Posted by: Heru Legowo | August 27, 2015

Gunung Salak (I)


Akbar Adel Lila Basecamp CidahuGunung Salak banyak diceritakan sebagai gunung yang angker. Apalagi pada tanggal 9 Mei 2012 pesawat Sukhoi super Jet 100 yang sedang melakukan joy filght dari Bandara Halim Perdana Kusuma, menabrak salah satu puncak gunungnya dan semua crew dan penumpangnya. Sebanyak 45 orang tewas, termasuk captain pilot Alexander Yablontsev, dan copilot Alexander Kochetkov, keduanya dari Rusia

Gunung Salak bukanlah nama dari buah salak, tetapi berasal dari bahasa sansekerta “salaka” yang berarti perak. Letusan terakhir gunung ini terjadi pada tahun 1938 berupa erupsi freatik yang terjadi di kawah Cikuluwung Putri. Gunung Salak memiliki 4 puncak, yang tingginya relatif tidak jauh berbeda.
Ketika Pak Endang Kartiwa mengajak saya untuk mendaki Gunung Salak, banyak calon peserta pendakian yang groggy karena keangkeran dan misteri Gunung Salak. Tadinya tercatat yang mau ikut 24 orang, akhirnya hanya 16 orang yang ikut. Pada pendakian ini, kami memilih mendaki ke puncak Salak I tingginya 2.211 meter, melalui jalur resmi Cidahu.

Pagi hari itu Sabtu 15 Agustus 2015, jam 07.15 kami memulai berjalan dari basecamp Cidahu. Cuaca sedikit berkabut cerah, perlahan melangkah melalui jalan beraspal dalam hati berdoa semoga kembali semua dalam keadaan selamat. Jam 08.00 pagi kami memasuki pintu gerbang pendakian ke Gunung Salak. Dan perjuangan untuk mencapai puncak Salak pun dimulai. Treknya berupa tanah dengan batu dan akar-akar pohon. Rasanya tidak ada bonus trek yang sedikit datar, melainkan terus langsung berhadapan dengan trek yang keras dan sulit. Bismillah …

Team di Simpang Bajuri

Jam 10.30 kami tiba di Simpang Bajuri. Ini sebuah pertigaan. Ke kiri menuju ke Kawah Ratu, ke kanan ke Puncak Salak. Masih 5 km lagi menuju ke puncak. Dekat untuk ukuran jarak pada tanah yang datar, tetapi di gunung pasti cukup berat menempuh jarak itu. Simpang Bajuri berupa tanah yang cukup lapang dan rata. Beberapa orang pendaki berhenti disini untuk menarik nafas dan mengambil waktu untuk beristirahat dan mengambil air.

Di Simpang Bajuri ini juga tempat pengambilan air yang terakhir. Ada sumber air berupa kali kecil disini. Pendaki yang tidak membawa bekal air yang cukup, biasanya mengambil air disini. Sepanjang trek ke puncak Salak sudah tidak ada sumber air lagi. Di puncak Salak ada sumber air, tetapi mengambilnya sulit karena berada di lembah yang curam. Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan pendakian. Dalam hati saya berharap dapat mencapai puncak sebelum jam 4 sore.

Tanjakan Iblis
Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagian trek yang sering disebut sebagai Tanjakan Iblis. Dalam bayangan saya sebelum mendaki, ini mirip dengan Tanjakan Setan di Gunung Gede. Ternyata lebih berat lagi medannya. Dan lagi tanjakan ini tidak hanya sekali. Jadi sebenarnya ada beberapa Tanjakan Iblis, bukan hanya satu! Untuk melaluinya selain dibantu tali webbing, perlu lebih berhati-hati karena trek yang dilewati berbatu dan licin. Ada yang terrain-nya yang begitu sulit sehingga mesti dibantu pemandu untuk melewati trek ini. Kira-kira ada 3-4 kali kami harus melalui tanjakan yang memakan tenaga dan semangat ini.
Romi longsoran

Diantara semua trek yang keras itu, ada satu yang pasti diluar perhitungan. Bahkan pasti diluar perhitungan para pemandu! Di lokasi di HM 34, atau 1600 m sebelum puncak, ada tebing yang longsor memisahkan trek selebar 3 meteran. Untuk melalui trek ini hanya ada sebuah pohon yang rebah. Disebelahnya ada dahan dan akarnya yang melintang di lokasi longsor. Lalu ada tali webbing yang dipasang untuk membantu. Pohon bahan dan akarnya itu melintang menggantung, sekitar 20 meter dari dasar longsoran tebing! Hadeehhh … melewatinya perlu ekstra hati-hati dan jangan melihat kebawah, karena bisa membuat groggy.

Alhamdulillah kami dapat melakuinya dengan selamat. Ada beberapa teman rombongan kami yang mengambil jalur lain, tetapi tetap saja resikonya sama beratnya. Berada di jalur trek selebar setengah meter, dimana kiri dan kanannya adalah tebing curam dimana. Perlu konsentrasi tinggi dan berhati-hati.

HL Puncak Bayangan copy

PUNCAK
Alhamdulillah … Jam 17.30 akhirnya kami sampai di puncak. Saya melangkah perlahan sedikit tertatih-tatih, dengan langkah setengah terseret. Sudah banyak tenda berdiri di puncak sini, 2.211 m dpl. Team advance sudah mendirikan tenda. Saya duduk setengah merebahkan badan dan meluruskan kaki di pokok akar pohon, sambil memperhatikan sekeliling. Di puncak masih ada pepohonan yang cukup rapat. Pohon Cantigi. Di ufuk barat matahari yang mulai tenggelam tertutup awan. Jika saja tidak awan, sinarnya dibalik pepohonan pasti eksotis sekali. Angin bertiup perlahan seakan mengucapkan selamat datang di puncak Salak.

Setelah istirahat sebentar, saya berjalan mengamati puncak Salak. Puncak Salak I luasnya hanya sekitar 15X40 meter. Ditengah puncak lokasinya rata, tidak ada pohon. Jipo pemandu kami yang dulu menjadi penunjuk jalan operasi SAR Sukhoi mengatakan pepohonan di situ ditebang untuk pendaratan dan evaluasi helikopter SAR. Ada sebuah makam yang ditutupi rapat dengan tenda plastik. Makam Mbah Salak. Kondisinya pondasi dan keramiknya hancur, tetapi tampak ditata ulang. Jipo menjelaskan bahwa makam itu hancur karena kejatuhan dropping bahan makanan dari helikopter pada waktu operasi SAR Sukhoi SJ-100.

Disebelah utara ada Puncak Salak II, yang tampaknya lebih tinggi dari Puncak I. Jipo mengatakan trek kesana sulit sekali. Beberapa anak-anak muda sibuk berfoto di depan papan penanda puncak Salak yang berwarna hitam dengan tulisan kuning : Puncak Manik Salak I 2211 mdpl. Ternyata sudah puluhan tenda berdiri di ketinggian puncak sini.

Sunrise Pucak

Malam harinya sekitar jam 8, saya keluar dari tenda merasakan situasi puncak malam hari. Langit cerah. Bintang-bintang tampaknya bersinar lebih terang terlihat dari balik daun pohon Cantigi. Lampu-lampu kota dibawah sana menyemburatkan warna kuning kemerahan. Dingin sekali. Tidak kuat bertahan diluar berlama-lama. Saya masuk kembali ke tenda, padahal maunya berlama-lama diluar menikmati suasana puncak. Apa boleh buat.

Minggu 16 Agustus 2015 Puncak Gunung Salak di pagi dini hari, jam 3 saya terbangun. Suara angin yang menerpa pepohonan menimbulkan suara gemerasak yang mendirikan bulu roma dan membuat udara terasa semakin dingin. Suara angin mampu membuat kecut dan sedikit takut. Saya tarik sleeping bag lebih dalam dan meringkuk didalam tenda. Menjelang jam 5 pagi, saya keluar tenda mengamati matahari terbit.

Akbar Lila Puncak1 copy

Di sebelah timur kaki langit mulai diwarnai warna merah dengan latar depan pepohonan Cantigi. Perlahan-lahan matahari naik dan warna jingga di ufuk sana berubah kekuningan. Sinar matahari memunculkan siluet Gunung Pangrango dan Gunung Gede. Garis lengkung puncaknya kontras dengan warna jingga dibelakangnya. Cantik dan artistik sekali. Diam-diam saya bersyukur sudah pernah sampai ke puncak Gunung Gede, walaupun Pangrango belum sempat.

Angin sudah tidak lagi bertiup dengan kencang, tapi tetap saja di ketinggian 2.211 m ini terasa dingin sekali. Saya bertahan untuk mengamati perubahan warna dikaki langit. Perlahan-lahan warna kuning mulai mendominasi dan warna jingga mulai memudar. Siluet Gunung Pangrango dan Gunung Gede mulai menghilang dan mulai kelihatan berwarna abu-abu. Lalu perlahan-lahan menjadi semakin jelas ketika matahari mulai merambat naik dari balik pegunungan. Semua kamera dan HP sibuk merekam situasi matahari terbit ini. Sebuah momen yang langka.

Team di Puncak

Sebentar kemudian ketika sudah agak mulai terang, seorang anak muda bernama Ricky dari Cakung mendekati saya dan berkata : “Pak bagaimana kalau kita melakukan upacara bendera kecil dan menyanyikan lagu Indonesia Raya?” Sungguh kreatif dan membanggakan hati. Apalagi karena ide itu datangnya dari anak muda seumuran Ricky. Dia lalu bertepuk tangan dan berteriak mengumpulkan semua pendaki yang berada di puncak. Kemudian kami semua berdiri tegak menghormat Bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di puncak Gunung Salak. Luar biasa!

Ketika kemudian Ricky meminta saya memberi sedikit sambutan, saya sungguh terharu. Sampai hampir tidak dapat berkata-kata. Saya sungguh bangga melihat anak-anak muda yang penuh semangat, melewati tantangan untuk mencapai target sampai di puncak ini. Mudah-mudahan seperti itu pulalah semangat mereka ketika bekerja dan berada dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia pasti jaya jika didukung anak-anak muda yang kreatif dan tidak mudah menyerah …

(bersambung … turun dari puncak)

Team siap turun puncak

Kamis, 27 Ags 2015
herulegowo@gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: