Posted by: Heru Legowo | August 27, 2015

Gunung Salak (II)


Gn PangrangoMinggu pagi 16 Agustus 2015, saya masih di puncak Gunung Salak ditemani Jipo. Jipo adalah salah seorang pemandu kami. Dia sudah bertahun-tahun berada digunung, dan terlibat secara aktif pada beberapa kali dalam operasi SAR pencarian korban kecelakaan di gunung. Sambil menunggu persiapan turun, saya ngobrol panjang lebar dengan Jipo. Dia juga terlibat pada saat operasi SAR pesawat Sukhoi SJ-100 yang menabrak puncak gunung Salak I ini. Saya meminta dia berceritera pengalamannya dalam operasi itu.

Melihat saya begitu antusias, Jipo lalu mengajak saya sedikit turun di sisi timur puncak untuk menunjukkan dimana Sukhoi jatuh. Di tebing yang curam dengan kemiringan hampir 80 derajat. Dia menunjuk ke bawah. Sekitar 600 meter dari puncak pesawat Sukhoi SJ-100 menabrak gunung ini, lalu reruntuhan dan serpihannya melorot kebawah.

Jipo salah satu orang yang membuka jalan akses ke lokasi. Kerika itu dengan tali dia turun dan menerabas hutan yang lebat. Setiap 100 meter berhenti dan tali disambung lagi lalu turun lagi, sambil membuka jalur evakuasi. Dia berada di lokasi 3 hari tanpa suplai logistik! Apalagi berada di lokasi yang pasti banyak mayat korban berserakan. Sungguh luar biasa Jipo ini. Memang akhirnya ada suplai logistik yang dijatuhkan dari pesawat atau helikopter, tetapi jatuhnya meleset jauh dari lokasi dimana dia berada. Jarak yang hanya ratusan meter di gunung dengan hutan lebat dan kontur yang curam, pasti susah mencapainya.
Adella Summit1 copyJipo bercerita bahwa kebanyakan mayat sudah tidak berbentuk lagi, tinggal berupa potongan-potongan dan kebanyakan wajahnya rusak atau hancur. Yang mengherankan dia bercerita tentang kondisi mayat captain Alexander Yablontsev. Badannya tinggal separuh dan tersangkut di pohon dengan parasut yang tampaknya sempat terkembang. Lho? Kok bisa pakai parasut? Itu kan pesawat sipil? Berarti ada ejection seat? Aneh … Tapi begitulah yang diceritakan Jipo. Menurut Jipo orang Rusia hanya turun ke bawah lokasi, lalu mengambil sampel tanah dan beberapa serpihan kemudian naik ke atas lalu tidak kembali lagi.

Yang jelas Jipo berada di lokasi itu bersama Tim SAR selama 20 hari. Setiap kali naik ranselnya berisi kepala atau potongan tangan dan kaki korban. Hiii … Tim SAR berhasil mengevakuasi semua korban sebanyak 45 mayat. Korban kemudian diangkut ke puncak Salak diatas sini, lalu dimasukkan ke kantong mayat dan dibawa dengan helikopter.

Saya melihat kebawah ke lembah gunung yang tegak sangat curam ke bawah. Berusaha membayangkan bagaimana proses evakuasi dilakukan. Sebuah operasi SAR yang pasti sangat sulit. Di gunung Salak lainnya, ada juga pesawat Cassa yang jatuh dengan 18 korban didalamnya. Jipo juga ikut melakukan operasi SAR, tetapi pesawat itu dibiarkan saja disana, berbeda dengan Sukhoi ini yang hampir semua reruntuhannya diangkat dan diangkut ke Rusia.

Team Puncak turun copy

TURUN
Mengevaluasi trek pendakian dari Cidahu kemarin yang cukup berat, saya memutuskan untuk turun melalui jalur lain. Jipo menyarankan melalui Cimelati. Treknya turun terus, berarti mesti lebih ekstra berhati-hati. Paling tidak, kami jadi tahu 2 trek Gunung Salak, Cidahu dan Cimelati. Sarapan lebih dahulu, dan Jipo membagikan air. Air di puncak sulit diperoleh. Jipo harus turun ke lembah yang dalam untuk mengambil air.

Setelah sarapan pagi kami bersiap turun. Sebelumnya berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Lalu berdoa bersama, semoga lancar sampai ke bawah sana. Kemudian dengan penuh antusias, kami berjalan perlahan-lahan menuruni puncak Salak. Matahari cerah, sinarnya hangat dan mulai terasa sedikit panas. Trek menurun dan banyak akar-akar pohon yang melintang trek. Akar-akar pohon ini sangat membantu untuk menapaki jalan turun, tetapi sekaligus juga mesti berhati-hati karena jika sedikit salah dapat mengakibatkan kaki tersangkut dan mengganggu keseimbangan.

Waktu yang terasa panjang adalah ketika dari Pos 4 ke Pos 3. Saya sangat berhati-hati menapakkan kaki, tidak mau resiko salah posisi yang dapat membuat tubuh terjungkal karena kehilangan keseimbangan. Oleh sebab itu saya berjalan lambat di belakang rombongan. Untunglah pemandu kami Keling, Bayu, James bergantian berada di belakang kami berperan menjadi penyapu rombongan kami.

Pos 3 break turun copy

Di pos 3 kami berhenti. Ada sumber air disini. Air yang dialirkan melalui pralon. Ada sebuah lubang di pralon yang dpat dibuka tutup untuk suplai air bagi para pendaki. Konon itu adalah air bahan yang diolah menadji air Aqua. Saya menampung air dengan botol, lalu minum seteguk demi seteguk. Segar sekali. Kemudian mencuci wajah dengan air yang dingin dan segar itu. Wuahh … Alhamdulillah ternyata air begitu segar tak terkira, ketika orang benar-benar haus dan membutuhkannya. Istirahat sebentar disini meluruskan kaki, berbaring menatap dedaunan dibawah pohon yang rindang.

Pos 2 break turun copy

Kami berjalan lagi dan hanya dalam 30 menit kemudian, kami sampai di Pos 2. Sebuah pos dengan tanah yang rata dan lapang. Rombongan berhenti disini. Segelas teh panas sungguh terasa sangat nikmat. Setelah turun dengan penuh konsentrasi dan berhati-hati, ini bener-bener teh panas yang paling enak yang pernah saya minum. Apalagi kemudian disodori sepiring mie rebus panas. Enak sekali. Bener! Teh panas dan sepiring mie rebus, ternyata mampu mengusir kelelahan dan mendorong semangat baru. Kami terus berjalan turun. Treknya sudah mulai mudah, hanya seperti jalan setapak di kebun-kebun. Saya berjalan agak cepat, ingin segera sampai di Cimelati.

CIMELATI

Pos1 Adella copyAkhirnya kami keluar dari hutan dan melihat jalan aspal lagi. Di pintu keluar kiri ada sebuah bak air yang tampaknya menampung air yang dialirkan dengan pipa pralon dari Pos 3 tadi. Kami masih harus berjalan beberapa ratus meter lagi di jalan beraspal, sebelum sampai ke pos Security di Cimelati. Di kanan dan kiri kebun tomat baru saja mulai berbuah dengan lebat.

Lalu setelah semua lengkap berkumpul kami berfoto dengan latar belakang Gunung Salak. Semua tim lengkap : Agung, Evan, Iwa, Priyo, Akbar, Priyono, Romi, Adella, Lila, HL, Nana, Halbail, Indah, Sari, Gusdi dan Zaenal bersama pemandu kami. Sayang puncak Salak dibelakang sana tertutup awan, sehingga tidak begitu jelas kelihatan, tetapi bentuknya masih kelihatan jelas. Saya berkata : “Luar biasa, ternyata tadi kita berada diatas puncak sana ya?”

Foto bersama di kaki Gunung Salak, menyiratkan eforia kebanggaan, kegembiraan, antusias, kebersamaan dan semangat. Saya merasa pendakian ini berhasil menjadi sarana membangun kepercayaan diri yang lebih tinggi.

A climb for more confidence …

Team Cimelati1 copy

Sabtu, 29 Ags 2015
herulegowo@gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: