Ditengah-tengah hiruk-pikuk suasana politik yang memanas, terasa sejuk dan menenteramkan hati melihat acara Mata Najwa, dengan tema Negeri Teka-Teki. Bintang tamunya KH. Mustofa Bisyri yang akrab dipanggil Gus Mus. Seorang ulama dan juga seorang penyair. Beliau adalah ulama pertama yang meraih penghargaan Yap Thian Hien.
Mengawali acara Gus Mus membacakan puisinya Negeri Teka Teki yang ditulis pada tahun 1997 pada awal reformasi. Sudah lama, tetapi maknanya masih relevan sampai saat ini. Salah satu baitnya berbunyi : Jangan tanya apa, Jangan Tanya siapa, Jangan tanya mengapa.Tebak saja!
Ketika ditanya Najwa, bagaimana perasaannya menerima penghargaan Yap Thian Hien? Gus Mus menjawab biasa saja. Itu barangkali karena Panitianya lebay. Beliau menjelaskan, siapakah dan apalah dia itu? Seorang dari kampung belajar di kampung dan gurunya juga dari kampung. Dia hanya menerima dan menjaga pesan gurunya : “Indonesia itu rumahmu, jaga dan rawatlah!”. Oleh sebab itu, jika ada orang yang melempari rumahnya sendiri, berarti dia itu orang gila!





Sudah lewat enam puluh tahun lebih, baru menyadari dengan sebenarnya apakah dibalik makna, bahwa hidup harus saling mengisi, menerima, memberi, membagikan dan menerima kembali. Rangkaian putaran itu kembali dan berlangung seterusnya. Suatu rangkaian yang tidak pernah berhenti dan semakin membesar dan memberi manfaat lebih banyak, kepada siapa saja yang dilewati rangkaian itu. Kemudian setelah itu barulah seseorang dapat bersyukur dengan tulus dan sebenar-benarnya. Sungguh saya melangitkan rasa syukur yang tak berhingga kehadiratNYA, atas kesadaran yang semakin utuh tentang hal itu.

