Posted by: Heru Legowo | September 22, 2016

Menuju Mekkah


l1070357Sabtu 3 September 2016 di sore hari yang sangat panas, bus kami mulai bergerak meninggalkan tempat parkirnya di Bandara King Abdul Aziz. Keluar dari bandara, kami langsung memasuki jalur bebas hambatan menuju ke Mekkah. Sepanjang jalan bukit-bukit batu disisi kiri dan kanan jalan berdiri menegaskan keberadaannya seakan mengucapkan selamat catang. Saya kecapaian, terkantuk-kantuk dan sempat tertidur sejenak. Tahu-tahu bus berhenti untuk mengikuti semacam pemeriksaan. Ini terjadi beberapa kali. Pada waktu berhenti ada beberapa anak-anak dan pemuda yang membagikan air mineral, ada pula yang memberikan kotak berisi makanan. Mereka tidak berjualan, hanya membagikan saja. Saya bertanya-tanya, nanti ada yang menjelaskan itu adalah pemberian, orang sana menyebutnya sebagai “hadiah” dari orang-orang kaya yang ikhlas membagikan rejekinya. Walaupun begitu, ada juga seorang anak yang minta imbalan uang. Saya tidak mengerti bahasanya, lalu saya kembalikan lagi botol kecil air mineral yang tadi dibawanya. Tapi dia menolak sambil menggelengkan kepalanya. Saya menduga dia hanya minta imbalan saja atas jerih-payahnya. Dia cukup beruntung, karena beberapa orang dari kami lalu memberi dia uang.
Bus berhenti beberapa menit pada pos-pos pemeriksaan itu. Pemerintah Saudi Arabia melakukan pemeriksaan ketat kepada siapa pun yang memasuki Mekkah. Pada musim haji semua orang yang memasuki Mekkah diperiksa, termasuk penduduk Mekkah sendiri. Barangkali ini sebagai antisipasi untuk mencegah aksi teroris. Beberapa bulan yang lalu ada bom meledak di dekat Masjid Nabawi di Madinah. Mudah-mudahan itu tidak terjadi lagi.
Jam 4 sore bus memasuki Mekkah. Kami akan transit lebih dahulu di sebuah apartemen di Holiday Isnin Al Rabani, jaraknya kira-kira 6 km dari Masjidil Haram. Apartemen ini memiliki 4 lantai. Saya mendapat kamar di lantai 2, berempat dengan Pak Anang, Pak Kemal & Pak Syahrizal. Terpisah dengan isteri yang berada di kamar 207, kebetulan diatur agar para isteri kami berada dalam satu kamar juga. Setelah beristirahat sejenak di lobby, satu demi satu kami memasuki kamar masing-masing. Membersihkan diri dan bersiap untuk umrah. Pak Ustadz mengingatkan kembali agar ketika berpakaian ihram, agar tidak memakai wangi-wangian, memotong kaku dan rambut, dan membunuh binatang. Ternyata, beberapa jemaah calon haji melanggarnya apa boleh buat yang melanggar mesti membayar dam.
Menurut rencana setelah shalat Isya’ kami akan ke Masjidil Haram untuk umrah dengan melakukan Thawaf dan Sa’i. Mengapa setelah Isya? Harapannya Majidil Haram dapat memberi sedikit ruangan longgar di sekeliling Ka’bah untuk Thawaf, sehingga kami lebih mudah dan khusyuk melakukan Thawaf & Sa’i. Saya bersama beberapa teman memonitor siaran langsung Al Jazeera melihat situasi Thawaf & Sa’i. Rasanya jumlah jemaah calon haji bukannya berkurang, tetapi malah terus bertambah. Memperhatikan ratusan orang bergerak dan berputar ke arah kiri di Masjidil Haram, menimbulkan sedikit stress juga. Bisa nggak yah melakukan ritual itu dengan baik? Para muthawif kami juga ternyata sangat memperhitungkan hal ini. Isya sudah lewat, bahkan shalat berjamaah juga sudah dilakukan, masih menunggu. Kali ini menunggu agar bus kami memasuki dan menurunkan kami sedekat mungkin ke Masjidil Haram, sehingga mempersingkat waktu.
Akhirnya jam 9 malam, tiga bus kami bergerak meninggalkan apartemen. Bismillah, semoga semuanya lancar. Lalu kalimat Talbiyah pun mengumandang memenuhi 3 bus kami : Labbaika Allâhumma labbaik Labhaika lâ syarîkalaka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal-mulk lâ syarîkalak. “Kusambut panggilan-MU ya Allah, kusambut panggilan-MU, tiada sekutu bagi-MU, kusambut panggilan-MU, sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan adalah milik-MU, tiada sekutu bagi-MU”.
Saya jadi teringat lima tahun yang lalu, ketika kami melaksanakan umrah. Lalu membayangkan ada ratusan ribu orang yang saat ini menuju ke Masjidil Haram untuk melakukan ibadah. Rombongan kami pasti hanya sebagian kecil saja, dari jutaan jemaah calon haji yang sekarang semua sudah berada dan sedang menuju ke Mekkah. Sungguh Maha Besar Allah. Jika saja Nabi Ibrahim masih diijinkan Allah untuk melihat hiruk-pikuknya Masjidil Haram memenuhi seruannya untuk datang kesini atas perintah Allah Swt. Subhanallah …
Menjelang jam 10 malam bus kami memasuki wilayah Masjidil Haram, tidak dapat dekat sehingga kami mesti berjalan dahulu beberapa ratus meter. Kami terbagi menjadi 3 kelompok. Saya berada di Kelompok 3 dengan muthawif Ustadz Dhofir yang berasal dari Madura dan sudah tinggal di Mekkah lebih dari 20 tahun. Mendekati Masjidil Haram ada seorang yang berteriak dari belakang dia memperingatkan agar yang teringgal di belakang jangan ditinggal. Kami berhenti, dan benar saja ada anggota kelompok kami seorang ibu yang sudah agak sepuh berjalan lambat. Kami berembug dan sepakat agar ibu itu naik kursi roda saja, sehingga semuanya daoat berjalan dengan lancar. Ibu itu setuju.
Kemudian menjelang memasuki pintu gerbang Babussalam, kami sudah mendapat petugas kursi roda yang akan mengantar ibu untuk melakukan Thawaf. Alhamdulillah. Sementara itu, pak ustadz memberi kesempatan kepada yang ingin ke toilet dan yang batal wudhunya untuk berwudhu lagi. Setelah selesai kami berkumpul dan berbaris yang laki-laki berada diluar mengapit para wanita. Dengan cara itu, kami berusaha menjaga agar kelompok ini tetap berada dalam kelompok dan tidak cerai-berai. Lalu kami berjalan memasuki Masjidil Haram. Jemaah lalu lalang keluar masuk memenuhi jalan. Jam besar di Zam Zam Tower berwarna hijau menunjukkan angka 10, kelelawar terbang bersliweran menghiasi udara malam …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: