Posted by: Heru Legowo | December 11, 2015

Pura Pakualam


Pakualam Gebang luarJum’at 4 Desember 2015 setelah beberapa hari di Jogja, saya sempat melihat dari dekat salah satu simbol kekuasaan dan kebudayaan masa lalu, Pura Pakualaman. Terletak di jalan Kusumanegara, bangunan Pura Pakualaman masih tampak megah. Dua pohon besar beringin sudah tinggal hanya yang di sebelah kiri. Halaman diluar dinding kompleks ini cukup luas dan dibiarkan kosong. Di sebelah sisi kanan ada cafe sayang lupa namanya. Di sebelah sisi kiri ada beberapa pedagang makanan dari berbagai jenis : soto ayam, gudeg, lontong sayur dsbnya.

Saya berjalan kaki pagi hari melemaskan kaki, dari rumah di Mergangsan. Kemudian istirahat sebentar di bagian sisi kanan halaman Pakualam. Duduk dibawah beringin tua sambil menikmati lontong sayur dan segelas teh panas manis. Alhamdulillah … Sepiring lontong sayur, sungguh nikmat dipagi yang sedikit mulai hangat ini.

Selesai sarapan dan mengamati sekeliling, saya bangkit dan bertanya kepada penjaga motor bisa enggak masuk ke dalam Pakualaman. Dia bilang : “Biasanya ada penjaganya pak, tetapi baru mulai jam09.30, tetapi kalau tidak ada penjganya ya boleh masuk saja”. Okey deh. Sedikit ragu-ragu saya lalu memasuki gerbang Pakualaman.

Dari pintu gerbang sebuah bangunan besar dan luas dengan atap limasan tampak megah dan terpelihara dengan baik. Jalan masuk dan keluar berbentuk huruf V. Saya melangkah masuk kedalam. Berhenti sebentar di dekat ujung taman, pesawat Garuda tampak melintas persisi diatas pendopo Seorang tukang sapu halaman mengingatkan, agar tidak naik ke pendopo, tetapi boleh di depannya saja. Matur Nuwun pak.

Pura Pakualam

Saya berjalan perlahan mengamati bangunan dan sekelilingnya. Di tepi batas tanah yang berbentuk persegi semuanya tertutup dengan bangunan pendukung. Dulu pasti banyak kegiatan di bangunan pendukung itu. Sekarang tampak sepi, tetapi asri, terasa lingkunga ini masih memiliki perbawa dan kharisma. Di sebelah pendopo ada bangunan berwarna putih dengan berhiaskan ornamen ukiran yang artistik, barangkali disitu Pakualam beristirahat.

Melintas di depan pendopo khas Jawa. Luas, tidak banyak ornamen dan sederhana. Saya berhenti sebentar di depannya, mengamati dan membayangkan kegiatan di pendopo ini di masa lalu dulu. Suara kicauan burung yang digantung disisi kanan pendopo, memberikan nuansa khusus. Damai dan tenteram. Saya membalikkan badan, dari sini gerbang tampak megah di kejauhan.

Kemudian perlahan-lahan saya berjalan, di sebelah kanan pendopo beberapa orang sedang sibuk mencuci mobil. Burung-burung terus berkicau mengiringi suasana pagi yang cerah. Saya mengikuti jalan beraspal dengan arah tenggara, menyerong keluar gerbang. Di pintu gerbang ada tulisan Jawa, saya sudah tidak bisa lagi membacanya.

Pakualaman Gedung

Dibawah pintu gerbang saya berhenti sebentar dan mengamati lagi sekeliling Pura Pakualam. Ini warisan masa silam yang menyiratkan sebagian kecil sejarah kerajaan Mataram Jawa. Jogja & Solo masih memegang teguh budaya Mataram. Sekarang ditengah-tengah situasi dunia modern, generasi penerus seyogyanya menjaga dan melestarikan budaya adiluhung nenek moyang kita ini.

Sebentar lagi Pura Pakualam akan ada memilih Pakualam yang baru. Kita tahu Pakualam IX wafat 21 November 2015 yang lalu dalam usia 87 tahun. Beliau adalah Pakualam yang dilantik ketika Indonesia sudah merdeka.

Sejarah

Pada masa Paku Buwono II (1727-1749), Mataram berhasil dikuasai VOC (Belanda). Sejak 11 Desember 1749 Mataram tidak lagi berdaulat secara de jure dan de facto karena Paku Buwono II menyerahkan kedaulatannya kepada Belanda.

Pangeran Mangkubumi tidak terima dengan penyerahan kedaulatan dan sikap lemah Paku Buwono II itu. Pada 19 Mei 1746, Pangeran Mangkubumi meninggalkan istana bersama 3 pangeran lainnya : P. Wijil, P. Krapyak, dan P. Hadiwijoyo. Mereka bergabung dengan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, memberontak dan melawan Belanda. Pangeran Mangkubumi dan pengikutnya berhasil merebut kembali Mataram. Pada tahun 1750, mereka mengepung ibukota Mataram dari 4 penjuru. Sampai pada tahun 1752, sebagian besar wilayah Mataram berhasil dikuasai.

Pakualam Gerbang

Perjuangan Pangeran Mangkubumi itu menghasilkan perjanjian politik. Pada tanggal 23 September 1754, Belanda berunding dengan Pangeran Mangkubumi dan berjanji memberi setengah dari kerajaan Mataram. Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 adalah kesepakatan antara Pangeran Magkubumi, Paku Buwono III (pengganti Paku Buwno II) dan Pemerintah Belanda, Gubernur Hartingh.

Perjanjian Giyanti menetapkan kerajaan Mataram dibagi menjadi dua. Setengahnya yaitu Kasultanan Yogyakarta diberikan kepada Pangeran Mangkubumi. Setengahnya lagi, yaitu Kasunanan Surakarta diberikan kepada Paku Buwono III. Dengan demikian Perjanjian Giyanti merupakan awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pangeran Mangkubumi lalu naik tahta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Dinamika politik dan perjuangan melawan penjajah memunculkan kerajaan baru bernama Mangkunegaran. Pada tanggal 17 Maret 1757, ditandatangani perjanjian damai (Perjanjian Salatiga) antara Raden Mas Said, Sri Sultan Hamengku Buwono I, dan Belanda. Raden Mas Said mendapatkan sebagian daerah Surakarta dan berhak menguasainya dengan gelar Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro. Dengan demikian, di Solo terdapat dua kerajaan, yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran.

Kemudian Inggris mengambil alih kekuasaan Belanda, Gubernur Jenderal Raffles menilai Sri Sultan Hamengku Buwono II dan Sunan Solo tidak mentaati Perjanjian Tuntang. Karena itu, Sultan Sri Sultan Hamegku Buwono II dipaksa Raffles turun tahta. Kemudian, Raffles mengangkat Sri Sultan Hamengku Buwono III, tetapi mengurangi daerah kekuasaan Kasultanan Jogjakarta. Sebagian wilayah Kasultanan diberikan kepada Pangeran Notokusumo, saudara Sri Sultan Hamemgku Buwono III.

Daerah otonom ini, sebagian di dalam kota dan sebagian di daerah selatan Jogja (Adikarto), menjadi sebuah Kadipaten baru yang dikuasai dan dipimpin oleh Pangeran Notokusumo. Pada tanggal 17 Maret 1813, Pangeran Notokusumo mengukuhkan tahtanya dan bergelar Pangeran Adipati Paku Alam I.

Pakualam Pendopo

PENUTUP

Begitulah terbentuknya Dinasti Paku Alam. Salah satu tokoh nasional yang berasal dari Pura Pakualam adalah Ki Hadjar Dewantoro (1899-1959). Beliau adalah tokoh pendidikan nasional yang terkenal dengan mottonya : Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani. Ki Hajar Dewantoro ini berasal dari keluarga Pakualaman. Ayahnya adalah Soerjaningrat, putera dari Paku Alam III dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat tetapi kemudian terkenal dengan Ki Hajar Dewantoro, lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 dan meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959. Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Ki Hajar Dewantoro adalah pendiri Perguruan Taman Siswa. Menjabat Menteri Pendidikan Pertama Republik Indonesia. Namanya juga dipakai oleh kapal perang KRI Ki Hajar Dewantara. Tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah, tahun emisi 1998. Ki Hajar Dewantoro juga dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden Soekarno, pada 28 November 1959.

Sementara itu, kakak beliau yang bernama R.M. Soerjopranoto juga dikenal sebagai tokoh nasionalis yang peduli pada nasib rakyat kecil. Soerjopranoto ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Beliau pernah dipenjara tahun 1923 dan 1933, karena aktifitasnya menggerakkan rakyat untuk melawan penjajah.

Pakualam Masjid

Keluar dari gerbang saya berjalan mengarah ke kanan. Di pojok bangunan ada sebuah masjid. Masjid Gede Pakualaman. Bangunan masjid itu berada diujung jalan dan terletak di pojok tikungan jalan. Kalau tidak ada tulisan di atas pintu gerbangnya yang berwarna hijau, pasti tidak segera ketahuan bahwa itu adalah masjid. Suatu saat nanti saya akan shalat di masjid itu.

Saya terus berjalan meninggalkan Pakulaman. Kemegahan dan kejayaan masa silam selalu dapat menjadi bahan renungan dan mawas diri. Matahari semakin tinggi dan sinarnya mulai terasa hangat. Jalanan juga mulai ramai, ibu-ibu tua menggendong dagangannya tampak renta, tetapi air mukanya menunjukkan semangat yang menyala …

Subhanalah ...

Jumat. 11 Des 2015
herulegowo@gmail.com


Categories

%d bloggers like this: