Posted by: Heru Legowo | June 2, 2015

Kesombongan Spiritual


SmallerTanpa disadari orang-orang yang sukses dan mendapat banyak harta itu, telah memamerkan hartanya ke masyarakat. Mereka dilanda kesombongan yang barangkali tidak disadarinya, karena bagi mereka itu adalah sebuah success story. Sayangnya atau untungnya (?), televisi ikut menyiarkannya ke seluruh lapisan masyarakat. Dan semakin banyak saja dari waktu ke waktu.

Itu pada satu sisi. Pada sisi yang lain teknologi komunikasi membuat pertukaran data dan informasi berlangsung seketika. Semua bidang dimasuki. Pertukaran data dengan WA, bbm, sms, line, skype dan lain-lainnya terus berjalan. Pertukaran data dan gambar berlangsung sangat cepat. Mulai kejadian-kejadian, peristiwa, perjalanan, sampai dengan kata-kata bijak, bahkan ayat-ayat dari kitab suci meluncur dengan mulus melalui telepon genggam anda. Salah satu topiknya adalah tentang spiritual. Berbagai data, informasi, kata-kata mutiara, nasehat, quotes bertebaran di telepon genggam anda semua. Melalui wahana ini tausiah dapat dilakukan tanpa harus bertatap muka. Para ustdaz, guru, para penasehat dan penghayat spiritual, membagi ilmunya melalui sarana ini. Jadi telepon genggam canggih anda telah menjadi muara semua itu, dari yang duniawiah sampai yang ruhaniah. Semua bercampur-baur menjadi satu, mirip seperti dunia dalam skala kecil.

KESOMBONGAN SPIRITUAL

Pada mulanya hal-hal yang bernuansa spiritual dimulai dari mengingatkan, kemudian memberitahu, lalu menyarankan solusi dan kemudian memberikan nasehat. Walaupun begitu, tokh kita bisa membedakan mana yang asli dan mana yang hanya sekedar “copy-paste“. Saya memperhatikan fenomena yang berlangsung itu. Beberapa rekan yang mendalami masalah agama dengan lebih intensif dan serius, lalu menjadi sumber dan tempat bertanya. Mereka lalu memberikan saran dan nasehat, diminta maupun tidak diminta, melalui sarana tadi. Alhamdulillah teknologi telah mampu menjadi sarana untuk proses “meminta dan memberi nasehat” ini.

Setelah itu yang kemudian berkembang adalah beberapa orang yang terbiasa memberi nasehat, lalu bergeser dan mulai mengarahkan agar melakukan ibadah. Pada mulanya memberi kesan santun dan baik, lama kelamaan menjadi semacam memaksa secara halus. Lalu menakut-nakuti dengan menyebut beberapa ancaman, jika yang dinasehati tidak melakukannya. Perlahan-lahan tanpa disadarinya, atau justru malah disadari dengan sepenuhnya; si pemberi nasehat ini lantas merasa menjadi yang paling mengerti dan tahu akan sesuatu. Semakin banyak yang meminta nasehat, dia semakin eksis. Saya sedikitnya dapat merasakan bahwa orang-orang itu yang karena dianggap lebih tahu, telah terdorong masuk kedalam ujub. Selanjutnya mewujud dalam sebuah kesombongan yang hanya dia sendiri yang tahu. Sebuah kesombongan spiritual.

Kesombongan spiritual seperti halnya ujub dan riya’ sebenarnya adalah bagian dari penyakit hati. Yang tahu dan mengerti adalah justru penderitanya sendiri. Orang lain tidak akan tahu, karena itu tersembunyi rapat dalam hati kecilnya sendiri. Sombong artinya tinggi hati. Orang sombong ditandai dari beberapa hal : merasa berhasil, merasa lebih pintar dan lebih tahu daripada orang lain lalu menyepelekan / meremehkan orang lain, cenderung percaya kepada keyakinannya sendiri tanpa peduli nasehat orang lain dan merasa apa yang sudah diperoleh adalah karena usaha, kemampuan, dan pengalamannya sendiri.

AdigangSebenarnya mungkin dapat sedikit diterima, jika orang-orang yang sukses itu bersikap sombong. Mereka telah bekerja begitu keras, mengerahkan segala daya upaya dan tidak mengenal waktu. Itu jika berkenaan dengan duniawi. Tetapi jika terjadi dengan hal-hal yang bersifat ruhaniah lalu dia menjadi sombong secara spiritual, ini yang berat. Orang-orang itu merasa dirinya yang paling benar, dan yang salah adalah orang lain. Apalagi jika orang lain itu, tidak sesuai dengan keyakinan dan caranya. Kecerdasan, kemampuan dan keberhasilanya mendalami agama dan spiritual, justru telah membuta-tulikannya. Dia cenderung menjadi merasa paling tahu, dan mudah menyalahkan orang lain. Astaghfirullah

Semoga kita terhindar dari sifat-sifat sombong semacam itu, baik duniawiah maupun ruhaniah. Amin Ya Robbal Alamin.

Selasa, 2 Juni 2015
herulegowo@gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: