Posted by: Heru Legowo | June 4, 2014

Puncak Gunung Gede (2)


W AdellaHari Minggu 25 Mei 2014 jam 03.30 setelah bersiap, kami meninggalkan Kandang Badak. Perlengkapan ditinggal di tenda, kami hanya membawa barang yang perlu saja jas hujan, air dan makanan kecil. Sari dan Gusdi terpaksa ditinggal di tenda. Sari tidak kuat dan Gusdi suaminya harus menemani.

Setelah hampir satu jam dari Kandang Badak, semburat merah sinar matahari dari balik pepohonan mulai mewarnai ufuk lagit. Kami sampai si Tanjakan Setan, 2.600 M dpl. Tidak tahu mengapa namanya begitu, barangkali karena treknya berbatu dan menanjak hampir tegak lurus. Dana pemandu kami memberi alternatif, jika tidak percaya diri melalui Tanjakan Setan dapat memilih jalan lain yang sedikit memutar. Saya bertanya, apakah trek itu aman dilalui?

TANJAKAN SETAN
Setelah Dana meyakinkan kami, maka saya bilang kepada anak-anak, harus berani melalui trek yang terjal ini. Ini sebuah tantangan yang mesti dilalui. Berat tetapi jika semangat, hati-hati dan penuh perhitungan, pasti akan bisa. Satu demi satu mereka naik, saya memperhatikan dan mengawasi. Saya ikut menaiki Tanjakan Setan ini dan berhenti ditengahnya untuk melihat satu satu anggota tim lewat dengan antusias dan semangat. Dan akhirnya, semuanya dapat melewati Tanjakan Setan dengan selamat. Manusia memang kadang-2 harus diingatkan dan diyakinkan untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa.

Bonusnya di belakang kami Gunung Pangrango menunjukkan dirinya. Dibawah remang-remang sinar matahari pagi, dari balik pepohonan Gunung Pangrango, gunung tertinggi kedua di Jawa Barat, tampak menjulang. Tingginya 3.019 M, lebih tinggi dari Gunung Gede.
Istirahat sejenak disini. Terus kami mulai menaiki trek ke puncak yang mulai menanjak dan tegak. Treknya berupa tanah berbatu dengan akar-akar pohon malang melintang ditengahnya. Pepohonan mulai jarang di kiri-kanan trek yang kami lalui. Perlahan-lahan kami terus berjalan dan mengatur nafas yang tersengal-sengal. Saya bertanya kepada Bambang yang membawa GPS : “Berapa meter lagi ke puncak?” Bambang berteriak dari bawah : “400 meter lagi pak!”. Hanya 400 meter, tetapi itu jarak keatas dan bukan jarak mendatar. Lumayan juga.

PUNCAK GEDE
Jam 08.30 setelah menghabiskan nafas dan semangat, akhirnya kami tiba di puncak Gunung Gede. Masih harus berjalan beberapa ratus meter lagi, sebelum benar-benar sampai di tonggak yang bertuliskan puncak Gunung Gede. Kami berjalan menyelusuri tepian kaldera yang luas. Di tepi puncak diberi pagar dengan tali dan tonggak-tonggak beton yang berjarak 50 meteran antara satu dan lainnya.

W HL at the summitsPemandangan di puncak sini, sungguh menakjubkan. Di depan kami tebing terjal dengan rengkahan bebatuan yang tampak kasar dan menimbulkan rasa seram. Jalan setapak lebarnya berkisar 2-3 meteran, kedua tepinya jurang yang sangat dalam. Jalan ini membentuk lengkungan dan diujungnya ada tonggak puncak Gunung Gede. Di belakang kami berdiri dengan anggun Gunung Pangrango. Kami segera membelakangi dan berfoto dengan latar belakang gunung yang tampak hijau tertutup pepohonan yang rapat. Sangat berbeda dengan puncak Gede yang gundul, tetapi menghamparkan pemandangan yang luar biasa.

Kami berjalan perlahan menikmati pemandangan yang luar biasa ini. Semua kelelahan dan rasa putus asa ketika mendaki seakan lenyap. Capek dan lelah mencair oleh hangatnya sinar mentari pagi, semilirnya angin gunung yang membelai kulit wajah. Uang tipis dari kawah Gunung Gede menguarkan bau sulfur yang tidak terlalu menyengat hidung. Dana pemandu kami mengingatkan agar berjalan dulu sampai di tonggak ujung puncak gunung, dan fotonya nanti saja. Tetapi kami tidak ingin menyia-nyiakan keindahan yang sangat jarang kami temui ini. Akhirnya, Dana mesti bersabar melihat dan menjaga kami saling mengambil pose dan berfoto seakan tanpa henti.

Ternyata jalan ke ujung puncak Gede, juga masih perlu berhati-hati. Jalan dari tanah yang berpasir banyak ceruk dan berbatu-batu mengharuskan kami untuk tetap waspada. Di sebelah kiri kami menghampar kaldera yang dalam dengan uang kawah yang keluar dari dasar kawah dan juga dari tebing-tebingnya. Di sebelah kanan kami menghampar pedesaan atau perkotaan, barangkali kota Sukabumi dan sekitarnya. Jauh dibawah kanan ada sebuah danau dengan airnya yang berwarna hitam. Di sebelah kanan jalan ada tumbuhan perdu, menurut Dana namanya Cantigi. Buahnya yang berwarna hitam dapat dimakan.

Beberapa puluh meter menjelang tonggak puncak, di sebelah kanan bawah kami ada lapangan luas dengan beberapa tenda berwarna kuning dan merah ditepinya. Itulah alun-alun Surya Kencana yang terkenal karena tanaman Edelweiss yang tumbuh lebat di sekelilingnya. Sebenarnya kami ingin turun dan melihat langsung dari dekat, tetapi kami menyadari tenaga kami barangkali tidak cukup kuat. Butuh waktu 30 menit untuk turun dan satu jam untuk naik kembali.

W Tim Gapura

Menurut mitos, alun-alun Surya Kencana di sebelah timur Gunung Gede itu adalah tempat bersemayamnya Pangeran Suryakancana putra dari Raden Aria Tanudatar pendiri dan Bupati pertama Cianjur. Pangeran Suryakancana berputera 2 orang Prabu Sakti dan Prabu Siliwangi, yang terkenal itu. Bekas singgasana Pangeran Suryakancana berupa batu besar yang berbentuk pelana. Sampai saat ini, batu itu masih berada ditengah alun-alun dan disebut Baru Dongdang, yang menurut mitos dijaga oleh Mbah Layang Gading.

Sebenarnya saya ingin turun dan melihat alun-alun Surya Kencana itu, tetapi rasanya tidak cukup waktu untuk kembali ke Cibodas. Apaboleh buat kami mesti menghapuskan keinginan untuk melihat langsung Surya Kencana. Dan beberapa langkah kemudian, ada papan penunjuk Surya Kencana ke arah turun kearah kanan. Teapt disebelahnya tonggak Puncak Gunung Gede.

Alhamdulillah akhirnya sampai di puncak Gunung Gede. Setelah berjalan 4 jam lebih dari Kandang Badak. Gunung Pangrango yang tadinya dibelakang kami, sekarang tegak dengan indahnya depan kami. Para pendaki bergantian berfoto di depan tonggak Puncak Gunung Gede, tidak pernah ada jedanya. Tulisan putih dengan latar belakang warna biru itu berbunyi : Puncak Gede 2.958 M Damai Kami Sepanjang Jalur. Di puncak dipenuhi pendaki. Sejenak kemudian, kami berfoto bergantian dengan pendaki lainnya. Mission accomplished. Eagle has juts landed.

KOPI & POP MIE
Berikutnya, bergantian jongkok di depan Mang Odet yang menjual minuman panas dan Pop Mie. Hebat kan? Di puncak gunung ada yang jual kopi dan teh panas dan Pop Mie! Mang Odet dibantu dua orang anak-anaknya yang masih kecil dan tampak sigap membantu bapaknya membuka tutup Pop Mie, dan menyerahkan ke pembeli setelah siap diisi air panas.

W Gunung Pangrango

Saya duduk di tepi kaldera yang curam. Menyuap pop mie panas dipuncak Gunung Gede, sungguh nikmat. Segelas kopi panas, melengkapi kenikmatan di puncak Gunung Gede. Ini benar-benar pengalaman yang spektakuler. Sejenak setelah itu, fikiran melayang dan membawa ke sebuah renungan.

Diatas sini, kedamaian berhembus dengan kencang, menyerap ke dalam sanubari. Kedamaian yang baru dapat dirasakan, setelah susah payah melewati hambatan dari luar dan dari dalam sendiri. Tidak akan ada pemahaman mendalam yang dirasakan tanpa mengalami sendiri kesulitan itu.

Di depan saya Gunung Pangrango. Tampaknya Gunung Gede lebih aktif daripada Gunung Pangrango. Puncak Gunung Gede hanya sebagian yang masih tersisa, dulunya pasti meletus dan membuat puncaknya runtuh, meninggalkan kaldera yang lebar. Tidak banyak pohon yang tumbuh di puncaknya, kecuali tumbuhan perdu cantigi dan beberapa bunga Edelweiss. Sementara puncak Gunung Pangrango tampak masih utuh, meruncing dan dipenuhi pepohonan.

Ketika berjalan turun, kami bertemu Budi yang tadi pagi berjanji menyusul kami, karena kakinya sedikit sakit. Kemarin siang selagi kami berkutat naik ke Kandang Badak. Budi sudah duluan sampai ke Puncak Pangrango. Dan sekarang dia sudah di depan kami. Terimakasih kepada Budi, dia mampu mencapai puncak Pangrango dan Gunung Gede sekaligus. Ternyata tidak hanya mencapai puncak Gede; dia juga akhirnya sempat turun dan melihat alun-alun Surya Kencana. Sementara anggota tim lainnya sudah kehabisan tenaga.
Paling tidak Budi telah menyelamatkan tulisan pada kaos kami yang berbunyi : Gede Pangrango 24 Mei 2014. Berkat Budi, kaos kami menjadi tidak kehilangan maknanya. Dua puncak gunung benar-benar mampu didaki. Luar biasa Budi!

W Tim Gapura1METAFORA
Saya mengambil pelajaran dari Gunung Gede dan Pangrango ini. Pangrango gunung utuh belum pernah meletus. Bentuknya meruncing bagus dan dipenuhi pohon. Pasti menuju atas sana lebih sulit dari Gunung Gede. Sayangnya pasti dari atas sana tidak mungkin melihat sekeliling, karena lebatnya pepohonan dipuncaknya. Ibarat orang, Pangrango ibarat orang yang tidak pernah berbuat salah.

Sebaliknya, Gunung Gede sudah pernah meletus dan puncaknya lenyap meninggalkan kaldera yang cukup lebar dan luas. Oleh karenanya, puncaknya lebih mudah didaki. Meletusnya Gunung Gede pasti dulu menimbulkan musibah kepada masyarakat. Tetapi sekaligus juga pasti menyuburkan tanah di sekelilingnya. Dan memberikan pendakinya kesempatan untuk menikmati keindahan alam semesta. Ada trade-off antara musibah meletusnya Gede dan kesuburan serta keindahanannya.

Jika analogi ini diterapkan kepada kehidupan manusia, yang manakah yang anda pilih? Menjadi Pangrango atau Gede? Nah, silahkan pembaca merenung sejenak. Semua terserah anda. Ini hanya sekedar metafora saja, hasil perenungan dipuncak Gunung Gede.

TURUN KEMBALI
Lebih kurang satu jam dipuncak Gunung Gede. Kami bergegas turun. Rasanya masih ingin berlama-lama di puncak, tapi malam ini kami harus sudah kembali ke Jakarta. Perjalanan turun cukup lancar. Memperhatikan trek yang kami naiki pagi tadi, ketika masih gelap membuat kami heran kok bisa melalui trek yang cukup berat itu.
Jam 11.30 kami sampai di Kandang Badak. Setelah makan siang yang disiapkan pak Aham dan rekan-rekannya kami segera turun. Perjalanan turun sedikit tersendat di lokasi Air Panas. Kami harus bergantian yang naik dan yang turun. Meniti tebing berbatu dengan air panas yang mengalir deras dengan batu-batu yang licin, membutuhkan konsentrasi ekstra.

Trek turun yang terasa panjang adalah di ruas trek antara Pos Kandang Batu ke Pos Pencayangan Kuda. Apalagi hujan turun cukup deras, kami harus menggunakan jas hujan. Setelah istirahat sejenak di Pos Pencayangan Kuda, kami terus berjalan. Ruas Pencayangan Kuda ke Pos I membuat saya mesti berjalan dengan penuh hati-hati. Trek berbatu licin dan fisik mulai menurun. Ini membuat rasanya perjalanan turun begitu lama dan tidak sampai-sampai.

W HL Bambang

Ketika turun saya selalu ekstra hati-hati, melangkah dengan pasti dan penuh perhitungan. Jangan sampai kaki cedera atau terluka ketika di gunung! Bisa menimbulkan masalah panjang. Alif pemandu kami yang mengikuti anggota paling belakang bilang maksimal 1 jam. Tetapi kami sudah berjalan satu setengah jam, tetapi Pos 1 tidak kunjung muncul juga. Rasanya lama banget.
Akhirnya jam 6 sore, kami sampai dengan selamat kembali di Warung Mang Idi. Kami berbersih sedikit, minum teh hangat manis dan makanan kecil. Lalu kami semua berkumpul dan berdoa bersama. Sebentar kemudian Pak Widoyo driver bus mengantarkan kami kembali ke Jakarta.

Alhamdulillah mudah-mudahan pendakian ke Gunung Gede memberikan inspirasi dan semangat bagi semua peserta. Pelajaran yang secara nyata dialami adalah bahwa setiap keberhasilan selalu diperoleh melalui kerja keras, pengorbanan, komitmen dan determinasi untuk mencapai target bersama.Tanpa itu semua, siapa pun tidak akan sampai kesana.
Semoga ini menjadi inspirasi anak-anak muda yang kebetulan membaca ini …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: