Posted by: Heru Legowo | September 22, 2016

Berangkat ke Mekkah


SHIA AiprortAkhirnya tiba juga waktunya. Hari Jumat tanggal 2 September 2016 sore hari kami menuju menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Berkumpul di umrah lounge jam 7 malam. Begitu banyak jemaah calon haji yang bersamaan masuk ke lounge umrah ini, sehingga kesannya menjadi penuh sesak. Anak-anak mengantar sampai disini. Ketika registrasi selesai, para pengantar diminta menunggu di lantai 2 atas. Anak-anak menyalami kami berdua. Sudah sering pergi seperti ini, tetapi rasanya perasaan saya berbeda. Saya peluk mereka satu per satu. Dalam hati berdoa, semoga mereka diridhai Allah Swt! menjadi anak-anak yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat. Amin Ya Rabbal Alamin.
Kemudian ada beberapa kegiatan selama menunggu waktu boarding. Pak Bashori menjelaskan mengenai proses keberangkatan ke Mekkah. Secara rinci beliau menjelaskan langkah demi langkah yang akan dilakukan. Lengkap & jelas. Selanjutnya Pak Ustadz Ubaidillah al Hasani memberikan tausiah. Intinya beliau mengatakan perjalanan haji ini salah satu ibadah yang dapat disamakan dengan jihad fi sabilillah. Beliau mengingatkan agar jangan sombong apalagi takabur. Walaupun sudah sampai akan berangkat, masih belum ada kepastian. Beliau menceritakan pengalaman beliau ada seorang jemaah calon haji yang sudah mengantri di imigrasi berjam-jam, ketika gilirannya tiba imigrasi tutup dan dia tidak dapat clearance untuk masuk ke Saudi Arabia. Jika Allah Swt berkehendak, semuanya bisa saja terjadi. Pak ustdaz berpesan berulang kali mengenai hal ini.
Jam 10 malam, kami naik bus menuju ke terminal D Bandara Soekarno-Hatta. Di Terminal D saya bertemu rekan saya Pak Sutrisno dan Pak Baskoro, mereka berdua sengaja menunggu dipintu masuk terminal. Sengaja menemui saya sebelum boarding. Pemeriksaaan imigrasi lancar, tidak ada masalah. Dan kami langsung menuju ke boarding lounge D1, menunggu pesawat yang rencananya akan berangkat jam 00.40. Sebentar kemudian boarding lounge pun sudah dipenuhi calon penumpang dari berbagai negara.

Jam 23.50 kami naik ke pesawat. Pesawat kami Emirate UEA359 jenis Boeing B-777-300. Saya mendapat tempat duduk nomor 49 E, satu seat dari deretan seat paling belakang. Setelah semuanya rapi dan siap, perlahan-lahan pesawat didorong mundur, lalu cepat bergerak dengan mesinnya sendiri menuju ke landasan pacu. Captain Ibrahim Malik membawa pesawat tinggal landas jam 00.50 dengan mulus lahir ke udara (airborne). Abu Dhabi akan ditempuh dalam waktu terbang 8 jam lebih. Cukup lama juga. Pramugarinya begitu cekatan
Saya berusaha tidur dan istirahat, karena esok harinya bakal ada jadwal kegiatan yang padat dan membutuhkan fisik yang bugar.
Di sebelah isteri saya duduk ada suami-isteri orang bule dan orang Jawa. Belakang setelah ngobrol panjang-lebar, kami berkenalan. Muhammad Sastro orang Swiss yang semula namanya Oliver, dia sudah masuk agama Islam malah sudah haji duluan. Isterinya namanya Nani, orang Jogja asli dari Umbulharjo. Barangkali karena tahu kami akan menunaikan ibadah haji, Mas Sastro ini lalu bercerita tentang kejadian aneh seputar haji. Katanya ada teman sesama haji yang kelebihan batu jumrah dan tanpa sengaja terbawa pulang. Apa yang terjadi? Ketika mau shalat Maghrib, temannya itu tidak bisa shalat! Semua bacaannya hilang dari ingatan. Baca Surat Al-Fatihah saja tidak bisa karena tida ingat sama sekali. Setelah bingung memikirkan keanehan itu, baru dia sadar ada sebuah batu terbawa, lalu segera dibuangnya batu itu. Dan ajaib, semuanya kembali seperti semula, dia malah bisa shalat bahkan lebih khusyuk lagi.

Sabtu pagi jam 05.15 pagi hari waktu Abu Dhabi kami mendarat di Bandara International Abu Dhabi. Bandara ini adalah salah satu bandara transit yang megah dan penting, dalam jaringan penerbangan internasional. Sebentar mengurus tiket penerbangan sambungan ke Jeddah. Selesai mendapatkan boarding pass kami bergantian melakukan Shalat Shubuh. Mushalla letaknya cukup jauh, demi praktisnya kami shalat di sudut ruangan pengurusan tiket. Selesai shalat Shubuh kami segera menuju boarding Gate B19. Waktunya sangat sedikit, sehingga ketika memasuki Gate B19 semua jemaah calon haji, mulai memakai pakaian ihram. Sebenarnya risih juga, karena tidak ada ruangan khusus, jadi kami berganti begitu saja di depan pada penumpang lain yang menunggu pesawat. Padahal di bawah sana ada ruangan yang lebih sepi dan cukup nyaman untuk berganti pakaian ihram. Apaboleh buat, penjelasan tidak cukup akurat lagipula waktu yang singkat. Kami pun memasang niat untuk melakukan umroh : Labbaika allâhuma ‘umratan. Biumrotin.
Selesai berganti pakaian ihram, saya liat ke apron deretan pesawat Airbus A-380 Emirate berjajar. Dalam hati saya berdoa semoga, pesawat yang nanti kami tumpangi juga Airbus A-380. Bakal bisa merasakan terbang dengan pesawat terbesar di dunia. Dan alhamdulillah ternyata kami jadi juga terbang ke Jeddah dengan Airbus A-380, pesawat terbesar buatan Airbus yang disebut sebagai whispering giant. Karena suara mesinnya yang konon tidak berisik. Saya duduk di seat 79 D, kira-kira satu jendela dibelakang saya pesawat. Pramugari berseliweran tampak cekatan dan tangkas. Mereka terdiri dari berbagai negara. Kebetulan ada penumpang yang bertanya dalam bahasa Arab, dan pramugara yang bertampang swedia tampak kebingungan menjawab dia lalu bertanya kepada rekannya : “Do you speak Arabic?” Di layar monitor saya mengikuti gerakan pesawat ketika taxy, memasuki landasan pacu dan tinggal landas. Keren juga.
Sebentar kemudian pesawat mencapai ketinggian jelajahnya. Di layar minitor muncul video tutorial bagaimana melakukan ibadah haji dengan lengkap. Video memberi ganbarab larangan-larangan ketika melakukan inadah haji, seperti : dilarang memotong kuku, memakai wangi-wangian, membunuh binatang, merusak tanaman dan sebagainya. Video itu membantu lebih memahami hal-hal yang sudah dijelaskan pada waktu Manasik Haji. Benar-benar sangat bermanfaat.
Saya mencoba koneksi internet melalui wifi di pesawat. Untuk 2 menit pertama gratis. Jika membayar sebesar $1, maka bebas menggunakan internet sampai dengan pesawat mendarat. Asyik juga. Saya mencoba menggunakan yang gratis, mengirim beberapa iMessage ke anak-anak di rumah dan beberapa teman. Masih juga sok eksis nih. Ternyata jawaban mereka masuk hanya dalam beberapa saat. Keren juga diatas pesawat masih well-connected. Teknologi memang luar biasa.
Jam 09.35 pesawat Airbus A-380 mendarat di Jeddah dengan sedikit hentakan ketika rodanya menjejak tanah. Di layar monitor tampak runway centre line yang seakan bergerak dengan cepat. Lalu perlahan-lahan pesawat pun berhenti. Penumpang turun. saya harus menunggu cukup lama karena banyaknya penumpang. Saya membayangkan pada waktu ini ratusan pesawat terbang ke Jeddah, ribuan bahkan jutaan orang datang dari seluruh penjuru dunia untuk melakukan ibadah haji. Alangkah hiruk-pikuknya ruang udara dan bandara-bandara di Saudi Arabia. Secara ekonomis kegiatan ibadah haji ini menggerakkan ekonomi dengan begitu luar biasa. Semua bisnis bergerak dan berkembang begitu hebat. Dari angkutan udara, transportasi darat, hotel, pariwisata, food & beverage, barang souvenir dan kain sebagainya berkembang terus hampir tanpa putus sepanjang tahun.
Bus low deck Neoplan membawa kami ke terminal. Pemandu kami berkali-kali mengatakan agar sabar menjalani pemeriksaan imigrasi. Saking banyaknya penumpang, komon pernah pemeriksaaan imigrasi baru selesai selama 7 jam lebih. Saya mempersiapkan diri untuk menjalani lamanya pemeriksaaan ini. Di gedung terminal pemeriksaan imigrasi, ratusan bahkan ribuan jemaah calon haji sudah mengantri disetiap jalur imigrasi. Ternyata pemeriksaan imigrasi berlangsung cukup lancar. Salah satu sebabnya mungkin, karena petugasnya relatif masih muda-muda. Dalam waktu kurang dari 3 jam pemeriksaan imigrasi selesai.
Keluar dari terminal kami menuju ke tempat menunggu di luar terminal. Atap bangunan bentuknya seperti tenda raksasa yang disangga oleh tiang beton yang tinggi dan kokoh. Luas sekali. Ditengah-tengah ada ruangan yang disekat bagian tepi-tepinya difungsikan menjadi masjid. Kami menunggu, duduk-duduk di kursi. Udara panas sekali, berkisar 45 derajat. Udara terasa menyengat di wajah. Sementara menunggu kami melaksanakan shalat Dzuhur dan jamak Ashar sekaligus.
Sebentar kemudian bagasi-bagasi kami yang berupa koper-koper berwarna hijau sudah berada diatas beberapa gerobag. Kami diminta memeriksa, barangkali ada yang ketinggalan. Alhamdulillah semuanya lengkap. Setelah semuanya lengkap, kami berbaris membagi diri dalam kelompok-kelompok. Saya dan isteri ada di kelompok 3. Di pintu masuk ke bus ada dua orang yang mengambil paspor kami dan ditukar dengan tanda pengenal, sebagai pengganti paspor selama berada di Saudi Arabia. Sebentar kemudian ditengah sore hari yang panas bus dengan perlahan-lahan berangkat meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju ke Mekkah.
Bismillah …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: