Posted by: Heru Legowo | June 4, 2014

Puncak Gunung Gede (1)


W Gunung PangrangoGunung Gede bersanding berdekatan dengan Gunung Pangrango. Seperti halnya Gunung Merapi-Merbabu dan Sindoro-Sumbing. Konon Gunung Gede tingginya 2.958 M dpl, gunung ke tiga tertinggi di Jawa barat setelah Gunung Ciremai dan Gunung Pangrango. Konon Gunung Gede adalah gunung bagi pendaki pemula. Ini yang menarik, sehingga kami berencana naik ke puncaknya.
Gunung Gede terletak di dalam Taman Nasional Gede Pangrango yang merupakan salah satu dari 5 Taman Nasional yang dilindungi oleh pemerintah dan dikelola oleh Kementerian Kehutanan. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ditetapkan sebagai taman nasional tahun 1980. Luasnya 21.975 hektar, hanya berjarak 100 km dari Jakarta. Di dalam kawasan hutan TNGP, dapat ditemukan pohon raksasa Rasamala, kantong semar dan berbagai jenis anggrek hutan, dan beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah, misalnya jamur yang bercahaya.

Pendakian kali ini diikuti oleh 14 orang peserta. Kami memilih menggunakan Pos Cibodas sebagai awal pendakian. Mengingat ini baru pertama kali dan banyak peserta pemula, maka kami memilih jalur yang paling mudah dan aman. Oleh karena itulah alih-alih melakukan sendiri semuanya, kami memilih menggunakan pemandu yang membantu pendakian ini.

Jumat malam kami berangkat ke pos awal di Cibodas, di Warung Mang Idi. Kami sampai disana Jumat jam 11 malam. Setekah sedikit berbersih, kami segera beristirahat, dan bersiap berangkat esok paginya jam 6 pagi.

Blog Pos 1 Bersama

Esok paginya setelah menyiapkan diri sarapan seperlunya, kami berkumpul di depan warung mang Idi berdoia bersama, semoga kami kembali lagi dengan selamat tidakm kurang suatu apapun. Kami mulai berjalan dengan semangat, sampailah kami di Pos Pemeriksaan. Pemandu kami melaporkan kesiapan kami dan persyaratan surat kesehatran dan lainnya. Maka mulailah pendakian ini. Bismillah ….

TELAGA BIRU
Telaga biru saya temui kebetulan saja. Ketika seang berhenti untuk menarik nafas, saya melihat ada air menggenang di sebelah kiri. Saya turun dari trek ternyata itu adalah Telaga Biru. Airnya berwarna coklat bukan biru lho ya. Luasnya sekitar 150 M2. Sebenarnya Telaga Biru ini lebih tampak seperti sebuah kolam. Sinar matahari menerobos dari balik pepohonan dan memberi efek artistik ketika menyentuh permukaan air.

Bambang yang memang hobby foto dan fotografer itu, ikut nimbrung dan memotret Telaga Biru ini. Beberapa orang ikut nimbrung minta foto. Sebentar berhenti disini dan setelah mengambil foto, kami terus melanjutkan pendakian.

AIR TERJUN CIBEUREUM
Blog CibeureumDi Pos Penyancangan Kuda, kami berhenti sebentar bersama para pendaki lainnya yang sudah lebih dulu sampai. Masih pagi jam 08.30. Di papan penunjuk tertera Puncak Gede masih 8,7 km lagi dan Pangrango 10,5 km. Dibawah dibawah sana terdengar gemuruh suara air terjun Cibeureum. Letaknya 300 meteran dari pos ini. Bambang, Tika, Nur dan Lila turun ke bawah mau buang air. Saya menyusul setelah beberapa menit mereka tidak juga kembali. Pasti keasyikan melihat keindahan air terjun itu, padahal pendakian masih cukup jauh.

Menuruni trek ke air terjun, ada sungai mengalir jernih dan deras. Dan beberapa menit kemudian, 2 air terjun berada didepan. Tingginya berkisar puluhan meter, kira-2 kurang dari 100 meter deh. Tampias air yang jatuh ke batu dibawahnya memercik dan menimbulkan sejuk udara yang sudah dingin ini. Di sebelah kiri air terjun ada sebuah toilet yang bersih dan dijaga petugas, ongkosnya Rp. 2 ribu.
Dan benar saja mereka masih asyik saling berfoto dibawah air terjun Cibeureum ini. Saya mengingatkan agar segera kembali dan melanjutkan pendakian. Saya segera naik keatas kembali dan melanjutkan pendakian ke Kandang Badak.

AIR PANAS
Sekitar jam 11 kami sampai di pos Air Panas. Ada lapangan kecil disini. Saya tidak berhenti disini, terus melangkah menerobos trek yang mulai rimbun dengan perdu dikiri-kanan. Sebentar kemudian, pendaki mesti antri melewati air panas yang mengalir turun dari tebing. Treknya berbatu dan basah dialiri air panas. Lebarnya hanya kurang dari satu meter.

Disebelah kiri tebing berbatu dan sebelah kanan jurang yang dalam. Ada tonggak besi pengaman dengan tali yang menghubungkan antara masing-masing tonggak itu. Benar-benar mesti ekstra hati-hati disini. Diantara menunggu antrian, saya mencoba memotret situasi, tetapi lensa kamera cepat sekali buram terkena uap air panas. Susah untuk fokus.

Perlahan-lahan kami melewati air panas ini, berpegangan tebing dan tali di sebelah kanan kami, penuh hati-hati. Beberapa batu yang kami pijak licin dan basah. Lengkap sudah. Melewati air panas, ada sungai yang airnya panas. Saya melepas sepatu sebentar dan merendam dan mengistirahatkan kaki disini. Air sungai tidak begitu panas, terasa hangat di kaki. Lumayan untuk mengurangi rasa pegal dan kaku. Sebentar kemudian kami meneruskan langkah kami, trek yang dilakui sejajar dengan sungai. Ditepinya beberapa tenda sudah berdiri, dan penghuninya sedang istirahat dan masak. Asyik juga kelihatannya. Hanya sebentar berjalan dan Pos Kandang Batu tampak didepan kami.

KANDANG BATU
Kami berhenti di Kandang Batu 2.300 M dpl, berhenti sejenak disini sambil menikmati nasi uduk. Oh ya sekedar pembaca tahu, di Gunung Gede ada penjual makanan yang datang dari Gunung Putri. Mereka mendaki melalui Surya Kencana-Puncak Gunung Gede-Turun ke Kandang Badak dan menjemput pembeli sampai di Kandmah Batu sini. Mang Daro menawarkan nasi uduk Rp. 10 ribu sebungkus kecil, dan gorengan Rp. 2 ribu satu.

Blog TendaSebenarnya saya tidak lapar amat, hanya ingin menikmati sensai makan nasi uduk di Kandang Batu saja. Menyuap nasi uduk yang berwarna kuning dengan potongan telur goreng, saya membayangkan bagaimana Mang Daro mendaki Gunung Gede dan turun kesini menjemput pembelinya. Setelah makan dan istirahat sebentar, kami kembali melangkah dan bersiap untuk melewati tanjakan di Panca Weuleuh.
Beberapa saat berjalan di sebelah kanan kami terlihat Air terjun Panca Weuleuh. Tidak seperti air terjun yang tinggi. Air terjun ini mirip dengan air terjun yang ada di Bantimurung di Maros, Makassar. Hanya saja airnya tidak sederas dan sebanyak di Bantimurung. Lagipula batunya berwarna coklat tua.

Melewati air terjun Panca Weuleuh kami mulai mendaki tanjakan yang memakan tenaga dan menghabiskan nafas. Benar seperti yang dikatakan pemandu kami Dana, trek yang menanjak dan berbatu; membuat rasanya mau membuang tas punggung yang semakin terasa berat saja. Untunglah kemudian ada Bayu dan Alif, yang melakukan roll-over; naik-turun mengamati para peserta pendakian yang kesulitan. Lila dan Tika minta tolong mereka berdua membawakan tas punggungnya masing-masing. Ketika ketemu tanjakan, kami berjalan 10-20 langkah dan berhenti untuk menarik nafas. Perlahan-lahan tetapi pasti kami melewati Panca Weuleuh.

Blog Kandang Batu

KANDANG BADAK
Setelah berjuang melewati trek yang berbatu yang memakan tenaga dan menghabiskan nafas, trek mulai mendatar. Trek mendatar selalu menjadi bonus, karena kami sapat melangkah dengan santai dan rileks. Beberapa saat kemudian jam 13.45 akhirnya kami sampai di Pos Kandang Badak, 2.400 M dpl. Sudah puluhan tenda yang berdiri disini, dan masih ada sekelompok pendaki yang sedang memasang tendanya. Tidak seperti yang saya bayangkan, camping ground disini terselip diantara pepohonan dan lereng gunung yang berundak-undak dan tidak rata.

Kami mencari tenda kami, ternyata berada di sudut lereng gunung. Ada 5 buah tenda yang sudah disiapkan oleh porter kami. Tidak semua lantai tenda rata, kasihan juga Pak Iwa, Pak Romi dan Pak Budi kebagian tenda, yang lantainya miring. Pasti susah tidurnya nanti. Semua bergegas masuk ke tenda dan merebahkan badan yang sudah kehabisan tenaga. Sebentar kemudian Pak Aham ketua porter kami menawarkan teh hangat manis, yang terasa lebih nikmat dari biasanya. Makan siang sederhana dengan lauk tempe goreng tepung dan ikan sarden menjadi santapan siang kami untuk memulihkan tenaga.

Kami menginap disini dan besok pagi jam 3 dini hari mendaki lagi ke puncak, summit attack. Malam harinya, dinginnya gunung Gede menembus sleeping bag dan jaket yang berlapis. Kaki dibawah betis terasa dingin sekali. Walaupun capek, tidak bisa segera tidur. Jam 1 malam saya keluar tenda, buang air kecil. Sedikit groggy. Benar-benar gelap dan senyap. Hanya ada beberapa lampu senter yang menyala di beberapa tenda. Saya sorotkan senter ke sekeliling, sedikit was-was, ini benar-benar di gunung yang jauh dari mana-mana. Hiii … Sesudah buang air, saya terlelap tidur. Terbangun ketika pemandu membangunkan kami dan mengingatkan agar bersiap-siap melanjutkan pendakian ke puncak.

W Adella Tanjakan Setan

Kami semua bersiap dan jam 03.30 kami berdiri berkeliling diantara tenda berdoa bersama. Sayang kami harus meninggalkan Sari yang fisiknya tidak kuat untuk meneruskan pendakian ke puncak. Gusdi suaminya, juga harus tinggal menemani.
Trek awal ke puncak mulai terasa terjal. Pendakian pagi dini hari memberi manfaat tersendiri, karena kami tidak melihat trek keatas yang akan kami lalui seluruhnya, hanya sebatas jangkauan lampu senter kami. Ini membuat kami tidak groggy, dibandingkan jikalau kami melihat trek yang akan dilalui. Perlahan-lahan kami bergerak keatas.

Setengah jam berjalan, Tika anggota kami berhenti sambil memegang kaki kanannya sambil mengeluh sakit dan akan kembali saja. Saya bilang : “Walaupun sakit, kalau hatimu yakin sampai ke puncak, maka kakimu akan mengikuti apa kata hatimu”. Saya minta Indri menemani Tika istirahat sebentar dan kemudian kalau kuat jalan lagi. Ternyata nanti Tika akhirnya dengan semangat sampai dipuncak dan masih bisa ketawa-ketawa dan bercanda.
Perjuangan semakin berat, karena trek semakin terjal. Tetapi kami terus mendaki setapak demi setapak. Semangat … semangat … (bersambung)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: