan pesawat Woyla, tanggal 28 Maret 1981. Lima orang teroris yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein anggota kelompok ekstremis Islam “Komando Jihad”, membajak pesawat Garuda GA206 setelah lepas landas dari Pelabuhan Udara Talangbetutu ke Bandara Polonia Medan. Akhirnya pesawat Woyla mengalami drama puncaknya di Bandara Don Muang di Bangkok Thailand tanggal 31 Maret 1981.

Peristiwa lain adalah jatuhnya pesawat Silk Air 185 di sungai Musi tanggal 19 Desember 1997, sekitar pukul 16.13 WIB. Pesawat Boeing 737-300 yang terbang dari Cengkareng ke Singapura ini mengalami kecelakaan jatuh di atas Sungai Musi. Seluruh 104 orang, yang terdiri dari 97 penumpang dan 7 awak kabin tewas, termasuk pilot Tsu Way Ming dari Singapura dan kopilot Duncan Ward dari Selandia Baru. Sebabnya diperkirakan Capt. Tsu Way Ming bunuh diri, karena masalah keuangan.

Eko Diantoro GMPLM - ZulfahmiDi bidang transportasi udara, kendala bagi penumpang pesawat adalah bagaimana mendapat penerbangan langsung antar kota di Sumatera, dan tidak harus melalui Jakarta dulu. Misalnya, dari Palembang ke Padang atau Palembang ke Pekanbaru. Penerbangan langsung ke kota-kota itu tidak ada dari Palembang, sehingga harus ke Jakarta dulu baru ke Padang atau ke Pekanbaru. Memang disadari bahwa jika tidak ada demand maka tidak tercipta supply-nya. Hanya saja barangkali supply-nya dulu diberi, agar membentuk demand masyarakat.

Saya membahas hal ini ketika bertamu ke General Manager Bandara SMB II Bpk. Eko Diantoro, yang sebelumnya beliau sebagai GM Bandara Husein Sastranegara Bandung. Ditengah-tengah kesibukan beliau menyiapkan Bandara SMB II menerima tamu-tamu Islamic Solidarity Games ke 3 yang diselenggarakan pertama kalinya di Indonesia, beliau bercerita mengenai pengeloaan Bandara SMB II. Dan beliau sangat antusias dan menceritakan bagaimana ketika beliau meyakinkan airline, agar Bandung menjadi destinasi selain Soekarno-Hatta. Sekarang beliau sedang terus mencoba meyakinkan airline untuk bersama-sama membuat Bandara SMB II menjadi Hub Sumatera Selatan. Semoga sukses pak GM.

PULAU KEMARO

Daya tarik dan yang membuat Palembang besar adalah Sungai Musi. Sungai yang panjangnya lebih dari 750 km ini membelah Kota Palembang menjadi dua bagian kawasan Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan.

Jembatan Ampera Sungai Musi

Pagi hari itu, saya ditemani Deddy Hariyanto GM Gapura Cabang Palembang menyusuri Sungai Musi dari depan Benteng Kuto Besak di dekat Jembatan Ampera menuju ke Pulau Kemaro. Cuaca cerah dan Pak Irsan pengemudi perahu yang sudah lebih 20 tahun hilir mudik diatas sungai Musi mengantarkan kami. Dan sensasi menyusuri Sungai Musi pun dimulai.

Dari jauh Jembatan Ampera tampak megah membentang melintang Sungai Musi. Air sungai berwarna coklat, dalamnya berkisar 20 – 30 meter. Tidak dapat dipungkiri icon kota Palembang adalah Jembatan Ampera. Jembatan yang dibangun tahun 1962 ini membentang sepanjang 1.117 meter lebarnya 22 meter. Tinggi jembatan 11.5 m dari permukaan air dan tinggi menaranya 63 m dari permukaan tanah, jarak antara menara 75 m dan beratnya 944 ton! Pembangunan jembatan dilakukan pada tahun 1962, biayanya sebesar USD 4.500.000 (kurs waktu itu USD1=Rp 200,-).

Rsz Pulau Kemaro

Dahulu bagian tengah jembatan ini masih dapat dinaik-turunkan untuk memberi jalan perahu besar lewat dibawahnya. Sekarang tidak lagi, dengan alasan karena menimbulkan kemacetan yang panjang di jalan raya.

Pak Irsan menjalankan perahunya dengan santai. Ada sensasi tersendiri ketika kami melewati dibawah Jembatan Ampera. Beton penyangga tampak kokoh meyakinkan. Memperhatikan gerak airnya, pasti arusnya kuat sekali. Kami melewati Pelabuhan Palembang dan pabrik Pupuk Sriwijaya di sebelah kiri sungai.

Pagoda Pulau Kemaro 14 Sep 2013Kapal-kapal besar tampak sedang sandar di depannya, menunggu muatan barangkali. Boat-boat kecil dengan lunasnya yang persegi dan naik ke atas permukaan air, tampak melaju dengan cepat, kayaknya asyik kalau naik itu deh. Sungai Musi menjadi seperti jalan raya bagi masyarakat yang bermukim di tepi sungai ini.

Tidak terasa 30 menit berlalu, di depan kami sebuah pagoda tampak sayup-sayup terlihat di ujung pandangan. Itulah Pulau Kemaro.

Memasuki Pulau Kemaro ada Kelenteng yang tampak terpelihara dengan baik. Di depan pintunya ada semacam kotak yang berisi tanah. Konon tanah itu terus “tumbuh” meninggi, tetapi sewaktu saya tanya kepada Pak Burhan pengelola Kelenteng katanya itu tidak benar. Barangkali cerita itu muncul dari legenda terjadinya Pulau Kemaro.

Legenda Kemaro Tan Bun An Siti FatimahDi belakang Kelenteng ada sebuah Pagoda yang cantik bertingkat 9. Warnanya artistik kombinasi merah, kuning dan putih. Saya duduk sejenak sambil ditawari kelapa muda oleh Chairul. Dia kemudian bercerita Pulau Kemaro adalah sebuah kelurahan yang dihuni 137 KK. Mata pencaharian penduduknya adalah nelayan, petani dan pencari harta karun dengan menyelam ke dasar Sungai Musi. Temuannya beraneka ada keramik, porselen, bahkan kalau beruntung dapat emas batangan sebesar jari. Emas yang jatuh dari gucinya Tan Bun An barangkali!

Kira-kira 2 jam kami di Pulau Kemaro, kemudian kami kembali ke benteng Kuto Besak. Malam harinya kami diajak Deddy Hariyanto bersama stafnya makan malam di Restoran River Side. Ini kedua kalinya saya makan malam disini, dan masih saja kagum dengan keindahan Jembatan Ampera pada waktu malam hari.

Jembatan Ampera River side

Saya sungguh hormat dan respek pada para penggagas ide yang membangun jembatan ini. Setelah lebih 50 tahun jembatan ini tetap eksis, menjadi jalur ekonomi, menjadi icon kota Palembang dan juga dinikmati ribuan pasang mata turis yang datang ke Palembang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: